Kepemimpinan sejati, Pengaruh, dan Gelar

Menjadi pemimpin sejati bukan soal jabatan, pangkat, atau gelar yang disematkan. Kepemimpinan sejati adalah tentang dampak yang ditinggalkan pada hidup orang lain. Jika kehadiranmu membuat mereka  ingin tumbuh, berpikir lebih luas, dan hidup lebih baik, maka kamu sedang memimpin— meski tanpa panggung dan mikrofon.

Marcus Aurelius, seorang Kaisar dan filsuf Stoik, tidak mendefinisikan kepemimpinan dengan kekuasaan, tapi dengan keteladanan. Ia berkata : "Jadilah orang yang tidak perlu banyak bicara, tapi kehadirannya memperbaiki dunia."

Dalam Stoikisme, seorang pemimpin sejati adalah orang yang hidup dalam kendali diri, berpegang pada kebijaksanaan, dan tidak gentar menghadapi kesulitan. Ia tidak memimpin lewat ancaman, tapi  lewat kejelasan nilai dan perbuatan.

Kepemimpinan bukan tentang memerintah, tapi tentang melayani. Bukan soal diikuti banyak orang, tapi tentang menginspirasi seseorang untuk menjadi lebih dari dirinya kemarin. 

Kepemimpinan tumbuh dari konsistensi dalam kebaikan, ketulusan dalam tindakan, dan keinginan tulus untuk melihat orang lain bersinar. 

Pemimpin sejati tidak berjalan di depan untuk dilihat, tapi untuk menunjukkan arah. Ia tidak menguasai, tapi memberdayakan. Tidak sekadar menciptakan pengikut, tapi memunculkan pemimpin baru dari benih keberanian dan kepercayaan diri yang ditanamkan lewat tindakan nyata.

Jadilah pemimpin, bukan karena gelar,   tapi karena kehadiranmu menjadi titik balik bagi banyak kehidupan.

John Quincy Adams : "Jika tindakan Anda menginspirasi orang lain untuk bermimpi lebih banyak, belajar lebih banyak, berbuat lebih banyak dan menjadi lebih baik, Anda adalah seorang pemimpin."






Kebijaksanaan Sejati

Kutipan ini menyentuh aspek psikologis yang sangat halus dari kepemilikan pengetahuan, yaitu kerendahan hati intelektual. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu sering kali membawa hasrat untuk diakui, yang kemudian menjelma menjadi dominasi dalam percakapan.

Ketika seseorang merasa berilmu, ada dorongan untuk terus "mengajar" atau "membuktikan diri", sehingga ia menutup pintu masuknya kebijaksanaan baru melalui proses menyimak. Padahal, kebijaksanaan yang sejati justru terletak pada kemampuan untuk menahan diri. Mendengarkan dan menyimak bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan bentuk pengosongan diri dari ego untuk benar-benar memahami realitas di luar kepala kita.

Bagi orang berilmu, ujian terberatnya bukanlah pada seberapa banyak yang ia sampaikan, melainkan kepada seberapa lapang batinnya untuk tetap menjadi "murid" bagi kehidupan lewat pendengarannya.



Introspeksi Diri

Tuhan selalu mengarahkan Kita kepada Apa yang kita butuhkan. Tuhan tidak selalu memenuhi segala Hal yang Kita Inginkan. Tidak semua Hal yang Kita inginkan selalu Dapat kita capai. Tentu saja hal itu bukan untuk disesali, namun untuk Direnungkan, INTROSPEKSI DIRI, dan REVISI DIRI. Introspeksi Diri lebih baik daripada menyalahkan Pihak lain  Introspeksi diri akan selalu mengarahkan diri Kita menjadi Pribadi Yang berkualitas, sehingga bisa menjalani hidup Lebih bermakna dan selalu berbagi Kebaikan.

Jika Hidup Kita ingin Lebih bernilai, saatnya Kita berhenti Menilai orang lain  berdasarkan BAIK dan BURUK. Jauh lebih baik Jika Kita menghabiskan waktu untuk selalu Introspeksi diri agar Kita Tahu. Diri. Orang yang  hidupnya selalu Mencari pembenaran atas segala Perbuatannya, sangat Rentan terhadap Kritik, yang pada akhirnya tidak memiliki Kesempatan untuk Introspeksi  menerima kenyataan dan Introspeksi diri itu lebih baik daripada mengeluh tanpa tindakan. Kesedihan bukan untuk Diratapi melainkan merupakan panggilan jiwa untuk introspeksi diri dan berbuat yang lebih baik lagi. Kita terlalu sering mengkhawatirkan apa yang orang lain pikirkan tentang diri Kita hingga tanpa sadar Kita menipu diri Kita sendiri.

Jika Kita SADAR  betapa sulitnya mengubah diri sendiri, maka Kita akan MENGERTI betapa kecilnya peluang untuk  mengubah orang lain. Terkadang hidup perlu diuji hingga batas Maksimal, untuk Menyadarkan bahwa diri Kita mampu mengalahkan Kelemahan diri. Sebuah Kesalahan seringkali menegur kita dengan caranya sendiri dan teguran itu membuat Kita sadar diri untuk segera berubah. Ketika  Kita mengalami kondisi dimana Semua Harapan Memudar, jalan satu-satunya yang harus dilakukan adalah Tahu diri dan Sadar diri.

Terkadang semesta harus Menegur Kita berkali-kali agar Kita Sadar.



Psikologi Uang

Apa pernah Anda melihat Moneytory dan ternyata banyak pengeluaran yang sebenarnya tidak terlalu penting? Atau mungkin anda pernah berpikir, “Kenapa, orang yang penghasilannya sama dengan anda bisa punya lebih banyak dana di Flexi Saver bahkan bisa punya beberapa Maxi Saver, sementara Anda tidak?” Atau jangan-jangan, selama ini Anda merasa manajemen keuangan Anda tidak bagus tapi belum tahu harus memperbaiki dan mengubahnya dari mana? 

Itu disebabkan cara Anda memandang dan mengelola keuangan dipengaruhi oleh faktor psikologis. Karena faktor psikologis setiap orang berbeda-beda. Setiap orang memandang dan mengelola uang juga berbeda, meskipun mereka mengetahui teori financial planning yang sama. Cara manusia berperilaku terhadap uang inilah dikenal sebagai psychology of money.

Apa Itu Psychology of Money?

Istilah psychology of money mulai dikenal melalui buku berjudul sama yang ditulis oleh Morgan Housel. Buku The Psychology of Money menjelaskan tentang bagaimana kita berperilaku terhadap uang.

Memahami psychology of money akan mempermudah setiap orang dalam mengelola pikiran, emosi, dan perilaku—terutama saat harus berurusan dengan uang. Karena sebanyak apapun uang yang bisa kita hasilkan dan kumpulkan, semuanya akan sia-sia ketika dihadapkan pada manajemen keuangan yang buruk atau perilaku menghabiskan uang yang tidak terkontrol.

Kesuksesan kita dalam mengatur keuangan tidak hanya tergantung dengan pengetahuan, kecerdasan, dan kemampuan berhitung tetapi juga tergantung pada bagaimana perilaku kita dalam mengelola uang—misal saat belanja, saat menggunakan Flexi Cash, saat membuat Dream Saver, dan sebagainya.

Setiap orang berbeda, tidak ada yang benar-benar sama.

Dalam setiap hal yang berhubungan dengan psikologi manusia, tidak ada orang yang memiliki perilaku seratus persen sama dengan orang lain, termasuk soal psychology of money.

Tidak ada faktor psikologi spesifik dalam perilaku manusia terhadap uang, yang bisa berlaku untuk semua orang. Tetapi, kalau kita mengingat bahwa perilaku manusia selalu dipengaruhi oleh faktor internal (seperti demografi, kepribadian, motivasi, pengalaman, atau nilai yang dianut) dan faktor eksternal (seperti pola asuh, status sosial ekonomi, budaya, atau lingkungan), maka perilaku kita terhadap uang juga tentu dapat dipengaruhi faktor-faktor tersebut.

Misalnya, perilaku yang dipengaruhi oleh faktor internal. Secara demografi, perempuan cenderung memiliki list belanjaan bulanan lebih banyak daripada laki-laki, karena kebutuhan pribadi yang lebih banyak.

Orang dengan kepribadian ekstrovert akan berbeda cara menghabiskan uangnya dengan yang punya kepribadian introvert. Orang dengan motivasi punya tabungan yang banyak akan mengalihkan dananya ke Flexi Saver, sementara orang yang motivasinya punya aset akan membagi sebagian dananya ke Maxi Saver.

Contoh lainnya adalah perilaku yang dipengaruhi oleh faktor eksternal. Seseorang yang sejak kecil dididik untuk berhemat, cenderung punya banyak pertimbangan sebelum memutuskan untuk membelanjakan uang ketimbang yang sejak kecil terbiasa langsung dibelikan sesuatu.

Psychology of Money

Jangan lupa, keadaan sosial ekonomi seseorang juga berperan penting. Pengeluaran satu juta mungkin terasa ringan bagi yang penghasilan perbulannya dua digit atau lebih, dan sebaliknya, akan terasa berat bagi yang penghasilannya hanya satu digit.

Apakah teman Anda pernah melihat suatu barang yang pada waktu tertentu sangat hype, jadi trend, dan semua orang ingin memilikinya? Ini juga mempengaruhi psychology of money kita.

Disadari atau tidak, kita cenderung mudah terbujuk dengan hal-hal yang tampak “istimewa”. Seperti sesuatu yang sedang trend, diskon besar-besaran, barang yang katanya limited, atau promo yang menggoda seperti gratis ongkir.

Kebahagiaan dan Ketamakan

Uang mungkin tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi uang bisa membeli segalanya yang dapat membuat kita bisa bahagia. Anda pernah mendengar pepatah ini, kan?

Setiap orang tentu punya pandangan yang berbeda dalam memaknai kebahagiaan yang diberikan oleh uang. Ada yang merasa bahagia saat punya dana darurat dan tabungan yang cukup.

Ada yang bahagia saat bisa membeli apa pun yang diinginkan, tanpa harus membandingkan harga dengan toko sebelah. Ada juga yang bahagia saat bisa memfasilitasi keluarga dengan kenyamanan dan keamanan finansial.

Tidak ada yang salah dalam menghubungkan uang dengan kebahagiaan. Karena faktanya, orang yang memiliki uang memang mampu membuat hidupnya menjadi lebih bahagia. Paling tidak, hidup menjadi lebih punya pilihan saat kita punya uang.

Namun, menjadikan uang sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan juga membuat kita secara psikologis mengidamkan uang secara berlebihan. Keinginan untuk memiliki dan menumpuk uang berpotensi menjadikan kita manusia yang tamak.

Tidak hanya berpotensi menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang, kita juga cenderung melupakan hal-hal lain yang tidak kalah penting dalam hidup, seperti pasangan, teman-teman, keluarga, bahkan diri sendiri. Sehingga, penting untuk kita memahami apa yang penting dan menjadi prioritas, dan kenapa kita menganggapnya demikian.

Mengelola Keuangan, Belajar untuk Berkata Cukup. 

Jadi gimana caranya agar bisa mengelola keuangan dengan baik?

1. Kenali dan pahami dulu kebutuhan dan prioritas Anda masing-masing. Coba jawab pertanyaan-pertanyaan ini untuk bisa berpikir lebih dalam tentang uang : Apa saja yang menjadi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier? Apa yang menjadi kebutuhan mendesak dan penting? Apakah semua kebutuhan sudah terakomodasi dari pemasukan reguler? Perlukah memisahkan dana kebutuhan sehari-hari di x-card yang berbeda atau semuanya cukup jadi satu di m-card?

2. Kenali dan pahami kebutuhan memiliki tabungan dan aset. Pertanyaan yang bisa membantu Anda : Apakah satu pos tabungan cukup satu untuk semua kebutuhan? Perlukah memisahkan tabungan darurat dan tabungan jangka panjang? Apakah sudah saatnya memiliki aset? Apakah sudah perlu berinvestasi? Apakah Flexi Saver perlu dipisah sesuai tujuan menabung?

3. belajar berkata cukup. Anda pasti sadar, mengumpulkan uang lebih mudah ketimbang mempertahankannya. Karena secara psikologis, saat kita punya uang, kita cenderung punya keinginan untuk menghasilkan lebih banyak. Contohnya, kita jadi tergoda untuk menggunakan uang yang ada untuk berinvestasi lebih banyak dengan harapan mendapatkan untung lebih. Godaan ini cenderung membuat kita berinvestasi secara asal dan tanpa pertimbangan yang matang, sehingga memunculkan potensi rugi yang lebih besar juga.

Contoh lainnya, jika Anda terus-menerus bekerja tanpa memperhatikan diri sendiri dan jatuh sakit malah akan mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk kesehatan.  Intinya, berkata cukup pada diri sendiri saja sudah membantu kita untuk mengendalikan atau membatasi pengeluaran keuangan. Bagaimana menetapkan prioritas serta pertimbangan yang lebih matang dan berjangka panjang.

Oleh: Fakhrisina Amalia Rovieq





Wujudkan Impianmu


"Dunia luar adalah cerminan dari dunia dalam." — Charles F. Haanel. 

Haanel percaya bahwa pikiran adalah satu-satunya realitas sejati . Segala sesuatu yang kita lihat, sentuh, dan alami di dunia luar adalah hasil dari pola pikir internal. Ubah penyebabnya (pikiran Anda), dan akibatnya (kehidupan Anda) pasti akan mengikuti. Sementara kebanyakan orang bertindak secara otomatis—bereaksi terhadap keadaan—Haanel menantang Anda untuk bertindak sesuai rencana.

Pikiran adalah satu-satunya realitas. Segala sesuatu bermula dari pikiran. Dunia luar? Itu adalah cermin. Alihkan fokus internal Anda, dan dunia akan menyesuaikan diri.

Pikiran adalah kunci utama. Kendalikan pikiran, dan Anda akan membuka takdir Anda. Pikiran sadar memilih; pikiran bawah sadar menerima dan mewujudkan.

Hukum Tarik Menarik adalah hukum, bukan sihir. Ini bukan sekadar angan-angan atau mistisisme. Ini adalah hukum energi. Apa yang Anda rasakan dan yakini di tingkat bawah sadar, itulah yang akan Anda tarik.

Konsentrasi adalah kekuatan. Haanel menekankan kekuatan pikiran yang terfokus. Jika perhatian Anda tersebar, energi Anda akan terpecah. Jika fokus, realitas Anda akan selaras.

Visualisasi adalah proses kreatif. Imajinasi mental bukan hanya latihan yang menyenangkan—tetapi juga mekanisme manifestasi. Visualisasikan dengan tepat dan penuh keyakinan, dan alam bawah sadar Anda akan mewujudkan hasilnya.

Haanel mengajarkan bahwa pikiran Anda menghasilkan frekuensi getaran, dan frekuensi itu menarik hal-hal yang serupa.

Namun, ini bukan hanya tentang afirmasi di permukaan. Ini tentang apa yang Anda yakini jauh di dalam alam bawah sadar Anda —pusat kekuatan kreatif.

“Pikiran bawah sadar tidak dapat berdebat secara kontroversial. Jika telah menerima sugesti yang salah, metode pasti untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan sugesti tandingan yang lebih kuat.” — Charles Haanel

Tugasmu? Memenuhi alam bawah sadar dengan kejelasan, kekuatan, dan keyakinan berfrekuensi tinggi. 

Rasakan Hasil Akhirnya 

Gabungkan emosi dengan citra. Itulah kuncinya. Apa yang Anda rasakan sebagai nyata akan menjadi nyata.

Pikiranmu Adalah Gerbangnya

Haanel bukan hanya seorang pemikir. Dia adalah penyingkap hukum kosmik. Dia mengajarkan bahwa pikiran Anda adalah kunci utama —alat suci yang mampu membuka kekayaan, kesehatan, cinta, dan tujuan hidup.

“Untuk mendapatkan inspirasi berarti keluar dari jalan yang biasa dilalui, keluar dari kebiasaan, karena hasil yang luar biasa membutuhkan cara yang luar biasa.” — Charles Haanel

Anda tidak berada di sini hanya untuk hidup begitu saja. Anda berada di sini untuk menciptakan sesuatu.

Dan Haanel mengingatkan kita: ini bukan tentang kerja keras. Ini tentang penguasaan mental , penyelarasan energi , dan kebenaran abadi bahwa dunia batin membentuk dunia luar .

Alam bawah sadar bukanlah sekadar pendamping psikologis—melainkan rahim ilahi dari penciptaan .

Ketika Anda menyelaraskan niat sadar dengan keyakinan bawah sadar, Anda menjadi kekuatan penggerak. Dunia harus mengikuti. Itu adalah hukum alam.

Mimpikanlah impian yang tinggi, dan seperti yang kau impikan, begitulah kau akan menjadi. Visimu adalah janji tentang apa yang akan kau capai suatu hari nanti.



Seni Manipulasi Otak

Prefrontal Cortex dan Seni Manipulasi  “Bagaimana Otak Kita Bisa “Di-hack”

Manusia dikenal sebagai makhluk yang mampu berpikir, merencanakan, dan mengontrol prilaku. Semua kemampuan itu berakar pada sebuah bagian otak yang disebut prefrontal cortex (PFC). Bagian otak depan ini adalah pusat kendali eksekutif yang mengatur fungsi-fungsi kompleks : menimbang konsekuensi, membuat keputusan etis, mengendalikan dorongan emosional, hingga menjaga konsistensi dengan nilai hidup. Singkatnya, prefrontal cortex adalah “direktur” otak manusia, yang memimpin orkestra berbagai bagian otak lainnya agar berjalan harmonis.

Namun, di balik peran vitalnya, PFC juga menjadi target utama manipulasi. Para manipulator baik dalam ranah politik, ekonomi, media, maupun iklan mengetahui bahwa jika PFC dilemahkan, maka manusia lebih mudah dikendalikan. Tanpa pertahanan kuat dari bagian otak ini, seseorang cenderung bereaksi impulsif, emosional, dan mengikuti arahan yang sesungguhnya tidak sejalan dengan dirinya.

Bagaimana Manipulasi Melemahkan Prefrontal Cortex?

Ada berbagai strategi manipulasi yang dirancang untuk menyabotase kemampuan PFC. Beberapa di antaranya begitu umum hingga kita jarang menyadarinya:

1. Scarcity (kelangkaan)

Iklan sering menggunakan pesan seperti “terbatas hanya hari ini” atau “stok hampir habis”. Strategi ini memicu rasa takut kehilangan, atau fear of missing out (FOMO). Psikologi menyebut fenomena ini sebagai loss aversion yaitu rasa sakit kehilangan terasa lebih kuat dibanding kesenangan memperoleh. Dalam kondisi panik, PFC kesulitan menimbang secara rasional, dan sistem limbik (emosi) mengambil alih kendali.

2. Social Proof (bukti sosial)

Ketika mayoritas orang tampak memilih sesuatu, kita cenderung mengikuti tren agar merasa aman. Tekanan psikologis untuk konformitas ini membuat PFC yang biasanya kritis menjadi lemah. Eksperimen klasik Solomon Asch membuktikan bagaimana orang rela mengabaikan kebenaran yang jelas di depan mata hanya demi menyesuaikan diri dengan kelompok.

3. Framing (pembingkaian realitas)

Cara informasi dikemas dapat memengaruhi keputusan. Misalnya, mengatakan “90% sukses” terasa lebih meyakinkan dibanding “10% gagal”, meskipun artinya sama. Efek framing membuat PFC menerima sudut pandang tertentu tanpa sempat mengevaluasi lebih dalam. Misalnya lagi “Kebijakan ini akan menciptakan 300 ribu lapangan kerja baru.” “Tanpa kebijakan ini, kita bisa kehilangan 300 ribu lapangan kerja.”

4. Otoritas dan Influencer

Kita cenderung tunduk pada figur yang dianggap lebih tahu, populer, atau berkuasa. Bias otak ini bisa melewati filter rasionalitas, membuat kita menelan mentah-mentah apa pun yang dikatakan tokoh otoritatif. Stanley Milgram pernah menunjukkan dalam eksperimennya bahwa orang biasa bersedia memberikan “kejutan listrik berbahaya” kepada orang lain hanya karena diperintah oleh figur otoritas.

Dengan strategi-strategi ini, para manipulator tidak perlu memaksa secara fisik. Cukup dengan melemahkan PFC, pikiran, emosi, hingga kebiasaan kita bisa diarahkan sesuai kepentingan mereka.

Begitu PFC terganggu, dampaknya tidak hanya pada keputusan kecil, tetapi juga pada keseimbangan hidup secara keseluruhan.

Akibat langsungnya adalah munculnya kegelisahan, perilaku otomatis, hingga kecenderungan adiktif. Otak yang kehilangan kendali eksekutif lebih mudah terjebak dalam siklus konsumsi, distraksi digital, dan pencarian validasi eksternal.

Yang lebih berbahaya adalah tergerusnya jati diri. Manipulasi membuat kita sibuk mengejar apa yang diinginkan orang lain, bukan apa yang bermakna bagi diri kita. Identitas pun bergeser dari “siapa aku sebenarnya” menjadi “siapa yang harus aku tampilkan agar diterima.” Inilah bentuk peretasan terdalam "ketika manusia kehilangan hubungan dengan inti dirinya sendiri." Melatih Prefrontal Cortex adalah Jalan Keluar dari Manipulasi. Jika PFC adalah target, maka melatih dan memperkuatnya menjadi pertahanan terbaik. 

Beberapa langkah sederhana dapat membantu menjaga agar sang “direktur otak” tetap eling dan waspada :

-Mindfulness dan meditasi: praktik sederhana ini terbukti dalam penelitian neurosains dapat meningkatkan ketebalan grey matter di PFC, sehingga area kendali diri lebih kuat menghadapi godaan.

-Refleksi diri: menulis jurnal, melakukan kontemplasi, atau berdialog dengan diri sendiri membantu kita menyadari pola pikir yang terbentuk dari luar. Dengan begitu, PFC tetap punya ruang untuk menimbang ulang sebelum bereaksi.

-Higiene digital: membatasi paparan media sosial dan iklan berarti melindungi otak dari banjir stimulus yang melemahkan fungsi PFC. Studi tentang dopamine loops menunjukkan bahwa notifikasi dan scroll tak berujung, sengaja dirancang untuk menekan kendali eksekutif kita.

-Menegaskan prinsip hidup: dengan menyadari apa yang benar-benar penting dan tidak bisa ditawar, PFC memiliki pegangan kuat saat menghadapi framing, otoritas palsu, atau tekanan sosial.

Prefrontal cortex adalah pusat kebijaksanaan dalam otak manusia. Ia adalah benteng yang menjaga kita tetap setia pada diri sendiri. Sayangnya, justru bagian ini yang paling sering menjadi target manipulasi modern.

Scarcity, social proof, framing, dan otoritas hanyalah beberapa metode untuk meretas otak manusia. Namun, dengan kesadaran, latihan mental, dan keberanian untuk kembali ke jati diri, kita bisa menjaga agar sang “direktur otak” dalam hal ini Prefrontal Cortex tetap memimpin orkestra kehidupan kita.

Sebagai penutup dari tulisan, kita harus berani bertanya pada diri sendiri “apakah kita memilih hidup sebagai diri sendiri, atau sekadar bayangan yang dibentuk oleh orang lain?”

*Filsafat & Psikologi

Psikologi Bahasa Tubuh


Tidak jarang ada orang yang mencari cara membaca kepribadian seseorang secara psikologi saat akan bertemu orang baru. Pasalnya, bertemu orang baru yang belum dikenal perlu waktu agar bisa menilai kepribadian orang tersebut sebelum menjalin relasi yang lebih dalam. Perbedaan kepribadian sering kali membuat seseorang salah paham saat berelasi dengan orang lain. Oleh karena itu, memahami orang lain merupakan kunci sukses dalam berelasi. Agar bisa memahami kepribadian orang lain, membaca kepribadiannya bisa dilakukan terlebih dahulu. 

Berikut adalah beberapa cara membaca kepribadian seseorang secara psikologi yang bisa dilakukan saat bertemu orang baru.

1. MELIHAT EKSPRESI WAJAH

Pertama adalah dengan melihat ekspresi wajah dari orang tersebut. Tidak jarang emosi seseorang mudah terbaca melalui wajah, sehingga orang lain bisa menilai kepribadian atau karakternya dari raut wajah tersebut. Ekspresi wajah yang bisa dilihat serta diperhatikan saat bertemu orang baru ini termasuk sorot mata, raut wajah, hingga senyuman. Penting untuk memperhatikan seluruh bagian wajah dengan benar agar bisa membaca kepribadian orang tersebut.

2. MENGAMATI GERAKAN TUBUH

Gerakan tubuh penting untuk diperhatikan saat membaca kepribadian orang baru. Gerakan tubuh ini seperti menyilangkan tangan, posisi duduk atau berdiri, menyembunyikan tangan, menggerakan kaki, dan lain-lain. Gerakan tubuh mampu menunjukkan suasana hati hingga tingkat kedekatan dengan orang lain.

3. PERHATIKAN CARA BERKOMUNIKASI

Cara membaca kepribadian seseorang secara psikologi berikutnya adalah memperhatikan cara berkomunikasinya. Cara berkomunikasi ini meliputi nada dan intonasi saat berbicara hingga gaya bahasa yang digunakan. Gaya bahasa yang digunakan seseorang saat berbicara maupun menulis dapat menunjukkan pengalaman hingga pemahaman seseorang. Intonasi saat berbicara juga bisa menunjukkan kepribadian orang tersebut. Oleh karena itu kepribadian seseorang bisa dilihat dari caranya berkomunikasi.

4. MEMPERHATIKAN PENAMPILAN

Penampilan menjadi salah satu aspek penting saat melihat kepribadian maupun karakter orang lain. Penampilan ini bisa dilihat dari gaya berpakaian dan kerapihannya. Walau menilai seseorang tidak bisa hanya dari penampilannya, namun cara ini masih menjadi pertimbangan dalam melihat kepribadian orang lain.

5. MELAKUKAN KONTAK MATA

Cara terakhir yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan kontak mata dengan orang tersebut. Banyak orang yang kesulitan saat melakukan kontak mata dengan orang lain, apalagi orang yang baru dikenal. Bila seseorang bisa melakukan kontak mata dengan lawan bicara, maka kemungkinan ia adalah orang yang percaya diri dan senang bersosialisasi. Sementara jika seseorang sulit melakukan kontak mata, mungkin ia adalah orang yang pemalu dan sulit membuka diri.

Setelah mengetahui cara membaca kepribadian seseorang secara psikologi tersebut, kini mengenal dan memahami orang baru bisa lebih mudah sehingga terhindar dari salah paham.