Seperti halnya puisi Sufi umumnya, yang diungkapkan ialah pengalaman atau gagasan ahli-ahli Tasawuf tentang perjalanan kerohanian (suluk) yang mesti ditempuh oleh mereka yang ingin mencapai kebenaran tertinggi, Tuhan dan berkehendak menyatu dengan Rahasia Sang Wujud.
Jalan itu ditempuh melalui berbagai tahapan rohani (maqam) dan dalam setiap tahapan seseorang akan mengalami keadaan rohani (ahwal) tertentu, sebelum akhirnya memeroleh Kasyaf (tersingkapnya cahaya penglihatan bathin) dan makrifat, yaitu mengenal Yang Tunggal secara mendalam tanpa syak lagi (haqq al-yaqin). Di antara keadaan rohani penting dalam tasawuf yang sering diungkapkan dalam puisi ialah wajd (ekstase mistis), dzawq (rasa mendalam), sukr (kegairahan mistis), fana’ (hapusnya kecenderungan terhadap diri jasmani), baqa’ (perasaan kekal di dalam Yang Abadi), dan faqr.
Sunan Bonang sebagai seorang penulis Muslim awal dalam sastra Jawa, menunjukkan sikap yang sangat berbeda dengan para penulis Muslim awal di Sumatera. Yang terakhir sudah sejak awal huruf Jawi, yaitu huruf Arab yang disesuaikan dengan system fonem Melayu. Sedangkan Sunan Bonang dan para penulis Muslim Jawa yang awal tetap menggunakan huruf Jawa yang telah mapan dan dikenal masyarakat terpelajar. Sunan Bonang juga menggunakan tamsil-tamsil yang tidak asing bagi masyarakat Jawa, misalnya wayang. Selain itu bentuk tembang Jawa Kuno, yaitu aswalalita juga masih digunakan.
Dengan demikian kehadiran karyanya tidak dirasakan sebagai sesuatu yang asing bagi pembaca sastra Jawa, malahan dipandangnya sebagai suatu kesinambungan.
Inilah ceritera si Wujil. Berkata pada guru yang di abdinya. Ratu Wahdat. Ratu Wahdat nama gurunya. Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung. Yang tinggal di desa Bonang. Ia minta maaf. Ingin tahu hakikat. Dan seluk beluk ajaran agama. Sampai rahsia terdalam. Sepuluh tahun lamanya. Sudah Wujil. Berguru kepada Sang Wali. Namun belum mendapat ajaran utama. Ia berasal dari Majapahit. Bekerja sebagai abdi raja. Sastra Arab telah ia pelajari. Ia menyembah di depan gurunya. Kemudian berkata. Seraya menghormat. Minta maaf. Dengan tulus saya mohon. Di telapak kaki tuan Guru. Mati hidup hamba serahkan.
Sastra Arab telah tuan ajarkan. Dan saya telah menguasainya. Namun tetap saja saya bingung. Mengembara kesana-kemari. Tak berketentuan. Dulu hamba berlakon sebagai pelawak. Bosan sudah saya. Menjadi bahan tertawaan orang
Ya Syekh al-Mukaram!. Uraian kesatuan huruf. Dulu dan sekarang. Yang saya pelajari tidak berbeda. Tidak beranjak dari tatanan lahir. Tetap saja tentang bentuk luarnya. Saya meninggalkan Majapahit. Meninggalkan semua yang dicintai. Namun tak menemukan sesuatu apa. Sebagai penawar
Diam-diam saya pergi malam-malam. Mencari rahsia Yang Satu dan jalan sempurna. Semua pendeta dan ulama hamba temui. Agar terjumpa hakikat hidup. Akhir kuasa sejati. Ujung utara selatan. Tempat matahari dan bulan terbenam. Akhir mata tertutup dan hakikat maut. Akhir ada dan tiada.
Sang Arif berkata lembut. "Hai Wujil, kemarilah!”. Dipegangnya kucir rambut Wujil. Seraya dielus-elus. Tanda kasih sayangnya. “Wujil, dengar sekarang. Jika kau harus masuk neraka. Karena kata-kataku. Aku yang akan menggantikan tempatmu”
“Ingatlah Wujil, waspadalah!. Hidup di dunia ini. Jangan ceroboh dan gegabah. Sadarilah dirimu. Bukan yang Haqq. Dan Yang Haqq bukan dirimu. Orang yang mengenal dirinya. Akan mengenal Tuhan. Asal usul semua kejadian. Inilah jalan makrifat sejati”.
Persatuan manusia dengan Tuhan diumpamakan sebagai gema dengan suara. Manusia harus mengenal suksma (ruh) yang berada di dalam tubuhnya. Ruh di dalam tubuh seperti api yang tak kelihatan. Yang nampak hanyalah bara, sinar, nyala, panas dan asapnya. Ruh dihubungkan dengan wujud tersembunyi, yang pemunculan dan kelenyapannya tidak mudah diketahui. Kuncinya adalah bukan melebur tetapi menyatu. Roro ning atunggil, Dua tetapi satu. Untuk mengenal diri, kita harus menjadi pengamat diri. Ini artinya merasa terpisah dari diri. Disosiasi terhadap diri sendiri. Demikian juga utk mengenal Allah, kita harus menjadi hamba Allah dan khalifatullah. Atau menjadi bayanganNya. Dan bukan menjadi Allah.
Puncak ilmu yang sempurna. Seperti api berkobar. Hanya bara dan nyalanya. Hanya kilatan cahaya. Hanya asapnya kelihatan. Ketahuilah wujud sebelum api menyala.
Dan sesudah api padamu. Karena serba diliputi rahsia. Adakah kata-kata yang bisa menyebutkan?
Jangan tinggikan diri melampaui ukuran. Berlindunglah semata kepada-Nya. Ketahui, rumah sebenarnya jasad ialah ruh. Jangan bertanya. Jangan memuja nabi dan wali-wali. Jangan mengaku Tuhan. Jangan mengira tidak ada padahal ada. Sebaiknya diam. Jangan sampai digoncang. Oleh kebingungan.
Pencapaian sempurna. Bagaikan orang yang sedang tidur. Dengan seorang perempuan, kala bercinta. Mereka karam dalam asyik, terlena. Hanyut dalam berah. iAnakku, terimalah. Dan pahami dengan baik. Ilmu ini memang sukar dicerna.
