Di Jawa Timur terdapat tiga perkumpulan: Buda Wisnu, yang didirikan tahun 1925 di Malang oleh seorang Resi Kusumadewa yg pandai mendalang dan menganjurkan supaya orang kembali ke agama pra-Islam. Ilmu Sejati didirikan pada tahun 1926 di Madiun oleh seorang pegawai dinas candu, Raden Sujono; dan akhirnya Agama Suci atau Agama Akhir Zaman didirikan tahun 1935 di Jember oleh seorang pemilik toko kecil, Mohammad Sakri, yang kemudian dipanggil Ki Amat.
Dalam kaitannya dengan perkumpulan itu perlu diingat perhatian yang diberikan di kalangan Jawa oleh teosofi yang dimasukkan oleh Ny Blavatsky. Tiga kali ia datang ke Jawa (tahun 1853, tahun 1858, tahun 1883) dan pada persinggahan pertamanya ia mendirikan sebuah loji di Pekalongan. Kira-kira tahun 1930, Theosofische Vereeniging bentukannya beranggotakan tidak kurang
dari 2.100 orang, 40 persen orang "pribumi" dan 10 persen orang Cina. Lima majalah diterbitkannya: tiga dalam bahasa Melayu atau Jawa. 333 Menjamurnya gerakan kebatinan berlanjut setelah Kemerdekaan, dan masih banyak yang bermunculan sesudah itu. Beberapa di antaranya agaknya di- warnai politik seperti Agama Djazoa Asli Republik Indonesia (ADARI), yang di- dirikan di Yogya pada tahun 1946, dan menganggap Soekarno sebagai nabi baru. Agama Yakin Pancasila didirikan di Bandung tahun 1948 dan menjadikan "Pancasila" kredo baru. Di samping itu ada perkumpulan yang memajukan cara pengobatan dengan magnetisme gerak tangan atau dengan latihan ter- tentu yang mirip yoga, misalnya "Perkumpulan untuk membuka sembilan lubang (tubuh)" yang didirikan di Ponorogo tahun 1952 oleh Ny. Harjosentono.
Selebihnya masih ada pergerakan Sapta Dharma ("Tujuh Kewajiban") yang di- dirikan di Yogya pada tahun 1956. Beberapa anggotanya mengaku tabib dan diadili ketika salah seorang dari mereka dituduh membuka perut saudara pe- rempuannya yang sakit untuk membersihkan isi perutnya...Akhirnya harus diberikan tempat khusus kepada dua perkumpulan yang paling terkenal, kalau bukan yang paling penting :
Pertama Pangestu ( Paguyuban Ngesti Hinggai) atau "Kelompok Pemikiran Tunggal", yang didirikan di Surakarta pada tahun 1949 oleh seorang kapten intendan pensiunan, R. Sunarto (lahir tahun 1899 di Boyolali).
Kedua, Subud (Susila Budhi Dharma) atau "Ke- wajiban Keakhlakan dan Kebijaksanaan" yang didirikan di Yogya pada tahun 1947 oleh seorang akuntan, Muhammad Subuh (lahir di dekat Semarang tahun 1901 dari keluarga petani kecil).
Ajaran sinkretis Pangestu sungguh- sungguh tergarap, dan aliran itu menyebar ke seluruh Jawa bahkan ke seluruh Indonesia dan dewasa ini mempunyai puluhan ribu anggota.
Adapun Subud, sekalipun kurang berkembang di Pulau Jawa sendiri, berhasil menarik perhatian dunia "internasional" dan dikenal sampai ke Eropa dan Amerika Serikat. Muhammad Subuh ternyata mendapat gagasan untuk pergi ke Inggris pada tahun 1957. Di sana dia memperoleh sukses besar di kalangan pengikut Gurdjieff, bahkan berkat "latihan-latihan"-nya ia mampu menyembuhkan Eva Bartok. Berita itu segera disebarluaskan oleh pers dunia dan dengan demikian sukses Subud terkukuhkan.
Bapak Subuh sendiri mengajarkan "Latihan" kepada Osho dan terkait dengan pergerakan Soeharto dan Internasional. Sedangkan Ki Yudhoprayitno mempersiapkan Soekarno dan sekaligus terkait dengan Soeharto.
