Kapan Islam Masuk Nusantara?

Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat.

Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.

Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam? 

Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.

Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.

Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina.

Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.

Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana.

Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera.

Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. 

HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.

Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. 

Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan.

Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.

Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.

Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!

Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).

Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. 

Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.

Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). 

Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.

Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an, karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin Affan pada tahun 30 H atau 651 M. 

Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif Utsman.

Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia Tengah.

Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah

Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246 mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian sekarang ini memperoleh kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah dihadiahkan kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).

Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja.

Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r. A..

Diceritakan sebelum Sunan Gunung Jati dan Walisongo ada, agama Islam sudah masuk ke Nusantara.

Seorang sejarawan M.C. Ricklefs mengungkapkan sesuatu yang sangat mengejutkan tentang masuknya Islam ke Nusantara.

Ia mengatakan dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 menegaskan bahwa, sejarah masuknya Islam ke Indonesia tidak jelas asal dan usulnya.

Tahun 1522, ada seorang pengelana dari Italia yang berkelana bersama penjelajah Portugis bernama Antonio Pigafetta, datang ke Jawa dan dia menyaksikan bagaimana penduduk pribumi di sepanjang Pantai Utara Jawa itu semuanya beragama Islam. 

Di pedalaman masih ada Kerajaan Majapahit yang rajanya bernama Wijaya tapi sudah tidak berkembang. 

Menurut kesaksian itu artinya Islam baru dapat berkembang pada era Walisongo yang sampai sekarang dipertanyakan oleh banyak sejarawan, kenapa begitu cepat dakwah Islam di era Walisongo. 

Dalam tempo 40 sampai 50 tahun pengislaman begitu meluas. 

Padahal 800 tahun ditolak, 

apa yang menjadi penyebab begitu cepatnya Islam tersebar ?

Selain itu, Belanda juga pernah mengarang cerita yang mengatakan bahwa semua Walisongo berasal dari Cina. 

Mereka berdalih mendapatkan sumber dari tiga cikar keramik hasil rampasan dari Kuil Sam Poo Kong.

Kerajaan Islam pertama di Jawa bukanlah Kerajaan Demak (abad 15), melainkan Kerajaan Lumajang yang menunjuk kurun waktu awal abad 12, yaitu saat Singasari di bawah Sri Kertanegara.

Para sejarawan dunia hingga kini masih bingung, kenapa dalam tempo tak sampai 50 tahun, Walisongo berhasil mengislamkan banyak sekali manusia nusantara.

Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan Madinah.

Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul.

Islam Dan Peradaban


“…dua kota terletak dalam kegelapan dan bersebelahan dengan Gunung Qaf….(penduduknya) bahkan tidak mengenal Adam…Mereka tidak mengetahui bahwa Allah telah menciptakan matahari dan bulan…cahaya datang kepada mereka dari Gunung Qaf, dan mereka dinding, batu, dan debu mereka semuanya bersinar seperti cahaya….mereka tidak perlu menutupi tubuh mereka dengan pakaian…mereka semua laki-laki, dan mereka tidak memiliki perempuan…

Pada malam Mi'raj, ketika Jibril membawaku ke Surga, dia membawaku ke orang-orang ini. Saya menawari mereka Islam, mereka percaya pada saya, dan pada Allah. Saya mengangkat seorang Khalifah di antara mereka dari antara bangsa mereka sendiri, dan saya mengajari mereka Islam. Jibril  lalu membawaku ke Tharis dan Taqil dan menuju Yajuj dan Majuj; mereka kafir dan tidak menerima Islam.” – Hadits, Direkam oleh al-Tabari.

“Kamu akan melihat mereka (Imam Mahdi) terbang. Mereka akan menentang gravitasi seperti halnya jet tempur. Mereka akan tampak terbang dan kuku tunggangan mereka tidak akan menyentuh bumi. Di depan mereka adalah Hadrat 'Ali, Guru kami”. - Mawlana GrandSyaikh Nazim al-Qubrusi

“Atas perintah Nabi, dia (al Mahdi) pertama kali dibawa pergi ke belakang Gunung Qaf. Nujaba, Awtad, Budalla dan Akhyar membawanya. Imam mereka adalah Shihabuddin. Kemudian, dia diperintahkan untuk (kembali ke bumi dan) berada di Tempat Kosong. Di situlah Yaman dan Hijaz bergabung. Itu adalah gurun yang mati… Tuhan akan mengirim orang dari belakang Gunung Qaf. Tidak ada yang akan sendirian saat itu. Ketika Mahdi (alaihi salam) datang, dia akan membawa begitu banyak orang baru bersamanya yang akan datang dari sekitar (luar) bumi ini. Ada begitu banyak dunia yang tidak diketahui di sekitar (di luar) dunia kita. Orang-orang akan datang dari Nujaba, Awtad, Budalla dan Akhyar”.  -   Maulana Grand Syaikh Nazim al-Qubrusi

“Adam turun ke bumi. Ini menunjukkan bahwa kita tidak berasal dari bumi. Sebaliknya Adam dan Hawa diturunkan dari langit di atas dengan bahasa, pengetahuan, teknologi dan kekuatan untuk menjajahnya. Bumi awalnya dihuni oleh Nasnas dan Shiqqs (Manusia-kera yang dikenal sebagai Manusia Gua, Neanderthal, dan Ya’juj dan Ma’juj yang berevolusi dari bumi seperti yang dinyatakan oleh Imam al-Nawawi)– bentuk primitif dari manusia pra-Adam (kedatangan permanen), yang merupakan penghasut perang dan terus-menerus menumpahkan darah di bumi. 

Peradaban tiba-tiba muncul “tiba-tiba” hampir 7000 tahun yang lalu karena kedatangan Adam dan Hawa secara permanen dari surga dan mengungkapkan pengetahuan yang datang bersama mereka dan selanjutnya kepada keturunan mereka di antara para nabi… untuk lebih memahami tingkat ilmu pengetahuan dan matematika tingkat lanjut pengetahuan para nabi melalui wahyu lihatlah keajaiban ilmiah dan matematis dari Al-Qur'an ... apakah Anda menganggap mungkin seorang ilmuwan saat ini dapat mengetahui keajaiban matematika Al-Qur'an seperti Rasio Emas tetapi Nabi Penutup yang atasnya diturunkan? dari Allah sendiri, tidak bisa? Perjalanan ini dimulai dari Puncak Adam di Sri Lanka yang merupakan bagian dari India, dan konstruksi pertama oleh Raja Muda Tuhan di Bumi Adam adalah Jembatan Adam (Rama Setu/Jembatan Ram) antara India dan Sri Lanka. Pengetahuan dari Adam di India dilestarikan dalam Weda, meskipun kemudian disalahtafsirkan. Ram adalah kata yang digunakan hingga saat ini oleh orang Arab seperti yang kita lihat dalam nama Ramallah. Kata "Ramallah" terdiri dari dua bagian: "Ram" berasal dari Arami yang berarti gunung atau ketinggian, dan "Allah", kata Arab untuk Tuhan. Adam sangat tinggi dan dia turun di puncak gunung… kata Arab untuk Tuhan. Adam sangat tinggi dan dia turun di puncak gunung… kata Arab untuk Tuhan. Adam sangat tinggi dan dia turun di puncak gunung…kemudian dia pergi ke Arab untuk mencari Hawa – di mana kota pertama (Ibu Kota) Mekah dan Ka'bah Suci dibangun. Dari sana Adam dan Hawa bersatu kembali di Arafah, dan dilanjutkan ke Irak, serta mendirikan peradaban Sumeria. Adam (Atum) dan Seth (Agathodaimon) terus memperluas perbatasan mereka sampai mereka mencapai Yerusalem melalui Shivta (شبطا) dimana Adam membangun Masjid al-Aqsa. Kemudian Idris (Thoth) membawa warisan ini ke Mesir melalui Gaza dan membangun Piramida Agung Giza dan menyimpan pengetahuan ini secara kasat mata dalam 'bahasa burung' (hieroglif) yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Nuh (Nu) datang setelah dia, dia menyelesaikan pekerjaan Adam dan Hawa selama 950 tahun. Air bah melenyapkan segala sesuatu yang lama dan primitif dari masa lalu dan dunia baru tercipta. Peternakan, pertanian, astronomi, navigasi, arsitektur, matematika, hukum, ilmu sosial dan bahkan genetika adalah ilmu wahyu yang dibawa ke bumi bersama Adam dan Hawa. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam (sel punca) oleh Malaikat melalui bentuk rekayasa genetika yang sangat canggih. Adam dianugerahi pemahaman dan pengetahuan yang bahkan lebih tinggi daripada para Malaikat. Para nabi memiliki ilmu pengetahuan yang sangat maju…”   –  Sayyid Ahmed Amiruddin

Menurut tradisi Islam kuno, pada Malam Kenaikan ( al-Isra wal-Mi'raj) , Rasulullah ( sallallahu alaihi wa sallam ) mengunjungi peradaban cerdas non-manusia, dan mendakwahkan Islam kepada mereka. Menurut narasi, kota ada di luar tata surya kita.

"Tradisi Islam umumnya mendukung konsepsi kehidupan di luar bumi," kata Jorg Matthias Determann dalam  buku terbarunya Islam, Science Fiction and Extraterrestrial Life.

Al-Qur'an berulang kali menyebut Tuhan sebagai 'Tuhan Semesta Alam', dan umat Islam menggabungkan gagasan semacam itu dengan penelitian astrobiologi global dan fiksi ilmiah.

Ketika kita mulai melihat ke dalam hadits, khususnya tradisi Muslim Syiah, hal-hal mulai menjadi lebih menarik.

Imam Jafar Al-Sadiq, cendekiawan terkenal dan Imam ke-6 Islam Syiah, cukup spesifik dalam topik ini. Dia berkata:

Mungkin Anda melihat bahwa Tuhan hanya menciptakan satu dunia ini dan bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia selain Anda. Saya bersumpah demi Tuhan bahwa Tuhan menciptakan ribuan dan ribuan dunia lain dan ribuan umat manusia.”(Bihar Al-Anwar, Vol. 8, hal. 375) Wahyu Mekkah (Futuhat al-Makkiyya) oleh Ibn Arabi

Sufi dan filsuf Andalusia, Ibn Arabi, menulis karya besarnya selama 30 tahun, mengumpulkan puisi, prosa filosofis, dan dongeng naratifnya menjadi satu karya. Dengan 560 bab, karya Ibn Arabi dimulai dengan pertemuan mistikus abad ke-12 dengan roh leluhur saat melakukan tawaf  (   keliling) Ka'bah di Masjid Agung Mekah, situs tersuci Islam.

Roh tersebut memperkenalkan Ibn Arabi pada rahasia keberadaan dan sifat sejati Tuhan dan alam semesta, tetapi juga mengungkapkan informasi menarik yang akan menarik bagi mereka yang tertarik dengan makhluk luar angkasa.

Memiliki pengetahuan tentang dunia di luar Bumi, roh tersebut mengajarkan  mistikus tentang peradaban lain dan "kota besar mereka, memiliki teknologi yang jauh lebih unggul dari kita".

Hal menarik lainnya dalam Futuhat  adalah penyebutan kutipan yang dikaitkan dengan Nabi Muhammad, di mana ia konon mengatakan bahwa ada 100.000 "Adam" sebelum Adam yang melahirkan manusia.

Ajaran tentang ADA

Syaikh Siti Jenar - Ajaran tentang "ADA"

Lantas, ajaran macam apa sebetulnya, yang dianggap “benar tapi berbahaya”, sehingga penyebarnya begitu patut menerima hukuman mati dalam pandangan Walisanga?

Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.

Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.

Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya, tidak seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.

Pada akhirnya.. kembali pada kehidupan.

Perbedaan pokok antara kedua tokoh itu ialah Al-Hallaj selalu ditampilkan sebagai seorang sufi yang terbenam dalam cinta akan Tuhan, sedangkan dalam diri Siti Jenar sifat tadi hampir tidak tampak. Siti Jenar terutama dikisahkan sebagai seorang yang mandiri, akal bebas yang tidak menghiraukan raja maupun hukum agama; tak ada sesuatu pun yang menghalanginya menarik kesimpulan dari ajarannya.

Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti, akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah intelektual yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri.

Wirid Syeh Siti Jenar,

Kehidupan adalah perpanjangan tangan Tuhan

Ngurub-urip utusan gusti

Keadaan segala kehidupan wajah Tuhan

Métu urub dating gusti

Tuhan berkehendak dalam hati

Gusti obah sakjeruning ati

Tuhan berkehendak dalam kehidupan

Gusti obah sakjeruning urip

Kehendak rasa adalah rasa kebenaran

Nyipto roso, roso sejati

Kebenaran rasa semoga menyatu dalam sanubari

Sejatining roso manunggalo marang siro.

Dalam Serat Dharmagandul dikisahkan bahwa konon Sabdapalon akan datang kembali bersama agama budi-nya yang 500 tahun sempat tersisih oleh agama Islam. Hal ini senada pula dengan Serat Jangka Seh Bakir yang pernah menyatakan bahwa umur tanah Jawa adalah selama 2100 tahun. Serat Jangka Seh Bakir sendiri mengisahkah pertemuan antara Syekh Subakir dengan Dahyang pulau Jawa: Semar dan Togog.

Lebih lanjut Sunan Bonang berkata, “Kesempurnaan orang yang telah sempurna makrifatnya, pandangannya akan hilang lenyap, tidak ada yang dilihat, ia menjadi penglihatan Tuhan yang Mahaagung, yang menyembah menjadi Yang Disembah. Semua kehendaknya hilang karena ia sudah diliputi Yang Maha Berkehendak. Tidak ada gerak yang disengaja sebagai pribadi karena diri telah menjadi buta, tuli, dan bisu, semua lenyap. Semua gerak berasal dari Allah.”

Sinuhun Majagung memaparkan ilmunya, “Menurut pendapat kami, di akhirat tidak ada lagi yang disebut iman, tauhid, dan makrifat. Semua itu hanya ada di sini (dunia); di akhirat sudah tidak ada lagi. Hubungan yang sejati antara kawula dengan Gusti terungkap dalam memuji dan menyembah. Perbuatan serupa itu di akhirat tidak ada lagi. Bila orang tidak beriman dan tidak mengenal ilmu sejati, dia tidak berkembang menjadi manusia sempurna.

Sunan Gunung Jati membabar ilmu sebagai berikut, “Yang disebut makrifat ialah memandang Tuhan sedemikian rupa, sehingga di luar Dia tidak ada lagi sesuatu. Tidak ada dua atau tiga. Allah hanya Tunggal.”

Sunan Kalijaga berkata, “Arahkan perhatianmu kepada yang berikut tanpa ragu-ragu. Manusia harus memandang Tuhan, tetapi bagaimana cara memandang-Nya, karena Tuhan tidak memiliki rupa, tidak bertempat dan tidak berwarna, tidak berwujud dan tidak terikat tempat (maqam) dan waktu (zaman). Sebenarnya, ada-Nya ialah tiada, tetapi andaikata Dia memang tidak ada, maka alam raya tentu jadi kosong dan tidak ada.”

Syekh Bentong membabar ilmunya pula, “Yang disebut Allah sebetulnya tidak berbeda dengan kawula yang merupakan manifestasi-Nya; Nyawa di dalam kawula itu melaksanakan kemanunggalan tersebut.”

Syekh Maulana Maghribi membabar ilmunya sebagai berikut, “Yang disebut Allah sesungguhnya Ada yang mutlak ada…”.

Syekh Lemah Abang berujar, “Marilah kita berbicara dengan terus terang bahwa Aku ini adalah Allah. Akulah yang sejatinya disebut Prabu Satmata (salah satu nama Syiwa), tidak ada yang lain yang disebut Ilahi.”

Maulana Maghribi menyela, “Tapi itu jisim (tubuh) namanya.”

Syekh Lemah Abang menyahut, “Saya menyampaikan ilmu yang membincang Ketunggalan. Ini bukan jisim (tubuh), dan selamanya bukan tubuh, karena tubuh hakikatnya tidak ada. Yang kita bincang adalah ilmu sejati. Kepada semuanya saja, kita buka tabir rahasia ilmu sejati.

Siti Jenar memandang dalam kematian terdapat sorga neraka, bahagia celaka ditemui, yakni di dunia ini. Sorga neraka sama, tidak langgeng bisa lebur, yang kesemuanya hanya dalam hati saja, kesenangan itu yang dinamakan sorga sedangkan neraka, yaitu sakit di hati.

Syeh Siti Jenar menjelaskan wacana kesatuan makhluk yaitu dalam pengertian akhir hanya ALLAH yang ada dan tidak ada perbedaan ontologis yang nyata yang bisa dibedakan antara ALLAH, manusia dan segala ciptaan lainnya. Sunan Giri menyatakan bahwa wacana itu benar,tetapi meminta jangan diajarkan karena bisa membuat masjid kosong dan mengabaikan syariah. Siti Jenar menjawab bahwa ketundukan buta dan ibadah ritual tanpa isi hanyalah perilaku keagamaan orang bodoh dan kafir.

“Siapa sosok Herucokro itu, Gus?” “Herucokro itu Guru Kejawen-nya Syaikh Siti Jenar,” sahut Gus Dur.

Lokasi makam Herucokro berada di salah satu alas (hutan) di Ngawi, Jawa Timur.

Islam dan Alien


“…dua kota terletak dalam kegelapan dan bersebelahan dengan Gunung Qaf….(penduduknya) bahkan tidak mengenal Adam…Mereka tidak mengetahui bahwa Allah telah menciptakan matahari dan bulan…cahaya datang kepada mereka dari Gunung Qaf, dan mereka dinding, batu, dan debu mereka semuanya bersinar seperti cahaya….mereka tidak perlu menutupi tubuh mereka dengan pakaian…mereka semua laki-laki, dan mereka tidak memiliki perempuan…Pada malam Mi'raj, ketika Jibril membawaku ke Surga, dia membawaku ke orang-orang ini. Saya menawari mereka Islam, mereka percaya pada saya, dan pada Allah. Saya mengangkat seorang Khalifah di antara mereka dari antara bangsa mereka sendiri, dan saya mengajari mereka Islam. Jibril  lalu membawaku ke Tharis dan Taqil dan menuju Yajuj dan Majuj; mereka kafir dan tidak menerima Islam.” – Hadits, Direkam oleh al-Tabari

“Kamu akan melihat mereka (Pembantu Mahdi) terbang. Mereka akan menentang gravitasi seperti halnya jet tempur. Mereka akan tampak terbang dan kuku tunggangan mereka tidak akan menyentuh bumi. Di depan mereka adalah Hadrat 'Ali, Guru kami.” -Mawlana Grand Syaikh Nazim al-Qubrusi

“ Atas perintah Nabi, dia (al Mahdi) pertama kali dibawa pergi ke belakang Gunung Qaf. Nujaba, Awtad, Budalla dan Akhyar membawanya. Imam mereka adalah Shihabuddin. Kemudian, dia diperintahkan untuk (kembali ke bumi dan) berada di Tempat Kosong. Di situlah Yaman dan Hijaz bergabung. Itu adalah gurun yang mati… Tuhan akan mengirim orang dari belakang Gunung Qaf. Tidak ada yang akan sendirian saat itu. Ketika Mahdi (alaihi salam) datang, dia akan membawa begitu banyak orang baru bersamanya yang akan datang dari sekitar (luar) bumi ini. Ada begitu banyak dunia yang tidak diketahui di sekitar (di luar) dunia kita. Orang-orang akan datang dari Nujaba, Awtad, Budalla dan Akhyar .” -Mawlana Grand Syaikh Nazim al-Qubrusi

“ Adam turun ke bumi. Ini menunjukkan bahwa kita tidak berasal dari bumi. Sebaliknya Adam dan Hawa diturunkan dari langit di atas dengan bahasa, pengetahuan, teknologi dan kekuatan untuk menjajahnya. Bumi awalnya dihuni oleh Nasnas dan Shiqqs (Manusia-kera yang dikenal sebagai Manusia Gua, Neanderthal, dan Ya’juj dan Ma’juj yang berevolusi dari bumi seperti yang dinyatakan oleh Imam al-Nawawi)– bentuk primitif dari manusia pra-Adam (kedatangan permanen), yang merupakan penghasut perang dan terus-menerus menumpahkan darah di bumi. Peradaban tiba-tiba muncul “tiba-tiba” hampir 7000 tahun yang lalu karena kedatangan Adam dan Hawa secara permanen dari surga dan mengungkapkan pengetahuan yang datang bersama mereka dan selanjutnya kepada keturunan mereka di antara para nabi… untuk lebih memahami tingkat ilmu pengetahuan dan matematika tingkat lanjut pengetahuan para nabi melalui wahyu lihatlah keajaiban ilmiah dan matematis dari Al-Qur'an ... apakah Anda menganggap mungkin seorang ilmuwan saat ini dapat mengetahui keajaiban matematika Al-Qur'an seperti Rasio Emas tetapi Nabi Penutup yang atasnya diturunkan? dari Allah sendiri, tidak bisa? 

Perjalanan ini dimulai dari Puncak Adam di Sri Lanka yang merupakan bagian dari India, dan konstruksi pertama oleh Raja Muda Tuhan di Bumi Adam adalah Jembatan Adam (Rama Setu/Jembatan Ram) antara India dan Sri Lanka. Pengetahuan dari Adam di India dilestarikan dalam Weda, meskipun kemudian disalahtafsirkan. Ram adalah kata yang digunakan hingga saat ini oleh orang Arab seperti yang kita lihat dalam nama Ramallah. Kata "Ramallah" terdiri dari dua bagian: "Ram" berasal dari Arami yang berarti gunung atau ketinggian, dan "Allah", kata Arab untuk Tuhan. Adam sangat tinggi dan dia turun di puncak gunung… kata Arab untuk Tuhan. Adam sangat tinggi dan dia turun di puncak gunung… kata Arab untuk Tuhan. Adam sangat tinggi dan dia turun di puncak gunung…kemudian dia pergi ke Arab untuk mencari Hawa – di mana kota pertama (Ibu Kota) Mekah dan Ka'bah Suci dibangun. 

Dari sana Adam dan Hawa bersatu kembali di Arafah, dan dilanjutkan ke Irak, serta mendirikan peradaban Sumeria. Adam (Atum) dan Seth (Agathodaimon) terus memperluas perbatasan mereka sampai mereka mencapai Yerusalem melalui Shivta (شبطا) dimana Adam membangun Masjid al-Aqsa. Kemudian Idris (Thoth) membawa warisan ini ke Mesir melalui Gaza dan membangun Piramida Agung Giza dan menyimpan pengetahuan ini secara kasat mata dalam 'bahasa burung' (hieroglif) yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Nuh (Nu) datang setelah dia, dia menyelesaikan pekerjaan Adam dan Hawa selama 950 tahun. Air bah melenyapkan segala sesuatu yang lama dan primitif dari masa lalu dan dunia baru tercipta. Peternakan, pertanian, astronomi, navigasi, arsitektur, matematika, hukum, ilmu sosial dan bahkan genetika adalah ilmu wahyu yang dibawa ke bumi bersama Adam dan Hawa. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam (sel punca) oleh Malaikat melalui bentuk rekayasa genetika yang sangat canggih. Adam dianugerahi pemahaman dan pengetahuan yang bahkan lebih tinggi daripada para Malaikat. Para nabi memiliki ilmu pengetahuan yang sangat maju…”   –  Sayyid Ahmed Amiruddin

Menurut tradisi Islam kuno, pada Malam Kenaikan ( al-Isra wal-Mi'raj) , Rasulullah ( sallallahu alaihi wa sallam ) mengunjungi peradaban cerdas non-manusia, dan mendakwahkan Islam kepada mereka. Menurut narasi, kota ada di luar tata surya kita.

"Tradisi Islam umumnya mendukung konsepsi kehidupan di luar bumi," kata Jorg Matthias Determann dalam  buku terbarunya Islam, Science Fiction and Extraterrestrial Life.

"Misalnya, Al-Qur'an berulang kali menyebut Tuhan sebagai 'Tuhan Semesta Alam', dan umat Islam menggabungkan gagasan semacam itu dengan penelitian astrobiologi global dan fiksi ilmiah.

Ketika kita mulai melihat ke dalam hadits, khususnya tradisi Muslim Syiah, hal-hal mulai menjadi lebih menarik.

Imam Jafar Al-Sadiq, cendekiawan terkenal dan Imam ke-6 Islam Syiah, cukup spesifik dalam topik ini. Dia berkata:

Mungkin Anda melihat bahwa Tuhan hanya menciptakan satu dunia ini dan bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia selain Anda. Saya bersumpah demi Tuhan bahwa Tuhan menciptakan ribuan dan ribuan dunia lain dan ribuan umat manusia.”

(Bihar Al-Anwar, Vol. 8, hal. 375)

Wahyu Mekkah (Futuhat al-Makkiyya) oleh Ibn Arabi

Sufi dan filsuf Andalusia, Ibn Arabi, menulis karya besarnya selama 30 tahun, mengumpulkan puisi, prosa filosofis, dan dongeng naratifnya menjadi satu karya.

Dengan 560 bab, karya Ibn Arabi dimulai dengan pertemuan mistikus abad ke-12 dengan roh leluhur saat melakukan tawaf  ( keliling) Ka'bah di Masjid Agung Mekah, situs tersuci Islam.

Roh tersebut memperkenalkan Ibn Arabi pada rahasia keberadaan dan sifat sejati Tuhan dan alam semesta, tetapi juga mengungkapkan informasi menarik yang akan menarik bagi mereka yang tertarik dengan makhluk luar angkasa.

Memiliki pengetahuan tentang dunia di luar Bumi, roh tersebut mengajarkan  mistikus tentang peradaban lain dan "kota besar mereka, memiliki teknologi yang jauh lebih unggul dari kita".

Hal menarik lainnya dalam Futuhat  adalah penyebutan kutipan yang dikaitkan dengan Nabi Muhammad, di mana ia konon mengatakan bahwa ada 100.000 "Adam" sebelum Adam yang melahirkan manusia.

Babad Tanah Jawa

Indonesia, adalah negara terkaya di dunia, bahkan seluruh kesuburan tanah di Eropa jika dikumpul tak akan menyamai kesuburan di tanah Jawa.”

Petikan kalimat di atas terdapat dalam naskah kuno “Babad Tanah Jawi”. Di situ, ada kesaksian Belanda sebagai negara penjajah tentang Indonesia yang “Gemah Ripah Loh Jinawi”.

Naskah “Babad Tanah Jawi” merupakan salah satu naskah kuno tahun 1700-an mengenai sejarah Indonesia yang kini awet tersimpan di tanah air. Sayang, tidak banyak naskah kuno yang bernasib baik seperti “Babad Tanah Jawi”. 

Sebagian naskah kuno tak jelas keberadaannya, sebagian lagi dibawa oleh negara lain. Maka tak perlu heran, jika para peneliti asal Indonesia yang ingin meneliti sejarah negerinya sendiri, seringkali kerepotan akan referensi naskah-naskah kuno. Banyak di antaranya yang harus terbang ke Belanda atau Inggris untuk mengakses naskah kuno yang justru tersimpan apik di negara orang.

Menurut data Perpustakaan Nasional, terhitung sekitar 26.000 koleksi naskah Indonesia terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Angka itu belum terhitung naskah-naskah kuno Indonesia yang tersimpan di Perpustakaan The British Library London, The Bodleian Library di Oxford, Perpustakaan Berlin di Jerman, atau di sejumlah negara lainnya. Semua naskah-naskah itu, hampir dapat dipastikan kondisinya terawat dengan sangat baik dan dapat diakses dengan mudah. Tentu melalui prosedur tertentu.

Diboyongnya warisan budaya ini memang telah lama terjadi, bahkan sejak ratusan tahun lalu. Maklum, saat itu kita masih dijajah Belanda atau Inggris di beberapa wilayah. Walau begitu, hal yang harus digarisbawahi, para negara pemboyong sangat peduli terhadap kekayaan sejarah bangsa lain.

Terbukti di Inggris, naskah-naskah Indonesia telah berdiam dan terinventarisasi secara teliti dalam sebuah katalogus susunan MC Ricklefs dan P Voorhoeve sejak awal abad ke-17. Sebanyak lebih dari 1.200 naskah teridentifikasi ditulis dalam berbagai bahasa daerah. 

Sebut saja Aceh, Bali, Batak, Bugis, Jawa (kuno), Kalimantan, Lampung, Madura, Makasar, Melayu, Minangkabau, Nias, Rejang, Sangir, Sasak, Sunda (kuno), dan Sulawesi (di luar Bugis dan Makasar). Naskah-naskah itu, menurut Oman Fathurahman, Filolog Indonesia, tersebar di 20-an perpustakaan dan museum di beberapa kota di Inggris. Koleksi terbanyak bermukim di dua tempat, yakni British Library dan School of Oriental and African Studies.

Pada tahun 1990, British Library bahkan mengklaim bahwa naskah yang berada di tempatnya mulai dikoleksi sejak abad ke-15. Koleksi mereka berisi berbagai macam hikayat, syair, primbon, surat, sampai bukti transaksi dagang dari abad ke-15. 

Menurut Syarif Bando, Kepala Membaca Perpusnas, Inggris memang merupakan salah satu negara yang menyimpan naskah-naskah kuno Indonesia terbanyak kedua setelah Belanda. Hal ini dikarenakan Inggris pernah menduduki Bengkulu. Selain itu, Raffles yang datang di abad ke-18 juga banyak membawa surat-surat dari berbagai raja yang berkuasa di Indonesia. 

Surat-surat tersebut, banyak yang merupakan koleksi unggulan, seperti surat dari Sultan Pontianak kepada Gubernur Thomas Stamford Raffles yang dikirim dalam sampul terbuat dari kain sutra berwarna-warni. Inggris juga menyimpan surat dari Raja Bali kepada seorang Gubernur Belanda di Semaran yang ditulis di atas lempengan emas. 

“Karena Bengkulu jajahan Inggris, lalu Belanda jajah Singapura, lalu kemudian mereka bertukar, jadi banyak juga naskah kita di sana” Panjangnya 12 Km

Selain Inggris, negara yang juga banyak mengoleksi naskah kuno Indonesia adalah Belanda. Maklum, Negara Kincir Angin ini telah berada di Indonesia 350 tahun lamanya. Naskah kuno di Belanda banyak tersimpan di sejumlah perpustakaan dan museum, antara lain di Amsterdam, Leiden, Delft, dan Rotterdam. 

Pada tahun 2015 lalu, Rektor Universitas Leiden, Belanda, Profesor Carel Stolker, pernah berkunjung ke Yogyakarta dan mengatakan bahwa naskah-naskah kuno Indonesia yang berada di negaranya, jika dijejer panjangnya bisa mencapai 12 km. Kebanyakan, naskah-naskah yang berada di sana tergolong adikarya, warisan berbagai kerajaan di Nusantara. Salah satu yang terkenal yakni naskah “Nagarakretagama” yang baru dikembalikan pada tahun 1970 oleh Ratu Yuliana kepada Presiden Soeharto setelah dikuliti isinya dan menjadi ampas.

Menurut penuturan Profesor Stolker, koleksi mereka dahsyat lantaran Universitas Leiden memiliki jurusan yang khusus mempelajari budaya timur, budaya Asia. Amsterdam juga turut menyumbang naskah kuno untuk memperkaya koleksi. 

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, pernah menginginkan ribuan naskah yang ada di Belanda dan Inggris, khususnya yang berkaitan dengan keraton DIY, dapat ditarik ke Indonesia. Namun Stolker bergeming. Ia malah menyatakan sebagian besar naskah yang tersimpan di Leiden merupakan naskah berbahasa Belanda, sehingga sudah semestinya bermukim di sana. Walau begitu, pihaknya berjanji akan fokus pada digitalisasi naskah yang rapuh agar kajian Asia atau Indonesia tersebut dapat diakses dengan mudah. 

Berdasarkan data Keraton Yogyakarta, ada sekitar 7.000 naskah atau manuskrip milik keraton yang ada di Belanda dan Inggris. Sedangkan Museum Sonobudoyo hanya mengoleksi 363 naskah saja. Inggris sendiri baru mengembalikan 21 microfilm kepada pihak keraton. Hal ini lantaran mereka khawatir pihak keraton tak mampu merawatnya. 

Menurut Syarif, selain Belanda dan Inggris, terdapat negara lain yang juga menyimpan naskah-naskah kuno Indonesia, misal Myanmar, Thailand, dan Malaysia. Secara keseluruhan, diperkirakan naskah-naskah ini tersebar di 30 negara di dunia.

Mistis Gunung Lawu - Wukir Mahendra


CERITA GUNUNG LAWU, MANGKUNEGARAN, PEMIMPIN NUSANTARA, RATU KIDUL DAN SANG PEMBAWA CAHAYA.

MAKAM KELUARGA MANGKUNEGARAN DI GUNUNG LAWU.

ASTANA Giribangun di Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jateng, bakal menyedot perhatian masyarakat pasca meninggalnya mantan Presiden RI, Soeharto. Namun tak banyak yang tahu kalau Giribangun bukan satu-satunya kompleks pemakaman terkenal di kawasan tersebut. SEBELUM Astana Giribangun dibangun, orang lebih dulu mengenal Astana Mangadeg, yaitu kompleks pemakaman keluarga Pura Mangkunegaran. Di sini dimakamkan, antara lain, Kanjeng Pangeran Aryo Adipati (KGPAA) Sri Mangkunegoro I alias Pangeran Samber Nyowo. Kompleks makam itu terletak di lereng barat Gunung Lawu, sekitar 40 kilometer arah timur Kota Solo, pada ketinggian 750 meter di atas permukaan laut (dpl).

Agak di bawahnya, pada ketinggian 666 meter dpl, terdapat Astana Giribangun, di Desa Karang Bangun. Di Astana Giribangun yang megah, dimakamkan antara lain istri mantan Presiden Soeharto, Ny Tien Soeharto. Mantan ibu Negara kelahiran 23 Agustus 1923 tersebut meninggal pada 28 April 1996, atau dalam usia 73 tahun. Ny Tien dikenal sebagai kerabat Mangkunegaran, khususnya trah Mangkunegaran III. Karena itu, tak heran jika pemilihan lokasi Astana Giribangun, tahun 1970-an silam, sengaja didekatkan dengan Astana Mangadeg. Tentang pemilihan lokasi Astana Giribangun yang lebih rendah, diperkirakan untuk menghormati keberadaan Astana Mangadeg yang secara spiritual dianggap lebih tinggi.

Banyak fenomena mistis membuktikan keberadaan Astana Mangadeg, komplek pemakaman para penguasa Istana Mangkunegaran, salah satu pecahan dinasti Mataram. Makam itu merupakan Raja Mangkunegoro III keturunan Raja Mataram Panembahan Senopati selalu melindungi dan merestui makam anak cucu di bawahnya. Salah satu yang dimakamkan disini adalah Kanjeng Pangeran Adi Pati arya Sri Mangkunegara I. Pangeran Adi terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyowo. Tokoh kesohor raja Mangkunegaran dikenal sakti mandraguna dan selalu menjadi rujukan raja-raja Mataraman baik Surakartan (Solo) dan Ngayogyokarto Hadiningrat (Yogya).

Astana Mangadeg merupakan makam keturunan Kerajaan Mangkunegaran. Makam itu terkenal memiliki daya mistis dan tempat sakral yang tidak bisa diperlakukan sembarangan. Posisi dan keberadaan Astana Mangadeg di atas Astana Giribangun di lereng barat Gunung Lawu tepatnya terletak di Desa Karang Bangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sebagai leluhur di atasnya yang melindungi, “hamemayungi” menjadi payung keberadaan makam anak cucunya.

CERITA MENJELANG PILPRES 2014

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tak biasanya pergi ke gunung. Namun, pada Kamis (21/3/2013), SBY bersama rombongan mendaki lereng Gunung Slamet.

Kejadiannya di thn 2013.

Politukus yang juga paranormal Permadi menilai kepergian SBY ke Gunung Slamet bukan hanya untuk mengunjungi petani, tetapi juga memiliki misi spiritual. Yakni, yakni berdoa agar penggantinya sebagai presiden Indonesia berasal dari lingkaran atau keluarganya. "SBY berharap penggantinya kelak adalah orangnya," kata Permadi.

Sumber terpercaya menyatakan bukan sekali ini saja SBY menyambangi gunung keramat seperti Gunung Slamet untuk tujuan semacam itu. Pada sekitar akhir Januari lalu, SBY juga menyambangi Gunung Lawu yang punya nama asli Wukir Mahendra. Wukir mahendra artinya Gunung Pertama.

Lalu apa hubungannya Gunung Lawu dengan SBY? Menurut sumber tadi, SBY memperoleh wahyu kedaton saat berada di Gunung Lawu pada akhir Januari 2013. Mungkin tak banyak yang mengetahui tentang cerita ini.

Soal wahyu ini, bebas saja. Boleh percaya, tidakpun terserah. Namun, perjalanannya cukup masuk di akal. Karena SBY yang saat itu juga akan lengser. Ia seperti halnya raja-raja Jawa lainnya, perlu mempersiapkan pengganti.

Menurut sumber tersebut Presiden SBY mendapatkan semacam petunjuk bahwa penggantinya (Presiden) berasal dari tokoh yang lahir di sekitar Gunung Lawu.

Dengan didampingi Mensesneg Sudi Silalahi yang dikenal orang kepercayaan SBY, dicarilah tokoh sesuai wangsit tersebut. Akhirnya diperoleh dua nama yakni Menteri BUMN Dahlan Iskan dan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Djoko Suyanto.

Keduanya dinilai sesuai dengan wahyu tersebut, lahir di dekat-dekat Gunung Lawu. Sekedar catatan, Menteri Dahlan Iskan lahir di Magetang, Jawa Timur. Posisi Gunung Lawu di bagian barat Kabupaten Magetan. Sedangkan Menkopolhukam Djoko Suyanto, kelahiran Madiun, Jawa Timur yang letaknya sangat dekat dengan Gunung Lawu.

Masih menurut sumber, SBY sengaja memanggil kedua menteri yang berasal dari sekitar Gunung Lawu itu. Dalam perjumpaan itu, SBY mengutarakan unek-uneknya. Bahwa dirinya ingin mempersiapkan dalon presiden 2014.

Tak lama kemudian, Menkopolhukam Djoko Suyanto memberikan tanggapan yang cukup mengejutkan. ‘’Itu pasti bukan saya,’’ ungkap mantan Panglima TNI itu.

Masih menurut sumber, pernyataan Djoko Suyanto itu, membuat Presiden SBY cukup terkejut. Demikian pula Menteri BUMN Dahlan Iskan, ikut kaget juga. Apalagi setelah SBY memberikan pernyataan yang bernada positif bagi Dahlan. Wajah pendiri Jawa Pos Grup itu, semakin terlihat semringah.

Dalam pertemuan itu, Dahlan tak banyak berkata-kata. Hanya disebutkan bahwa sejumlah rencana mendesak untuk dilakukan. Terutama membentuk tim sukses yang dinamakan ‘Dais 2014’. Untuk tahap awal, lembaga ini akan merekrut kalangan ulama, santri, ponpes. ‘’Sudah ada 300-an majelis taklim yang merapat ke Dais,’’ ungkap sumber.

Beberapa nama yang masuk Dais diantaranya mantan Bupati Magetan Miratul Mukminin. Atau akrab disapa Gus Amik. Yang dikenal sebagai pendiri Pesantren Sabilil Muttaqin (PSM) Takeran, Magetan, Jawa Timur.

Ada nama lain yakni BRH, mantan wartawan senior Jawa Pos Grup yang sekarang menjabat staf khusus Menteri BUMN Dahlan Iskan. Lulusan IAIN Syarif Hidayatullah itu, merupakan orang kepercayaan Dahlan yang memiliki kekuasaan khusus.

Hari-hari belakangan, Dahlan semakin rajin keliling daerah. Mengunjungi pondok pesantren yang dipimpin kyai-kyai berpengaruh. Bukti keseriusan Dahlan menjalankan amanah wahyu kedaton SBY.

WAHYU ITU BENAR... TOKOH GUNUNG LAWU ITU ADALAH JOKOWI...

GUNUNG KERAMAT 

Bagi orang Jawa, Gunung Lawu sepertihalnya Gunung Slamet sangatlah istimewa. Yakni merupakan salah satu pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa. 

Sebuah portal masuk ke dimensi lain dan juga waktu (Vortex Gate) dipercaya tersimpan jauh di dalam perut Gunung Lawu—salah satu wilayah paling mistis di Pulau Jawa.

Selain itu, gunung Lawu juga memiliki kekerabatan yang cukup erat dengan tradisi dan budaya praja Mangkunegaran.

PERTAPAAN PRINGGONDANI YANG TERLETAK DI GUNUNG LAWU 

Berbagai tempat sakral di negeri ini memang sering dijadikan banyak orang sebagai tempat bertapa dan semedi termasuk orang yang pernah menjadi nomor satu di Indonesia yang salah satu tujuannya untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan alam dan leluhur demi langgengnya kekuasaan.

Sebagai contoh, Presiden RI kedua, banyak tempat kramat yang dikunjunginya untuk mempertahankan posisinya sebagai penguasa tunggal di bumi pertiwi kala itu. Sebut saja Padepokan Lang Lang Buana Gunung Srandil di Cilacap, Kali Garang, Sampangan Semarang, makam Pangeran Purbaya di Desa Maguwaharjo, Berbah, Sleman dan masih banyak tempat yang dia datangi untuk bertapa.

Presiden RI keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga melakukan hal demikian. SBY disebut sering bersemedi, bertapa atau melakukan ritual khusus di Pertapaan Bancolono di Kawasan Lereng Gunung Lawu.

Cerita mengejutkan itu muncul saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memantau kondisi Gunung Lawu di Kawasan Cemoro Sewu, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

“Eh ndi nggon sing sok nggo golek kaseketen? (Eh di mana tempat yang sering buat cari ilmu kesaktian)?” tanya Ganjar kepada warga dan beberapa pejabat dan perangkat desa serta anggota BPBD Karanganyar.

Sontak secara reflek Kapolsek Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar AKP Riyanto nyeletuk dan berkomentar.

“Nah itu pak. Itu namanya Pertapan Poncolono. Pak SBY sering ke situ kalau malam. Ada dua bangunan yang satu masuk wilayah Jawa Tengah. Yang sana masuk wilayah Jawa Timur,” ungkap Riyanto sambil mengajak Ganjar beserta rombongan bergeser ke pinggir jembatan yang jaraknya sekitar 50 meter dari tugu perbatasan Jatim dan Jateng itu.

“Lah, cari apa kesitu?” tanya Ganjar berimprovisasi sambil penasaran yang saat itu ditemani Kepala BPBD Jateng Sarwa Permana.

“Wah kalau itu nggak tahu pak. Pribadi. Katanya kalau ada permintaan terus nyepi, bertapa atau semedi disitu bisa terkabul,” ujar Riyanto sambil diamini dan dibenarkan oleh beberapa warga .

“Halah-halah,” ungkap Ganjar sambil senyum-senyum.

Salah satu pengamat dan ahli spiritual yang sangat mengerti seluk beluk Gunung Lawu, Polet, menyebutkan bahwa Lawu adalah pusat budaya dan kegiatan spiritual Jawa. Bahkan bila ditarik secara garis lurus, Gunung Lawu sejajar tegak lulus tepat di Pura Mangkunegara.

Bukan berada tepat di Keraton Kasunanan Surakarta. Seperti halnya Keraton Ngayojokarto yang sejajar tepat dengan Gunung Merapi. Selain itu, Gunung Lawu ternyata berdiri persis di tengah perempatan empat penjuru mata angin.

“Lawu itu letaknya pas di perempatan, dan jika di tarik garis lurus akan bertemu tepat di Pura Mangkunegaran Solo. Bukan Keraton Kasunanan. Seperti halnya Keraton Ngayojokarto tegak lulus tepat dengan Gunung Merapi,” jelasnya

SOEHARTO DAN MISTIS JAWA

Pendalaman Soeharto pada dunia mistis diperoleh dari Kiai Daryatmo, seorang guru agama dan mistik Jawa. Dari kiai ini, Soeharto muda mendapat pengetahuan tentang pengobatan, tentang laku, dan tentang semedi. Dalam bukunya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, nama Daryatmo disebut-sebut.

Soeharto mengakui Daryatmo banyak memberi inspirasi dalam perjalanan hidupnya. Bahkan sampai menjadi presiden. Mantan Menteri Penerangan Mashuri bahkan pernah menuturkan, setiap bulan sedikitnya satu kali, Soeharto datang menemui Daryatmo untuk minta petunjuk.

Ritual mistis yang dijalani Soeharto adalah bersemedi atau bertapa di tempat-tempat keramat atau wingit. Sumber yang pernah mendampingi pria berjuluk The Smiling General itu melakukan laku mistis mengungkapkan, Gunung Lawu jadi tempat favorit Soeharto. Gunung Lawu memang merupakan salah satu pusat kekuatan mistik di Jawa

PETUAH UNTUK KSATRIA UTAMA 

Di sudut barat daya bangunan megah Cungkup Argosari, terpampang sebuah tulisan yang dipetik dari Serat Wedatama, sebuah karya sastra Jawa klasik karya Mangkunegoro IV. Bunyi kutipan dalam tembang pucung itu adalah :

lila lamun kelangan nora gegetun

trimah yen ketaman

saserik sameng dumadi

tri legawa nalangsa srahing bathara (ikhlas, jika kehilangan tiada kan menyesal

menerima dengan lapang jika mendapatkan

kebencian dari sesama

legawa dan menyerahkan segalanya kepada Yang Kuasa)

HUBUNGAN RATU KIDUL DAN GUNUNG LAWU 

Setiap gunung memiliki keunikan masing-masing, termasuk mitos yang diyakini para pendaki ataupun masyarakat sekitar tentang Gunung Lawu. Salah satu mitos yang sangat melekat adalah terkait Ratu Kidul si penguasa Pantai Selatan.

Ketika kamu melewati base camp Cemoro Kandang terdapat sebuah anjuran bahwa pendaki sebaiknya tidak mengenakan pakaian berwarna hijau pupus karna konon, Ratu Kidul menyukai warna ini sehingga ia mungkin akan “menculik” pendaki yang mengenakan pakaian berwarna hijau pupus.

Mitos ini juga berlaku saat kita berkunjung ke Pantai Parangtritis di Jogja

Pertanyaannya adalah: Apakah " Hijau" hanya identik dengan Ratu Kidul ?

Hijau juga identik dengan Ular, Naga, Lucifer, Malaikat Terjatuh, Sang Pembawa Cahaya...

Alkimia Esensi Islam Mistikal

“Kota Alexandria di Mesir, adalah tempat pertemuan berbagai ajaran filosofis, ilmiah, dan spiritual. 

Selama pengepungan Alexandria yang dilakukan oleh Julius Caesar pada tahun 47 SM, api menghancurkan bagian dari perpustakaan universal pertama dan paling terkenal yang menampung koleksi 400.000 gulungan, termasuk pengetahuan alkimia tertulis asli. 

Akan tetapi, banyak dari pengetahuan ini telah beralih ke budaya Yunani dan ditransmisikan ke Arab dengan penyebaran Islam. ”- John Eberly, Al-Kimia: Esensi Islam Mistikal dari Seni Suci Alkimia.

Logam paling awal yang dieksploitasi oleh manusia adalah logam yang terjadi di negara asalnya. Pengerjaan logam sebagai aktivitas sepenuhnya bergantung pada kuil dan dipimpin oleh pendetanya. Apa pun dan segala sesuatu yang datang darinya pertama-tama dipersembahkan kepada para dewa, kemudian kepada para imam, diikuti oleh para raja. Pada saat ini, logam telah menjalin hubungan intrinsik yang panjang dengan dewa, sihir, pemujaan, dan ritual yang akan berlanjut selama berabad-abad yang akan datang. Dengan meningkatnya perdagangan, peleburan logam, bersama dengan zat-zat kimia seperti lapis lazuli, 'Mesir biru', dan kaca, menjadi resep yang dijaga dengan baik dan rahasia dagang dari dunia kuno. Berbagai resep menyebutkan perlunya mendamaikan roh jahat untuk mencegah penghambatan proses, dan juga daftar metode untuk menyulap roh baik untuk mengabaikan kelancaran resep.

Astrologi dan ilmu astral wajib untuk memprediksi posisi planet yang tepat dan waktu untuk melaksanakan tugas. Dari kekuatan iblis, necromancy, hingga dewa-dewa kafir, dari posisi planet hingga mantra, semua disimpan dalam daftar arahan yang dicatat untuk menciptakan suatu zat.   

Pada abad keenam SM, ilmu pengetahuan Yunani bangkit di Ionia. Apakah ide-ide bepergian dari Suriah atau Kreta, tidak pasti. Orang Yunani mengisolasi sains dan pemikiran rasional dari mistisisme dan sihir, yang dibagikan oleh Roma dan akhirnya dihidupkan kembali selama periode Renaissance.

Pada abad-abad berikutnya, pemikiran klasik berpindah dari Yunani ke Byzantium dan dari Byzantium ke Syria, ke dunia Islam, dan lingkaran penuh lingkaran penuh kembali ke Eropa, kadang-kadang memperdebatkan alasan agama, dan di lain waktu, memicu kepercayaan akan tuhan . Sementara pengetahuan dan teks bergerak bebas sebelum Abad Pertengahan, banyak waktu dihabiskan menerjemahkan teks ke dalam bahasa lokal untuk pekerjaan lebih lanjut yang harus dilakukan oleh mistikus dan filsuf lokal. Untuk tujuan ini, penerjemah dipekerjakan dan siswa terlibat dalam menyalin tablet dan gulungan. Penerjemahan yang cermat diperlukan untuk membangun pemikiran sistematis dan penting untuk membangun konsep agama-agama Islam, dan dan untuk meningkatkan inisiasi ke dalam Islam, strategi negara yang diikuti oleh Abbasiyah.

Baghdad menjadi pusat menerjemahkan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab. Sastra yang paling populer dari Baghdad adalah koleksi Thousand and One Nights di mana, "Tale of Aladdin and His Wonderful Lamp", menggambarkan penemuan dan ilmu yang diciptakan oleh para penyihir yang menyerupai karakter aa Moor.

Shaharzad berkata tentang orang Moor :

“Dari remaja paling awal dia telah mempelajari ilmu sihir dan mantra, geomansi dan alkimia, astrologi, pengasapan, dan pesona; sehingga setelah tiga puluh tahun sihir, dia telah belajar keberadaan lampu yang kuat di suatu tempat yang tidak diketahui, cukup kuat untuk mengangkat pemiliknya di atas raja dan kekuatan dunia. ”- John Freely, Aladdin's Lamp.

Kekuasaan dan umur panjang menjadi pusat antologi dan cerita rakyat. Perburuan elixir kehidupan menjadi topik favorit para filsuf dan penulis; banyak di antaranya adalah warisan Hermetik, yang kultusnya mendirikan studi okultis dan perkumpulan rahasia dalam sejarah kolonial abad ke-19. Menariknya legenda Arab menyebut Al-Khidr sebagai satu-satunya orang bijak yang mencicipi mata air keabadian. Dia dikenal sebagai pelindung lautan, dan orang yang membantu Alexander dalam menemukan mata air awet muda. Belakangan para filsuf membandingkan ramuan kehidupan dengan pencapaian pengetahuan tuhan. 

Alkimia berdiri di tengah dua ideologi yang terpisah. Banyak tulisan-tulisan Arab tentang alkimia dan zat-zat terkandung di antara takhayul, agama, dan investigasi kimia.

Alkimia Arab adalah pertemuan tradisi Hermetik Mesir dan tradisi filosofis orang-orang Yunani. Individu Arab Al-Kimia yang paling terkenal adalah Hermes Trismegistos, yang berarti "Tiga kali Hermes terhebat". Historisitas Hermes sebagai fakta atau mitos tidak dapat dibuktikan tetapi sejarah modern berupaya untuk menjelaskan asal-usulnya dari dewa Yunani Hermes, atau dewa Mesir Thoth, sedangkan banyak penulis Kristen menulis tentang dia sebagai nabi kafir. Hermes Trismegistus diyakini sebagai penulis Tablet Emerald, sebuah tablet yang memiliki rahasia alam semesta. 

Terjemahan bahasa Arab dari tablet tersebut dikreditkan ke Jabir Ibnu Hayyan sedangkan Hermes diberikan perhatian khusus dalam Alquran. John Eberly menulis dalam bukunya Al-Kimia bahwa ungkapan yang banyak digunakan dalam alkimia, 'seperti di atas, jadi di bawah ini,' dipinjam dari Tablet Emerald. Eberly juga menyatakan,

“Seni Al-Kimia adalah summa, kesempurnaan para resi, para nabi, para santa; itu adalah tujuan dan proses dari ungkapan hermetis yang terkenal, 'seperti di atas jadi di bawah ini.' Seni sakral ini tidak memiliki tujuan di luar aturan hukum Alam. Alkemis sadar bahwa semua ciptaan semata-mata bergantung pada pencipta dan bahwa tidak ada yang dicapai di luar kehendak Allah. Dia mengerti daripada karyanya, memang keberadaannya sendiri, adalah kehendak Tuhan. Al-Kimia mempercepat proses evolusi alami untuk mencapai, insya Allah, spiritualisasi materi dan materialisasi Roh Kudus. Al-Qur'an mengungkapkan hubungan yang perlu ini antara Tuhan dan manusia.”

Para alkemis Islam bukan hanya orang-orang kimia, mereka adalah mistikus dan santo sufisme. Para mistikus mempraktikkan penyembuhan spiritual dan pengabdian kepada dewa melalui musik. Mereka juga dipanggil untuk melakukan pengusiran setan, dan diketahui melakukannya sampai hari ini. 

Sekte ekstremis dalam Islam perlahan mulai mengisolasi orang-orang ini, melukis mereka sebagai orang gila, dan musik sebagai cara terlarang untuk mempraktikkan pengabdian.

Praktik-praktik Sufi melakukan perjalanan ke India, yang pada saat itu memiliki alkimia dan astronomi yang berkembang dengan sendirinya. 

The Silk Road memfasilitasi pertukaran banyak gagasan tentang astronomi dan filsafat antara masyarakat India, Cina, dan Arab. 

India modern adalah rumah bagi banyak penyembuh sufi ini, dan musik sufi telah menjadi besar dalam bisnis film India. 

Sambil memastikan bahwa firman tuhan tidak pernah diusir dari teks,para kudus ini meninggalkan banyak karya yang seperti Hermes, ayah Hermetica danAl-Kimia , 'tertulis, meninggalkan bagian yang lebih besar tak terhitung.'

Alkimia tidak terbatas pada ilmu membuat emas dan menemukan ramuan yang menjanjikan keabadian. Dalam arti terdalam, itu adalah transmutasi dan transformasi zat. Ide-ide mistis alkimia membandingkan transmutasi materi dengan roh manusia dan pengetahuan tentang tuhan. Pikiran ini tersebar luas dalam tulisan-tulisan beberapa alkemis Arab. 

Menurut sarjana abad kesepuluh Ibn Al-Nadim, filsuf dan dokter Abu Bakr Muhammad Ibn-Zakariya Al-Razi yang dikenal di barat sebagai "the Galen Arab", percaya bahwa, 

"studi filsafat tidak dapat dianggap lengkap , dan seorang terpelajar tidak bisa disebut filsuf, sampai ia berhasil menghasilkan transmutasi alkimia. "

Butuh waktu lama bagi Al-Razi untuk membuat alkimia diakui di dunia barat sebagai ilmu yang serius. Alkimia ditulis sebagai sesuatu yang magis dan takhayul sampai ilmu pengetahuan modern menemukan bahwa ia berutang fondasinya padanya.