Ratu Kidul


Salah satu bentuk pemujaan yang paling menarik adalah kultus Ratu Kidul. Babad Tanah Jawi menceritakan bagaimana Sutawijaya, pendiri dinasti, bertemu dengan Ratu Kidul di Parang Tritis, pantai selatan Yogyakarta, dan bersetubuh dengannya di istananya yang terletak di bawah laut. 

Ratu Kidul konon tidak hanya menguasai ombak-ombak Samudera Selatan yang mengamuk, tetapi juga semua dedemit yang melanda dan mengancam kerajaan. Dengan bersanggama dengannya, Senapati telah mengadakan semacam perjanjian dengan alam gaib yang memperkukuh keseimbangan alam dan dengan demikian menjamin keamanan bagi kawulanya. 

Ratu Kidul itu menjadi obyek pemujaan rakyat sepanjang pantai selatan, Setiap tahun, pada waktu perayaan hari ulang tahun Sultan yang sedang berkuasa, diadakan suatu upacara di Parang Tritis, tepat di tempat yang menurut tradisi terjadi hierogami (perkawinan suci dengan tujuan mendapat kesaktian) antara Senapati dan Ratu Kidul. Iringan para abdi kraton Yogya membawa berbagai sesajian yang kebanyakan berupa pakaian, untuk dihanyutkan ke laut di atas sebuah rakit bambu (getek ). Pada tahun Dai, sekali dalam delapan tahun sesuai dengan siklus windu, sesajian itu luar biasa mewahnya. Sebuah pelana ditambahkan, dan biayanya dapat mencapai beberapa juta rupiah.

Pada waktu yang sama juga diadakan perayaan serupa di lereng Gunung Lawu, sehingga Ratu Kidul — walaupun pada hakikatnya berhubungan dengan Laut — dapat juga dikaitkan dengan Gunung. 

Di kota Yogyakarta, 

konon Ratu Kidul kadang-kadang muncul dengan iringan panjang roh bercahaya(lampor), suatu hal yang selalu menandai bakal terjadinya peristiwa naas. 

Pada setiap penobatan raja baru di Surakarta, sekuntum bunga langka yang dianggap milik Ratu Kidul — wijayakusuma ( pisonia silvestris) — harus dipetik dengan khidmat di pantai selatan. Sampai sekarang, hari ulang tahun Sunan diperingati dengan sebuah tarian keramat, bedoyo ketawang. Tarian itu dahulu hanya boleh ditonton oleh warga kraton. Baru pada tahun-tahun akhir-akhir ini tamu dari luar kraton diperbolehkan menikmatinya . Para penarinya selalu terdiri atas sembilan gadis pilihan yang sudah lama terlatih. 

Ratu Kidul konon ikut menari, tetapi hanya Sunan yang dapat melihatnya.  Dalam tarian itu kesembilan penarinya bergerak lamban di sekeliling raja yang duduk dengan agungnya. Hendaknya dicatat bahwa tarian ini dianggap mempunyai arti kosmis yang mendalam. Konon yang digambarkan adalah gerak bintang-bintang di angkasa. 

Ciri kuno yang lain ialah perawatan pusaka, yaitu alat-alat kebesaran. Pemilikan alat kebesaran ini, sebagaimana pemilikan wahyu , merupakan tanda keabsahan. Pusaka itu ada yang dikatakan berasal dari zaman Mojopahit dan Demak. Pusaka-pusaka kraton Yogyakarta yang paling terkenal adalah 

gong Kiyayi Bicak (yang dihubungkan dengan Sunan Kali Jaga), tombak Kiyayi Plered dan Kiyayi Baruklinting (berbentuk lidah ular, dirampas dari Kiyayi Ageng Mangir yang telah berani memberontak), gamelan Nyayi Sekati, yang dimainkan pada waktu perayaan garebeg , dan keris Kiyayi Jaka

Yang paling istimewa di antara pusaka itu barangkali adalah Kotang Antakusuma. Rompi itu disimpan dengan khidmat di keraton Yogyakarta dan hanya dipakai oleh para sultan pada saat berperang. Pakaian yang beraneka warna itu secara cermat dapat dibandingkan dengan bianglala yang dalam mitos-mitos Nusantara dianggap sebagai jalan alami antara alam manusia dan alam Dewata. 

Namun hendaknya dicatat bahwa unsur Islam juga hadir. Rompi Antakusuma itu dianggap dibuat oleh Sunan Kali Jaga sendiri dari sehelai kulit kambing yang secara ajaib dikirim oleh Nabi Muhammad kepada majelis Wali yang sedang berkumpul di Demak...

Nyai Roro Kidul Lanjutan

Ada sebuah kecurigaan tentang adanya sebuah peradaban yang tersimpan dan bersembunyi di Indonesia bahkan hingga saat ini. Kecurigaan yang pertama adalah tentang bangunan Taman Sari di Yogyakarta. Salah satu kepercayaan raja-raja jawa zaman dahulu adalah persinggungan dengan Ratu Kidul, atau yang biasa disebut dengan Nyai Roro Kidul. Keberadaan terowongan di Taman Sari menguatkan sebuah fakta bahwa para raja-raja melakukan komunikasi dengan ratu kidul ini dengan menggunakan terowongan di Taman Sari ini.

Gunung-gunung berapi dikendalikan dari sebuah peradaban di pantai selatan. Ada 18 titik di pulau jawa yang menyimpan lipatan-lipatan bumi yang menyimpan peradaban-peradaban yang tersembunyi,

Cerita Nyi Roro Kidul, legenda yang juga pernah dibahas dalam konggres paranormal di Paris pada 1980an.

Dalam pertemuan di Eropa itu, para paranormal umumnya tertarik pada fakta bahwa legenda itu berkembang di kalangan masyarakat sepanjang selatan Indonesia, bukan hanya pantai selatan Jawa. Suatu kawasan yang sangat panjang.

Bung Karno juga bercerita soal Atlantis. Bung Karno melakukannya di depan rapat para panglima ALRI di Tanjung Priok, Jakarta. Awalnya, Bung Karno berbicara mengenai mitos Nyi Roro Kidul.

Lalu, Bung Karno bilang, “ada kupasan yang mengatakan bahwa di selatan Pulau Jawa ini ada satu Pulau besar, yang seperti Nusa Tembini, kepulauan pulau Nusa ini, seperti Nusa Tembini diereh oleh seorang Raja Putri.”

Raja Putri itu, kata Bung Karno, mempraktekkan hukum matriarchal. Akan tetapi, kerajaan Nusa Tembini tenggelam ke dasar laut. Nah, inilah yang kemudian dikenang dengan cerita Nyi Roro Kidul.

Cerita soal Nusa Tembini ini, menurut Bung Karno, mirip dengan kepercayaan orang eropa mengenai kerajaan lautan Atlantis.

Janji Sang Ratu

Dalam Babad Tanah Jawi memang disebutkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senopati, penguasa pertama Kerajaan Mataram, untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka.

Gunung Selok

Di kota Cilacap terdapat Goa yang sering di kunjungi orang untuk melakukan semedi atau meminta sesuatu, yaitu Goa Ratu dan Naga Raja. 

Goa Ratu ini tak hanya dikunjungi oleh orang-orang daerah Jawa, tetapi sering juga dikunjungi oleh orang luar Pulau Jawa, untuk bermeditasi dan memohon sesuatu.

Banyak para peziarah yang sering melihat sosok Kanjeng Ratu kidul di tempat ini. Karena Goa ini merupakan salah satu tempat petilasan Ratu Kidul. Menurut cerita warga sekitar, Presiden Soekarno dan Soeharto pernah berkunjung ke tempat ini untuk bermeditasi.

Salah satunya penelitian di goa Nagaraja yang terletak di pantai Selok Cilacap. Mereka tertarik dengan cerita tentang berkumpulnya ular-ular dari segala penjuru dalam waktu tertentu di goa tersebut.

Secara umum, daerah Selok Srandil memang sangat lekat dengan hal-hal berbau mistis yang menyangkut sejarah panjang kekuasaan negeri ini. Dimulai sejak jaman Majapahit dimana Gajahmada dipercaya menjalani masa pensiun sebagai pertapa di situ. Dilanjut saat Danang Sutawijaya alias Panembahan Senopati mengambil sejumput tanah sebagai syarat agar bisa membabat hutan Mentaok yang menjadi cikal bakal Mataram. Sampai masuk era modern, Soekarno dan Soeharto pun menjadikan gunung Selok sebagai tempat mengasah kemampuan spiritualnya.

Mereka mendapatkan data, bahwa di tempat-tempat yang dikatakan angker, pada waktu-waktu tertentu ada pancaran frekuensi elektromagnetik di kisaran gelombang 28 kHz. Anehnya gelombang itu hanya ditemukan terbatas di lokasi angker dan tidak terdeteksi di luar wilayah itu.

Secara pseudoscience, mereka membuat kesimpulan bahwa berkumpulnya ular di goa Nagaraja ada hubungannya dengan kemunculan frekuensi misterius itu. Sedangkan menurut mitos yang berkembang di masyarakat, ular-ular itu sedang dikumpulkan oleh pejabat kerajaan laut selatan yang bernama Nyi Blorong.

Jadi ada 3 hal yang bisa ditarik benang merahnya. Pertama ular bisa mengenali orang yang menyakiti dan mengirimkan data tersebut kepada ular lain. Kedua, ada frekuensi 28 kHz misterius saat ular-ular berkumpul di gua Nagaraja. Dan terakhir tentang mitos Nyi Blorong.

Mungkinkah ular itu tak ubahnya CCTV yang berfungsi untuk merekam dan menyimpan data kemudian mengirimkan secara wireless menggunakan sinyal 28 kHz ke server laut selatan yang dikelola Nyi Blorong?

Bila dihubungkan dengan keyakinan ala kraton Jogja yang menganggap Nyi Roro Kidul itu nyata, bisa jadi kerajaan Laut Kidul sebenarnya sekumpulan manusia ultra modern dengan kecanggihan teknologi kamuflase sehingga tidak bisa kita deteksi. Kita menganggap itu ghaib atau khayalan, karena memang teknologi kita belum sampai kesana. Ini sama dengan manusia tahun 80an mengatakan hape di film Startrex sebagai imajinasi sutradara semata.

Dari buku: “Cerita Rakyat Dari Yogyakarta 2” karangan Bakdi Soemanto

“…..Begitu bangun, Senapati melihat cahaya berbentuk bulat bagaikan buah kelapa, turun dari angkasa. Cahaya itu berkata bahwa kelak cita-citanya akan tercapai. Hanya saja, kebesaran kerajaannya terbatas hingga tahta yang diduduki cicitnya. Sesudah itu, ada makhluk-makhluk bertubuh tinggi, kulitnya putih, rambutnya pirang, suka mencampuri urusan kerajaan. Ramalan cahaya bulat sebesar kelapa itu membuat Senapati gelisah dan mendorongnya untuk naik ke puncak Gunung Merapi untuk meminta keterangan kepada dua makhluk halus penunggu gunung itu. Sementara Senapati berjalan mengikuti aliran sungai Opak, ke arah timur, saat tiba di muara sungai, Senapati berjumpa dengan seekor ikan Olor Tunggulwulung yang kemudian membawanya ke tepi sungai. Di situ kemudian Senapati bersemedi. Tak lama Senapati duduk di tepian sungai itu, angin keras meniup dan air sungai mendidih. Peristiwa itu mendorong Ratu Laut Selatan muncul dari dasar laut. Kemudian Ratu Laut Selatan memohon agar Senapati turun ke dasar samudera, menikmati keindahan istananya dan berkasih-kasihan…..”

Apakah cahaya berbentuk bulat bagaikan buah kelapa yang turun dari angkasa itu adalah UFO? Apakah makhluk yang tinggi, kulitnya putih, pirang itu adalah alien nordic?

Diceritakan sebelum Ratu Laut Selatan keluar dari laut, airnya mendidih, apakah itu karena proses UFO mau keluar? Apakah Istana Ratu Laut Selatan di dasar samudera itu pangkalan UFO?

Nyai Roro Kidul


Nyai Roro Kidul, demikian ejaan sebenarnya dari tulisan di Babad Tanah Jawi. Tapi entah kenapa beredar dan terkenal dengan nama yang salah baca, Kanjeng Ratu Kidul!

Bahkan ada perbedaan persepsi yang meluas dan diyakininya, bahwa antara Nyai Roro Kidul dan Kanjeng Ratu Kidul itu berbeda. Artinya, Roro Kidul itu patih, sedangkan Kanjeng Ratu Kidul itu ratunya. Namun, Babad Tanah Jawi tak menyebutkan itu. Kedudukannya berhubungan dengan Merapi-Keraton-Laut Selatan yang berpusat di Kesultanan Solo dan Yogyakarta

Pengamat sejarah kebanyakan beranggapan, keyakinan akan Kanjeng Ratu Kidul memang dibuat untuk melegitimasi kekuasaan dinasti Mataram. Keraton Surakarta menyebutnya sebagai Kanjeng Ratu Ayu Kencono Sari. Ia dipercaya mampu untuk berubah wujud beberapa kali dalam sehari. Sultan Hamengkubuwono IX menggambarkan pengalaman pertemuan spiritualnya dengan sang Ratu; ia dapat berubah wujud dan penampilan, sebagai seorang wanita muda biasanya pada saat bulan purnama, dan sebagai wanita tua di waktu yang lain.

Nyi Roro Kidul juga dikabarkan adalah pemberi restu para Walisongo untuk menyebarkan Islam di selatan Jawa. Dalam Serat Darmogandul, sebuah karya sastra Jawa Baru yang menceritakan jatuhnya Majapahit akibat serbuan Kerajaan Demak, Ni Mas Ratu Anginangin adalah ratu seluruh makhluk halus di pulau Jawa dan memiliki kerajaan di laut selatan. Hampir seluruh isi Serat Darmagandul merupakan bentuk turunan dari cerita babad Kadhiri.

Pramoedya Ananta Toer. Dalam pidatonya saat menerima penghargaan Ramon Magsaysay 1988, Pram menyebut cerita Ratu Kidul hanya mitos. Melalui pidato tertulis berjudul Sastra, Sensor dan Negara : Seberapa Jauh Bahaya Membaca? Pram mencoba menjelaskan bagaimana penyair Istana Mataram menciptakan mitos Nyi Roro Kidul sebagai kompensasi kekalahan Sultan Agung ketika menyerang Batavia dua kali (1628 dan 1629) serta kegagalan Sultan Agung menguasai jalur perdagangan di Pantai Utara Jawa.

Untuk menutupi kehilangan itu, penyair Jawa menciptakan Dewi Laut Nyi Roro Kidul sebagai selimut, bahwa Mataram masih menguasai laut, di sini Laut Selatan (Samudera Hindia). Mitos ini melahirkan anak-anak mitos lainnya: bahwa setiap Raja Mataram memiliki seorang dewi,” kata Pram.

Menurut Pram, berangkat dari mitos Nyi Roro Kidul, muncul mitos tabu lainnya, seperti larangan memakai baju hijau di pantai selatan. Padahal, itu hanyalah bentuk kebencian penyair terhadap Kompeni. Hijau, kata Pram, mewakili warna pakaian tentara Belanda.

Dalam sebuah pidato di Istana Merdeka, 17 Juli 1959 saat melantik R.E. Martadinata sebagai Kepala Staf Angkatan Laut. Dalam kesempatan itu, Soekarno menceritakan, sejak era Mataram Islam, terdapat tradisi bahwa seorang raja dapat menjadi besar jika beristrikan Nyi Roro Kidul.

Kemudian, dalam Musyawarah Nasional Maritim, 23 September 1963, nama Nyi Roro Kidul juga kembali muncul.

“Kepercayaan ini berisi satu simbolik bahwa tidak bisa seseorang raja, bahwa tidak bisa sesuatu Negara di Indonesia ini menjadi kuat jikalau tidak dia punya raja kawin beristrikan Ratu Roro Kidul,” kata Soekarno kala itu. Pantai Parangkusumo dan Parangtritis di Yogyakarta sangat berhubungan dengan legenda Kanjeng Ratu Kidul. 

Parangkusumo merupakan tempat Panembahan Senapati bertemu Kanjeng Ratu Kidul. Saat Sri Sultan Hamengkubuwono IX meninggal tanggal 3 Oktober 1988, majalah Tempo menulis bahwa para pelayan keraton melihat penampakan Kanjeng Ratu Kidul untuk menyampaikan penghormatan terakhirnya kepada Sri Sultan.

Naskah tertua yang menyebut-nyebut tentang tokoh mistik ini adalah Babad Tanah Jawi. Panembahan Senopati adalah orang pertama yang disebut sebagai Raja yang menyunting Sang Ratu Kidul. 

Catatan: baru muncul di jaman Mataram Islam Penghormatan serta pemuliaan kepada Kanjeng Ratu Kidul juga terdapat pada sebuah kelenteng yang terletak di bilangan Pekojan, Jakarta Barat, yaitu di Vihara Kalyana Mitta. Terdapat kepercayaan bahwa mitos mengenal Nyi Roro Kidul (dalam hal ini, nama Nyai Roro Kidul hanya menjadi panggilan populer Kanjeng Ratu Kidul) berasal dari kepercayaan Siwa-Buddha di Indonesia, yaitu kepercayaan kepada Dewi Tara (Bodhisatwa).

Sebelum Wakanda populer, Atlantis lebih dulu dikenal sebagai utopia klasik umat manusia. Atlantis adalah lokasi peradaban maju dari masa ribuan tahun lalu yang memiliki teknologi canggih, kendaraan terbang, kekayaan alam, dihuni manusia ras unggul, dan berlokasi di Indonesia. 

Tunggu dulu, memangnya Atlantis bukan cuma mitos?

Bagi Komunitas Turangga Seta, peradaban kuno itu ada, jejaknya tertimbun di bawah Indonesia modern, serta jauh lebih keren daripada Wakanda. Komunitas ini bahkan mengklaim sudah berhasil menemukan lokasi persis Atlantis yang hilang: 200 mil dari pantai selatan Pulau Jawa. Di Pantai Parangkusumo tertinggal jejak percakapan batin dengan huruf Kawi bahasa Jawa kuno. Sang Putri dengan dandanan yang tidak sekuno yang banyak di lukis dan di bicarakan orang. Wajah oval cantik seperti berdarah campuran dengan rambut sebahu lebih sedikit. Dan juga bukan memakai pakaian berwarna hijau. Tidak juga pakai kemben. Melihat ke tengah laut miring ke kiri tidak jauh di sana ada Gunungan Emas sebagai Wahyu dan tanda wilayah kerajaan yang tak lekang oleh zaman. Setidaknya masih ada sekarang ini.

Cepuri Parangkusumo Parangtritis DIY

Pantai Parangtritis Kec Kretek Kab Bantul DIY



Nyai Roro Kidul, demikian ejaan sebenarnya dari tulisan di Babad Tanah Jawi. Tapi entah kenapa beredar dan terkenal dengan nama yang salah baca, Kanjeng Ratu Kidul!

Bahkan ada perbedaan persepsi yang meluas dan diyakininya, bahwa antara Nyai Roro Kidul dan Kanjeng Ratu Kidul itu berbeda. Artinya, Roro Kidul itu patih, sedangkan Kanjeng Ratu Kidul itu ratunya. Namun, Babad Tanah Jawi tak menyebutkan itu. Kedudukannya berhubungan dengan Merapi-Keraton-Laut Selatan yang berpusat di Kesultanan Solo dan Yogyakarta

Pengamat sejarah kebanyakan beranggapan, keyakinan akan Kanjeng Ratu Kidul memang dibuat untuk melegitimasi kekuasaan dinasti Mataram. Keraton Surakarta menyebutnya sebagai Kanjeng Ratu Ayu Kencono Sari. Ia dipercaya mampu untuk berubah wujud beberapa kali dalam sehari. Sultan Hamengkubuwono IX menggambarkan pengalaman pertemuan spiritualnya dengan sang Ratu; ia dapat berubah wujud dan penampilan, sebagai seorang wanita muda biasanya pada saat bulan purnama, dan sebagai wanita tua di waktu yang lain.

Nyi Roro Kidul juga dikabarkan adalah pemberi restu para Walisongo untuk menyebarkan Islam di selatan Jawa. Dalam Serat Darmogandul, sebuah karya sastra Jawa Baru yang menceritakan jatuhnya Majapahit akibat serbuan Kerajaan Demak, Ni Mas Ratu Anginangin adalah ratu seluruh makhluk halus di pulau Jawa dan memiliki kerajaan di laut selatan. Hampir seluruh isi Serat Darmagandul merupakan bentuk turunan dari cerita babad Kadhiri. Pramoedya Ananta Toer. Dalam pidatonya saat menerima penghargaan Ramon Magsaysay 1988, Pram menyebut cerita Ratu Kidul hanya mitos. Melalui pidato tertulis berjudul Sastra, Sensor dan Negara: Seberapa Jauh Bahaya Membaca? Pram mencoba menjelaskan bagaimana penyair Istana Mataram menciptakan mitos Nyi Roro Kidul sebagai kompensasi kekalahan Sultan Agung ketika menyerang Batavia dua kali (1628 dan 1629) serta kegagalan Sultan Agung menguasai jalur perdagangan di Pantai Utara Jawa. Untuk menutupi kehilangan itu, penyair Jawa menciptakan Dewi Laut Nyi Roro Kidul sebagai selimut, bahwa Mataram masih menguasai laut, di sini Laut Selatan (Samudera Hindia). Mitos ini melahirkan anak-anak mitos lainnya: bahwa setiap Raja Mataram memiliki seorang dewi,” kata Pram.

Menurut Pram, berangkat dari mitos Nyi Roro Kidul, muncul mitos tabu lainnya, seperti larangan memakai baju hijau di pantai selatan. Padahal, itu hanyalah bentuk kebencian penyair terhadap Kompeni. Hijau, kata Pram, mewakili warna pakaian tentara Belanda.

Dalam sebuah pidato di Istana Merdeka, 17 Juli 1959 saat melantik R.E. Martadinata sebagai Kepala Staf Angkatan Laut. Dalam kesempatan itu, Soekarno menceritakan, sejak era Mataram Islam, terdapat tradisi bahwa seorang raja dapat menjadi besar jika beristrikan Nyi Roro Kidul.

Kemudian, dalam Musyawarah Nasional Maritim, 23 September 1963, nama Nyi Roro Kidul juga kembali muncul. “Kepercayaan ini berisi satu simbolik bahwa tidak bisa seseorang raja, bahwa tidak bisa sesuatu Negara di Indonesia ini menjadi kuat jikalau tidak dia punya raja kawin beristrikan Ratu Roro Kidul,” kata Soekarno kala itu.

Pantai Parangkusumo dan Parangtritis di Yogyakarta sangat berhubungan dengan legenda Kanjeng Ratu Kidul. Parangkusumo merupakan tempat Panembahan Senapati bertemu Kanjeng Ratu Kidul. 

Saat Sri Sultan Hamengkubuwono IX meninggal tanggal 3 Oktober 1988, majalah Tempo menulis bahwa para pelayan keraton melihat penampakan Kanjeng Ratu Kidul untuk menyampaikan penghormatan terakhirnya kepada sri sultan.

Naskah tertua yang menyebut-nyebut tentang tokoh mistik ini adalah Babad Tanah Jawi. Panembahan Senopati adalah orang pertama yang disebut sebagai Raja yang menyunting Sang Ratu Kidul. (catatan: baru muncul di jaman Mataram Islam)

Penghormatan serta pemuliaan kepada Kanjeng Ratu Kidul juga terdapat pada sebuah kelenteng yang terletak di bilangan Pekojan, Jakarta Barat, yaitu di Vihara Kalyana Mitta. Terdapat kepercayaan bahwa mitos mengenal Nyi Roro Kidul (dalam hal ini, nama Nyai Roro Kidul hanya menjadi panggilan populer Kanjeng Ratu Kidul) berasal dari kepercayaan Siwa-Buddha di Indonesia, yaitu kepercayaan kepada Dewi Tara (Bodhisatwa).

Sebelum Wakanda populer, Atlantis lebih dulu dikenal sebagai utopia klasik umat manusia. Atlantis adalah lokasi peradaban maju dari masa ribuan tahun lalu yang memiliki teknologi canggih, kendaraan terbang, kekayaan alam, dihuni manusia ras unggul, dan berlokasi di Indonesia. 

Tunggu dulu, memangnya Atlantis bukan cuma mitos?

Bagi Komunitas Turangga Seta, peradaban kuno itu ada, jejaknya tertimbun di bawah Indonesia modern, serta jauh lebih keren daripada Wakanda. Komunitas ini bahkan mengklaim sudah berhasil menemukan lokasi persis Atlantis yang hilang: 200 mil dari pantai selatan Pulau Jawa...

Di Pantai Parangkusumo tertinggal jejak percakapan batin dengan huruf Kawi bahasa Jawa kuno.

Sang Putri dengan dandanan yang tidak sekuno yang banyak di lukis dan di bicarakan orang. Wajah oval cantik seperti berdarah campuran dengan rambut sebahu lebih sedikit. Dan juga bukan memakai pakaian berwarna hijau. Tidak juga pakai kemben.

...Melihat ke tengah laut miring ke kiri tidak jauh di sana ada Gunungan Emas sebagai Wahyu dan tanda wilayah kerajaan yang tak lekang oleh zaman.

Setidaknya masih ada sekarang ini.

Nyai Blorong


Sang Nagini dari Laut Selatan 

Sejak abad ke-19, H.A van Hien sudah mencatat keberadaan Nyi Blorong. Dalam bukunya, De Javaansche geestenwereld, en de betrekking, die tussen de geesten en de zinnelijk wereld, verduidelijkt door petangan′s of tellingen bij de Javanen in gebruik yang terbit tahun 1896, van Hien membagi dunia makhluk halus di Jawa menjadi 95 jenis. Mengenai Nyi Blorong, dia menulis: “Segala jenis kekayaan akan diberikan kepada si pemanggil. Dan hal itu berjangka waktu selama tujuh tahun, namun bisa diperpanjang hingga dua kali lagi. Namun selama itu harus ada yang dikorbankan, dan terakhir si pemanggil itu yang menjadi korban dan mengisi istana Nyai Blorong,” tulis HA van Hien.

Pesugihan

Seorang petani miskin dari desa Soegihsaras, distrik Sidokantoen, berbincang dengan seorang tua yang dipanggil Kyai atau Embah. Si petani sudah lelah hidup miskin, bahkan paling miskin dibanding lima saudaranya. Dia ingin kaya dengan cepat.

Si Embah mau membantu, asalkan si petani mau menerima syaratnya: menyediakan tumbal. Si petani menyanggupi. Dia pun diminta menyiapkan satu kamar khusus, lengkap dengan pembaringan yang ditutup kelambu. Pada hari Jumat legi, dia diminta menyiapkan pelita di atas kasur, lengkap dengan bunga dan dupa.

“Sekarang sekitar tengah malam, dia mendengar suara seperti angin puyuh. Lalu setelah tenang, Blorong muncul di atas peraduan. Kakinya tidak terlihat, hanya tampak ekor ular yang seluruhnya tertutup sisik emas,” tulis J Kremeer, peneliti budaya berkebangsaan Belanda, dalam artikelnya “Blorong of de geldgodin der Javanen”, dimuat Mededelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap (1904).

Siapa Nyi Blorong? Beberapa sumber menyebutnya sebagai putri dari penguasa laut selatan, Ratu Kidul. Kisah ini antara lain tersurat dalam Babad Prambanan, yang disalin pada 1927. Babad ini punya versi lain yang lebih tua, yang disalin Wirsungun di wilayah Mangkunegaran pada 1885 atas prakarsa B.R.Ng. Keduanya menceritakan berdirinya Candi Prambanan dan juga kisah Ajisaka. Menariknya, mitos Aji Saka juga tersurat dalam Serat Kandaning Ringgit Purwa, sebuah kumpulan cerita wayang dan dongeng yang digubah dalam tembang macapat sekira abad ke-16.

Menurut Robert Wessing dalam “A Princess from Sunda: Some Aspects of Nyai Roro Kidul” dimuat Asian Folklore Studies Vol. 56 tahun 1997, Ular adalah mahluk favorit dalam beberapa cerita rakyat yang berkembang di Asia Tenggara, Tiongkok, dan India. Dalam banyak cerita tersebut, Ular atau Naga sering dikaitkan dengan penguasa, panen, dan kesuburan.

Dalam kisah pewayangan di Jawa, terdapat tokoh Anantaboga yang digambarkan sebagai dewa berwujud Naga. Anantaboga melambangkan kemakmuran atau kebahagiaan.

Tak heran jika bagi masyarakat Jawa pedalaman yang agraris, Nyi Blorong punya makna penting. Perwujudannya dalam bentuk ular dianggap sebagai penjaga lahan pertanian dari serangan hama, terutama tikus. Maka, untuknya dilakukanlah Sedekah Bumi.

“Sosok Blorong ini bisa diwujudkan dengan Ular, di mana dalam mitos Jawa, Ular menjadi perlambang Penjaga Bumi. Dia bisa disebut sebagai simbol keamanan dunia agraris".

Dalam perjalanan waktu, terutama karena sifat cerita rakyat yang terus berkembang, sosok Nyi Blorong lebih lekat dengan Pesugihan.

Hal ini biasa saja terjadi karena persoalan di zaman sekarang semakin sulit dan tak dapat terpecahkan, sehingga banyak orang ‘mencari’ jalan keluar ke dunia lain. Dalam alam pikir masyarakat Jawa, keberadaan dunia lain dengan penghuninya sudah menjadi satu-kesatuan yang utuh.

“Karena mereka sama-sama hidup, kemudian mereka boleh saling membantu. Seseorang yang memiliki keinginan besar meraih kekuasaan politik atau ekonomi sudah tentu akan melibatkan kalangan makhluk halus dalam meraih cita-citanya".

Tarian Langit

Bedhaya Ketawang ~ Tarian Langit 

Bedhaya ketawang disebut juga tarian langit, yang menurut Kitab Wedhapradangga, diciptakan Sultan Agung (1613-1645), seusai mendengar tetembangan dari tawang (langit). Sehingga, secara harfiah, bedhaya ketawang berasal dari ambedhaya (menari) dan tawang. Bedhaya ketawang merupakan suatu upacara yang berupa tarian dengan tujuan pemujaan dan persembahan kepada Sang Pencipta.

Asal-usul Tari Bedhaya Ketawang

Asal mulanya tari Bedhaya Ketawang hanya diperagakan oleh tujuh wanita saja. Dalam perkembangan selanjutnya, tari ini dianggap sebuah tarian khusus dan dipercaya sebagai tari yang amat sakral kemudian diperagakan oleh sembilan orang. Berbeda dengan tarian lainnya, Bedhaya Ketawang ini semula khusus diperagakan oleh abdi dalem Bedhaya Keraton Surakarta Hadiningrat. Iramanya pun terdengar lebih luruh (halus) dibanding dengan tari lainnya semisal Srimpi, dan dalam penyajiannya tanpa disertai keplok-alok (tepuk tangan dan perkataan).

Dikatakan tari Bedhaya karena tari ini menyesuaikan dengan gendingnya, seperti Bedhaya Gending Ketawang Ageng (Karya Penembahan Senapati), Bedhaya gending Tejanata dan Sinom (karya PB IX), Bedhaya Pangkur (karya PB VIII), Miyanggong (karya PB IV), Duradasih (karya PB V), dan lainnya. Siapa sebenarnya pencipta tari Bedhaya Ketawang itu sendiri sampai sekarang memang masih simpang siur. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa tarian ini sengaja diciptakan langsung oleh Kanjeng Ratu Kidul khusus untuk raja-raja Jawa.

Bedoyo Ketawang misalnya menurut Sinuhun Paku Buwono X menggambarkan lambang cinta kasihnya Kanjeng Ratu Kidul pada Panembahan Senopati. Ini semua terlukis dalam gerak gerik tangan, langkah kaki, dan seluruh bagian tubuh para penari. Namun semuanya tergambar dengan begitu halus sehingga cukup sulit bagi orang awam untuk memahaminya. Segala gerak dalam tarian ini melambangkan melambangkan bujuk rayu dan cumbu birahi. Walaupun dapat dielakkan Sinuhun, Kanjeng Ratu Kidul tetap memohon agar Sinuhun ikut bersamanya menetap di dasar samudera dan bersinggasana di Sakadhomas Bale Kencana (Singgasana yang dititipkan oleh Prabu Rama Wijaya di dasar lautan). Sinuhun tidak mau menuruti kehendak Sang Ratu, karena masih ingin mencapai “sangkan paran“, namun beliau masih mau memperistri Kanjeng Ratu Kidul, turun temurun. Kemudian terjadilah Perjanjian/Sumpah Sakral antara Kanjeng Ratu Kidul dan Raja Pertama tanah Jawa, yang tidak dapat dilanggar oleh raja-raja Jawa yang turun temurun atau raja-raja penerus. Sehingga siapa saja raja yang bertahta atas Jawa otomatis akan beristri Kanjeng Ratu Kidul. Sebaliknya bahkan Kanjeng Ratu Kidul yang diminta datang ke daratan untuk mengajarkan tarian Bedhaya Ketawang pada penari-penari kesayangan Sinuhun. Satu sumber menyebutkan bahwa tari ini diciptakan oleh Penembahan Sanapati-Raja Mataram pertama-sewaktu bersemadi di Pantai Selatan. Ceritanya, dalam semadinya Penembahan Senapati bertemu dengan Kanjeng Ratu Kencanasari (Ratu Kidul) yang sedang menari. Selanjutnya, penguasa laut Selatan ini mengajarkannya pada penguasa Mataram ini.

Sumber lainnya menyebutkan bahwa tari Bedhaya Ketawang ini diciptakan oleh Sultan Agung Anyakrakusuma (cucu Panembahan Senapati). Menurut Kitab Wedhapradangga yang dianggap pencipta tarian ini adalah Sultan Agung (1613-1645), raja terbesar dari kerajaan Mataram bersama Kanjeng Ratu Kencanasari, penguasa laut Selatan. Ceritanya, ketika Sultan Agung sedang bersemadi, tiba-tiba mendengar alunan sebuah gending. Kemudian Sultan Agung berinisatif menciptakan gerakan-gerakan tari yang disesuaikan dengan alunan gending yang pernah didengar dalam alam semadinya itu. Akhirnya, gerakan-gerakan tari itu bisa dihasilkan dengan sempurna dan kemudian dinamakan tari Bedhaya Ketawang. Sedang Versi yg lain Tarian ini di ciptakan oleh Bathara Guru

Mitologi dan Peraturan dalam Tari Bedhaya Ketawang

Tari bedhaya ketawang adalah sebuah tari yang amat disakralkan dan hanya dipentaskan pada waktu-waktu tertentu saja. Bedhaya ketawang ada dua jenis, yaitu bedhaya ketawang alit yang dipentaskan setiap tahun pada acara tingalan Jumenengan Dalem dan durasinya hanya 1,5 jam. Satu lagi yaitu bedhaya ketawang ageng yang dipentaskan setiap 8 tahun sekali atau sewindu sekali. Tari bedhaya ketawang ageng bisa berdurasi sekitar 5,5 jam dan berlangung hingga pukul 01.00 pagi. Orang yang menyaksikannya pun adalah orang-orang tertentu yang telah terpilih. Selama menyaksikan tari tersebut, hadirin harus dalam keadaan khusuk, semedi, dan hening. Jadi hadirin tidak boleh berbicara atau makan, dan hanya boleh diam dan menyaksikan gerakan demi gerakan sang penari.

Pada awalnya di keraton Surakarta Hadiningrat, tarian ini hanya diperagakan oleh tujuh wanita saja. Namun karena tarian ini dianggap tarian khusus yang dianggap sakral, jumlah penari kemudian ditambah menjadi sembilan orang. Sembilan penari terdiri dari delapan puteri yang masih ada hubungan darah dan kekerabatan dari keraton dan seorang penari gaib yang dipercaya sebagai sosok Nyai Roro Kidul. Konon, setiap kali bedhaya ketawang ditarikan, Nyai Roro Kidul selalu hadir, ikut menari. Namun tidak setiap orang dapat melihatnya, hanya bagi mereka yang peka saja Sang Ratu menampakkan diri. Tak heran jika kemudian muncul aturan ketat bagi seluruh orang yang terlibat dalam tarian ini baik pada masa latihan maupun waktu pementasan. Hal ini dikarenakan mereka akan bersentuhan langsung dengan Nyi Roro Kidul yang dipercaya sebagai pencipta tarian tersebut. Bahkan, menurut orang yang percaya, Kanjeng Ratu Kidul sendiri yang datang akan turun membetulkan apabila ada gerakan tari yang salah. Ada juga yang percaya Dalam tari Bedaya Ketawang, Nyai Ratu Kidul menggandakan dirinya menjadi namawatrika (sembilan dewi ibu alam semesta). 

Sebelum dilaksanakan tarian ini ada beberapa laku atau aturan yang juga disebut juga upacara ritus yang harus dipenuhi oleh keraton dan para penarinya. Adapun yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

Untuk Keraton harus melakukan upacara atau ritus Labuhan atau Larungan (persembahan korban) yang berupa sesaji di 4 titik ujung/titik mata angin disekitar keraton. Disini keraton diibaratkan sebagai pusat Kosmis dari dunia dan keempat titik penjuru melambangkan alam semesta, letak geografis dan mitologis keempat titik tersebut adalah:

1. Di Bagian Utara terdapat Gunung Merapi dengan penguasa Kanjeng ratu Sekar,

2. Di Daerah Selatan terdapat Segoro Kidul atau laut kidul dengan penguasa Nyi Rara Kidul,

3. Bagian Barat terdapat Tawang Sari kahyangan ndlpih dengan penguasa Sang Hyang Pramori (Durga di hutan Krendowahono),

4. Dibagian Timur terdapat Tawang Mangu dengan Argodalem Tirtomoyo sebagai penguasa dan Gunung Lawu dengan Kyai Sunan lawu sebagai penguasanya.

Selain itu putri-putri yang ikut menari diwajibkan masih Perawan (belum menikah), tidak dalam keadaan haid dan menjalankan puasa tertentu sebelum melakukan tarian. Ada sumber yang menyebutkan bahwa khusus bagi anak raja boleh sudah menikah tetapi harus memasang sesaji tertentu (caos dhahar), begitu juga bagi penari yang sedang haid boleh ikut menari setelah memasang sesaji untuk Kanjeng Ratu Kidul.

Pada malam hari anggara kasih yaitu ke 9 penari termasuk nyai rara kidul yang diyakini memasuki sitihinggil dengan arah Pradaksina disekitar sultan/raja, mereka itu perlambang cakrawala dan membuat formasi nawagraha, perbintangan kartika : 2 + 5 + 2. Atas irama gamelan para penari melambangkan peredaran tata tertip kosmis azali yang teratur : kemudian bagaimana tata tertip tersebut menjadi kacau dan kemudian dipulihkan lagi. Tembang yang dinyanyikan melambangkan Re-integrasi tata dunia dalam tata asli transendia dan lama tarian yang dimainkan sekitar 5,5 jam kadang sampai jam 01:00 malam (pada bedhaya ketawang ageng).

Pola bedhaya Ketawang berhubungan dengan astronomi, yaitu mengikuti pola perbintangan (rasi bintang) yang dikenal dan dianut masyarakat Jawa untuk keperluan sehari-hari (menentukan musim, bertani, dan sebagainya). Beberapa pola rasi bintang yang digunakan adalah gubug penceng dan waluku.

Busana dalam tari bedhaya ketawang menggunakan dhodhot ageng pengantin Jawa yang disebut basahan. Menggunakan gelung bokor mengkurep yang berukuran lebih besar daripada gaya Yogyakarta. Penyajian tari tersebut diawali dari pembukaan (15 menit), bagian inti (60 menit), dan penutup (15 menit). Pertama bagian pembukaan, menceritakan kala Kanjeng Ratu Kidul keluar dari istana dan bertemu Panembahan Senopati, yang memintanya membantu kerajaan yang kalut. Ia mau membantu dengan syarat Senopati harus menjadi suaminya. Kedua bagian inti, menceritakan adegan percintaan Penembahan Senopati dan Ratu Kidul, yang sempat mengabaikan negeri walau akhirnya diingatkan Ki Juru Martani (penasihat kerajaan) untuk kembali ke Mataram. Ketiga bagian penutup, menceritakan tangisan atas kerinduan mendalam dan ungkapan cinta Kanjeng Ratu Kidul, yang bersumpah tidak akan mencari laki-laki lain, kecuali Raja Mataram. Dia juga berjanji mengabdi dan menjadi istri Raja Mataram hingga turun-temurun, hingga kini.

Bedoyo Ketawang

Saya Adikmu telah membunyikan sinyal Anda tertinggal. Ya Bapa, berikan tanda itu. Lalu sinyal itu berbunyi. Dalam bentrokan pernah bentrok. Sepanjang jalan gila dengan cinta. Dibalut celana putih halus, dalam rok warna merah tua. Dengan sabuk silken hijau gelap. Dengan emas bertatahkan kens. Anting-anting berlian yang brilian. Ditetapkan dalam filafree emas halus. Bunga kamboja. Aroma harum manis Dengan selempang selempang sutra cindhe, dihiasi dengan gelang emas. Ya, diurapi dengan balsem harum. Mahkota emas [nya] bertabur. Dengan permata berharga yang langka. Dan menyapa telinganya, sayap emasnya yang tipis. Bunga kamboja bermekaran. Begitu harumnya aroma harum

Π. Hati terselubung dengan hati-hati, ketika [kita bersama] berbaring dengan bantal. Dewa-dewa yang turun ke bumi akan memiliki gerbang yang kuat. Semua hilang — bantal itu tergeletak di lantai. 

O perkasa Susuhunan 

Siapa yang akan mengasihani pengangkutan cinta [saya]? 

Terang dunia, bunga pencerahan: 

Manifestasi yang cerah hanyalah di tempat tidur 

O perkasa Susuhunan 

Panah yang memikat membumbung terlupakan dalam cinta penuh perasaan 

Tersembunyi jauh di dalam hati; pernah [aku] jatuh di depan kaki Sunan 

Daya pikat dari pendekatannya membangkitkan hati saya 

Kodok kecil, daunmu tilarsa 

Jadilah [Anda] tenang; kepada siapa kemudian milik [diriku]? 

0 perkataan Susuhunan 

Hai! Jangan sekali pun dibiarkan biarkan [itu] diatur lagi 

Tunjukkan saya bagaimana melayani [kamu] 

Aku akan memohon untuk berbaring di bawah kaki [Mu] mungkin 

Apakah itu terwujud dalam kebenaran saya akan jatuh sakit

Mungkin [saya akan] menjadi gila 

Susuhunan 

Kapan, O, Tuan Yang Maha Kuasa, haruskah aku bertemu [] 

Di tempat tidur, O, Tuan Yang Perkasa? 

Jok jiwa, sedikit teratai danau bermekaran 

Ketika hilang dalam kerinduan, ke mana harus [saya] menelepon? 

Semua keturunanmu, O Lord Yang Perkasa — Ah! di tempat tidur 

Dibutakan oleh air mata adalah dia Dhangur 

Tubuh-Nya sepenuhnya menghasilkan, tetapi itu adalah kesedihan pada akhirnya 

[Dan] berdiri dengan kepala memegang sarana tinggi tetapi kesedihan pada akhirnya 

Tidak ada pertemuan yang menyelamatkan penyerahan tubuh dan jiwa.

IΠ. Hai! Kecantikannya, semoga seribu menjadi istrinya 

Seolah-olah 

Selempang merahnya di masing-masing sisi 

Susuhunan 

Mengembara, banyak istrinya 

Susuhunan 

Seolah-olah 

Berkeliaran, banyak ratu 

Susuhunan 

Seolah-olah 

Perhiasan berserakan di antara awan 

Susuhunan 

Kekuatannya seperti bintang-bintang 

Menangis [I] menatap langit 

Seolah-olah 

Seperti bintang-bintang, karya-Mu, Panembahan 

Poros panah, seperti api nyalanya 

Kemarahan api, Tuanku 

Haruskah kematian datang, ke mana harus mencuri, Tuanku? 


Sumber: Nancy K Florida, The Badhaya Katawang: Terjemahan lagu Kangjeng Ratu Kidul