Sastra Jendra Hayuningrat

 

Pada mulanya Hardjosapoero menerima ‘wahyu’ pada tanggal 27 Desember 1952. Pada hari kamis, 26 Desember 1952 atau sehari sebelum Hardjosapoero menerima wahyu, Hardjosapoero merasa gelisah. Hingga akhirnya mengantarkannya kepada temannya. Pada pukul 24.00, ia kembali ke rumahnya. Hardjosapoero mengambil tikar dan beralaskan lantai kemudian tidur-tiduran. Pada saat ia akan terlelap tidur, dengan “sekonyong-konyong”, ia digerakan oleh kekuatan supranatural untuk terus melakukan sujud. Sujud tersebut terus ia lakukan dengan melafalkan lafal yang sama hingga pukul 05.00 pagi.

Sapta Darma dan Praktek Sujud

Dalam melakukan sujud tersebut, ia dalam kondisi sangat sadar. Namun disisi lain, ia tidak mampu mengendalikan tubuhnya. Kekuatan tersebut terus membimbingnya untuk melakukan gerakan sujud tersebut. Gerakan sujud tersebut dinamakan wahyu sujud. Dalam melakukan sujud tersebut, Hardjosapoero duduk bersila dengan tangan bersidekap dan sujud hingga dahi menyentuh lantai. Wahyu sujud tersebut terus dilakukan dengan meneriakkan lafal dalam bahasa Jawa, yang berbunyi :

“Allah Hyang Maha Agung

Allah Hyang Maha Rahim

Allah Hyang Maha Adil

Gerakan sujud yang ia lakukan tersebut hingga tiga kali namun dengan keadaan tetap duduk bersila dan tangan bersedekap. Dalam sujud keduanya, ia melafalkan lafal yang berbunyi :

Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuwasa

Lafal tersebut ia ucapkan sebanyak tiga kali dalam sujud keduanya tersebut. Dan pada sujud ketiga, dengan posisi duduk kemudian sujud hingga dahi menyentuh lantai dan mengucapkan lafal:

Kesalahane Hyang Maha Suci, Nyuwun Ngapura Hyang Maha Kuwasa

Lafal tersebut juga ia ucapkan sebanyak tiga kali. Dalam keadaan bergetar dan ketakutan, ia kembali duduk dan mengulang gerakan sujud tersebut dengan lafal yang berbeda disetiap sujudnya. Kejadian ini terjadi pada Jum;at Wage pukul 01.00 WIB sampai 05.00 WIB. 

Lafal tersebut pada akhirnya dijadikan acuan bagi penganut Sapta Darma ketika melakukan ibadah sujudnya.

Lingkaran ditengah–tengah berwarna putih yang tertutup oleh gambar Semar menggambarkan: lubang pada ubun–ubun manusia (merupakan lubang yang ke–10 yang tertutup = pudak sinumpet). 

Warna putih yang ada pada gambar Semar itupun menggambarkan Nur Cahaya atau Nur Putih ialah hawa suci (Hyang Maha Suci) yang dapat berhubungan dengan Hyang Maha Kuasa

Artinya : Menyatupadukan rasa di ubun–ubun hingga mewujudkan Nur Putih Yang dapat menghadap Hyang Maha Kuasa.

SUJUD

Warga Sapta Darma diwajibkan sujud dalam sehari semalam (24 jam) sedikit–dikitnya sekali. Lebih dari itu lebih baik, dengan pengertian bahwa yang penting bukan banyak kalinya ia melakukan sujud tetapi kesungguhan sujudnya. Bila sujud dilakukan di sanggar, dapat dilakukan bersama–sama dengan tuntunan dan dapat sewaktu–waktu. Namun lebih baik waktu ditentukan. 

Sikap duduk 

Duduk tegak menghadap ke timur (=timur/kawitan/asal), artinya di waktu sujud manusia harus menyadari/mengetahui asalnya. Bagi pria duduk bersila jajar kaki kanan di depan kaki kiri. Bagi wanita bersimpuh. Namun diperkenankan, mengambil sikap duduk seenaknya asal tidak meninggalkan kesusilaan sikap duduk dan mengganggu jalannya getaran rasa. Tangan bersedakep, yang kanan didepannya yang kiri.

Selanjutnya menentramkan badan, mata melihat ke depan ke satu titik yang terletak + satu meter di tanah tepat didepannya. Kepala dan punggung (tulang belakang) segaris lurus. Setelah merasa tenang dan tenteram, serta adanya getaran (hawa) dalam tubuh yang berjalan merambat dari bawah ke atas. Selanjutnya getaran rasa tersebut harus merambat ke atas sampai dikepala, karenanya lalu mata terpejam dengan sendirinya. Kemudian setelah ada tanda pada ujung lidah terasa dingin seperti kena angin (jawa = pating trecep) dan keluar air liurnya terus ditelan, lalu mengucap dalam batin : Allah Hyang Maha Agung Allah Hyang Maha Rohim Allah Hyang Maha Adil Bila kepala sudah terasa berat, tanda bahwa rasa telah berkumpul di kepala. Hal ini menjadikan badan tergoyang dengan sendirinya. 

Kemudian di mulai dengan merasakan jalannya air sari yang ada di tulang ekor (Jawa : brutu atau silit kodok). 

Jalannya air sari merambat halus sekali, naik seolah–olah mendorong tubuh membungkuk ke muka. Membungkuknya badan diikuti terus, (bukan karena kemauan tapi karena rasa) sampai dahi menyentuh tanah. 

Setelah dahi menyentuh tanah, dalam batin mengucap: “Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuasa” (sampai 3 kali).

Selesai mengucapkan, kepala diangkat perlahan–lahan, hingga badan dalam sikap duduk tegak lagi seperti semula. 

Mengulang lagi merasakan di tulang ekor seperti tersebut di atas, sehingga dahi menyentuh tanah lagi. 

Setelah dahi menyentuh tanah diucapkan di dalam batin: “Kesalahannya Hyang Maha Suci Mohon Ampun Hyang Maha Kuasa” (sampai 3 kali). 

Dengan perlahan–lahan tegak kembali, lalu mengulang, merasakan lagi di tulang ekor seperti tersebut di atas sampai dahi menyentuh tanah yang ke–3 kalinya. 

Kemudian dalam batin diucapkan: “Hyang Maha Suci Bertobat Hyang Maha Kuasa” (sampai 3 kali). 

Akhirnya duduk tegak kembali, masih tetap dalam sikap tersebut hingga beberapa menit lagi : baru kemudian sujud selesai.

Apakah sebenarnya getaran–getaran serta air sari itu, dari mana asalnya dan dimana tempatnya? Getaran atau Sinar Cahaya Allah adalah cahaya yang digambarkan berwarna Hijau muda (=maya) yang ada di dalam seluruh pribadi manusia. 

Adapun air sari atau air putih/suci berasal dari sari bumi yang akhirnya menjadi bahan makanan yang di makan manusia. 

Sari–sari makanan tersebut mewujudkan air sari yang tempatnya di ekor (Jawa=Cetik/silit kodok/brutu). 

Bersatu padunya getaran sinar cahaya dengan getaran air sari yang merambat berjalan halus sekali di seluruh tubuh,menimbulkan daya kekuatan yang besar sekali. 

Daya kekuatan ini disebut: Atom Berjiwa yang ada pada pribadi manusia. 

Jadi kekuatan ini mempunyai arti dan guna yang besar sekali seperti antaranya: - Dapat memberantas kuman–kuman penyakit dalam tubuh. - Dapat menentramkan/menindas nafsu angkara. - Dapat mencerdaskan pikiran. - Dapat memiliki kawaskitan, seperti kawaskitan akan penglihatan, pendengaran, penciuman, tutur kata atau percakapan serta kewaskitaan rasa.

Bila telah memusat di ubun–ubun akan mewujudkan Nur Putih. Akhirnya naik menghadap Hyang Maha Kuasa untuk menerima perintah–perintah/petunjuk yang berupa isyarat/kias seperti berupa gegambaran, tulisan–tulisan (tulis tanpa papan = sastra jendra hayuningrat). 

Sekali lagi dikatakan, bahwa syarat untuk memiliki kemampuan itu semua, tiada lain adalah pengolahan/penyempurnaan budi pekerti yang menuju keluhuran pada sikap dan tindakan sehari–hari. Pengolahan/penyempurnaan pribadi itu, bagi para pemeluk yang sudah dapat/mampu, adalah berarti selalu mencetak atom berjiwa pada pribadinya. Atom tersebut digunakan untuk peri–kemanusiaan ialah menolong orang yang menderita sakit.

Cara mengobati (penyembuhan) di jalan Tuhan dilakukan dengan : 

Ening sambil memandang bagian badan si pasien (si penderita) yang sakit, setelah merasa bahwa seluruh rasa terkumpul di dalam mulut, dengan tanda lidah seperti terbelai angin (Jawa: pating trecep) dan ujung lidah terasa berat, maka dalam batin menyabut Nama Allah (Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rokhim, Allah Hyang Maha Adil), kemudian menyabda : Sembuh (Waras). 

Selanjutnya si pasien/si sakit disuruh merasakan keadaan badannya. 

Bagi mereka yang sakitnya telah menahun (bertahun–tahun), atau sakit bagian dalamnya seperti antara lain: paru–paru, asma, ayan, lepra, nier (ginjal), tekanan darah tinggi, seyogyanya mereka itu dituntuni sujud yang sungguh–sungguh (emat).

Setelah melakukan sujud, lalu didalam batin supaya mengucapkan: “Minta geraknya Nur Rasa”, kemudian disuruh ening, rasa ditujukan pada tangan. Bila tangannya telah bergerak (bergetar) : lalu diminta mengucapkan “Mohon diobati hingga sembuh” gerak tangan itu diikuti kemana arahnya guna mengobati sakitnya, hingga badan menjadi ringan/enak. 

Manakala penyakit telah sembuh, bagi yang habis sakit boleh meneruskan sujudnya, boleh tidak.

Warga Sapta Darma harus dapat menggunakan kewaskitaan. Yaitu supaya dieningkan dengan mata terpejam, bagimana kias (isyarat) atau tanda–tanda si sakit. Artinya bila ada gegambaran atau tanda–tanda seperti : burung yang kekablak (menggerak–gerakan sayapnya) atau burung terbang, pohon kering/menjadi kering, orang yang duduk membelakangi, atau tercium bau jenazah berarti bahwa telah sampai waktunya bagi si sakit, atau sudah sampai pada garis yang ditentukan oleh Hyang Maha Kuasa. Dalam hal ini meskipun di sabda sembuh (waras), penyakit menjadi sembuh namun umur telah sampai pada janji untuk diambil kembali oleh Hyang Maha Kuasa. Jadi ajal tak dapat dielakkan lagi. 

Apabila pada waktu ening kita lihat tanda–tanda/gegambaran seperti : pohon beringin, bunga mawar yang kembang (mekar) ini adalah petunjuk bahwa : si sakit akan sembuh.

Bagi mereka yang sakit lumpuh, atau badannya mati sebelah cara mengobatinya seperti yang diterangkan diatas, dan simpul–simpul tali rasa pada bagian tubuh yang sakit di uyeg (di guyar–guyar) dengan jari tengah tangan kanan. Kemudian disuruh menggerakkan tangan dan kakinya, dan akhirnya, di sabda “sembuh” (waras)!

TALI RASA

Manusia memiliki saluran rasa yang jalannya tali temali merupakan saluran–saluran yang disebut TALI RASA. Di beberapa tempat tali rasa/saluran –saluran rasa tersebut mewujudkan simpul, yaitu merupakan sentral setempat. 

Di seluruh tubuh ada 20 sentral/simpul tali rasa, dan ditandai dengn abjad atau aksara jawa sebagai berikut : 

Ha – di dagu (di tengah–tengah) Na – di tenggok (pangkal leher bawah muka, tempat di atas pertemuan tulang selangka). Ca – di atas tonjolan pertemuan kedua tulang rusuk yang nomor 2 (di dada). Ra – di cekungan di bawah tulang stenum (tulang dada tempat pertemuan lubang rusuk kecer hati). Ka – di pusat perut (Jawa : puser). Da – di tengah–tengah tulang kemaluan. Ta – di ujung tulang ekor. Sa – di tulang belakang tepat di belakang pusat perut. Wa – di bawah ujung tulang belikat (Jawa: entong–entong). La – di pundak (tonjolan ujung tulang belakang yang di atas) Pa – di tengah ketiak. Dha – di siku. Ja – di tengah–tengah pergelangan tangan bagian depan. Ya – di tengah–tengah telapak tangan (pangkal jari tengah) Nya – di susu kanan kiri. (bagi wanita di pangkal lipatan buah dada). Ma – di tengah–tengah pangkal paha. Ga – di tengah–tengah belakang lutut (lipatan lutut). Ba – di atas tumit aschiles bagian dalam. Tha – di tengah–tengah telapak kaki. Nga – di pangkal hidung (di tengah–tengah antara kedua kening)

Bila Warga Sapta Darma menolong mengobati/ menyembuhkan orang yang mati urat syarafnya seperti lumpuh, mati separo, setelah ening maka simpul–simpul tali rasa bagian tubuh yang lumpuh, tadi di uyeg–uyeg (di guyar–guyar) sambil ening, kemudian di sabda sembuh (waras).

RACUT

CARANYA : Setelah melakukan sujud wajib (sujud dasar), maka sujudnya ditambah lagi dengan satu bungkukan, yang diakhiri dengan ucapan di dalam batin : “HYANG MAHA SUCI MENGHADAP HYANG MAHA KUWASA.” Kemudian lalu berbaring dalam SIKAP ULAH RASA,hanya saja kedua tangan dilipat (bersedakep), tapak tangan kanan ditumpangakan (diletakan) di atas telapak tangan kiri menghadap ke bawah, dan diletakan di atas “CO” (=tonjolan pertemuan kedua tulang rusuk nomor dua di dada di bawah pertemuan kedua tulang selangka). Segala kegiatan pikiran da angan–angan dan sebagainya dihentikan, Satria Utama (mata satu yang tak dapat rusak) digunakan untuk menyaksikan berangkatnya Hyang Maha Suci (Nur Putih), keluar dari ubun–ubun menghadap Hyang Maha Kuasa.

Racut dapat memungkinkan seseorang dapat memiliki kewaskitaan yang tinggi. 

Racut ini tidak membahayakan, karena hanya Hyang Maha Suci saja yang meninggalkan jasmani sementara. 

Sedang 11 saudara yang lain masih tetap menjaga dalam tubuh (badan).

Praktek Chakra Sufi

Banyak dari kita telah menemukan gagasan tentang Lataif atau chakra, chakra mini. Apa mereka sebenarnya adalah hal lain. Beberapa akan mendefinisikannya sebagai pusaran energi di dekat permukaan tubuh atau bahkan di dalam tubuh, yang lain akan mendefinisikannya sebagai pusat energi di sekitar kelompok neuron atau kelenjar endogen, dalam kasus lain akan ada pusat energi di dalam dan sekitar persendian atau bahkan bagian tubuh yang dibentuk khusus dan sejenisnya. Apa mereka sebenarnya biasanya bergantung pada sifat dari masing-masing chakra, latifa atau chakra mini tertentu. Berapa banyak mereka juga sulit untuk dikatakan. 

Meskipun sering terdengar dari enam atau tujuh utama, beberapa akan menyebutkan empat belas utama dan banyak minor dan ketika semua digabungkan akan menghitung hingga sebelas ribu (tujuh puluh dua ribu atau bahkan lebih dalam beberapa narasi) mini chakra menurut beberapa tradisi. Dalam tradisi selanjutnya mereka tidak didefinisikan hanya sebagai pusaran energi yang dekat dengan tubuh, tetapi juga sebagai perbedaan nuansa cahaya dan keadaan spiritual. Jadi mayoritas penulis dan tradisi menghubungkan satu nuansa warna dengan setiap cakra. Sebagian besar tradisi sebenarnya sangat mirip dalam penilaian dan korelasinya dengan warnanya. 

Biasanya semakin dekat dengan kaki kita semakin merah tua chakra itu, di daerah perut akan ditemukan warna oranye, di solar plexus tepat di bawah tulang rusuk warna kuning, hijau dada, biru tenggorokan,di kepala ungu dan semakin satu akan naik semakin terang mereka semua sampai ke titik di mana mereka akan menjadi tidak berwarna. 

Juga informasi, keadaan mereka biasanya akan lebih baik di lebih tinggi daripada di bawah, dengan chakra tepat di atas kepala sebagai kualitas terbaik dan chakra tepat di bawah kaki sebagai yang terburuk. 

Dalam tradisi Sufi selain enam dan tujuh chakra utama di daerah perineum, sakral, solar plectoral, jantung, tenggorokan, dahi dan mahkota juga terdapat chakra di luar poros tengah yang terhubung dengan sumsum tulang belakang atau kelenjar di sebagian besar kasus. 

Chakra-chakra tersebut berada dalam tradisi spiritual yang berbeda di seluruh dunia terutama diterima sebagai chakra mini, tetapi dalam beberapa kasus chakra tersebut akan diberi lebih banyak waktu untuk menyesuaikan atau menyempurnakannya seperti chakra normal. 

Setiap cakra memiliki banyak waktu yang juga khusus untuk Dzikir atau mantra, kriya, drishti, nad,meditasi bhakti. 

Ada banyak Nama yang berbeda, Mantra yang digunakan untuk chakra yang sama dalam tradisi yang berbeda, tetapi kebanyakan akan terdengar serupa bahkan jika ditemukan dalam tradisi spiritual yang sama sekali berbeda dilihat oleh garis keturunan. 

Jadi orang akan menemukan suara Sad dan suara Shin untuk daerah sakral atau lumbral, Lam untuk daerah dada seperti juga Alif. 

Suara Ha dan Qaf biasanya dekat dengan daerah tenggorokan, Nun dan Mim biasanya akan dihubungkan dengan kepala dan tepat di atas daerah kepala, namun menurut yang lain juga ke daerah telapak tangan. 

Demikian pula dalam banyak tradisi yoga, di mana misalnya Om dengan bunyi Mim akan digunakan untuk cakra mata ketiga dan cakra mahkota, terkadang akan digunakan sebagai Ong, saat m menjadi nasal n atau ng. 

Tradisi mungkin berbeda sampai tingkat tertentu, tetapi terkadang pola yang sangat mirip terlihat saat menganalisis tradisi,yang mungkin bahkan tidak saling mengenal. Meskipun sulit untuk mengevaluasi di mana mayoritas sufi memulai dengan chakra dan chakra mini biasanya orang akan menemukan fokus utama dari tulang ekor ke atas, dengan minat utama pada kepala, dada dan tepat di atas daerah kepala. 

Beberapa area yang paling banyak dilatih adalah dua lebar jari di bawah dan di atas masing-masing payudara, bagian tengah payudara, area kelenjar timus, dahi, kiri dan terutama sisi kanan, pons, belakang kepala, sumsum tulang belakang memanjang, hipotalamus, hipofisis, otak kecil dan terutama orang-orang di otak besar. Dahi dan Jantung mungkin merupakan daerah yang paling banyak dilakukan, meskipun dalam kasus lain daerah atas dan tepat di atas kepala. 

Meskipun dikatakan bahwa setiap Dzikir dapat digunakan dalam keadaan dan kondisi khusus dan masing-masing memiliki efek khusus, beberapa masih lebih digunakan sebagai yang lain.

Dzikir Nama Allah berkali-kali paling dikecualikan, kemungkinan lain adalah Hay Qayum, Wahid, Ahad, Wadud, Qadir, Qarib, Sahib, Qudus, Salam, Majid, Karim dan banyak lainnya. 

Biasanya keduanya adalah radiasi penting dari Nama, makna, suara, dan tempat resonansinya. Baik itu adanya, untuk pemula atau mahir dalam banyak kasus seseorang harus belajar untuk mendengarkan kebutuhannya agar cepat atau lambat seseorang dapat menunjuk Nama atau Dzikir untuk dirinya sendiri. Serupa dengan penunjukan Nama, seseorang juga harus dapat menunjuk metode, cara Dzikir. Sementara pengulangan Nama secara perlahan dan spiritual hanya dalam pikiran, tetapi tidak juga dalam suara adalah yang terbaik dalam kebanyakan kasus, kadang-kadang seseorang juga harus melakukan Dzikir dengan nyaring atau bahkan melodi dalam beberapa kasus yang sangat khusus.Namun penggunaan dua kemungkinan terakhir tidak boleh melampaui penggunaan waktu pikiran hanya Dzikir. 

Namun ketika datang ke penyembuhan tubuh Dzikir keras kadang-kadang bisa sedikit lebih mudah untuk diresepkan. 

Penyembuhan itu sendiri tidak boleh menjadi minat utama Dzikir, tetapi hanya niat yang paling murni dan tertinggi.

Rahasia Tehnik Sujud

 

Sujud dalam teknik ini bila didalami serta diteliti sungguh-sungguh adalah membimbing/menuntun jalannya air sari

Air sari atau air putih/suci berasal dari sari-sari bumi yang akhirnya menjadi bahan makanan yang dimakan manusia. Sari-sari makanan tersebut mewujudkan air sari yang tempatnya di tulang ekor (Jawa = Cetik/silit kodok/brutu). 

Bila bersatu padunya getaran sinar cahaya dengan getaran air sari yang merambat berjalan halus sekali di seluruh tubuh, menimbulkan daya kekuatan yang besar sekali, kekuatan ini disebut Atom Berjiwa yang ada pada pribadi manusia.

Daya/kekuatan ini berguna untuk :

Dapat memberantas kuman-kuman penyakit dalam tubuh.

Dapat menentramkan/menindas nafsu angkara murka.

Dapat mencerdaskan pikiran.

Meningkatkan Rejeki.

Dapat memiliki kewaskitaan, seperti kewaskitaan akan penglihatan, pendengaran, penciuman, tutur kata atau percakapan serta kewaskitaan rasa. 

Bila telah memusat di ubun-ubun akan mewujudkan Nur Putih. Akhirnya naik menghadap Hyang Maha Kuasa untuk menerima perintah-perintah/petunjuk yang berupa isyarat/kias seperti berupa gambaran, tulisan-tulisan (tulisan tanpa papan = sastra jendra hayuningrat).

Cara Melatihnya :

Duduk tegak menghadap ke timur (timur/kawitan/asal), artinya diwaktu sujud manusia harus menyadari/mengetahui asalnya. 

Bagi pria duduk bersila kaki kanan didepan kaki kiri. 

Bagi wanita bersimpuh. Namun diperkenankan mengambil sikap duduk seenaknya asal tidak meninggalkan kesusilaan dan tidak mengganggu jalannya getaran rasa.

Tangan bersidakep, yang kanan diluar dan yang kiri didalam.

Selanjutnya menentramkan badan dan pikiran, mata melihat ke depan ke satu titik yang terletak + satu meter dari posisi duduk. Kepala dan punggung (tulang belakang) segaris lurus.

Setelah merasa tenang dan tentram, serta adanya getaran (hawa) dalam tubuh yang berjalan merambat dari bawah ke atas, selanjutnya getaran rasa tersebut merambat ke atas sampai di kepala, karenanya lalu mata terpejam dengan sendirinya. 

Kemudian setelah ada tanda pada ujung lidah terasa dingin seperti kena angin (jawa = pating trecep) dan keluar air liurnya terus ditelan, lalu mengucap dalam batin :

ALLAH HYANG MAHA AGUNG

Bila Kepala sudah terasa berat, tanda bahwa rasa telah terkumpul di kepala. Hal ini menjadikan badan tergoyang dengan sendirinya. 

Kemudian di mulai dengan merasakan jalannya air suci (sari) yang ada di tulang ekor (jawa = brutu atau silit kodok). 

Jalannya air sari merambat halus sekali, naik seolah-olah mendorong tubuh membungkuk ke muka. 

Membungkuknya badan diikuti terus (bukan karena kemauan tapi karena rasa), sampai dahi menyentuh/menempel Bumi. Bawa energi bumi masuk tulang ekor mengalir melalui tulang belakang ke dahi. Setelah dahi menyentuh lantai dalam batin mengucap :

HYANG MAHA SUCI SUJUD HYANG MAHA KUASA (3 kali)

Ajaran Serat Sastra Jendra

 

Perguruan Orang Bercambuk Di Tepi Sungai Bengawan Solo. Puncak dari ilmu nusantara bersemayam dalam Sastra Jendra

Dikisahkan dalam pewayangan, bahwa piwulang / ajaran ini ( ajaran Sastrajendra ) sangat rahasia dalam pengajarannya, hingga hanya manusia yang diberi piwulang dan yang mengajar saja yang boleh mengetahui.

Ngelmu Sastra Jendra disebut pula sebagai ilmu sejati atau pengetahuan tentang rahasia seluruh semesta alam (fisik dan metafisik) beserta dinamikanya. Ngelmu Sastra Jendra adalah ilmu pengetahuan batin sebagai jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Salah satu ilmu rahasia para dewata mengenai kehidupan di dunia adalah Serat Sastrajendra. 

Menurut para ahli sejarah, kalimat “Sastra Jendra” tidak pernah terdapat dalam kepustakaan Jawa Kuno. Tetapi baru terdapat pada abad ke-19 atau tepatnya tahun 1820. Naskah itu dapat ditemukan dalam tulisan karya Kyai Yasadipura dan Kyai Sindusastra dalam lakon Arjuna Sastra atau Lokapala. Kutipan dalam kitab itu diambil dari kitab Arjuna Wijaya pupuh Sinom pada halaman 26 yang berbunyi:

“Selain daripada itu, sungguh heran bahwa tidak seperti permintaan anak saya wanita ini, yakni barang siapa dapat memenuhi permintaan menjabarkan “Sastra Jendra hayuningrat” sebagai ilmu rahasia dunia (esoterism) yang dirahasiakan oleh Sang Hyang Jagad Pratingkah. Dimana tidak boleh seorangpun mengucapkannya, karena mendapat laknat dari Dewa Agung walaupun para pandita yang sudah bertapa dan menyepi di gunung sekalipun, kecuali kalau pandita mumpuni. Saya akan berterus terang kepada dinda Prabu, apa yang menjadi permintaan putri paduka. Adapun yang disebut Sastra Jendra Hayuningrat itu adalah pangruwat segala sesuatu, yang dahulu kala disebut sebagai ilmu pengetahuan yang tiada duanya, dan sudah tercakup ke dalam kitab suci (ilmu luhung = Sastra). Sastra Jendra itu juga sebagai muara atau akhir dari segala pengetahuan. Raksasa dan Diyu, bahkan juga binatang yang berada di hutan belantara sekalipun kalau mengetahui arti Sastra Jendra akan diruwat oleh Bhatara, matinya nanti akan sempurna, nyawanya akan berkumpul kembali dengan manusia yang “linuwih” (mumpuni), sedang kalau manusia yang mengetahui arti dari Sastra Jendra, maka nyawanya akan berkumpul dengan para Dewa yang mulia”

Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu itu berarti wejangan berupa mantra sakti untuk keselamatan dari unsur-unsur kejahatan di dunia. Wejangan atau mantra tersebut dapat digunakan untuk membangkitkan gaib “Sedulur Papat” yang kemudian diikuti bangkitnya saudara “Pancer” atau Sukma Sejati. Sehingga orang yang mendapatkan wejangan itu akan mendapat kesempurnaan, karena bisa menuntaskan ilmu Sedulur Papat Kalimo Pancer tingkat akhir.

Tataran tinggi pencapaian “ilmu batin/spiritual” dapat ditandai apabila kita dapat menjumpai wujud “Diri” kita sendiri, yang di sebut sebagai Diri Sejati, yang tidak lain adalah Guru Sejati kita. 

Lebih dari itu, kita dapat berdialog dengan Guru Sejati untuk mendengarkan nasehat-nasehatnya, petuah dan petunjuknya. Guru sejati berperan sebagai “Mursyid” Guru non fisik yang tidak akan pernah bicara omong kosong dan sesat, sebab Guru Sejati sejatinya adalah pancaran dari gelombang Yang Maha Suci. Di sana lah, kita sudah dekat dengan relung ’Sastra Jendra hayuning rat’ 

yakni ilmu linuwih, “ibu” dari dari segala macam ilmu, karena mata (batin) kita akan melihat apa-apa yang menjadi rahasia alam semesta

Ritual diadakan pada malam hari, sebaiknya pada hari Selasa atau Jumat kliwon, yang merupakan malam "suci" (keramat)  

Diperbarui setiap tiga puluh lima hari dan dianggap kondusif untuk kegiatan seremonial apapun.

Tingkat menengah terdiri dari dua aji . 

Bentuk Sri Candra Bhaerawa bertujuan - melalui puasa lengkap selama dua puluh empat jam dan berjalan jam dua belas malam disertai dengan meditasi dari guru - untuk menguduskan pernikahan, dalam dimensi supersensitif, dari praktisi dan seorang wanita muda yang dia impikan dengan cara sedemikian rupa sehingga dia mengalami ejakulasi. Dari pemupukan yang dimediasi ini lahirlah "anak cebol [immaterial]" (Bajang) yang melindungi rumah praktisi.

Pada malam-malam yang diterangi cahaya bulan, anggota badan melatih untuk "menggambar tubuh vital" (Ngraga Sukma) , sebuah praktik yang juga disebutkan dalam sastra klasik. 

Rumus  Patrap dan posisi khusus digunakan sehingga "tubuh vital" (sukma) terpisah dari "tubuh substansial" (raga) .

Pada tingkat tertinggi, wali sejati tingkat senior , yang seharusnya membuat praktisi kebal terhadap api, ditransmisikan kembali; bentuk Sari Sri Gamana , yang berkaitan dengan pengetahuan sebelumnya tentang panyuwunan Gineng dan terkait dengan "pengajaran kesempurnaan" (ngèlmu kasampurnan) , bertujuan untuk menarik Wahyu Illahi, sumber otoritas spiritual yang kehadirannya ditandai dengan Cahaya Kuning Emas di bagian atas tengkorak.

#SastraJendra disingkat SaJen

Paguyuban Hardopusoro

Didirikan oleh Kusumowitjitro. Siapa Kusumowitjitro? Dia adalah salah seorang Kepala Desa di daerah Purworejo, Jawa Tengah.

Kisahnya, pada tahun 1880 Kusumowitjitro tidak tahan dengan perlakuan kolonial yang menindas rakyat. Ia tinggalkan jabatannya dan pergi meninggalkan desanya karena melaksanakan aksi menolak membayar pajak.

Selama berpuluh-puluh tahun, dia mengembara ke berbagai hutan di Jawa Timur. Pengembaraan dihabiskan untuk berpuasa dan bertapa di dalam belantara yang penuh tantangan. Tidak ada guru spiritual khusus yang dipercayai menuntun perjalanan spiritualnya. Pada suatu hari, wahyu turun setelah dia mencapai situasi pasrah total pada Tuhan. Wahyu juga berbunyi agar dia menyebarkan kebaikan sekaligus ajaran-ajaran kebaikan kepada sesama manusia.

Hadirnya wahyu yang merupakan dawuh dari Gusti Kang Akaryo Jagad ini jelas merupakan hal menandai berakhirnya satu era perjalanan spiritual untuk memasuki era baru yang lebih kompleks. Kusumowitjitro merasa itulah saat dia hidup kembali sebagai manusia yang sesungguhnya dititahkan mengemban tugas mulia: sebagai hamba-Nya. Dan dia pun mulai muncul di berbagai kota.

Pada tahun 1907, dia sudah diikuti oleh banyak pengikut di Banyuwangi. Namun sayangnya di tahun itu pula dia diusir oleh Pemerintah Kolonial Belanda karena khawatir melihat tanda-tanda gerakan kebatinan ini berbahaya dan bisa merongrong kewibawaan pemerintah kolonial. Untuk sementara waktu Kusumowitjitro mengasingkan diri ke hutan di wilayah pegunungan antara Malang, Blitar dan Kediri. Kharisma dan aura spiritual Kusumowitjitro tetap berbinar sehingga dia mendapatkan pengikut di era pengasingan diri ini.

Hampir semua bagian ajarannya diakui masih misterius dan cukup sulit untuk dipaparkan. Sumber-sumber di paguyuban ini enggan memberikan keterangan. Bisa jadi ini dikarenakan sikap waspada para penganut paguyuban Hardopusoro karena saat itu pengawasan Belanda terhadap berbagai penganut aliran kepercayaan semakin ketat.

Penganut aliran kebatinan yang ada di paguyuban Hardopusoro melakukan kegiatan spiritual secara sembunyi-sembunyi dan menutupi aktivitas spiritual mereka dengan dalih acara slametan. Secara internal, ajarannya termasuk sulit sebagaimana paguyubannya yang tidak mudah dijumpai. Ajaran spiritual (wiridan) Hardopusoro pun dilarang untuk diamalkan bagi yang belum menjadi anggota. Segala pertanyaan menyangkut paguyuban ini juga dilarang untuk dijawab.

Biasanya Kusumowitjitro menyampaikan ajaran-ajaran mistik kebatinan pada tengah malam dengan memakai jubah putih. Pada setiap pertemuan, biasanya dilaksanakan tujuh tingkatan inisiasi atau pembaiatan. Setelah merampungkan pembacaan masing-masing jenjang wiridan tadi, hanya para anggota yang telah dibaiat pada level itu yang diijinkan keluar. Dalam satu sesi, hanya mereka yang telah menerima tujuh kali baiatan yang diijinkan tetap di tempat sampai akhir acara. Kemajuan melalui tingkat baiatan tergantung pada hafalan wirid dan pengamalan beberapa teknik tertentu yang berhubungan dengan tiap level.

Ajaran mistik Hardopusoro memang rumit. Dipenuhi dengan paradoks, dijejali dengan simbol-simbol dan mengatasi segala macam tataran akal. Berbagai macam teknik pada masing-masing baiatan itu diarahkan untuk membangkitkan kesaktian yang bersemayam di dalam tubuh.

Teknik utama pembangkitan kesaktian dilalui dengan cara Kungkum atau semedi dengan mengucap mantra, sambil duduk merendam diri sampai leher di sumber air yang dianggap memiliki daya keramat atau pertemuan antara dua aliran sungai yang oleh masyarakat biasa disebut dengan tempuran.

Pelahan-lahan latihan yang keras itu mengendur hingga akhirnya hanya cukup dengan semedi atau meditasi dengan kaki yang dicelupkan di dalam semangkuk air saja.




Serat Sastra Jendra Gondoyoni

Waktu-waktu terbentuknya mimpi ada tiga, yaitu titiyoni, gondoyoni dan puspatajem. Tetapi dalam kondisi sadar dan tidak tidur, kondisi-kondisi memasuki waktu-waktu tersebut bisa sangat berguna, sebagai contoh apabila telah memasuki jam Gondoyoni.

Di jam-jam itu, bagi yang terbiasa melekan akan mulai KLEBON SETAN (kemasukan setan), kumat edane dan mulai NGLAYUNG. Sebenarnya kondisi ngomong nglantur, pikiran seperti kosong di jam GONDOYONI itu justru jadi SEMA’AN di sesi NGRASUK.

Kenapa? Karena yang berbicara bukan lagi SADARNYA, melainkan BAWAH SADARNYA. Bawah Sadar Sang Kiai akan BERBICARA dengan Bawah Sadar para Cantrik. Apakah interupsi dilakukan pada saat target tidur?

Jam biologis adalah waktu tubuh yang otomatis mengeluarkan hormon-hormon tertentu, sehingga otak berada pada kondisi tertentu (theta). Jadi, kondisi tidur atau kondisi bangun sama saja.

Jam EMAS GONDOYONI ini terjadi antara pukul 01.30-02.00. Kenapa? Karena disaat itu aktifnya Sushumna.

Ilmu Gendam Gondoyoni. Bagi Anda yang mau menggendam pasangan untuk tunduk, lakukan di jam emas Gondoyoni ini.

Dan… bagi Anda yang mau menyedot jiwa pasangan Anda, Anda HARUS ADA di jam emas Gondoyoni ini.

Kalau untuk MEMBANGUN JIWA ANAK-ANAK kita, ini tekniknya…Pegang pipinya, atau elus kepalanya, dan katakan : “Adek/kakak, kalau sudah besar jadi Komisaris yang adil, bijaksana, kaya raya yang bermanfaat buat orang banyak dan sehat selalu ya…? Kakak/Adek, mau ya…? Lalu cium antara 2 alis…

Teknik kunci memasukkan Ilmu Gendam Gondoyoni sebagai berikut :

Gunakan Kalimat Tanya. Elus pipinya dan tanya sampai dia mengangguk. Ini kunci utamanya, ditanya sampai dia mengangguk.

Tetapi tekniknya akan sedikit berbeda jika Anda sudah menguasai pengetahuan AJI RAJAH KALACAKRA.

Anda cukup menyentuh kakinya, atau bahkan cukup memandangi wajahnya melalui foto atau sambil memegang benda-benda yang masih memiliki BAU TARGET.

Inilah mengapa disebut sebagai GONDOYONI yang artinya kekuatan GAIB yang menggunakan media BAU.

Anda secara langsung dapat melakukan INTERUPSI JARAK JAUH.

Inilah namanya Santet Cinta.

Jadi, bagaimana membentuk Jiwa seseorang yang tempatnya jauh dan mensugesti diri sendiri?

Berdoalah dengan doa-doa positif di antara jam 03.00 sampai dengan menjelang subuh.

Jika Anda bangun pukul 3 hingga 5 pagi, tandanya Tuhan sedang berusaha berbicara padamu. Jika Anda bangun di jam ini, maka dipercaya Tuhan sedang membimbingmu untuk jadi lebih baik.

SastraJendra # SaJen 

Falsafah Ajaran Sastra Jendra


Falsafah Ajaran Sastra Jendra Hayuningrat.

1. Ngelmu wadining bumi kang sinengker Hyang Jagad Pratingkah (ilmu rahasia dunia atau alam semesta yang dirahasiakan atau berasal dari Tuhan Yang Maha Esa).

2. Pangruwating barang sakalir (dapat membebaskan dan menyelamatkan segala sesuatu).

3. Kawruh tan wonten malih (tiada ilmu pengetahuan lain lagi yang dapat dicapai oleh manusia).

4. Pungkas-pungkasaning kawruh (puncak dari segala ilmu pengetahuan atau setinggi-tingginya ilmu yang dapat dicapai oleh manusia atau seorang sufi).

5. Sastradi (ilmu yang luhur).

Kasampurnaan urip yaitu 

1. Tapaning jasad

Sikap ini berarti mengendalikan/menghentikan daya gerak tubuh atau kegiatannya. Disini seseorang seharusnya jangan merasa iri, dengki, sakit hati atau menaruh dendam kepada siapapun. Segala sesuatu itu, baik ataupun buruk, harus bisa diterima dengan kesungguhan hati dan sikap yang ikhlas.

2. Tapaning hawa nafsu

Sikap ini berarti mengendalikan hawa nafsu atau sifat angkara murka yang ada di dalam diri pribadi. Pada tahap ini seseorang itu hendaknya selalu bersikap sabar, ikhlas, murah hati, berperasaan mendalam (tenggang rasa, welas asih), suka memberi maaf kepada siapa pun, juga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, ia juga sudah bisa memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh, dan berusaha sekuat tenaga kearah ketenangan (heneng), yang berarti tidak dapat diombang-ambingkan oleh siapa atau apapun juga, serta berada dalam kewaspadaan (hening).

3. Tapaning budi

Sikap ini berarti selalu mengingkari perbuatan yang hina, tercela dan segala hal yang bersifat tidak jujur (munafik). Pada tahap ini, seseorang itu harusnya sudah berbudi pekerti yang luhur, memiliki sopan santun, sikap rendah hati dan tidak sombong, tidak pamer dan pamrih, serta selalu berusaha untuk bisa berbuat baik kepada siapapun.

4. Tapaning suksma

Sikap ini berarti memenangkan jiwanya. Jadi pada tahapan ini hendaknya kedermawanan seseorang itu diperluas. Pemberian sesuatu kepada siapapun juga harus berdasarkan keikhlasan hati, seakan-akan sebagai persembahan khusus, sehingga tidak mengakibatkan kerugian bagi siapapun. Singkat kata, ia tidak lagi pernah menyinggung perasaan orang lain.

5. Tapaning cahyo

Sikap ini berarti seseorang itu selalu eling lan waspodho (ingat dan waspada) serta mempunyai daya meramal/memprediksikan sesuatu secara tepat. Jangan sampai kabur atau mabuk, karena keadaan cemerlanglah yang dapat mengakibatkan penglihatan yang serba samar (tidak jelas) dan saru (tidak baik, tidak sopan, tidak tepat, tercela) menjadi jelas. Lagi pula setiap kegiatannya harus selalu ditujukan untuk kebahagiaan dan keselamatan umum. Jauh dari urusan materi duniawi.

6. Tapaning gesang

Sikap ini berarti selalu berusaha sekuat tenaga dan hati-hati untuk bisa menuju pada kesempurnaan hidup. Hal ini bisa terjadi, ketika seseorang sudah melalui ke lima jenis tapa sebelumnya. Dan ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa disini adalah yang paling utama, mengingat hanya dari Tuhanlah kebenaran yang mutlak itu berasal.