Hakikat Diri
Anda adalah Tuhan yang memakai identitas. Sama seperti batu yang dipahat menjadi patung. Batu itu kemudian “lupa diri”, merasa dirinya adalah patung. Padahal patung itu sebenarnya tidak ada. Yang ada tetap batu. Bahkan ketika bentuknya sudah menjadi patung, Hakikatnya tetap batu.
Begitu juga Anda. Anda dan Tuhan seperti itu. Karena Anda berwujud, punya nama, punya identitas, Anda lalu menganggap diri Anda manusia. Identitas inilah yang menutupi yang sejati. Akhirnya Anda mencari Tuhan. Anda berguru, beribadah, meditasi, zikir, dan melakukan berbagai ritual untuk bertemu Tuhan. Padahal yang Anda cari itu adalah diri Anda sendiri.
Anda hanya sedang terilusi. Kesadaran Anda terjebak pada bentuk, nama, dan label.
Kekayaan juga sama. Anda sudah kaya sejak awal. Tapi Anda terilusi oleh pemahaman yang diberikan oleh lingkungan, orang tua, sekolah, guru, dan sistem kehidupan. Anda diajarkan bahwa Anda belum cukup, belum punya, belum kaya. Akhirnya Anda merasa miskin. Padahal Anda adalah kekayaan itu sendiri. Anda sudah kaya, hanya belum sadar bahwa Anda kaya. Anda sudah Tuhan, hanya belum sadar bahwa Anda Tuhan. Tapi Anda merasa manusia. Disinilah letak masalahnya. Masalah sebenarnya bukan soal kaya, bukan soal Tuhan. Karena Anda sudah itu semua.
Masalahnya adalah kesadaran Anda yang terpeleset. Kesadaran sejati adalah sadar bahwa Anda Tuhan, sadar bahwa Anda kaya. Itulah kesadaran yang sebenarnya.
Namun kesadaran ini dimanipulasi oleh dunia. Sehingga Anda justru sadar: “aku manusia” dan “aku miskin”. Padahal itu bukan hakikat Anda. Itu hanya hasil dari identitas yang Anda percayai.
Hakikat diri sejati adalah kesadaran batin, roh, atau esensi ilahiah yang tak terkondisi di dalam diri manusia, melampaui tubuh fisik, ego, dan pikiran sementara. Ia merupakan "aku" yang sesungguhnya (Rohullah) yang bersifat suci, abadi, dan terhubung langsung dengan Tuhan, yang sering kali tersembunyi di balik jati diri palsu/sosial.
