Makrifat bukan hasil kekuatan diri. Ia lahir dari kerendahan hati yang tahu bahwa jalan ini pernah dilalui oleh mereka (para nabi, para waliyullah, para leluhur, guru serta orang tua) yang memiliki kesucian dan kemuliaan akhlak .. .Disitulah tawasul berdiri.
Tawasul bukan meminta jalan pintas. Tapi memahami asal usul ..Bukan pula menggantungkan diri pada manusia.... tapi menjalin kasih.Ia akan menghubungkan kesadaran kepada mata rantai cahaya dalam bentuk kesadaran hingga keteladanan nyata yang telah terbukti setia dan lurus. Seperti berjalan di samudera,....kita tidak menantang gelombang sendirian. Karena Kita berjalan dengan jejak "mereka" yang lebih dulu mengenal arus.......
Dalam tawasul, ego ditaruh. Keakuan dilembutkan. Hingga pintu makrifat sejati mulai terbuka. Bukan karena nama yang disebut, melainkan karena sikap batin dan kemuliaan akhlak ...
Saat Tawasulan dilakukan dengan khidmat, hati menjadi tenang, arah menjadi jelas, dan langkah tidak lagi ragu.
Makrifat yang lahir dari tawasul bukan makrifat yang menyendiri, melainkan makrifat yang berakar. Ia tidak melayang, dan meraba-raba juga tidak liar,....tidak memutus adab.....
Tawasul menjaga makrifat agar tidak berubah menjadi kesombongan halus. Ia mengingatkan bahwa cahaya bukan milik pribadi....tapi saling mencahayai dan menerangi ..
Di puncak makrifat, tawasul tidak lagi diucapkan, namun hidup dalam sikap hormat dan khidmat pada yang lebih dahulu,..rendah hati pada sesama...tunduk pada Sang Maha pemilik semesta. Dan di sanalah makrifat menjadi utuh bukan sekedar sadar, tetapi selamat.
Karena makrifat tanpa tawasul mudah menjadi kering. Dan tawasul tanpa makrifat mudah menjadi kebiasaan kosong. Keduanya menyatu seperti cahaya dan jalan.
Yang satu menuntun, yang lain menyinari......
