Menerima Kebenaran


Kebenaran tidak selalu hadir dalam bentuk yang menyenangkan. 

Ada kalanya ia menegur kesalahan kita, membongkar kenyamanan yang selama ini kita pertahankan, atau memaksa kita mengakui bahwa selama ini kita telah keliru. Karena itulah menerima kebenaran sering kali jauh lebih sulit daripada menemukannya. Bukan karena kebenaran itu kurang jelas, melainkan karena ego manusia lebih senang mendengar apa yang sesuai dengan keinginannya daripada apa yang benar-benar perlu didengarnya.

Banyak orang tidak menolak sebuah pendapat karena kurangnya bukti, tetapi karena konsekuensi dari menerimanya terasa terlalu berat. Mengakui kesalahan berarti harus meminta maaf. Menerima nasihat berarti harus mengubah kebiasaan. Mengakui kebenaran berarti mungkin harus meninggalkan kepentingan, gengsi, atau kenyamanan yang telah lama dinikmati. Akibatnya, seseorang mulai mencari berbagai alasan untuk membenarkan dirinya sendiri. Yang dicari bukan lagi kebenaran, melainkan pembenaran.

Sikap seperti ini perlahan menutup pintu pertumbuhan. Orang yang hanya mau menerima sesuatu jika sesuai dengan keinginannya akan sulit belajar. Ia tidak lagi mendengarkan dengan pikiran yang terbuka, tetapi hanya menunggu kesempatan untuk menolak. Setiap kritik dianggap serangan, setiap nasihat dipandang sebagai penghinaan, dan setiap perbedaan diperlakukan sebagai ancaman. Pada akhirnya, ia terjebak dalam dunia yang hanya memantulkan pendapatnya sendiri, tanpa pernah memberi ruang bagi kemungkinan bahwa dirinya juga boleh salah.

Sebaliknya, orang yang bijaksana tidak menjadikan egonya sebagai ukuran kebenaran. Ia berani berkata, “Aku keliru,” ketika memang terbukti salah. Ia bersedia mengubah pendapatnya ketika menemukan alasan yang lebih kuat. Sikap seperti ini bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan. Sebab yang mulia bukanlah orang yang tidak pernah salah, melainkan orang yang lebih mencintai kebenaran daripada gengsinya sendiri.

"Ikutilah kebenaran, dan jangan mengikuti orang yang benar, karena belum tentu besok pagi orang itu benar lagi".