Bertemu Tuhan


Seandainya mandi di sungai-sungai yang kau anggap suci, dapat mempertemukan aku dengan Tuhan, maka aku akan memilih jadi ikan…

Seandainya membatasi makanan dan hanya makan buah-buahan dapat mempertemukan aku dengan Tuhan, maka aku akan memilih jadi domba, pemakan rumput…

Seandainya mengulangi Nama-Nya terus-menerus dapat mempertemukan aku dengan-Nya, maka akan kugunakan tasbih raksasa, untuk berzikir pada-Nya.

Seandainya bersujud pada patung dapat mempertemukan aku dengan-Nya, bukit-bukit megah pun akan kusembah…

Berpuasa atau hanya minum susu, seandainya dapat mempertemukan aku dengan-Nya, maka aku akan memilih jadi anak sapi…

Meninggalkan keluarga dan menjadi selibat, seandainya dapat mempertemukan kamu dengan Tuhan, maka setiap banci bertemu dengan Tuhan.

Tidak temanku, untuk bertemu dengan Ia Yang Adalah Wujud Kasih, yang kau butuhkan Hanyalah Cinta, Hanyalah Kasih – itu saja.

Doa dengan Rasa Syukur

Seseorang dapat berkata : Doa adalah keheningan – dia benar, dan sepenuhnya benar. Pendapat yang lain berkata, Doa adalah dialog – dan dia juga benar, karena doa adalah dialog dalam keheningan. 

Sekarang, dialog dan keheningan tampaknya bertentangan. Dalam dialog Anda berbicara, dalam keheningan Anda mendengar. Dalam dialog Anda berkomunikasi, dalam keheningan Anda hanya ada di sana – tidak ada yang perlu dikatakan.

Apa yang mesti dikatakan kepada Tuhan

Tuhan Maha Tahu semua yang Anda katakan sejak awal. Anda bisa bersujud dengan rasa syukur Anda, itu masih cara berbicara. Cobalah mengatakan sesuatu tanpa kata, karena kata-kata sangat kecil dan hati sangat ingin mengatakan sesuatu. Jadi ini adalah DIALOG, meski diam. Ini adalah komunikasi dalam arti, karena ada Anda di sana dan seluruh keberadaan menjadi kekasih Anda, seluruh keberadaan menjadi 'engkau'. Namun tidak ada 'aku' dan tidak ada 'engkau' - keduanya menghilang. Keduanya bertemu dan melebur menjadi satu kesatuan, satu kesatuan organik. Sama seperti titik embun menghilang di lautan, Anda menghilang. Tidak ada pemisahan antara Anda dan keberadaan, Jadi bagaimana - bisa ada dialog?

Biasanya kita berpikir doa adalah meminta sesuatu, menuntut, mengeluh. Anda memiliki keinginan dan Tuhan dapat membantu Anda untuk memenuhinya. Anda pergi ke pintu Tuhan untuk meminta sesuatu, Anda pergi sebagai pengemis. Bagi Anda doa adalah memohon, tetapi doa tidak pernah bisa memohon permintaan, doa hanya bisa dengan Rasa syukur, dan menjadi sebuah Rasa syukur.

Doa berarti penyerahan. Doa berarti pengakuan. Doa berarti tunduk kepada keberadaan. Doa berarti Rasa syukur. Doa berarti Rasa terima kasih. Doa berarti keheningan. Doa berarti bahwa "Saya bahagia bahwa saya ada." Doa hanya berarti bahwa "Pemberian hidup yang luar biasa ini begitu besar untuk orang yang tidak layak seperti saya. Saya tidak pantas mendapatkannya, namun tanpa diketahui Tuhan telah melimpahkannya kepada saya." Melihat hal tersebut, Rasa syukur muncul.

"Saya akui Ya Allah semua berkah dan cinta kasih Mu yang kau berikan kepadaku luar biasa, maka aku bersyukur kepada Mu Ya Allah".

Salah satu cara bersyukur adalah merawat apa yang sudah ada, bukan dengan memupuk keinginan, memenuhi diri ingin lebih dan lebih. Syukuri dirimu, Syukuri hidupmu, Syukuri semua yang ada pada dirimu dan semua yang ada di sekitarmu. Suatu saat nanti kita semua akan pergi, jangan sia-siakan waktu hidupmu




Pesan seorang Ayah


Ketika suatu saat kau menemui ayahmu sudah wafat. Angkatlah ayahmu seperti ayah mengangkat kamu dulu. Lalu kau memandikan ayah, wudhu kan ayah. Kemudian basuhlah pundak ayah ketika ayah sudah terbujur kaku yang bernama mayit ini. 

Ketika kau sedang membasuh pundak ayahmu, ingatlah nak, engkau pernah berada di pundak ayah, dagumu itu menempel dipunggung ayah lalu menggendong mu.

Ketika kau basuh tangan ayah nanti, ingatlah nak, tangan yang sudah dingin ini pernah menyentuh kepalamu, tangan yang....... kau pegang sekarang pernah menuntun pada jalan kebaikan.  

Nak, massa itu cepat sekali berlalu meninggalkan kita. 

Sekarang ceritakan kepada mereka Bahwa kematian itu pasti terjadi 

كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ Surat Al-Anbiya (21) Ayat 35. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.

ORANG TUA ITU KERAMATNYA KETIKA MASIH HIDUP. Keberkahan dan kemuliaan orang tua itü nyata dan masih "aktif" selama mereka hidup. ini mengisyaratkan bahwa berbakti kepada orang tua saat mereka masih Hidup adalah kesempatan emas untuk meraih keberkahan.

Pesan Seorang Ibu



Nak, tertawalah riang di hadapan ayahmu manakala beliau pulang ke rumah, Karena dunia luar itu begitu kejamnya sehingga dapat membahayakan ayahmu..

Tahukah kau nak, apa beda ibu dengan ayah? 

Ibu membawamu (mengandungmu) di dalam rahim selama 9 bulan, namun ayahmu membawamu seumur hidupnya, tanpa kau sadari..

Ibu berupaya kuat agar kau tak merasa lapar, namun ayahmu lah yang mengajarimu agar kau tak kelaparan lagi, tanpa kau fahami...

Ibu menggendongmu (dengan memelukmu) di dada, namun ayahmu menggendongmu di punggungnya, tanpa kau perhatikan...

Cinta ibu ini sudah kau kenali mulai dari semenjak kau lahir, namun cinta ayahmu akan kau ketahui setelah kau menjadi seorang ayah.....karena itu bersabarlah dengan baik...

Ibu, memang takkan ternilai harganya,  sementara ayahmu, takkan bisa dikembalikan oleh waktu....Karena kematian itu pasti..

Baik Buruknya Ayah, la Tetap Pahlawanmu. Baik Buruknya Ibu, la Tetap Pintu Surgamu.

Jangan Menuntut Orangtua Sempurna, Sedangkan Dirimu Masih Jauh Dari Kata Anak Berbakti.

Jika Suatu Saat, Kamu Tidak Tahan Menghadapi Orangtua, Ingatlah Perjuangannya! Peluh Kelelahan yang Terlihat dari Ayah, Kesabaran membesarkanmu dari Ibu. Jangan Hanya Karena Masalah Kecil, Kamu Melupakan Kebaikannya Sepanjang Masa.

Ya Allah, kami titipkan Segala Urusan Anakku Kepada Mu. Kesehatan, Rezeki, Masa depan, Hati, Akhlak, Kebahagiaan dan Agama.

Ya Allah, berikanlah takdir terbaik untuk anak-anak dan keturunan kami, wujudkanlah harapan dan mimpinya di waktu yang tepat. Lindungilah setiap langkahnya, jagalah dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Dan waqafkan mereka dalam ilmu akhirat. 

Agar kelak, bisa menjemput di pintu SurgaMu. Cukuplah Engkau yang menjadi tempat menitipkannya. Aamiin






Nak, Suatu Hari Kamu akan Mengerti

Setiap seorang Ayah selalu ingin anaknya hidup lebih baik darinya. Bukan karena ayah sempurna, tapi karena ayah tahu rasanya gagal, jatuh, dan kecewa. Dan ayah tak ingin beban itu turun ke pundakmu.

Nak, jika hari ini kamu belum mengerti, tak apa. Akan ada waktunya kamu paham bahwa kerasnya ayah bukan karena marah, melainkan karena ayah terlalu berharap kamu kuat. Maaf bila cara ayah mendidikmu sering melukai. Tak pernah ada niat meninggalkan luka di hatimu. Jika suatu hari kamu mengerti, ingatlah satu hal. Ayah mencintaimu, dengan cara terbaik yang ayah bisa.

Cinta Ayah Tanpa Syarat 

Hai anakku, hari terus berjalan.

Umurmu bertambah, dan bersamaan dengan itu umur ayah pelan-pelan berkurang. Ayah bekerja, bertahan, bukan karena ayah kuat, tapi karena ayah tak ingin kau tumbuh dengan rasa kurang. Jadilah anak yang berguna, yang soleh, yang hebat dengan sikap dan hatinya.

Jika suatu hari Ayah tak lagi di sampingmu, pahamilah satu hal...Ayah tidak pergi, ayah hanya selesai menjalankan hidup untukmu.

Ya Allah...Janganlah Engkau menguji anakku, seperti mana Engkau telah mengujiku. Bila bahagia bukan milik ku. Maka... Bahagiakanlah anakku...

Aku menerima dengan ikhlas semua kesakitan & kepahitan ini, bila hadiahnya untuk adalah Kebahagiaan anak-anakku. Lindungilah mereka disaat aku tidak berada disisi mereka. Aamiin.








AnakKu dan Aku Menangis


Penderitaan diciptakan sendiri 

Bila diri Anda lenyap sama sekali bagi cinta kasih itu, maka disitu orang lain tiada.

Apakah cinta mempunyai tanggung jawab dan kewajiban, dan apakah ia akan menggunakan kata-kata itu? Bila Anda mengerjakan sesuatu karena itu kewajiban Anda, adakah cinta disitu? Di dalam kewajiban tak ada cinta. Struktur satu kewajiban yang mencekal seorang manusia, menghancurkan manusia itu. Selama Anda terpaksa melakukan sesuatu karena itu kewajiban Anda, Anda tidak cinta akan apa yang Anda sedang lakukan. Bila Anda cinta, maka tak ada kewajiban dan tak ada tanggung jawab.

Sayanglah, bahwa kebanyakan orang tua mengira, bahwa mereka bertangung jawab atas anak-anaknya dan rasa tanggung jawab mereka itu berupa nasehat-nasehat tentang apa yang harus dilakukan anak-anak itu dan apa yang tak boleh dilakukan. 

Tentang seharusnya menjadi apa mereka itu, dan apa yang seharusnya tidak menjadi idaman mereka. Para orang tua menghendaki supaya anak-anaknya mempunyai kedudukan yang aman dalam masyarakat. Yang mereka sebut tanggung jawab adalah bagian dari Kehormatan yang mereka puja; orang tua hanya memikirkan tentang bagaimana caranya menjadi seorang borjuis yang sempurna. 

Pada waktu mereka mempersiapkan anak-anaknya supaya bisa cocok dengan masyarakat, mereka mengabadikan peperangan, konflik dan keganasan. Itukah yang Anda sebut kepedulian dan cinta?

Bila Anda kehilangan seseorang yang Anda cintai, Anda mencucurkan air mata - apakah air mata itu bagi Anda sendiri atau bagi orang yang telah pergi itu? 

Apakah Anda menangis bagi diri Anda sendiri atau bagi orang lain?

Bila Anda menangis untuk diri Anda, apakah itu cinta? - menangis karena Anda kesepian, karena Anda telah ditinggalkan, karena Anda tidak berkuasa lagi - mengeluh tentang nasib Anda, keadaan sekitar Anda - Selalu diri Anda yang mencucurkan air mata? Maka Anda akan melihat bahwa penderitaan itu diciptakan sendiri, penderitaan diciptakan oleh pikiran, penderitaan timbul karena ada jarak waktu.

Sekarang aku kesepian, susah, tak ada orang yang dapat menghiburku atau yang dapat menemaniku, dan karena itulah aku menangis.

Hanya cinta yang dapat menghasilkan pengampunan dan keindahan, ketertiban dan kedamaian. Terdapat cinta beserta berkahnya apabila ”Anda” berakhir.


Yang Penting Kau Bahagia, Nak


Dihapusnya air mata yang menetes, seorang pria muda mapan tampak murung dengan pandangan kosong. 

"Ayahku tak pernah bangga padaku, apapun pencapaian yang sudah aku lakukan, dimatanya selalu kurang, dan tak henti-hentinya beliau membandingkan diriku dengan anak temannya, aku tak tahu lagi harus bagaimana, apakah aku menjadi anak berdosa karena tidak membahagiakan orang tua ?

"Oh angin haruskah impian membahagiakan ayahku harus aku kubur ? Aku lelah mengejar menjadi apa yang beliau inginkan, dan hingga kini beliau tak pernah puas dengan usahaku..." ujar pria itu dengan berbisik, tak kuasa ia menahan kekecewaan hatinya. 

"Hai anak baik, cita-cita mu begitu luhur, kau pasti sangat mencintai ayahmu, hingga kau pun mendedikasikan hidupmu untuk menjadi seperti yang ayahmu inginkan," bisik angin memeluk tubuh pria itu dengan lembut.

 "Angin, bukankah sebagai orang yang sudah berusia lanjut dan taat beribadah, harusnya ayah selalu bersyukur dengan apa yang sudah diberikan, tapi kenapa beliau selalu merasa kurang dan sering mengeluh ?" ujar pria itu separuh berteriak.

"Apa yang dilakukan dan dirasakan ayahmu itu urusan beliau, bukanlah urusanmu, kau mencintainya itu baik sekali, tapi kau juga berharap ayahmu bersikap seperti yang kau inginkan, yang mana ini tidak beliau lakukan, jadilah engkau menelan kekecewaan itu. 

Cinta murni tak menuntut balasan, karena apa yang dilakukan hanyalah untuk membuat bahagia orang yang dicintainya. 

Tapi ingatlah, sebelum kau memberikan cintamu pada siapapun, pastikan kau mencintai dirimu dulu, sehingga kau merasakan kebahagiaan hakiki.

Bagaimana mungkin kau sendiri tidak punya kebahagiaan namun kau ingin memberi orang lain kebahagiaan, pikirkan itu anakku." jawab angin sambil berlalu.