Jaka Tingkir

Jaka Tingkir atau ditulis Joko Tingkir adalah pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Pajang yang berkuasa antara 1568-1582.

Ia memerintah dengan gelar Sultan Hadiwijaya dan berhasil mengantarkan kerajaannya menuju puncak kejayaan. Setelah berkuasa selama kurang lebih 15 tahun dan menjadi salah satu raja yang berpengaruh di Jawa, perjalanannya harus terhenti pada 1582. Kala itu, meletus perang antara Pajang dan Mataram. Sepulang dari pertempuran, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. 

Asal-usul Jaka Tingkir 

Jaka Tingkir lahir dengan nama asli Mas Karebet. Ia adalah cucu dari Andayaningrat, penguasa kerajaan kuno di Boyolali. Andayaningrat, yang juga memakai nama Jaka Sanagara atau Jaka Bodo, konon masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga raja Majapahit.  

Ketika Mas Karebet masih di dalam kandungan, ayahnya yang bernama Kebo Kenanga atau Ki Angeng Pengging, menggelar pertunjukan wayang di mana dalangnya adalah Ki Ageng Tingkir. Sepuluh tahun kemudian, Ki Ageng Pengging dibunuh oleh Sunan Kudus setelah dituduh memberontak terhadap Kerajaan Demak. 

Setelah Nyi Ageng Pengging meninggal karena sakit, Mas Karebet akhirnya diangkat anak oleh Nyi Ageng Tingkir, janda Ki Ageng Tingkir. Sejak saat itu, Mas Karebet lebih dikenal dengan nama Jaka Tingkir, yang kemudian tumbuh sebagai pemuda tangguh. Guru Jaka Tingkir adalah Sunan Kalijaga dan selanjutnya Ki Ageng Sela

Mengabdi pada Kerajaan Demak Terlepas dari masa lalu orang tuanya, Jaka Tingkir mengabdi pada Kerajaan Demak. Dari situlah, Jaka Tingkir akhirnya diangkat menjadi kepala prajurit Kerajaan Demak oleh Sultan Trenggono. 

Atas jasa-jasanya selama mengabdi, Jaka Tingkir diangkat sebagai Adipati Pajang dengan gelar Adipati Adiwijaya dan dinikahkan dengan Ratu Mas Cempaka, putri Sultan Trenggono. Sepeninggal Sultan Trenggono, Kerajaan Demak mengalami pergolakan akibat perebutan kekuasaa

Kekacauan dapat diakhiri setelah Jaka Tingkir berhasil menyingkirkan Arya Penangsang, keponakan Sultan Trenggono yang membunuh Sunan Prawoto, penerus takhta Kerajaan Demak. Jaka Tingkir secara otomatis menjadi pewaris takhta Kerajaan Demak dan memindahkan ibu kotanya ke Pajang, yang terletak di perbatasan Kota Surakarta dan Kartasura.

Masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya di Pajang

Jaka Tingkir atau Adipati Adiwijaya dinobatkan sebagai pendiri dan raja pertama Kerajaan Pajang pada 1568 dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Sultan Hadiwijaya pula yang berhasil mengantarkan Pajang ke puncak kejayaan. 

Karena letaknya di pedalaman, Pajang bersifat agraris dan mengandalkan pertanian sebagai tulang punggung perekonomian. Di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijaya, wilayah kekuasaan Kerajaan Pajang mencapai Madiun, Blora, dan Kediri.

Pada 1582 M, meletus perang antara Kerajaan Pajang dan Kerajaan Mataram Islam. Sepulang dari pertempuran, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Ia dimakamkan di Desa Butuh, kampung halaman ibunya. 

Sepeninggal Sultan Hadiwijaya, Pajang mulai mengalami kemunduran karena terjadi perebutan takhta. Putranya, Pangeran Benawa, dan menantunya yang bernama Arya Pangiri saling bersaing untuk menjadi raja.   

Referensi: Agustina, Iriyanti. (2018). Kebudayaan dan Kerajaan Islam di Indonesia. Pontianak: Derwati Press. Al Adhim, Alik. (2012). Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa. Surabaya: JP Books.

SC : Tulisan Kompas[dot]co.id

Kesultanan Pajang

Sultan Hadiwijaya terlahir dengan nama Mas Karebet pada tanggal 18 Jumadilakhir tahun Dal mongso Kawolu. Beliau adalah putra dari Penguasa Kraton Pengging, Ki Ageng Kebo Kenanga dari garwanya Rara Alit putri Pangeran Gugur (putra Prabu Brawijaya V). Mas Karebet sejak kecil hidup sebatang kara. Pada usia dua tahun, Bapaknya meninggal sewaktu ada penyerangan Demak ke Pengging. Ki Ageng Kebo Kenanga wafat tertusuk keris Sunan Kudus. Sedangkan Ibunya, Rara Alit meninggal setelah 40 hari wafatnya Ki Ageng Kebo Kenanga. Beberapa waktu kemudian Mas Karebet diangkat putra oleh Nyai Ageng Tingkir. Kemudian Mas Karebet dikenal dengan nama Joko Tingkir.

Joko Tingkir sangat suka bertapa dan menyepi untuk menambah kekuatan batinnya. Beliau belajar kepada berbagai Guru antara lain Ki Ageng Selo, Sunan Kalijaga, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, Ki Adirasa, dan Ki Buyut Banyubiru. 

Cinarita Jumungah marêngi | lingsir wêngi saking lèr kang cahya | nalika wahyu dhawuhe | muncar kadya andaru | manjing marang Dyan Jaka Tingkir | waridah ing karajan | wus angalih pulung | pulungira Sultan Dêmak | nganti sangat mring putrangkat Jaka Tingkir | eca panendranira(Sekar Asmaradana pupuh 40, Babad Tanah Jawa ~ tentang rawuhnya Wahyu Ratu kepada Raden Joko Tingkir)

Banyak Tokoh Tokoh yang telah mengetahui bahwa kelak Joko Tingkir akan menjadi Raja yang menurunkan Raja Raja Jawa. Ayahnya pun tahu bahwa beliau harus menikah untuk melahirkan calon raja. Dan akhirnya takdir membawanya ke Keraton Demak. Joko Tingkir menjadi Prajurit Tamtama,  Lurah Wira Tamtama. Kemudian beliau menjadi Pengawal Pribadi Sultan Trenggana dengan nama Rahadyan Joko Tingkir. Meski sempat diusir dari Demak karena salah paham akhirnya  berkat usahanya Joko Tingkir bisa kembali menduduki jabatannya dengan gelar Adipati. Enam bulan kemudian Adipati Joko Tingkir dinikahkan dengan Ratu Mas Cempaka, putri  Sultan Trenggana dari garwa putri ketiga Sunan Kalijaga. Setelah pernikahan, Raden Joko Tingkir diangkat menjadi Adipati di Kadipaten Paos dengan gelar Adipati Pajang. Setelah Sultan Trenggana wafat, Dan kondisi Demak yang tidak stabil, kemudian tahun 1458 Raden Joko Tingkir diangkat menjadi Sultan Pajang oleh Panembahan Giri Prapen juga disaksikan Sunan Kalijaga dengan gelar "Sultan Hadiwijaya Hing Pajang.Tahun Candrasengkala 1503 Dahana Muluk Barat Nempuh Wani. 

Sultan Hadiwijaya memerintah Kraton Pajang selama 32th. Berikut silsilah Sultan Hadiwijaya :

Retno Pembayun putri Prabhu Brawijaya V menikah dengan Sri Makurung Prabu Handayaningrat yang terakhir, berkedudukan di Pengging . Menurunkan 3(tiga) putera adalah :

1. Ki Ageng Kebo kanigara, tidak mempunyai keturunan

2. Ki Ageng Kebo kenanga, menurunkan Mas Karebet, dan

3. Raden Kebo Amiluhur, dewasa wafat.

Ki Ageng Kebo Kenanga menikah dengan Rara Alit putri Pangeran Gugur menurunkan : Mas Karebet.

Mas Karebet atau Raden Joko Tingkir menikah dengan Ratu Mas Cempaka putri Sultan Trenggana.

Menurunkan 7 (tujuh) putera puteri, adalah:

 1. Ratu Mas Pambayun, di Ngarisbaya;

 2. Ratu Mas Kumelut, di Tuban;

 3. Ratu Mas Adipati, di Surabaya;

 4. Ratu Mas Banten menikah dengan Ki Juru Mertani.

 5. Ratu Mas Jepara menikah dengan Arya Pangiri ( putra Panembahan Prawata )

 6. Pangeran Benawa 

 7. Pangeran Sindusena

Tahun 1458 Sultan Hadiwajaya, dinobatkan Raja di Pajang, dan berkuasa selama 32 (tiga puluh dua) tahun.

Sultan Ngawantipura, dinobatkan sebagai raja dan berkuasa selama 3 (tiga) tahun.

Adipati Benawa Sultan Hawijaya, dinobatkan sebagai raja dan berkuasa selama 1 (satu) tahun.

Setelah wafat Sultan Hadiwijaya dan puteranya Adipati Benawa, dimakamkan di Pasareyan Butuh, terletak di wilayah Kabupaten Sragen.

Kanjeng Adipati Benawa menurunkan 3 (tiga) putera puteri yaitu  :

1. Pangeran Mas, menjabat sebagai Adipati di Pajang.

2. Pangeran Sidowingi

3. Pangeran Kaputrah, di Pajang.

4. Kanjeng Ratu Mas Hadi, sebagai prameswari Hingkang Sinuhun Prabu Hadi Hanyakrawati, di Mataram, menurunkan putra Hingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Mataram. Dan kelak menurunkan Raja Raja Jawa.

Al Fatihah kagem Eyang Sultan Hadiwijaya.

Ki Ageng Pengging

Tersebutlah sebuah kerajaan kecil yang bernama Kraton Pengging. Pada masa dahulu Kraton Pengging adalah daerah bawahan atau kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Sebagai penguasa Kraton Pengging adalah Prabu Sri Makurung Handayaningrat. Prabu Sri Mangkurung Handayaningrat menikah dengan Ratu Pembayun, putri Prabu Brawijaya V Raja Majapahit. Dari pernikahan tersebut menurunkan tiga orang putra sbb:

1. Raden Kebo Kanigara

2. Raden Kebo Kenanga

3. Raden Kebo Hamiluhur

Pada masa akhir pemerintahan Prabu Sri Makurung Handayaningrat hampir berbarengan dengan berakhirnya pemerintahan Prabu Brawijaya V.  Runtuhnya kerajaan Majapahit digantikan dengan berdirinya kerajaan Demak Bintara. Kerajaan kerajaan kecil yang dahulu menjadi daerah bawahan Majapahit diperintahkan untuk mengakui kekuasaan kerajaan Demak, salah satunya Kerajaan Pengging. Tetapi kerajaan Pengging menolak menjadi wilayah bawahan Demak. Hingga berakibat terbunuhnya Prabu Sri Makurung Hanyaningrat oleh Sunan Ngudung.

Setelah Prabu Handayaningrat wafat, Pengging sempat  mengalami kekosongan pemerintahan karena Raden Kebo Kanigara tidak berambisi menjadi Penguasa Pengging, beliau malah pergi mengembara bertapa ke Gunung Telamaya dan Merapi dan memperdalam ilmu spiritual.

Dan akhirnya Raden Kebo Kenongo tampil menjadi Sesepuh wilayah Pengging dengan gelar Ki Ageng Handayaningrat, dan lebih terkenal Ki Ageng Pengging.

Ki Ageng Pengging tekun dalam mengelola sawahnya, juga tekun bertapa dan olah kanuragan disamping itu beliau dikenal rakyatnya sebagai Penguasa yang sederhana, arif bijaksana, suka membantu rakyatnya serta bersedekah. Pemerintahannya masyhur hingga terdengar ke Kerajaan Demak. Kemudian Pemerintah Demak mengirimkan pesan kepada Ki Ageng Pengging untuk menghadap Raja Demak sebagai tanda kesetiaan kepada Kerajaan Demak tetapi Ki Ageng Pengging tidak mau menghadap raja.

Pada awalnya Ki Ageng Pengging berkeinginan untuk hidup melajang selamanya hingga pada suatu malam dalam tapa brata nya beliau memperoleh petunjuk / sasmita untuk menikah dengan Rara Alit Tajug Inten putri Raden Harya Gugur, putra Prabu Majapahit. Karena kelak lewat perantara beliaulah akan lahir Raja besar yang akan menurunkan Raja Raja Tanah Jawa.

Setelah menerima sasmita, keesokan harinya beliau menemui saudara seperguruannya yaitu Ki Ageng Tingkir dan menceritakan tentang sasmita nya dan bagaimana  jalan keluarnya karena dalam sasmita tergambar jelas wajah Rara Alit.

Kemudian Ki Ageng Tingkir menyarankan untuk menemui Raden Haryo Gugur di Pedukuhan Gugur. Selanjutnya Ki Ageng Pengging didampingi Ki Ageng Tingkir berangkat ke Pedukuhan Gugur, tetapi terlebih dahulu mampir ke Padepokan Ki Ageng Butuh dan ternyata kebetulan ada pula Ki Ageng Ngerang. Kemudian Ki Ageng Pengging menuturkan tujuannya ke Pedukuhan Gugur, Kawan kawannya mendukung keinginan Ki Ageng Pengging untuk mempersunting Rara Alit.

Akhirnya mereka berempat satu perguruan berangkat ke Pedukuhan Gugur. Dalam perjalanan sampai di hutan Jatisari ternyata secara kebetulan mereka bertemu dengan Raden Haryo Gugur beserta putri beliau Rara Alit. Dan lebih anehnya lagi ternyata Raden Haryo Gugur juga mendapat sasmita yang sama yaitu menikahkan putrinya dengan Ki Ageng Pengging.

Kemudian Raden Haryo Gugur mengajak mereka berempat ke Padepokannya untuk membicarakan persiapan pernikahan Rara Alit & Raden Kebo Kenongo.

Tidak lama kemudian di Padepokan Raden Haryo Gugur dilaksanakan pernikahan antara Raden Kebo Kenongo dan Rara Alit.

Setelah menginap selama beberapa hari di Dukuh Gugur, Ki Ageng Pengging dan istrinya memohon ijin untuk kembali ke Pengging. Kepulangannya didampingi para sahabatnya.

Beberapa bulan kemudian Rara Alit atau Nyai Ageng Pengging mengandung. Betapa gembira nya Ki Ageng Pengging mendengar berita bahagia tersebut. Hingga kemudian pada tanggal 18 Jumadilakhir tahun Dal mongso kawolu menjelang subuh lahir bayi laki laki berparas menawan yang diberi nama Mas Karebet. Kelak beberapa tahun kemudian Mas Karebet menjadi seorang Raja besar di Kerajaan Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya.

Dan cucu Sultan Hadiwijaya dari Pangeran Benowo yaitu Ratu Mas Hadi, menjadi garwa permaisuri Panembahan Hadi Hanyokrowati melahirkan Sultan Agung Hanyokrokusumo Raja Mataram Islam.

Dua tahun setelah kelahiran Mas Karebet,  Pasukan Demak menyerang kerajaan Pengging Ki Ageng Kebo Kenanga wafat karena tertusuk keris Sunan Kudus. 40 kemudian Nyai Ageng Kebo Kenanga wafat menyusul suaminya.



Astana Imogiri Tempat Para Raja Jawa

Makam Raja-Raja Mataram di puncak bukit ini dibangun atas gagasan Sultan Agung. Bukit ini dinamakan Pajimatan Girirejo, terletak di Bantul, arah selatan Kota Yogyakarta, tak jauh dari pantai selatan. Imogiri berasal dari dua kata yang berasal dari bahasa Jawa Kuna, Ima dan Giri, Ima berarti Kabut, Giri berarti Gunung. secara utuh Imogiri memiliki arti Gunung yang berkabut, karena Imogiri terletak di kaki Bukit Merak (lembah). Diapit dua aliran sungai disebelah barat dan timur, yaitu sungai opak dan sungai celeng. Pembangunan kompleks makam raja-raja di Imogiri ini dimulai pada 1632, atau memasuki dekade kedua era Sultan Agung. Pusat pemerintahan Kesultanan Mataram Islam kala itu berada di Kotagede, dekat pusat Kota Yogyakarta dan sekarang area pemakaman ditempatkan di puncak bukit Imogiri.

Untuk mencapainya harus menaiki tingkat yang berjumlah 409 anak tangga dengan kemiringan 45 derajat dan lebar sekitar 4 meter. Menurut mitos setempat, barangsiapa saat menaiki anak tangga itu dapat menghitung jumlahnya dengan tepat, maka keinginannya akan terkabul. Sebagaimana namanya, kompleks makam Imogiri memang diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi raja-raja Mataram Islam dan raja-raja turunannya, hingga terbelahnya Dinasti Mataram menjadi dua kerajaan yang masih eksis hingga saat ini, yakni Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta dibagi menjadi tiga wilayah utama, yaitu Astana Kesultanan Agung, Wilayah Makam Raja-raja Surakarta, dan Wilayah Makam Raja-raja Yogyakarta.

Di kawasan Astana Kesultanan Agung terdapat makam Sultan Agung, Kanjeng Ratu Batang (istri Sultan Agung), Amangkurat II (pendiri Kasunanan Kartasura setelah runtuhnya Mataram Islam), dan Amangkurat III (raja kedua Kasunanan Kartasura). Sedangkan di wilayah makam raja-raja Surakarta dikebumikan Pakubuwana I (raja ketiga Kasunanan Kartasura) dan para penguasa Kasunanan Surakarta dari Susuhunan Pakubuwana II hingga Pakubuwana XII. Terakhir adalah wilayah makam raja-raja Yogyakarta untuk sebagai tempat persemayaman terakhir para pemimpin Kasultanan Yogyakarta, dari Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwana I hingga Hamengkubuwana IX, kecuali Hamengkubuwana II yang dimakamkan di Kotagede, bekas ibukota Mataram Islam. 

Di tembok sebelah timur luar makam Sultan Agung, terdapat 3 makam misterius yang asal-usulnya sulit sekali untuk dilacak. Hanya nama Cindeamoh tertulis dipagar tembok makam. Konon, dulu sebelum di pugar, separo nisannya, di dalam rumah cungkup makam Sultan Agung, ini menunjukkan betapa dekatnya hubungan antara Sultan Agung dengan Kyai Cindeamoh. Di samping makam Kyai Cindeamoh, terdapat pohon Randu Alas yang telah tumbuh ratusan tahun yang mitosnya sering terlihat sosok Naga bersayap. 

Sosok Kyai Cindeamoh, dikatakan sebagai abdi-dalem terkasih Sultan Agung dan merupakan empu keris keraton. Silsilah Kyai Cindeamoh sangat samar. Di samping makamnya, ada bangunan makam Tumenggung Suponto. Agak kebawah tanpa peneduh merupakan makam Tumenggung Nolodermo. Pengkhianatan Tumenggung Endranata  membuat Sultan Agung murka. Panglima perang Mataram itu pun diadili dan dijatuhi hukuman mati. Tubuhnya dipenggal menjadi tiga bagian. Ketiga potongan tubuh ini kemudian ditanam di jalur anak tangga yang mengarah ke kompleks pemakaman raja-raja di Imogiri, sehingga jasad si pengkhianat terinjak-injak oleh orang yang sedang menaiki anak tangga tersebut.

Sejarawan Belanda, H. J. De Graaf dalam penelitiannya mengemukakan beberapa hal yang menarik disimak. Menurut De Graaf (1986), gelar Sultan bukanlah gelar yang sejak awal digunakan oleh cucu Panembahan Senapati itu. Awalnya ia menggunakan gelar Sunan atau Susuhunan. Menurut Anthony Reid (1999), pun gelar ini dikenakan sejak 1624 setelah ia berhasil menaklukan Jawa lebih luas dari penguasa manapun sejak surutnya Majapahit. Gelar ini sekaligus juga menandaskan bahwa secara spiritual ia berdiri sejajar dengan para Wali. 

Banyak di antara para Peziarah dalam melakukan ritual, selain berdzikir juga tak sedikit di antara mereka yang berjalan mengitari tembok makam Searah dengan arah jarum jam. Mereka melakukan hitungan ganjil. Bisa tiga, tujuh, sembilan, sebelas atau bahkan sepuas hatinya (manteb), asalkan jatuh pada angka ganjil.

Bagi orang Islam-Jawa yang sosiokulturalnya cenderung berwarna pedesaan ketimbang perkotaan, ternyata mereka punya anggapan bahwa melakukan ritual kubur dan mengelilingi makam raja-raja di Imogiri nilai atau maknanya tidak berbeda dengan orang pergi menunaikan ibadah haji ke Mekah.

Alas Krendhawahana

 

Banyak yang percaya, bahwa Kasunanan Surakarta Hadiningrat masih dilindungi kekuatan gaib. Kekuatan itu ada di empat arah mata angin.

Untuk wilayah Selatan dilindungi Kanjeng Ratu Kencanasari (Ratu Kidul) yang beristanakan di Salokadomas (Pantai Selatan). Sebelah Barat dilindungi Kanjeng Ratu Mas yang bersemayam di Gunung Merapi. Wilayah Timur dijaga Kanjeng Sunan Lawu dengan Keraton di Gunung Lawu.  Dan Utara dijaga Kanjeng Ratu Bathari Durga (Bathari Kalayuwati) dengan istana di Alas Krendhawahana.

Meyakini dijaga dan dilindungi oleh leluhur-leluhur gaib, maka setiap tahun Keraton Kasunanan Surakarta mengadakan ritus. Memberi persembahan di empat tempat itu. Upacara sesaji Mahesa Lawung yang diadakan setiap tahun itu sebagai bentuk persembahan kepada Kanjeng Bathari Durga. 

Dalam buku Durga Umayi yang disusun Y.B. Mangunwijaya 1991, agama Hindu mempercayai Bathara Durga adalah ibu dari Dewa Ghanesa dan Dewa Kumara (Kartikeya). Bathara Durga kadangkala disebut Uma atau Parwati. Bathara Durga biasanya digambarkan sebagai seorang wanita cantik memiliki banyak tangan berkulit kuning yang mengendarai seekor harimau. "Itu karena Alas Krendhawahana sebagai tempat bersemayamnya Kanjeng Bathari Kalayuwati. Tempat itu tetap disakralkan pihak keraton. Jadi, jika Alas Krendhawahana sampai sekarang ini masih terasa angker dan keramat itu logis". "Karenanya, tempat itu juga diberi nama Setra Ganda Mayit (tanah yang berbau mayat). Kusumo Tanoyo menuturkan, dari masalah rupa Kanjeng Bathari Durga (Bathari Kalayuwati) yang semula amat jelita. Karena melakukan perselingkuhan, dia menjelma menjadi Raseksi (raksasa perempuan) yang wajahnya amat menyeramkan. Dia memutuskan untuk tinggal di Setra Ganda Mayit membawahi para lelembut dan siluman.

Situs Mistis. Di kisahkan bahwa di Alas Krendhowahono inilah tempat yang biasa digunakan raja-raja Mataram zaman dahulu untuk menyepi dan bersemadi guna mendapatkan wangsit atau petunjuk. Tempat ini dulunya merupakan hutan yang angker, pepatah mengatakan jalmo moro jalmo mati.

Presiden pertama dan kedua kita yakni Soekarno dan Soeharto kabarnya juga pernah menyepi ditempat ini untuk urusan besar mengenai negara. Keberadan tempat ini sangat lama bahkan sudah diketahui sejak jaman Kediri, terbukti dari ramalan Jayabaya yang juga menyinggung mengenai keberadaan tempat ini. Pada zaman Pakubuwono XII  bertakhta (1945-2004), Setiap Grebeg Maulud tahun Dal (grebeg kelima dalam siklus sewindu), Sunan dan Garwa Ampeyan (selir) mengadakan upacara khusus dengan mengukus dandang beras bersama. Inilah yang menggarisbawahi makna Sekaten sebagai ritual panen tingkat kerajaan. Dua utusan kerajaan mengunjungi tempat sakral paling penting bagi Keraton Surakarta yakni Alas Krendowahono (di utara Surakarta) dimana menjadi tempat bagi Batari Durga bersemayam, dan Parangtritis (di pantai selatan) yang dipercaya sebagai kerajaan Ratu Kidul. Melalui Sang Ratu Kidul, Raja-Raja di Jawa  mempunyai pertalian kekerabatan dengan penguasa baru VOC Belanda di tanah sabrang di Batavia.

Ratu Kidul merupakan seorang Dewi yang kecantikan dan kemudaannya bergantung pada tua-mudanya peredaran bulan, juga merupakan penjelmaan Batari Durga atau Dewi Uma. Sebagai Dewi Uma ia bisa membawa perlindungan dan kemakmuran dan sebagai Dewi Durga  ia bisa menimbulkan bencana dan penghancuran besar-besaran. Tidak jauh dari Punden Bathari Durga di bawah pohon beringin besar yang biasa digunakan sebagai tempat pelaksanaan sesaji Mahesa Lawung, terdapat sendang (sumur) Sihna dan Batu Gilang Selakandha Waru Binangun. Kedua-keduanya diyakini sebagai sebuah tempat keramat dan angker. Sendang Sihna ini dulu merupakan tempat pesiraman (mandi) dari Sri Susuhunan Pakoe Boewana VI sampai Pakoe Boewana X, ketika sedang berada di Alas Krendhawahana. "Dan di tempat inilah Pangeran Bangun Tapa (Pakoe Boewana VI) pernah mendapatkan Wahyu".  Karena kekeramatan sendang Sihna ini sampai sekarang banyak didatangi orang dari berbagai pelosok daerah untuk mengambil airnya. Ada kepercayaan yang berkembang, air sendang Sihna itu bisa digunakan penawar berbagai jenis penyakit. Selain dipercaya bisa membuat awet muda. Tentang sendang (sumur) Sihna yang sampai sekarang masih dikeramatkan itu, Kusumo Tanoyo menjelaskan, bahwa tempat itu sudah tersirat dalam Serat Sudamala. "Afdolnya, air sendang Sihna itu digunakan untuk kaum wanita. Lebih-lebih bagi mereka yang sedang mempunyai masalah," ujarnya.

Sri Makurung Handayaningrat Boyolali



Tersebutlah Radèn Narayana naik tahta menjadi Raja di Keraton Mamênang Kadhiri bergelar Sri Bathara Aji Jayabaya, pada tahun candrasangkala 839 têrusing gapura wolu. Ketika beliau wafat digantikan oleh Putranya yaitu Prabu Jaya Hamijaya pada tahun candrasangkala 883 gunaning brahmana astha. Ketika Prabu Jaya Hamijaya wafat, kedudukannya digantikan Prabu Jayamisena, pada tahun candrasangkala 890, sirnaning gapura wolu. 

Kemudian ketika Prabu Jayamisena wafat digantikan putranya, jumênêng nata ing Mamênang kaping 5, dengan gelar Prabu Kusuma Wicitra, pada tahun candrasangkala 943 uninga kartining gapura, Setelah memerintah selama 10 warsa, Keraton Mamenang mengalami banjir yang hebat Prabu Kusuma Wicitra memindahkan pusat pemerintahan Kedhaton Tahun candra sangkala 953, katon lima êlènging gangsir dan pusat pemerintahannya dinamakan Keraton Pengging Witaradya. Pada tahun itu pula 

Prabu Kusuma Wicitra wafat, digantikan oleh putranya yaitu Prabu Citrasoma, .

Putra Prabu Citrasoma, jumênêng nata dengan nama Prabu Pancadriya pada tahun candrasangkala 961, bumi obah ping sanga.

Putranipun Prabu Păncadriya, jumênêng nata ing Pêngging kaping 4, jêjuluk Prabu Anglingdriya, jumênêngipun amarêngi taun candrasangkala 982, tinêngêran sikara astha babahan.

Selanjutnya Prabu Anglingdriya sèlèh kaprabon, menyerahkan tahta Pengging kepada putra menantunya mengingat, menantunya tersebut berhasil mengalahkan Prabu Karungkala yang menyerang Nagari Pengging, bergelar Prabu Darmamaya , pada tahun candrasangkala 1019, trusing ati nir sêdyane.

Kemudian ketika Prabu Darmamaya wafat, Tahta Kerajaan Pengging kembali dipimpin oleh Prabu Anglingdriya taun candrasangkala 1020, tinêngêran nir sêmbah nêngèng sujana.Dan ketika Prabu Anglingdriya wafat tahta diserahkan kepada putranya yaitu Prabu Pandayanata, tahun candrasangkala 1044, sucining tirta tumêngèng rupa.

Setelah Prabu Pandayanata (Arya Pandaya I) wafat, kemudian tahta Keraton Pengging digantikan putranya yaitu Prabu Handayaningrat (Arya Pandaya II) yaitu Prabu Bratandriya. Prabu Bratandriya berkenan memiliki permaisuri bernama Dewi Wogan (putri Prabu Bhre Kumara, Raja Majapahit). Sebagai Raja selanjutnya adalah Putra Prabu Bratandriya yaitu Prabu Madu Suddana. Dalam perjalanannya, putra beliau Madukusuma merebut tahta dari ayahandanya hingga akhirnya Prabu Madu Suddana wafat.

Setelah Prabu Madukusuma wafat kemudian digantikan saudara beliau yaitu Prabu Panca Prabangga hingga akhirnya tahta Pengging jatuh kepada adiknya yaitu Prabu Madu Sumarma. Pada masa Prabu Sumarma, Kraton Pengging Witaradya mengalami masa suram akibat serangan dari Kerajaan Majapahit yang menakhlukkan Keraton Pengging menjadi bagian wilayah Majapahit. Untuk beberapa waktu Kraton Pengging mengalami kekosongan pemerintahan dibawah kendali Majapahit 

Hingga akhirnya Kraton Majapahit menunjuk Arya Pandaya III menjadi Adipati Kadipaten Pengging Witaradya. Arya Pandaya III dinikahkan dengan putri Prabu Brawijaya IV yaitu Retno Mundri. Arya Pandaya III mendapat nama julukan yaitu Arya Bubaran.

Beberapa tahun tlah berlalu. Sepeninggal Arya Pandaya III, Kraton Pengging Witaradya berdiri dibawah kendali Keraton Majapahit. Hingga kemudian Prabu Brawijaya V menikahkan Jaka Sengoro dengan putrinya yaitu Retno Pembayun.

Kemudian Prabu Brawijaya V mengangkat Jaka Sengoro sebagai Adipati Pengging dengan gelar Adipati Handayaningrat. Setelah wafat beliau mendapat gelar Sri Makurung Prabu Handayaningrat. Dari pernikahan Adipati Handayaningrat dan Retno Pembayun menurunkan :

1. Ki Ageng Kebo Kanigoro

2. Ki Ageng Kebo Kenanga

3. Kebo Amiluhur

Ki Ageng Kebo Kenanga memiliki seorang putra yaitu Mas Karebet. 

Kelak Mas Karebet, perjaka dari dukuh Tingkir menjadi Raja di Kasultanan Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya, jumênêngipun amarêngi taun candrasangkala 1503, tinêngêran dahana muluk barat nêmpuh wani

Lokasi foto : Gedong Jembungan Kec Banyudono Kab Boyolali Jawa Tengah

~ Sri Makurung Handayaningrat/Ki Ageng Pengging sepuh

> Dyah Ayu Retno Kedhaton Putri Prabu Brawijaya V Majapahit 

> Pemandian Umbul Pengging

Lokasi Dukuh Kec Banyudono Kab Boyolali Jawa Tengah

> Ki Ageng Kebo Kenongo/Ki Ageng Pengging (ortu Mas Karebet/Joko Tingkir)



Bhaerawa Tantra Tanah Jawa

Alas Krendawahana adalah sebuah hutan yang sampai sekarang masih terkenal dengan kesan keangkerannya. Karena dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Bathari Kalayuwati [Durga].

Mungkin tidak banyak yang pernah mendengar nama Krendawahana, kecuali para penggemar wayang kulit dan orang-orang yang aktif di dunia spiritual Jawa.
Hutan Krendawahana identik dengan Hutan Pasetran Gandamayit tempat tinggal Bathari Durga dari dunia pewayangan.

Durga

Bathari Durga adalah manifestasi (avatara) Bathari Uma atau Parwati yang merupakan permaisuri Bathara Guru (Shiva) dalam mitologi Jawa Kuno.
Lebih jauh mengenai Dewi Durga dan Dumawati, dalam mitologi Hindu Dumawati hanya dikenal dalam aliran Tantra, yaitu sebuah aliran esoterik yang dianut terbatas oleh kalangan tertentu di masa Hindu-Buddha. Masyarakat umum biasanya menganut aliran Shaiva atau Siwa-isme yang cenderung moderat, namun kalangan tertentu  menganut aliran Tantra yang bersifat esoterik atau mistik.
Salah satu tokoh penganut aliran Tantra yang terkenal adalah Raja Singasari terakhir yaitu Raja Kertanegara. Dia menganut agama Buddha aliran Tantrayana yang bersifat mistik yang umumnya dipenuhi dengan ritual-ritual pengorbanan yang diyakini sebagai jalan pintas untuk memutus rantai Karma. Namun nampaknya hingga era peralihan Hindu – Islam, aliran tantra masih bertahan di daerah-daerah terpecil  di Jawa Tengah & Jawa Timur, hal ini terbukti dengan temuan-temuan arkeologis yang bersifat tantra di candi-candi lereng Gunung Lawu (Sukuh-Cetho dll) yang berasal dari dari abad 15-16.
Hutan Krendawahana nampaknya juga memiliki kaitan dengan Candi-candi Tantra di lereng Gunung Lawu. Candi Sukuh & Candi Cetho memiliki relief yang bercerita mengenai Sudamala, dimana tokoh sentral dalam cerita ini adalah Sadewa (bungsu Pandawa). Dalam kisah ini Sadewa diculik oleh Ranini Dewi Durga untuk dikorbankan supaya Dewi Durga yang berwujud raksasa bisa kembali menjadi dewi yang cantik dan kembali tinggal di kahyangan. Setelah berhasil menculik Sadewa, Dewi Durga kemudian mengikat Sadewa disebuah pohon di Hutan Sentra Ganda Mayit. Namun sebelum Sadewa berhasil dijadikan korban persembahan, Sadewa berhasil diselamatkan oleh Bathara Guru yang merasuk ke dalam tubuhnya. Setelah selamat Sadewa pun meruwat Dewi Durga dan mengembalikan ke wujud aslinya yang cantik kemudian kembali ke Kahyangan.

Di situs Hutan Krendawahana dapat ditemukan Pohon Beringin Putih yang dinamakan Punden, yang menurut legenda merupakan pohon tempat Dewi Durga mengikat Sadewa sebelum dikorbankan. Setiap tahun, Keraton Surakarta mengadakan upacara Wilujengan Nagari Mahesa Lawung, dalam upacara ini dilakukan penanaman kepala kerbau lawung, yaitu kerbau jantan khusus yang masih belum kawin dan belum dipakai untuk bekerja.
Penanaman kepala kerbau ini semakin menguatkan hubungan hutan ini dengan Dewi Durga, mengingat dalam mitologi Hindu, Dewi Durga digambarkan berkendaraan kerbau yang kepalanya dipenggal yaitu Mahesasura (Arca Durga Mahisasuramardini). Upacara Mahesa Lawung sendiri  menurut literatur kuno merupakan upacara Raja Weda dari masa kerajaan Hindu-Buddha  yang diformat ulang oleh wali songo sehingga menjadi upacara yang lebih Islami.
Pada zaman Pakubuwono XII  bertakhta (1945-2004), Setiap Grebeg Maulud tahun Dal (grebeg kelima dalam siklus sewindu), Sunan dan Garwa Ampeyan (selir) mengadakan upacara khusus dengan mengukus dandang beras bersama. Inilah yang menggarisbawahi makna Sekaten sebagai ritual panen tingkat kerajaan.
Dua utusan kerajaan mengunjungi tempat sakral paling penting bagi Keraton Surakarta yakni Alas Krendowahono (di utara Surakarta) dimana menjadi tempat bagi Batari Durga bersemayam, dan Parangtritis (di pantai selatan) yang dipercaya sebagai kerajaan Ratu Kidul.