Mursyid Palsu

Pada awalnya seorang yang bijak merupakan pembimbing seorang murid. Segera setelah memungkinkan, guru ini melepaskan si murid, sebagai orang yang memperoleh hikmahnya sendiri, dan kemudian ia melanjutkan kerja dirinya.

Para Guru Palsu dalam sufisme, sebagaimana dimana saja, tidaklah sedikit. Maka para Sufi dihadapkan pada situasi aneh, sebab sementara Guru Palsu bisa jadi tampak seperti asli (karena ia berusaha keras untuk berpenampilan seperti yang diinginkan muridnya), sedangkan Sufi sejati seringkali tidak seperti apa yang dikira oleh Salik yang belum terlatih dan belum bisa membedakan. Rumi mengingatkan, “Jangan menilai seorang Sufi sebagai seseorang yang bisa dilihat, sobat. Berapa lama, seperti seorang anak kecil, engkau hanya lebih menyukai kacang dan roti? ”Guru Palsu sangat memperhatikan penampilan, dan mengetahui bagaimana membuat seorang murid mengira bahwa ia adalah orang besar, bahwa ia memahaminya, bahwa dirinya memiliki rahasia-rahasia besar yang yang akan diungkap. 

Seorang Sufi memiliki banyak rahasia, tetapi ia harus menjadikan rahasia-rahasia tersebut berkembang dalam diri murid. Sufisme merupakan sesuatu yang diberikan kepadanya.

Guru Palsu akan menjaga para pengikutnya agar tidak menjauh dari dirinya untuk selama-lamanya, tidak mengatakan kepada mereka, bahwa mereka tengah diberikan latihan yang harus berakhir secepat mungkin, sehingga mereka bisa merasakan perkembangan mereka sendiri dan melanjutkan hidup sebagai orang-orang yang tercerahkan.

Rumi menyeru kepada para skolastik, teolog dan pengikut Guru Palsu, “Kapan kalian berhenti menyembah dan mencintai timbanya? Kapan kaki mulai mencari airnya? ”Hal-hal lahiriah merupakan sesuatu yang biasanya dinilai oleh kebanyakan orang. “Ketahuilah perbedaan antara warna anggur dan warna gelasnya.”


Dikaki Sang Guru

Oleh karena itu, janganlah engkau berpegang teguh pada suatu pemikiran hanya karena banyak orang lain yang memegangnya, atau karena telah dipercayai selama berabad-abad, atau karena tertulis dalam suatu kitab suci yang dianggap suci oleh manusia; engkau harus memikirkannya sendiri, dan menilai sendiri apakah pemikiran itu masuk akal.

Ingatlah bahwa meskipun seribu orang sepakat tentang suatu hal, jika mereka tidak tahu apa pun tentang hal itu, pendapat mereka tidak berharga. Ia yang ingin menapaki Jalan harus belajar berpikir sendiri, karena takhayul adalah salah satu kejahatan terbesar di dunia, salah satu belenggu yang harus Anda bebaskan sepenuhnya.

Sejauh ini semuanya sederhana; yang diperlukan Anda hanyalah Pahami. Namun, ada beberapa orang yang meninggalkan pengejaran tujuan duniawi hanya untuk mencapai surga, atau untuk mencapai pembebasan pribadi dari kelahiran kembali; jangan sampai Anda jatuh ke dalam kesalahan ini. Jika Anda telah melupakan diri sepenuhnya, Anda tidak dapat memikirkan kapan diri itu akan terbebas, atau surga seperti apa yang akan dimilikinya. Ingatlah bahwa SEMUA keinginan egois itu mengikat, betapapun tingginya tujuannya, dan sampai Anda melepaskannya, Anda tidak sepenuhnya bebas untuk mengabdikan diri pada karya Sang Guru.

Ketika semua keinginan untuk diri sendiri telah sirna, mungkin masih ada keinginan untuk melihat hasil kerja Anda. Jika Anda membantu seseorang, Anda ingin MELIHAT seberapa besar Anda telah membantunya; mungkin Anda juga ingin dia melihatnya, dan bersyukur. Namun ini tetaplah keinginan, dan juga kurangnya kepercayaan. Ketika Anda mencurahkan kekuatan untuk membantu, pasti ada hasilnya, entah Anda bisa melihatnya atau tidak; jika Anda memahami Hukum, Anda tahu ini pasti demikian. Jadi, Anda harus melakukan yang benar demi yang benar, bukan dengan harapan imbalan; Anda harus bekerja demi pekerjaan itu, bukan dengan harapan melihat hasilnya; Anda harus mengabdikan diri untuk melayani dunia karena Anda mencintainya, dan mau tidak mau mengabdikan diri untuknya.

Janganlah menginginkan kekuatan psikis; kekuatan itu akan datang ketika Sang Guru tahu bahwa itu adalah yang terbaik bagimu. Memaksanya terlalu cepat sering kali mendatangkan banyak masalah; seringkali pemiliknya disesatkan oleh roh-roh jahat atau menjadi sombong dan berpikir ia tidak mungkin melakukan kesalahan; dan bagaimanapun juga, waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk mendapatkannya mungkin akan dihabiskan untuk bekerja bagi orang lain. Kekuatan itu akan datang seiring perkembanganmu - kekuatan itu HARUS datang; dan jika Sang Guru melihat bahwa akan bermanfaat bagimu untuk memilikinya lebih awal, Dia akan memberi tahumu cara mengembangkannya dengan aman. Sampai saat itu, kau lebih baik tanpanya.

Sang Guru mengajarkan bahwa apa pun yang terjadi dari luar pada seseorang, tidaklah menjadi masalah; kesedihan, kesulitan, penyakit, kehilangan, semua itu tidak boleh dianggap remeh baginya, dan tidak boleh dibiarkan mempengaruhi ketenangan pikirannya.

Semua itu adalah hasil dari tindakan masa lalu, dan ketika itu datang, Anda harus menanggungnya dengan riang, mengingat bahwa semua kejahatan bersifat sementara, dan bahwa tugas Anda adalah untuk selalu bersukacita dan tenang. Semua itu milik kehidupan Anda sebelumnya, bukan milik kehidupan ini; Anda tidak dapat mengubahnya, jadi tidak ada gunanya mengkhawatirkannya. Pikirkanlah apa yang Anda lakukan sekarang, yang akan memengaruhi peristiwa-peristiwa di kehidupan Anda selanjutnya, karena itulah yang BISA Anda ubah.

Jangan pernah biarkan diri Anda merasa sedih atau depresi. Depresi itu salah, karena ia menulari orang lain dan mempersulit hidup mereka, sesuatu yang tidak berhak Anda lakukan. Karena itu, jika depresi itu menimpa Anda, singkirkanlah segera.

Dengan cara lain, Anda harus mengendalikan pikiran Anda; jangan biarkan ia mengembara. Apa pun yang sedang Anda lakukan, pusatkan pikiran Anda padanya, agar dapat diselesaikan dengan sempurna; jangan biarkan pikiran Anda menganggur, tetapi selalu tanamkan pikiran-pikiran baik di latar belakang, siap untuk muncul saat ia bebas.

Gunakan kekuatan pikiran Anda setiap hari untuk tujuan yang baik; jadilah kekuatan yang menggerakkan evolusi. Pikirkan setiap hari seseorang yang Anda tahu sedang berduka, menderita, atau membutuhkan pertolongan, dan curahkanlah pikiran penuh kasih kepadanya.

Jauhkan pikiranmu dari kesombongan, karena kesombongan hanya datang dari ketidaktahuan. Orang yang tidak mengetahui hal ini berpikir bahwa dirinya hebat; bahwa ia telah melakukan hal hebat ini atau itu; orang bijak tahu bahwa hanya Tuhan yang hebat, bahwa semua pekerjaan baik dilakukan oleh Tuhan sendiri.

Kini setelah mata Anda terbuka, beberapa kepercayaan lama Anda, upacara-upacara lama Anda, mungkin tampak absurd bagi Anda; mungkin memang demikian. Meskipun Anda tak lagi dapat berpartisipasi di dalamnya, hormatilah mereka demi jiwa-jiwa baik yang masih menganggapnya penting. Mereka punya tempat, mereka punya kegunaan; mereka bagaikan garis ganda yang menuntun Anda sejak kecil untuk menulis dengan lurus dan rata hingga Anda belajar menulis jauh lebih baik dan lebih bebas tanpanya. Ada masa ketika Anda membutuhkannya; tetapi kini masa itu telah berlalu.

Seorang Guru Agung pernah menulis: "Ketika aku kanak-kanak, aku berbicara seperti kanak-kanak, aku mengerti seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak; tetapi ketika aku dewasa, aku menyingkirkan sifat-sifat kekanak-kanakan." Namun, orang yang melupakan masa kecilnya dan kehilangan simpati terhadap anak-anak bukanlah orang yang dapat mengajar atau membantu mereka. Jadi, pandanglah semua orang dengan baik, lembut, dan toleran; tetapi pandanglah semua orang dengan setara, Buddha atau Hindu, Jain atau Yahudi, Kristen atau Muslim.

Namun, KAMU—dirimu yang sesungguhnya—adalah percikan cahaya Tuhan sendiri, dan Tuhan, Yang Mahakuasa, ada di dalam dirimu, dan karena itu, tidak ada yang tidak dapat kau lakukan jika kau mau.

Katakan pada diri sendiri: "Apa yang telah dilakukan manusia, manusia juga dapat melakukannya. Aku manusia, namun juga Tuhan dalam diri manusia; aku dapat melakukan hal ini, dan aku akan melakukannya." Karena tekadmu haruslah sekuat baja yang ditempa, jika kau ingin menapaki Jalan itu. Dan kualifikasi terakhir dan terpenting bagi seseorang yang ingin memasuki Jalan CINTA 

Jalan Pendakian Spiritual


Murid siap - Guru akan datang 

“Saya akan rileks dan menyingkirkan semua beban mental. Mengizinkan Tuhan untuk mengekspresikan melalui saya kehendak sempurna, kedamaian, cinta, dan kebijaksanaan-Nya ”

Ingat, orang-orang menderita hanya karena mereka berpikir hal-hal harus berbeda dari apa adanya.” Karena Anda sendiri yang bertanggung jawab atas pemikiran Anda, hanya Anda yang dapat mengubahnya.”   Ia tetap berjalan menuju pendakian puncak Kesadaran

Seorang Spritual diajarkan untuk tidak berkonsentrasi pada halangan bagi pencapaian Tuhan karena ia mengembangkan ego yang tidak dikehendaki dalam diri seorang pemuja.  “ Jalan spiritual bukanlah sirkus.” 

Bahkan jika kekuatan seperti itu datang kepada Anda, dia mengajarkan, jangan menggunakannya, kecuali Anda mendengar Suara Tuhan yang menyuruh Anda melakukannya.

Seorang Guru tidak akan menghakimi kesalahan yg dilakukan murid, karena la sepenuhnya sadar bahwa jalan spiritual setiap orang berbeda-beda. Ada yg begitu cepat mencapai pencerahan, namun terkadang beberapa orang memang ditakdirkan tersesat dulu untuk sampai ke tujuan. 

Bukan karena Guru tidak mampu menunjukkan jalan, melainkan agar (dengan kesalahan/pengalaman) si murid dapat mempersiapkan dirinya menjadi lebih matang. 

Karena jika murid siap maka Guru akan datang. Sehingga jika dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, manusia tidak sedang berjalan dari kesalahan menuju ke kebenaran. Kita hanya sedang berjalan dari kebenaran satu ke kebenaran yang lain.

Mursyid Bertugas Menghantarkan


Syekh Abdul Qodir Jailani RA, berkata 
Apabila engkau sudah sampai kepada Allah SWT, maka dengan izin dan taufik Nya engkau akan dekat dengan Nya. Yang dimaksud dengan 'sampai kepada Allah SWT adalah keluarnya engkau dari makhluk, hawa nafsu, ambisi dan angan-angan, serta yakin akan kekuasaan dan kehendak Nya, tanpa harus ada gerakan, baik itu dari dirimu sendiri maupun dari makhluk Nya yang lain. Akan tetapi semua itu berasal dari kebijakan, perintah, dan perbuatan Nya.

Jadi yang dimaksud dengan dekat dan bersatu dengan Tuhan itu adalah kamu mengosongkan hati kamu  dari makhluk, hawa napsu, dan lain-lain selain Allah SWT, sehingga hati kamu hanya dipenuhi oleh Allah dan perbuatan Nya saja. Kamu tidak bergerak, kecuali dgn kehendak Allah saja. Kamu akan bergerak jika Allah menggerakkan kamu. Inilah yang disebut FANA', yang menggambarkan sampainya seorang hamba kepada Allah SWT.  Tetapi yang harus di ingat
Sampainya seseorang kepada Allah bukanlah seperti sampainya ia kepada salah seorang makhluk Nya. Allah berfirman : Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS 42:11). Maha Besar Allah untuk bisa diserupakan dengan makhluk Nya, atau dibandingkan dengan semua ciptakan Nya. Jadi Sampainya seseorang kepada Allah hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan, dengan kesadaran yang diberikan Nya kepada orang itu.
Masing-masing orang dengan pengalamannya sendiri, dan tak ada seorangpun yang memiliki pengalaman yang sama. Allah SWT memiliki rahasia tersendiri dengan masing-masing Rasul Nya, Nabi Nya, dan para Kekasih Nya. Tidak ada yang dapat mengetahui  selain Allah dan manusia yang menjadi Kekasih Nya itu. Bisa jadi ada rahasia yang dimiliki oleh seorang murid yang tidak diketahui oleh Syekhnya, sebaliknya ada rahasia yang dimiliki oleh seorang Syekh dan tidak diketahui oleh muridnya yang telah mendekati ambang pintu MAQOM' di mana Syekhnya berada.
Maka apabila si murid sudah sampai pada MAQOM' Syekhnya, maka ia akan dipisahkan dari Syekhnya dan terputus darinya (Allah memutuskannya dari semua Makhluk), dan yang membimbingnya adalah Allah SWT.
Jadi seorang Syekh bagaikan ibu yang menyusui, yang tidak menyusui lagi setelah 2 tahun. Tidak ada lagi ketergantungan pada makhluk setelah hilangnya hawa nafsu dan ambisi.
Seorang Syekh diperlukan selama hawa napsu dan ambisi itu masih ada, untuk membantu menghancurkannya.
Adapun setelah keduanya hilang, maka Syekh tidak lagi diperlukan, karena sudah tidak ada kotoran dan kekurangan.
Apabila kamu sudah sampai pada Yang Maha Benar sesuai dengan yang telah kami jelaskan tadi, maka selamanya kamu telah aman dari segalanya selain Allah SWT. Kamu tidak lagi melihat sesuatu selain Nya sebagai wujud yang berarti, tidak ada manfaat maupun mudarat, tak dapat memberi maupun menolak, tidak dapat memberikan rasa takut maupun harapan.
Dialah yang berhak ditakuti dan berhak memberikan ampunan.

Jadilah kamu selalu awas terhadap tindakan Nya, perhatikan selalu semua perintah Nya,
sibukkan selalu dirimu dengan taat kepada Nya, lepaskan ketergantungan pada semua makhluk Nya,
baik duniawi maupun ukhrawi.
Janganlah menggantungkan hatimu pada sesuatu dari makhluk Nya,
jadikan semua makhluk Nya itu bagaikan seorang yang diborgol kedua tangannya oleh seorang penguasa yang tinggi kedudukannya,
ditakuti, dan disegani, lalu kedua kaki orang tersebut dibelenggu dan dia diikat di sebuah pohon yang besar di tepi sungai yang besar ombaknya, gemuruh suaranya, tinggi airnya, deras arusnya. Lalu penguasa itu duduk di atas kursi, dan disampingnya disimpan beberapa ikat anak panah lengkap dengan busurnya dan berbagai senjata berat lainnya. Maka sang penguasa dengan sesukanya mengarahkan senjata tersebut kepada orang yang diikat di pohon.
Apakah yang terbaik bagi yang melihat kejadian itu, untuk tidak melihat kepada penguasa dan tidak takut kepadanya serta tidak berharap kepadanya, lalu melihat kepada orang yang dibelenggu,
takut dan berharap darinya?
Bukankah orang yang melakukan yang demikian itu, ditinjau secara rasional, dinamakan tidak berakal, mendekati gila, bahkan binatang dan bukan manusia? Kita berlindung kepada Allah dari kebutaan setelah melihat, terputus setelah sampai, jauh setelah dekat, sesat setelah mendapat hidayah, dan kafir setelah iman.
Maka dunia bagaikan sungai yang besar arusnya seperti yang telah kita gambarkan tadi.
Setiap hari bertambah airnya, dan itulah hawa napsu bani Adam di dunia dan semua kelezatannya serta kesulitan-kesulitannya yang menimpa mereka.
Adapun panah dan berbagai senjata lainnya adalah gambaran cobaan yang mengalir sesuai ketentuan Nya. Pada umumnya semua cobaan itu dirasakan oleh anak Adam di dunia, dan tidak mendapatkan kenikmatan dan kelezatan didalamnya.
Maka bagi semua orang yang berakal, tidak ada kehidupan dan ketenangan baginya kecuali di akhirat, jika hal itu diyakininya (karena hal itu khusus bagi orang-orang mukmin).
Rosulullah SAW bersabda : Tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat, Sabdanya lagi : Tidak ada ketenangan bagi seorang mukmin tanpa bertemu dengan Tuhannya,
Sabdanya lagi : Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir, Sabdanya pula : Orang bertakwa itu terkekang.

dari kitab : Adab as Suluk wa at-Tawasshul ila Manazil al-Muluk
 

Percakapan dengan Sang Guru

Murid : Guru.....Orang pada suka memfitnah, harus diapakan ya Guru ?  dimaafkan atau dimanifestasikan biar dia celaka ya ?

Murid : Nanti akibatnya ke saya dan ke dia apa Guru ?

Guru : Di doakan berikan cinta kasih

Guru : Kalau di manifestasikan dia celaka kamu akan menerima balasan karmamu 

Kalau di maafkan orang akan menerima efek karmanya

Kalau kamu doakan memberikan cinta kasih orang tersebut akan menerima karmanya berlipat ganda.

Sufi Menghindari Publisitas


Ada banyak orang berkhotbah tentang mengulang nama Tuhan dan meditasi, berpura-pura menjadi ahli yang sangat maju. Mereka mengklaim sebagai Guru, Sehingga mereka dapat mengumpulkan banyak penonton dan memamerkan keterampilan mereka.Tetapi pertunjukan bakat seperti itu bukanlah tanda pencapaian spiritual. Pencapaian spiritual menghindari publisitas

Latihan spiritual harus dilakukan dalam KEHENINGAN, jauh dari pandangan umum. Nama dan wujud Tuhan dipuja oleh Mira sebagai "permata berharga".

Permata indah dan berharga tidak dibawa sebagai barang dagangan ke pasar. Hanya sayuran yang dipamerkan untuk dilihat semua orang.

Tuhan adalah kehadiran, bukan seseorang. Oleh karena itu, menyembah hanyalah kebodohan belaka. 

Prayerfulness (ritual) itu dibutuhkan, tapi bukan doa/meminta. 

Tidak ada seorang pun yg dapat berdoa, tidak mungkin ada dialog antara Anda dan Tuhan. Dialog hanya mungkin antara dua orang, dan Tuhan bukanlah orang, tetapi Tuhan itu “kehadiran/keberadaan” – seperti kecantikan dan sukacita.

Pengalaman pertama terjadi dalam diri Anda. Setelah Anda telah melihat terang dalam diri, Anda akan dapat melihatnya di mana-mana. Allah harus dibebaskan dari semua konsep kepribadian. Kepribadian adalah penjara. Allah harus dibebaskan dari segala bentuk tertentu; hanya kemudian dia bisa memiliki semua bentuk. Dia harus dibebaskan dari nama tertentu sehingga semua nama menjadinya.

Jika engkau memasuki misteri terdalam dari kehidupan, engkau bukanlah hanya seorang penyaksi, karena si penyaksi selalu ada di luar – engkau menjadi satu dengan kehidupan ini. Engkau tidaklah berenang di sungai kehidupan ini, bukan engkau yang mengapung di sungai kehidupan ini, bukanlah engkau yang berjuang di sungai kehidupan ini. Tidak, tapi engkaulah sungai itu. Seketika engkau menyadari bahwa riak-riak itu adalah bagian dari sungai. Berlaku juga kebalikannya, Sungai itu adalah bagian dari riak-riak itu. Bukan saja kita adalah bagian dari Tuhan, tetapi Tuhan juga adalah bagian dari kita.

Ketika Al Halaj mengatakan “Aku adalah Tuhan” ia tidak mengatakan bahwa “Aku adalah Tuhan dan engkau tidak”’ Ia tidak mengatakan “Aku adalah Tuhan dan pohon-pohon ini tidak” 

Ia tidak mengatakan “Aku adalah Tuhan dan kerikil-kerikil ini, bebatuan ini adalah tidak.” Mengatakan bahwa “Aku adalah Tuhan” ia menyatakan bahwa semuanya ini adalah Ilahi, suci. Segala sesuatu ini Ilahi.

Sufi tidak memikirkan tentang bagaimana alam semesta ini, tapi menjadi alam semesta. 

Sufi bukan tentang memikirkan, juga bukan tentang melakukan sesuatu terhadap alam semesta ini. Sufi bukanlah tentang berfikir maupun tentang bertindak. 

Sufi adalah yang ada, menjadi ada. (menyadari ke-ada-an, menjadi sadar bahwa kita ada, – being). Dan saat ini, tanpa usaha apapun, engkau dapat menjadi sufi. Jika engkau berhenti berfikir, dan engkau membuang ide tentang melakukan sesuatu, jika engkau membuang ide sebagai si pemikir (sesuatu yang berpikir) dan ide tentang si pelaku (sesuatu yang bertindak), jika engkau cukup menjadi ada, seketika itu engkau adalah sufi. 

Dan ini lah yang aku upayakan sembari aku berbicara tentang sufi: bukan untuk mendoktrinmu, bukan utuk membuatmu lebih berpengetahuan tentang sufi, tetapi membuat sufi yang ada di dalam dirimu keluar.

Religius Prematur

Orang-orang yang menjadi religius sebelum waktunya hanya membuang-buang waktu mereka. Menjadi religius sebelum waktunya berarti : menjadi religius tanpa benar-benar muak dengan kehidupan, belum benar-benar bosan, Permainannya masih memiliki beberapa daya tarik. Itu mungkin seks, itu mungkin uang, dan itu mungkin politik, kekuasaan. Tetapi sesuatu dalam hidup masih memiliki daya tarik. Maka sebelum waktunya engkau telah menjadi religius, dan ini tidak akan membantu : engkau hanya akan membuang-buang waktumu. 

Orang harus benar-benar bosan, hidup tidak memiliki daya tariknya lagi; semua mimpi-mimpinya hancur; semua pelangi telah menghilang; tidak ada bunga-bunga lagi, hanya duri; engkau jenuh dengannya. Maka tidak ada usaha di pihakmu untuk meninggalkannya atau melepaskannya - ingatlah. Jika ada upaya apa pun untuk melepaskannya, itu berarti ada sedikit ketertarikan yang tersisa.