Babad Tanah Jawa

Indonesia, adalah negara terkaya di dunia, bahkan seluruh kesuburan tanah di Eropa jika dikumpul tak akan menyamai kesuburan di tanah Jawa.”

Petikan kalimat di atas terdapat dalam naskah kuno “Babad Tanah Jawi”. Di situ, ada kesaksian Belanda sebagai negara penjajah tentang Indonesia yang “Gemah Ripah Loh Jinawi”.

Naskah “Babad Tanah Jawi” merupakan salah satu naskah kuno tahun 1700-an mengenai sejarah Indonesia yang kini awet tersimpan di tanah air. Sayang, tidak banyak naskah kuno yang bernasib baik seperti “Babad Tanah Jawi”. 

Sebagian naskah kuno tak jelas keberadaannya, sebagian lagi dibawa oleh negara lain. Maka tak perlu heran, jika para peneliti asal Indonesia yang ingin meneliti sejarah negerinya sendiri, seringkali kerepotan akan referensi naskah-naskah kuno. Banyak di antaranya yang harus terbang ke Belanda atau Inggris untuk mengakses naskah kuno yang justru tersimpan apik di negara orang.

Menurut data Perpustakaan Nasional, terhitung sekitar 26.000 koleksi naskah Indonesia terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Angka itu belum terhitung naskah-naskah kuno Indonesia yang tersimpan di Perpustakaan The British Library London, The Bodleian Library di Oxford, Perpustakaan Berlin di Jerman, atau di sejumlah negara lainnya. Semua naskah-naskah itu, hampir dapat dipastikan kondisinya terawat dengan sangat baik dan dapat diakses dengan mudah. Tentu melalui prosedur tertentu.

Diboyongnya warisan budaya ini memang telah lama terjadi, bahkan sejak ratusan tahun lalu. Maklum, saat itu kita masih dijajah Belanda atau Inggris di beberapa wilayah. Walau begitu, hal yang harus digarisbawahi, para negara pemboyong sangat peduli terhadap kekayaan sejarah bangsa lain.

Terbukti di Inggris, naskah-naskah Indonesia telah berdiam dan terinventarisasi secara teliti dalam sebuah katalogus susunan MC Ricklefs dan P Voorhoeve sejak awal abad ke-17. Sebanyak lebih dari 1.200 naskah teridentifikasi ditulis dalam berbagai bahasa daerah. 

Sebut saja Aceh, Bali, Batak, Bugis, Jawa (kuno), Kalimantan, Lampung, Madura, Makasar, Melayu, Minangkabau, Nias, Rejang, Sangir, Sasak, Sunda (kuno), dan Sulawesi (di luar Bugis dan Makasar). Naskah-naskah itu, menurut Oman Fathurahman, Filolog Indonesia, tersebar di 20-an perpustakaan dan museum di beberapa kota di Inggris. Koleksi terbanyak bermukim di dua tempat, yakni British Library dan School of Oriental and African Studies.

Pada tahun 1990, British Library bahkan mengklaim bahwa naskah yang berada di tempatnya mulai dikoleksi sejak abad ke-15. Koleksi mereka berisi berbagai macam hikayat, syair, primbon, surat, sampai bukti transaksi dagang dari abad ke-15. 

Menurut Syarif Bando, Kepala Membaca Perpusnas, Inggris memang merupakan salah satu negara yang menyimpan naskah-naskah kuno Indonesia terbanyak kedua setelah Belanda. Hal ini dikarenakan Inggris pernah menduduki Bengkulu. Selain itu, Raffles yang datang di abad ke-18 juga banyak membawa surat-surat dari berbagai raja yang berkuasa di Indonesia. 

Surat-surat tersebut, banyak yang merupakan koleksi unggulan, seperti surat dari Sultan Pontianak kepada Gubernur Thomas Stamford Raffles yang dikirim dalam sampul terbuat dari kain sutra berwarna-warni. Inggris juga menyimpan surat dari Raja Bali kepada seorang Gubernur Belanda di Semaran yang ditulis di atas lempengan emas. 

“Karena Bengkulu jajahan Inggris, lalu Belanda jajah Singapura, lalu kemudian mereka bertukar, jadi banyak juga naskah kita di sana” Panjangnya 12 Km

Selain Inggris, negara yang juga banyak mengoleksi naskah kuno Indonesia adalah Belanda. Maklum, Negara Kincir Angin ini telah berada di Indonesia 350 tahun lamanya. Naskah kuno di Belanda banyak tersimpan di sejumlah perpustakaan dan museum, antara lain di Amsterdam, Leiden, Delft, dan Rotterdam. 

Pada tahun 2015 lalu, Rektor Universitas Leiden, Belanda, Profesor Carel Stolker, pernah berkunjung ke Yogyakarta dan mengatakan bahwa naskah-naskah kuno Indonesia yang berada di negaranya, jika dijejer panjangnya bisa mencapai 12 km. Kebanyakan, naskah-naskah yang berada di sana tergolong adikarya, warisan berbagai kerajaan di Nusantara. Salah satu yang terkenal yakni naskah “Nagarakretagama” yang baru dikembalikan pada tahun 1970 oleh Ratu Yuliana kepada Presiden Soeharto setelah dikuliti isinya dan menjadi ampas.

Menurut penuturan Profesor Stolker, koleksi mereka dahsyat lantaran Universitas Leiden memiliki jurusan yang khusus mempelajari budaya timur, budaya Asia. Amsterdam juga turut menyumbang naskah kuno untuk memperkaya koleksi. 

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, pernah menginginkan ribuan naskah yang ada di Belanda dan Inggris, khususnya yang berkaitan dengan keraton DIY, dapat ditarik ke Indonesia. Namun Stolker bergeming. Ia malah menyatakan sebagian besar naskah yang tersimpan di Leiden merupakan naskah berbahasa Belanda, sehingga sudah semestinya bermukim di sana. Walau begitu, pihaknya berjanji akan fokus pada digitalisasi naskah yang rapuh agar kajian Asia atau Indonesia tersebut dapat diakses dengan mudah. 

Berdasarkan data Keraton Yogyakarta, ada sekitar 7.000 naskah atau manuskrip milik keraton yang ada di Belanda dan Inggris. Sedangkan Museum Sonobudoyo hanya mengoleksi 363 naskah saja. Inggris sendiri baru mengembalikan 21 microfilm kepada pihak keraton. Hal ini lantaran mereka khawatir pihak keraton tak mampu merawatnya. 

Menurut Syarif, selain Belanda dan Inggris, terdapat negara lain yang juga menyimpan naskah-naskah kuno Indonesia, misal Myanmar, Thailand, dan Malaysia. Secara keseluruhan, diperkirakan naskah-naskah ini tersebar di 30 negara di dunia.

Mistis Gunung Lawu - Wukir Mahendra


CERITA GUNUNG LAWU, MANGKUNEGARAN, PEMIMPIN NUSANTARA, RATU KIDUL DAN SANG PEMBAWA CAHAYA.

MAKAM KELUARGA MANGKUNEGARAN DI GUNUNG LAWU.

ASTANA Giribangun di Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jateng, bakal menyedot perhatian masyarakat pasca meninggalnya mantan Presiden RI, Soeharto. Namun tak banyak yang tahu kalau Giribangun bukan satu-satunya kompleks pemakaman terkenal di kawasan tersebut. SEBELUM Astana Giribangun dibangun, orang lebih dulu mengenal Astana Mangadeg, yaitu kompleks pemakaman keluarga Pura Mangkunegaran. Di sini dimakamkan, antara lain, Kanjeng Pangeran Aryo Adipati (KGPAA) Sri Mangkunegoro I alias Pangeran Samber Nyowo. Kompleks makam itu terletak di lereng barat Gunung Lawu, sekitar 40 kilometer arah timur Kota Solo, pada ketinggian 750 meter di atas permukaan laut (dpl).

Agak di bawahnya, pada ketinggian 666 meter dpl, terdapat Astana Giribangun, di Desa Karang Bangun. Di Astana Giribangun yang megah, dimakamkan antara lain istri mantan Presiden Soeharto, Ny Tien Soeharto. Mantan ibu Negara kelahiran 23 Agustus 1923 tersebut meninggal pada 28 April 1996, atau dalam usia 73 tahun. Ny Tien dikenal sebagai kerabat Mangkunegaran, khususnya trah Mangkunegaran III. Karena itu, tak heran jika pemilihan lokasi Astana Giribangun, tahun 1970-an silam, sengaja didekatkan dengan Astana Mangadeg. Tentang pemilihan lokasi Astana Giribangun yang lebih rendah, diperkirakan untuk menghormati keberadaan Astana Mangadeg yang secara spiritual dianggap lebih tinggi.

Banyak fenomena mistis membuktikan keberadaan Astana Mangadeg, komplek pemakaman para penguasa Istana Mangkunegaran, salah satu pecahan dinasti Mataram. Makam itu merupakan Raja Mangkunegoro III keturunan Raja Mataram Panembahan Senopati selalu melindungi dan merestui makam anak cucu di bawahnya. Salah satu yang dimakamkan disini adalah Kanjeng Pangeran Adi Pati arya Sri Mangkunegara I. Pangeran Adi terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyowo. Tokoh kesohor raja Mangkunegaran dikenal sakti mandraguna dan selalu menjadi rujukan raja-raja Mataraman baik Surakartan (Solo) dan Ngayogyokarto Hadiningrat (Yogya).

Astana Mangadeg merupakan makam keturunan Kerajaan Mangkunegaran. Makam itu terkenal memiliki daya mistis dan tempat sakral yang tidak bisa diperlakukan sembarangan. Posisi dan keberadaan Astana Mangadeg di atas Astana Giribangun di lereng barat Gunung Lawu tepatnya terletak di Desa Karang Bangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sebagai leluhur di atasnya yang melindungi, “hamemayungi” menjadi payung keberadaan makam anak cucunya.

CERITA MENJELANG PILPRES 2014

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tak biasanya pergi ke gunung. Namun, pada Kamis (21/3/2013), SBY bersama rombongan mendaki lereng Gunung Slamet.

Kejadiannya di thn 2013.

Politukus yang juga paranormal Permadi menilai kepergian SBY ke Gunung Slamet bukan hanya untuk mengunjungi petani, tetapi juga memiliki misi spiritual. Yakni, yakni berdoa agar penggantinya sebagai presiden Indonesia berasal dari lingkaran atau keluarganya. "SBY berharap penggantinya kelak adalah orangnya," kata Permadi.

Sumber terpercaya menyatakan bukan sekali ini saja SBY menyambangi gunung keramat seperti Gunung Slamet untuk tujuan semacam itu. Pada sekitar akhir Januari lalu, SBY juga menyambangi Gunung Lawu yang punya nama asli Wukir Mahendra. Wukir mahendra artinya Gunung Pertama.

Lalu apa hubungannya Gunung Lawu dengan SBY? Menurut sumber tadi, SBY memperoleh wahyu kedaton saat berada di Gunung Lawu pada akhir Januari 2013. Mungkin tak banyak yang mengetahui tentang cerita ini.

Soal wahyu ini, bebas saja. Boleh percaya, tidakpun terserah. Namun, perjalanannya cukup masuk di akal. Karena SBY yang saat itu juga akan lengser. Ia seperti halnya raja-raja Jawa lainnya, perlu mempersiapkan pengganti.

Menurut sumber tersebut Presiden SBY mendapatkan semacam petunjuk bahwa penggantinya (Presiden) berasal dari tokoh yang lahir di sekitar Gunung Lawu.

Dengan didampingi Mensesneg Sudi Silalahi yang dikenal orang kepercayaan SBY, dicarilah tokoh sesuai wangsit tersebut. Akhirnya diperoleh dua nama yakni Menteri BUMN Dahlan Iskan dan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Djoko Suyanto.

Keduanya dinilai sesuai dengan wahyu tersebut, lahir di dekat-dekat Gunung Lawu. Sekedar catatan, Menteri Dahlan Iskan lahir di Magetang, Jawa Timur. Posisi Gunung Lawu di bagian barat Kabupaten Magetan. Sedangkan Menkopolhukam Djoko Suyanto, kelahiran Madiun, Jawa Timur yang letaknya sangat dekat dengan Gunung Lawu.

Masih menurut sumber, SBY sengaja memanggil kedua menteri yang berasal dari sekitar Gunung Lawu itu. Dalam perjumpaan itu, SBY mengutarakan unek-uneknya. Bahwa dirinya ingin mempersiapkan dalon presiden 2014.

Tak lama kemudian, Menkopolhukam Djoko Suyanto memberikan tanggapan yang cukup mengejutkan. ‘’Itu pasti bukan saya,’’ ungkap mantan Panglima TNI itu.

Masih menurut sumber, pernyataan Djoko Suyanto itu, membuat Presiden SBY cukup terkejut. Demikian pula Menteri BUMN Dahlan Iskan, ikut kaget juga. Apalagi setelah SBY memberikan pernyataan yang bernada positif bagi Dahlan. Wajah pendiri Jawa Pos Grup itu, semakin terlihat semringah.

Dalam pertemuan itu, Dahlan tak banyak berkata-kata. Hanya disebutkan bahwa sejumlah rencana mendesak untuk dilakukan. Terutama membentuk tim sukses yang dinamakan ‘Dais 2014’. Untuk tahap awal, lembaga ini akan merekrut kalangan ulama, santri, ponpes. ‘’Sudah ada 300-an majelis taklim yang merapat ke Dais,’’ ungkap sumber.

Beberapa nama yang masuk Dais diantaranya mantan Bupati Magetan Miratul Mukminin. Atau akrab disapa Gus Amik. Yang dikenal sebagai pendiri Pesantren Sabilil Muttaqin (PSM) Takeran, Magetan, Jawa Timur.

Ada nama lain yakni BRH, mantan wartawan senior Jawa Pos Grup yang sekarang menjabat staf khusus Menteri BUMN Dahlan Iskan. Lulusan IAIN Syarif Hidayatullah itu, merupakan orang kepercayaan Dahlan yang memiliki kekuasaan khusus.

Hari-hari belakangan, Dahlan semakin rajin keliling daerah. Mengunjungi pondok pesantren yang dipimpin kyai-kyai berpengaruh. Bukti keseriusan Dahlan menjalankan amanah wahyu kedaton SBY.

WAHYU ITU BENAR... TOKOH GUNUNG LAWU ITU ADALAH JOKOWI...

GUNUNG KERAMAT 

Bagi orang Jawa, Gunung Lawu sepertihalnya Gunung Slamet sangatlah istimewa. Yakni merupakan salah satu pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa. 

Sebuah portal masuk ke dimensi lain dan juga waktu (Vortex Gate) dipercaya tersimpan jauh di dalam perut Gunung Lawu—salah satu wilayah paling mistis di Pulau Jawa.

Selain itu, gunung Lawu juga memiliki kekerabatan yang cukup erat dengan tradisi dan budaya praja Mangkunegaran.

PERTAPAAN PRINGGONDANI YANG TERLETAK DI GUNUNG LAWU 

Berbagai tempat sakral di negeri ini memang sering dijadikan banyak orang sebagai tempat bertapa dan semedi termasuk orang yang pernah menjadi nomor satu di Indonesia yang salah satu tujuannya untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan alam dan leluhur demi langgengnya kekuasaan.

Sebagai contoh, Presiden RI kedua, banyak tempat kramat yang dikunjunginya untuk mempertahankan posisinya sebagai penguasa tunggal di bumi pertiwi kala itu. Sebut saja Padepokan Lang Lang Buana Gunung Srandil di Cilacap, Kali Garang, Sampangan Semarang, makam Pangeran Purbaya di Desa Maguwaharjo, Berbah, Sleman dan masih banyak tempat yang dia datangi untuk bertapa.

Presiden RI keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga melakukan hal demikian. SBY disebut sering bersemedi, bertapa atau melakukan ritual khusus di Pertapaan Bancolono di Kawasan Lereng Gunung Lawu.

Cerita mengejutkan itu muncul saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memantau kondisi Gunung Lawu di Kawasan Cemoro Sewu, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

“Eh ndi nggon sing sok nggo golek kaseketen? (Eh di mana tempat yang sering buat cari ilmu kesaktian)?” tanya Ganjar kepada warga dan beberapa pejabat dan perangkat desa serta anggota BPBD Karanganyar.

Sontak secara reflek Kapolsek Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar AKP Riyanto nyeletuk dan berkomentar.

“Nah itu pak. Itu namanya Pertapan Poncolono. Pak SBY sering ke situ kalau malam. Ada dua bangunan yang satu masuk wilayah Jawa Tengah. Yang sana masuk wilayah Jawa Timur,” ungkap Riyanto sambil mengajak Ganjar beserta rombongan bergeser ke pinggir jembatan yang jaraknya sekitar 50 meter dari tugu perbatasan Jatim dan Jateng itu.

“Lah, cari apa kesitu?” tanya Ganjar berimprovisasi sambil penasaran yang saat itu ditemani Kepala BPBD Jateng Sarwa Permana.

“Wah kalau itu nggak tahu pak. Pribadi. Katanya kalau ada permintaan terus nyepi, bertapa atau semedi disitu bisa terkabul,” ujar Riyanto sambil diamini dan dibenarkan oleh beberapa warga .

“Halah-halah,” ungkap Ganjar sambil senyum-senyum.

Salah satu pengamat dan ahli spiritual yang sangat mengerti seluk beluk Gunung Lawu, Polet, menyebutkan bahwa Lawu adalah pusat budaya dan kegiatan spiritual Jawa. Bahkan bila ditarik secara garis lurus, Gunung Lawu sejajar tegak lulus tepat di Pura Mangkunegara.

Bukan berada tepat di Keraton Kasunanan Surakarta. Seperti halnya Keraton Ngayojokarto yang sejajar tepat dengan Gunung Merapi. Selain itu, Gunung Lawu ternyata berdiri persis di tengah perempatan empat penjuru mata angin.

“Lawu itu letaknya pas di perempatan, dan jika di tarik garis lurus akan bertemu tepat di Pura Mangkunegaran Solo. Bukan Keraton Kasunanan. Seperti halnya Keraton Ngayojokarto tegak lulus tepat dengan Gunung Merapi,” jelasnya

SOEHARTO DAN MISTIS JAWA

Pendalaman Soeharto pada dunia mistis diperoleh dari Kiai Daryatmo, seorang guru agama dan mistik Jawa. Dari kiai ini, Soeharto muda mendapat pengetahuan tentang pengobatan, tentang laku, dan tentang semedi. Dalam bukunya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, nama Daryatmo disebut-sebut.

Soeharto mengakui Daryatmo banyak memberi inspirasi dalam perjalanan hidupnya. Bahkan sampai menjadi presiden. Mantan Menteri Penerangan Mashuri bahkan pernah menuturkan, setiap bulan sedikitnya satu kali, Soeharto datang menemui Daryatmo untuk minta petunjuk.

Ritual mistis yang dijalani Soeharto adalah bersemedi atau bertapa di tempat-tempat keramat atau wingit. Sumber yang pernah mendampingi pria berjuluk The Smiling General itu melakukan laku mistis mengungkapkan, Gunung Lawu jadi tempat favorit Soeharto. Gunung Lawu memang merupakan salah satu pusat kekuatan mistik di Jawa

PETUAH UNTUK KSATRIA UTAMA 

Di sudut barat daya bangunan megah Cungkup Argosari, terpampang sebuah tulisan yang dipetik dari Serat Wedatama, sebuah karya sastra Jawa klasik karya Mangkunegoro IV. Bunyi kutipan dalam tembang pucung itu adalah :

lila lamun kelangan nora gegetun

trimah yen ketaman

saserik sameng dumadi

tri legawa nalangsa srahing bathara (ikhlas, jika kehilangan tiada kan menyesal

menerima dengan lapang jika mendapatkan

kebencian dari sesama

legawa dan menyerahkan segalanya kepada Yang Kuasa)

HUBUNGAN RATU KIDUL DAN GUNUNG LAWU 

Setiap gunung memiliki keunikan masing-masing, termasuk mitos yang diyakini para pendaki ataupun masyarakat sekitar tentang Gunung Lawu. Salah satu mitos yang sangat melekat adalah terkait Ratu Kidul si penguasa Pantai Selatan.

Ketika kamu melewati base camp Cemoro Kandang terdapat sebuah anjuran bahwa pendaki sebaiknya tidak mengenakan pakaian berwarna hijau pupus karna konon, Ratu Kidul menyukai warna ini sehingga ia mungkin akan “menculik” pendaki yang mengenakan pakaian berwarna hijau pupus.

Mitos ini juga berlaku saat kita berkunjung ke Pantai Parangtritis di Jogja

Pertanyaannya adalah: Apakah " Hijau" hanya identik dengan Ratu Kidul ?

Hijau juga identik dengan Ular, Naga, Lucifer, Malaikat Terjatuh, Sang Pembawa Cahaya...

Alkimia Esensi Islam Mistikal

“Kota Alexandria di Mesir, adalah tempat pertemuan berbagai ajaran filosofis, ilmiah, dan spiritual. 

Selama pengepungan Alexandria yang dilakukan oleh Julius Caesar pada tahun 47 SM, api menghancurkan bagian dari perpustakaan universal pertama dan paling terkenal yang menampung koleksi 400.000 gulungan, termasuk pengetahuan alkimia tertulis asli. 

Akan tetapi, banyak dari pengetahuan ini telah beralih ke budaya Yunani dan ditransmisikan ke Arab dengan penyebaran Islam. ”- John Eberly, Al-Kimia: Esensi Islam Mistikal dari Seni Suci Alkimia.

Logam paling awal yang dieksploitasi oleh manusia adalah logam yang terjadi di negara asalnya. Pengerjaan logam sebagai aktivitas sepenuhnya bergantung pada kuil dan dipimpin oleh pendetanya. Apa pun dan segala sesuatu yang datang darinya pertama-tama dipersembahkan kepada para dewa, kemudian kepada para imam, diikuti oleh para raja. Pada saat ini, logam telah menjalin hubungan intrinsik yang panjang dengan dewa, sihir, pemujaan, dan ritual yang akan berlanjut selama berabad-abad yang akan datang. Dengan meningkatnya perdagangan, peleburan logam, bersama dengan zat-zat kimia seperti lapis lazuli, 'Mesir biru', dan kaca, menjadi resep yang dijaga dengan baik dan rahasia dagang dari dunia kuno. Berbagai resep menyebutkan perlunya mendamaikan roh jahat untuk mencegah penghambatan proses, dan juga daftar metode untuk menyulap roh baik untuk mengabaikan kelancaran resep.

Astrologi dan ilmu astral wajib untuk memprediksi posisi planet yang tepat dan waktu untuk melaksanakan tugas. Dari kekuatan iblis, necromancy, hingga dewa-dewa kafir, dari posisi planet hingga mantra, semua disimpan dalam daftar arahan yang dicatat untuk menciptakan suatu zat.   

Pada abad keenam SM, ilmu pengetahuan Yunani bangkit di Ionia. Apakah ide-ide bepergian dari Suriah atau Kreta, tidak pasti. Orang Yunani mengisolasi sains dan pemikiran rasional dari mistisisme dan sihir, yang dibagikan oleh Roma dan akhirnya dihidupkan kembali selama periode Renaissance.

Pada abad-abad berikutnya, pemikiran klasik berpindah dari Yunani ke Byzantium dan dari Byzantium ke Syria, ke dunia Islam, dan lingkaran penuh lingkaran penuh kembali ke Eropa, kadang-kadang memperdebatkan alasan agama, dan di lain waktu, memicu kepercayaan akan tuhan . Sementara pengetahuan dan teks bergerak bebas sebelum Abad Pertengahan, banyak waktu dihabiskan menerjemahkan teks ke dalam bahasa lokal untuk pekerjaan lebih lanjut yang harus dilakukan oleh mistikus dan filsuf lokal. Untuk tujuan ini, penerjemah dipekerjakan dan siswa terlibat dalam menyalin tablet dan gulungan. Penerjemahan yang cermat diperlukan untuk membangun pemikiran sistematis dan penting untuk membangun konsep agama-agama Islam, dan dan untuk meningkatkan inisiasi ke dalam Islam, strategi negara yang diikuti oleh Abbasiyah.

Baghdad menjadi pusat menerjemahkan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab. Sastra yang paling populer dari Baghdad adalah koleksi Thousand and One Nights di mana, "Tale of Aladdin and His Wonderful Lamp", menggambarkan penemuan dan ilmu yang diciptakan oleh para penyihir yang menyerupai karakter aa Moor.

Shaharzad berkata tentang orang Moor :

“Dari remaja paling awal dia telah mempelajari ilmu sihir dan mantra, geomansi dan alkimia, astrologi, pengasapan, dan pesona; sehingga setelah tiga puluh tahun sihir, dia telah belajar keberadaan lampu yang kuat di suatu tempat yang tidak diketahui, cukup kuat untuk mengangkat pemiliknya di atas raja dan kekuatan dunia. ”- John Freely, Aladdin's Lamp.

Kekuasaan dan umur panjang menjadi pusat antologi dan cerita rakyat. Perburuan elixir kehidupan menjadi topik favorit para filsuf dan penulis; banyak di antaranya adalah warisan Hermetik, yang kultusnya mendirikan studi okultis dan perkumpulan rahasia dalam sejarah kolonial abad ke-19. Menariknya legenda Arab menyebut Al-Khidr sebagai satu-satunya orang bijak yang mencicipi mata air keabadian. Dia dikenal sebagai pelindung lautan, dan orang yang membantu Alexander dalam menemukan mata air awet muda. Belakangan para filsuf membandingkan ramuan kehidupan dengan pencapaian pengetahuan tuhan. 

Alkimia berdiri di tengah dua ideologi yang terpisah. Banyak tulisan-tulisan Arab tentang alkimia dan zat-zat terkandung di antara takhayul, agama, dan investigasi kimia.

Alkimia Arab adalah pertemuan tradisi Hermetik Mesir dan tradisi filosofis orang-orang Yunani. Individu Arab Al-Kimia yang paling terkenal adalah Hermes Trismegistos, yang berarti "Tiga kali Hermes terhebat". Historisitas Hermes sebagai fakta atau mitos tidak dapat dibuktikan tetapi sejarah modern berupaya untuk menjelaskan asal-usulnya dari dewa Yunani Hermes, atau dewa Mesir Thoth, sedangkan banyak penulis Kristen menulis tentang dia sebagai nabi kafir. Hermes Trismegistus diyakini sebagai penulis Tablet Emerald, sebuah tablet yang memiliki rahasia alam semesta. 

Terjemahan bahasa Arab dari tablet tersebut dikreditkan ke Jabir Ibnu Hayyan sedangkan Hermes diberikan perhatian khusus dalam Alquran. John Eberly menulis dalam bukunya Al-Kimia bahwa ungkapan yang banyak digunakan dalam alkimia, 'seperti di atas, jadi di bawah ini,' dipinjam dari Tablet Emerald. Eberly juga menyatakan,

“Seni Al-Kimia adalah summa, kesempurnaan para resi, para nabi, para santa; itu adalah tujuan dan proses dari ungkapan hermetis yang terkenal, 'seperti di atas jadi di bawah ini.' Seni sakral ini tidak memiliki tujuan di luar aturan hukum Alam. Alkemis sadar bahwa semua ciptaan semata-mata bergantung pada pencipta dan bahwa tidak ada yang dicapai di luar kehendak Allah. Dia mengerti daripada karyanya, memang keberadaannya sendiri, adalah kehendak Tuhan. Al-Kimia mempercepat proses evolusi alami untuk mencapai, insya Allah, spiritualisasi materi dan materialisasi Roh Kudus. Al-Qur'an mengungkapkan hubungan yang perlu ini antara Tuhan dan manusia.”

Para alkemis Islam bukan hanya orang-orang kimia, mereka adalah mistikus dan santo sufisme. Para mistikus mempraktikkan penyembuhan spiritual dan pengabdian kepada dewa melalui musik. Mereka juga dipanggil untuk melakukan pengusiran setan, dan diketahui melakukannya sampai hari ini. 

Sekte ekstremis dalam Islam perlahan mulai mengisolasi orang-orang ini, melukis mereka sebagai orang gila, dan musik sebagai cara terlarang untuk mempraktikkan pengabdian.

Praktik-praktik Sufi melakukan perjalanan ke India, yang pada saat itu memiliki alkimia dan astronomi yang berkembang dengan sendirinya. 

The Silk Road memfasilitasi pertukaran banyak gagasan tentang astronomi dan filsafat antara masyarakat India, Cina, dan Arab. 

India modern adalah rumah bagi banyak penyembuh sufi ini, dan musik sufi telah menjadi besar dalam bisnis film India. 

Sambil memastikan bahwa firman tuhan tidak pernah diusir dari teks,para kudus ini meninggalkan banyak karya yang seperti Hermes, ayah Hermetica danAl-Kimia , 'tertulis, meninggalkan bagian yang lebih besar tak terhitung.'

Alkimia tidak terbatas pada ilmu membuat emas dan menemukan ramuan yang menjanjikan keabadian. Dalam arti terdalam, itu adalah transmutasi dan transformasi zat. Ide-ide mistis alkimia membandingkan transmutasi materi dengan roh manusia dan pengetahuan tentang tuhan. Pikiran ini tersebar luas dalam tulisan-tulisan beberapa alkemis Arab. 

Menurut sarjana abad kesepuluh Ibn Al-Nadim, filsuf dan dokter Abu Bakr Muhammad Ibn-Zakariya Al-Razi yang dikenal di barat sebagai "the Galen Arab", percaya bahwa, 

"studi filsafat tidak dapat dianggap lengkap , dan seorang terpelajar tidak bisa disebut filsuf, sampai ia berhasil menghasilkan transmutasi alkimia. "

Butuh waktu lama bagi Al-Razi untuk membuat alkimia diakui di dunia barat sebagai ilmu yang serius. Alkimia ditulis sebagai sesuatu yang magis dan takhayul sampai ilmu pengetahuan modern menemukan bahwa ia berutang fondasinya padanya.

Trah Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga adalah salah satu dari Wali Songo. Beliau adalah salah satu leluhur trah Kraton Mataram Islam. Disebutkan didalam serat yang tertulis dalam Babad dijelaskan bahwa silsilah Sunan Kalijaga sbb : 

Arya Teja I , Adipati Tuban menurunkan Arya Teja Laku menjadi punggawa di Kraton Majapahit. Arya Teja Laku (Arya Teja II ) menurunkan:

1. Arya Lembu Sura, Bupati Surabaya

2. Dewi Umuni, menikah dengan Prabhu Brawijaya II bergelar Dewi Panurun

Arya Lembu Sura bupati ing Surabaya, menurunkan putra 6: 

1. Arya Nembé punggawa ing Majapahit, 

2. Arya Lembu Sana bupati ing Surabaya, 

3. Arya Kendhi Wiring punggawa  Majapahit, 

4. Retna Panjawi menikah dengan Prabu Brawijaya III, 

5. Arya Sendhi punggawa ing Majapahit, 

6. Dèwi Surati menikah dengan Panji Suralaya.

Arya Nembé punggawa di Kraton Majapahit, menurunkan putra 2: 

1. Arya Tèja III Adipati di Tuban, 

2. Arya Danu punggawa ing Majapahit.

Arya Tèja III Adipati ing Tuban, puputra 6: 

1. Pangèran Ibrahim ing Garesik, 

2. Rara Johar menikah dengan Sunan Majagung , 

3. Rara Manik menikah dengan Syech Maulana Malik Maghribi menurunkan Raden Kidang Tilangkas atau Ki Ageng Tarub II, Ki Ageng Tarub II menurunkan Dewi Nawangsih

4. Rara Nila kasebut nama Nyai Ageng Manila menikah dengan Sunan Ngampèl Denta menurunkan Ratu Panggung ( Permaisuri Raden Patah, Raja Demak Bintoro )

5. Rara Pakaja menikah dengan Raja Pandhita Ngali Murtala ing Garesik, 

6. Tumenggung Wilwatikta ing Jepara, 

Tumenggung Wilwatikta menurunkan putra 3: 1. Perempuan menikah dengan Arya Timus, bupati Jepara, 

2. Raden Sahid bergelar Sunan Kalijaga, 

3. Radèn Wijil.

Sunan Kalijaga memiliki tiga orang istri, yakni Dewi Sarah, Siti Zaenab ( Putri Sunan Gunung Jati ), dan Siti Hafsah ( Putri Sunan Ampel Denta )

Sunan Kalijaga peputra 8: 

Dari Siti Zaenab :

1. Ratu Pembayun, menikah dengan  Sultan Trenggana, Raja Demak Bintoro 

2. Raden Ayu  Panengah menikah dengan Ki Ageng Ngerang III

3. Susuhunan Adi ing Kalijaga, 

4. Pangèran Samudra 

5. Raden Abdurrahman ( naik haji )

Dari Dewi Sarah :

1. Raden Umar Said (Sunan Muria), 

2. Dewi Rukayah, 

3. Dewi Sofiah.

I. Kanjeng Ratu Pembayun menikah dengan Sultan Trenggana menurunkan: 

1. Ratu Mas Cempaka , menjadi Permaisuri Sultan Hadiwijaya Pajang bergelar Ratu Mas Pajang menurunkan Pangeran Benawa. Pangeran Benawa menurunkan Ratu Mas Hadi. Ratu Mas Hadi menikah dengan Panembahan Hadi Hanyokrowati menurunkan Sultan Agung.

2. Pangeran Timur , Panembahan Madiun ,  Bupati I Kadipaten Madiun menurunkan Retno Dumilah. Retno Dumilah menikah dengan Panembahan Senopati menurunkan Panembahan Juminah. Panembahan Juminah menikah dengan Ratu Mas Hadi ( janda Panembahan Hadi Hanyokrowati menurunkan Pangeran Balitar. Pangeran Balitar menurunkan Kanjeng Ratu Mas Balitar. Kanjeng Ratu Mas Balitar menikah dengan Sunan Pakubuwana I menurunkan Sunan Amangkurat IV.

Sunan Amangkurat IV menurunkan :

1. Pangeran Mangkunagara menurunkan KGPAA Mangkunagara I menjadi Pendiri Puro Mangkunagaran.

2. Pangeran Probosuyoso kelak menjadi Raja Kraton Mataram selanjutnya bergelar Susuhunan Pakubuwana II

3. Pangeran Mangkubumi kelak menjadi pendiri Kraton Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I.

II. Raden Ayu Panengah menikah dengan 

Ki Ageng Ngerang III menurunkan :

1. Ki Pendjawi atau Ki Ageng Pati

2. Nyai Ageng Kemiri ing Pati

Ki Ageng Pati atau Ki Pendjawi menikah dengan putri Nyai Ageng Kemiri ing Pati menurunkan:

1. Kangjeng Ratu Waskita Jawi 

2. Adipati Pragola Pati I

Kangjeng Ratu Waskita Jawi menikah dan menjadi Permaisuri Panembahan Senopati, Raja Mataram I. Berputra Panembahan Hadi   Hanyokrowati ( Raja Mataram II )

Adipati Pragola Pati menurunkan :

1. Adipati Pragola Pati II

2. Raden Londoh (Pangeran Ronggopati)

III. Susuhunan Adi ing Kalijaga peputra 2: 

1. Ratu Mas  Kadilangu, 

2. Sunan Adi Kadilangu, 

Sunan Adi Kadilangu menurunkan Sunan Kadilangu sèda ing Kanitèn, beliau menurunkan :

Panembahan Kadilangu sèda Kepuh, beliau menurunkan :

Panembahan Natapraja ing Kadilangu, beliau menurunkan putra 2: 

1. Perempuan menikah dengan Panembahan Wijil Kadilangu, 

2. Pangèran Natapraja ing Kadilangu.

Putri perempuan yang menikah dengan Panembahan Wijil ing Kadilangu, puputra 2: 

1. Pangèran Wijil sèda ing Kartasura, 

2. Radèn Ayu Danupaya.

Pangèran Wijil sèda ing Kartasura menurunkan putra bernama Pangèran Wijil Inthik-Inthik,

Pangeran Wijil Inthik Inthik menurunkan putra 2: 

1. Pangèran Wijil kaping IV, 

2. Radèn Kusuma.

Pangèran Wijil kaping IV puputra 5: 

1. Pangèran Wijil kaping V, 

2. Tumenggung Mangkupraja ing Demak, 

3. Radèn Ayu Kaji Sumenep, 

4. Radèn Ayu Kertadipa, 

5. Radèn Wirakusuma.

Pangèran Wijil V menurunkan Pangèran Wijil VI,beliau menurunkan putra Pangèran Wijil VII

Sumber data :

1. Diambil dari Petikan Serat Soejarah karya Pujangga Harttati th 1935.

2. Silsilah Sunan Kalijaga yang ditulis oleh KRMAA Sosronagoro Patih Kraton Surakarta yang tertulis dalam naskah yang tersimpan di Perpustakaan Negeri Berlin, Jerman dengan kode Ms. Or. Fol. 3163

3. Lukisan Sunan Kalijaga yang tertempel di Pendopo Astana Kadilangu.

Al-Fatihah kagem Eyang Sunan Kalijaga



Trah Raja Demak Bintoro

Raden Patah, Adipati Demak Bintoro bertahta di Kraton Glagah Wangi dengan gelar :

"Syah Alam Akbar Senopati Jimbun Sirrolah Kalifatul Rasul Ammirilmukminin Tajudin Ngabdulhamidhah" Beliau juga disebut sebagai Sultan Ngadil Surya I. 

Bertahta tahun Jimawal Sinangkalan Mantri Tunggal Catur Aji (th 1413) beliau jumeneng Nata 27 Tahun. 

A. RADEN FATAH RAJA DEMAK I

Raden Djoko Probo atau  Raden Patah adalah Putra dari Raja Majapahit Brawijaya V, Beliau menikah dengan Ratu Panggung  putri  Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manilo menurunkan :

1. Raden  Suryo  atau  Pangeran Sabrang Lor atau Adipati Unus (Raja Demak II)

2. Raden Songko atau Pangeran Adipati  Anom atau Pangeran Sekar Sedo Lepen

3. Raden Trenggono

4. Raden Ayu Kirana  atau Ratu Mas Purnamasidi menikah dengan Panembahan Banten

5. Raden Ayu Wulan atau Ratu Mas Nyowo  menikah dengan Panembahan Cirebon

6. Raden Tangkowo atau Pangeran Kundurawan  menjadi Tumenggung di Sumenep

7. Raden Jaladara , meninggal muda

8. Raden Tedjo, Pangeran Pamekasan Madura 

9. Raden Alit atau Pangeran Sekar atau Pangeran Ragil (leluhur Ki Ageng Karang Lo)

B. RADEN SONGKO, PANGERAN SEKAR SEDO LEPEN

Raden Songko bergelar Pangeran Adipati Anom atau Pangeran Sekar Sedo Lepen atau Pangeran Sekar yang wafat di sungai. 

Menurunkan :

1. Pangeran Haryo Jipang atau Haryo Panangsang menikah dengan Putri Sunan Kudus

2. Ratu Timoer menikah dengan Panembahan Timur  Bupati Madiun I

3. Pangeran Haryo Mataram

C. SULTAN TRENGGONO  RAJA DEMAK III

Sultan Trenggono adalah Raja Demak ke tiga, Beliau adalah putra Raden Patah raja Demak I dari istri nya yang bernama Asyikah atau Ratu Panggung .Ratu  Asyikah adalah Putri Sunan Ampel.Wafat  pada tahun 1546.

Memerintah Kraton Demak pada tahun Alip sinangkalan Banyu Suci Dadi Nabi ( th 1417)

Sultan Trenggono mempunyai dua istri yaitu Kanjeng Ratu Pembayun (Putri Sunan Kalijaga) dan Putri  Nyai Ageng Maloko. 

Dari  Putri Nyai  Ageng Maloko  menurunkan :

1. Ratu Pembayun 

2. Sunan Prawoto

3. Ratu Mas Pemancingan  menikah dengan Panembahan Jogorogo ing Pemancingan

4. Retno Kencana (Ratu Kalinyamat) menikah dengan Pangeran Hadiri (Penguasa Jepara)

5. Ratu Mas Ayu menikah dengan Pangeran  Orang Ayu putra Pangeran Wonokromo 

6. Ratu Mas Kumambang

Dari Kanjeng Ratu Pembayun  Putri Sunan Kalijaga) menurunkan : 

7. Pangeran Timur, Panembahan Madiun ,  Bupati I Kadipaten Madiun

8. Ratu Mas Cempaka, menjadi Permaisuri Sultan Hadiwijaya Pajang bergelar Ratu Mas Pajang.

9. Pangeran Tg Mangkurat (dari Garwa Pangrembe)

Sumber data : Sejarah Jawa oleh Pujangga Hartati

Kesultanan Demak



Kesultanan merupakan sebutan bagi sebuah Kerajaan yang didirikan atas dasar Agama Islam. Di Indonesia sendiri, banyak berdiri Kesultanan, salah satunya yaitu Kesultanan Demak.

Demak adalah Kesultanan atau Kerajaan Islam pertama yg berdiri di Pulau Jawa. Dan Kesultanan Demak lah yg menurunkan Kesultanan lain di Pulau Jawa, seperti Pajang, Banten, dan Mataram.

Sebelumnya, Demak merupakan sebuah Kadipaten yg berdiri dibawah Kerajaan Majapahit. Di Akhir-akhir kekuasaan Majapahit, Kadipaten Demak sendiri dipimpin oleh Jin Bun atau Raden Fatah. Kala itu, Kerajaan Majapahit mulai terombang-ambing menuju keruntuhan. Kekacauan di internal Kerajaan membuat daerah bawahannya mulai tidak terurus.

Pada saat itulah, sebagai Bupati Demak, Raden Fatah memisahkan diri dari Majapahit, dan memproklamirkan berdirinya Kerajaan tersendiri yaitu Kerajaan Demak. Setelah Majapahit benar-benar runtuh, maka Kesultanan Demak lah yg disebut-sebut sebagai Ahli Waris dari Kerajaan Majapahit. Terutama karena Raja pertamanya yaitu Raden Fatah adalah keturunan dari Raja Majapahit terakhir, Raja Brawijaya V.

Sepeninggal Raden Fatah, Kesultanan Demak diteruskan oleh Adipati Unus atau yg juga dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor, karena pernah memimpin penyerangan terhadap Portugis di Malaka atau sebelah Utara.

Setelah Adipati Unus wafat, Pemimpin selajutnya diserahkan kepada Saudaranya yaitu Pangeran Trenggono. Di masa kepemimpinannya lah, Kesultanan Demak mencapai puncak kejayaannya. Saat itu, Kesultanan Demak berhasil menguasai hampir seluruh Pulau Jawa.

Namun, setelah berakhirnya era Pangeran Trenggono, di Kesultanan Demak terjadi perebutan tahta kekuasaan. Hingga akhirnya, justru berimbas pada runtuhnya Kesultanan Demak.

Masjid agung Demak

Masjid Agung Demak merupakan Masjid yg dibangun pada abad 15, dan salah satu Masjid tertua di Indonesia.

Letak Masjid ini berada di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Lokasinya yg berada di dekat alun-alun Ibukota Demak, menjadikan Masjid ini mudah untuk ditemui. 

Masjid Agung Demak dibangun oleh Sultan pertama Kesultanan Demak, yaitu Raden Patah, bersama para Walisongo. 4 tiang utama di dalam Masjid atau Saka Guru Masjid, dibuat langsung oleh Walisongo. Tiang sebelah barat laut, dibuat oleh Sunan Bonang. Tiang sebelah barat daya, dibuat oleh Sunan Gunung Jati. Tiang sebelah tenggara, dibuat oleh Sunan Ampel. Tiang sebelah timur laut, dibuat oleh Sunan Kalijaga.

Masjid Agung Demak inilah yg menjadi tempat berkumpulnya Dewan Walisongo, untuk bermusyawarah terutama dalam urusan penyebaran Agama Islam. Sebagai bangunan penting Kesultanan Demak, Di Komplek Masjid Agung Demak ini, juga terdapat Makam-Makam para Sultan Demak dan abdinya.





Kesultanan Pajang

Sultan Hadiwijaya terlahir dengan nama Mas Karebet pada tanggal 18 Jumadilakhir tahun Dal mongso Kawolu. Beliau adalah putra dari Penguasa Kraton Pengging, Ki Ageng Kebo Kenanga dari garwanya Rara Alit putri Pangeran Gugur (putra Prabu Brawijaya V). Mas Karebet sejak kecil hidup sebatang kara. Pada usia dua tahun, Bapaknya meninggal sewaktu ada penyerangan Demak ke Pengging. Ki Ageng Kebo Kenanga wafat tertusuk keris Sunan Kudus. Sedangkan Ibunya, Rara Alit meninggal setelah 40 hari wafatnya Ki Ageng Kebo Kenanga. Beberapa waktu kemudian Mas Karebet diangkat putra oleh Nyai Ageng Tingkir. Kemudian Mas Karebet dikenal dengan nama Joko Tingkir.

Joko Tingkir sangat suka bertapa dan menyepi untuk menambah kekuatan batinnya. Beliau belajar kepada berbagai Guru antara lain Ki Ageng Selo, Sunan Kalijaga, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, Ki Adirasa, dan Ki Buyut Banyubiru. 

Cinarita Jumungah marêngi | lingsir wêngi saking lèr kang cahya | nalika wahyu dhawuhe | muncar kadya andaru | manjing marang Dyan Jaka Tingkir | waridah ing karajan | wus angalih pulung | pulungira Sultan Dêmak | nganti sangat mring putrangkat Jaka Tingkir | eca panendranira(Sekar Asmaradana pupuh 40, Babad Tanah Jawa ~ tentang rawuhnya Wahyu Ratu kepada Raden Joko Tingkir)

Banyak Tokoh Tokoh yang telah mengetahui bahwa kelak Joko Tingkir akan menjadi Raja yang menurunkan Raja Raja Jawa. Ayahnya pun tahu bahwa beliau harus menikah untuk melahirkan calon raja. Dan akhirnya takdir membawanya ke Keraton Demak. Joko Tingkir menjadi Prajurit Tamtama,  Lurah Wira Tamtama. Kemudian beliau menjadi Pengawal Pribadi Sultan Trenggana dengan nama Rahadyan Joko Tingkir. Meski sempat diusir dari Demak karena salah paham akhirnya  berkat usahanya Joko Tingkir bisa kembali menduduki jabatannya dengan gelar Adipati. Enam bulan kemudian Adipati Joko Tingkir dinikahkan dengan Ratu Mas Cempaka, putri  Sultan Trenggana dari garwa putri ketiga Sunan Kalijaga. Setelah pernikahan, Raden Joko Tingkir diangkat menjadi Adipati di Kadipaten Paos dengan gelar Adipati Pajang. Setelah Sultan Trenggana wafat, Dan kondisi Demak yang tidak stabil, kemudian tahun 1458 Raden Joko Tingkir diangkat menjadi Sultan Pajang oleh Panembahan Giri Prapen juga disaksikan Sunan Kalijaga dengan gelar "Sultan Hadiwijaya Hing Pajang.Tahun Candrasengkala 1503 Dahana Muluk Barat Nempuh Wani. 

Sultan Hadiwijaya memerintah Kraton Pajang selama 32th. Berikut silsilah Sultan Hadiwijaya :

Retno Pembayun putri Prabhu Brawijaya V menikah dengan Sri Makurung Prabu Handayaningrat yang terakhir, berkedudukan di Pengging . Menurunkan 3(tiga) putera adalah :

1. Ki Ageng Kebo kanigara, tidak mempunyai keturunan

2. Ki Ageng Kebo kenanga, menurunkan Mas Karebet, dan

3. Raden Kebo Amiluhur, dewasa wafat.

Ki Ageng Kebo Kenanga menikah dengan Rara Alit putri Pangeran Gugur menurunkan : Mas Karebet.

Mas Karebet atau Raden Joko Tingkir menikah dengan Ratu Mas Cempaka putri Sultan Trenggana.

Menurunkan 7 (tujuh) putera puteri, adalah:

 1. Ratu Mas Pambayun, di Ngarisbaya;

 2. Ratu Mas Kumelut, di Tuban;

 3. Ratu Mas Adipati, di Surabaya;

 4. Ratu Mas Banten menikah dengan Ki Juru Mertani.

 5. Ratu Mas Jepara menikah dengan Arya Pangiri ( putra Panembahan Prawata )

 6. Pangeran Benawa 

 7. Pangeran Sindusena

Tahun 1458 Sultan Hadiwajaya, dinobatkan Raja di Pajang, dan berkuasa selama 32 (tiga puluh dua) tahun.

Sultan Ngawantipura, dinobatkan sebagai raja dan berkuasa selama 3 (tiga) tahun.

Adipati Benawa Sultan Hawijaya, dinobatkan sebagai raja dan berkuasa selama 1 (satu) tahun.

Setelah wafat Sultan Hadiwijaya dan puteranya Adipati Benawa, dimakamkan di Pasareyan Butuh, terletak di wilayah Kabupaten Sragen.

Kanjeng Adipati Benawa menurunkan 3 (tiga) putera puteri yaitu  :

1. Pangeran Mas, menjabat sebagai Adipati di Pajang.

2. Pangeran Sidowingi

3. Pangeran Kaputrah, di Pajang.

4. Kanjeng Ratu Mas Hadi, sebagai prameswari Hingkang Sinuhun Prabu Hadi Hanyakrawati, di Mataram, menurunkan putra Hingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Mataram. Dan kelak menurunkan Raja Raja Jawa.

Al Fatihah kagem Eyang Sultan Hadiwijaya.