Dalam pandangan Tasawuf berjodoh tidak selalu berarti ditakdirkan untuk memiliki.
Kadang dua orang dipertemukan bukan untuk bersama selamanya tetapi untuk saling mengubah, mendewasakan atau bertumbuh menjadi jalan seseorang untuk lebih dekat kepada Allah.
Dalam ilmu Tasawuf ada pemahaman bahwa manusia sering mencintai berdasarkan rasa, sedangkan Allah menetapkan berdasarkan hikmah. Karena itu ada hubungan yang sangat dalam seolah merasa berjodoh, padahal akhirnya tidak bersatu. Bukan pertemuannya yang salah melainkan karena tujuan pertemuan itu memang bukan untuk kepemilikan.
Beberapa makna yang sering dipahami dalam Tasawuf sebagai cermin diri. Misalnya seseorang hadir untuk memperlihatkan luka ego atau kekurangan dalam diri kita agar kita bertumbuh, sebagai ujian keterikatan.
Tasawuf banyak mengajarkan tentang melepaskan keterikatan berlebihan kepada makhluk. Kadang kehilangan membuat hati belajar bahwa tempat bergantung tertinggi hanyalah kepada Allah. Cinta itu sebagai jalan kedewasaan ruhani dan tidak semua cinta harus berakhir dengan pernikahan. Ada cinta yang tugasnya hanya mengajarkan sabar, ikhlas dan penerimaan sebagai bentuk kasih sayang yang belum dipahami.
Dalam sudut pandang ruhani, tidak bersatu bisa jadi perlindungan dari hal yang kelak membawa mudharat.
Ada ungkapan yang sejalan dengan makna Cinta dalam Tasawuf : 'Tidak semua yang dicintai ditakdirkan untuk dimiliki, karena kadang cinta hadir hanya untuk mengantarkan jiwa mengenal Tuhannya.
