Kejawen Jalan Sunyi Orang Jawa Menuju Sang Sumber.
Namun disini sesungguhnya yang dimaksud Jawa itu bukanlah Suku dan bukan pula Etnis ataupun klenik seperti yg dari dulu dipropagandakan oleh pihak pihak yg berkepentingan berusaha mengkerdilkan dan mengkaburkan istilah jawa agar anak turunnya terputus keterikatannya dg tanah air, trah atau garis darah leluhur yg telah menjadikan ia bisa ada didunia. Demi mempropagandakan ajarannya bisa dengan mudah diterima serta moncer serta mendominasi di bumi nusantara. Karena hakekat jawa itu maknanya adalah Sadar dan paham serta Nggenah atau tepak.
Siapapun yg terlahir dari bangsa apapun, baik bangsa arab, bangsa negro ataupun bule, atau bangsa lain dari belahan dunia manapun, baik itu dari suku sunda. Sasak, madura, bugis, atau yg lain. jika sadar dan paham serta memiliki watak perilaku kelakuan yg nggenah/tepak, bijak andhap asor, welas asih, punya tatakrama, bisa menghargai perbedaan, punya unggah ungguh, subasita trapsila, Maka orang itu pasti adalah orang jawa atau mereka yg njawani.
Namun sebaliknya meskipun sesorang terlahir dari ortu bapak ibu wong jawa . Jika watak kelakuan dan perilakunya tak tepak tak nggenah. Ngawur, takabur, sombong, tak tahu aturan serta tak bisa menghargai perbedaan. dapat dipastikan bukanlah orang/ dudu wong jawa. Karena ora njawa.
Kejawen bukanlah agama.
Kejawen bukan pula aliran kepercayaan.
Kejawen adalah laku, adalah rasa, adalah kesadaran semesta.
Kejawen adalah cara orang Jawa atau orang mana saja, dari bangsa manapun didunia yg sudah sadar dan memiliki kesadaran serta paham betul dalam mengEsakan dan menyembah Tuhan, tanpa perlu banyak suara. Hanya dengan hening, tirakat, dan rasa. Kejawen mengantar manusia pulang ke Sang Sumber.
Dari Mana Kejawen Berasal?
Jauh sebelum datangnya Hindu, Buddha, dan Islam. Orang Jawa sudah mengenal Tuhan Yang Maha Ada, yang disebut Sang Hyang Taya Yang tidak berbentuk, tidak bernama, tapi menyelimuti seluruh semesta.
Akar dari Kejawen dikenal sebagai Kapitayan, warisan Spiritual tua yang tidak menyembah patung, tidak membangun candi, tak menyembah batu , tapi bersujud di dalam hati.
Kejawen Menyerap, Bukan Menolak. Saat Hindu dan Buddha datang, Kejawen tidak menolak, ia menyerap. Konsep Manunggaling Kawula lan Gusti pun lahir: “Ketika hamba menyatu dengan Tuhannya.”
Dan Kejawen bertemu dengan tokoh-tokoh agung seperti : Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Sela, Yang mengajarkan bahwa:Tuhan tidak jauh, Ia ada dalam napasmu.dan ada disegala aspek kehidupan.
Apa Ciri Kejawen?
Tidak mencari surga. Tidak takut neraka.
Tidak pula mencari validasi dari siapapun.
Tidak mengejar kuantitas tapi mengutamakan kualitas.
Meski boleh diikuti namun tidak mencari pengikut.
Tujuannya satu: pulang ke asal muasal.
Jalannya: semedi, tapa, tirakat, eling lan waspada. Kepercayaannya dan kitab atau pedoman yg dijadikan bacaan alam semesta seisinya. Tanpa tulisan tapi dapat dibaca. Alam adalah cermin Ilahi.
Sikapnya : hening, tidak banyak bicara, tapi dalam rasa. Kejawen tidak bertanya:“Apa agamamu?” Tapi bertanya : “Apakah batinmu sudah jernih?”
Kejawen Hari Ini. Kejawen tidak mati. Ia hidup dalam : Slametan -- Sedekah bumi -- Tembang macapat.
Doa di puncak gunung dan tepi laut. Bahkan dalam diam para orang tua yang menabur bunga sambil berbisik lirih di makam leluhur.
Kejawen bukan masa lalu. Ia adalah jalan pulang, Jalan untuk menjadi manusia sejati, Yang mengenal dari mana ia datang, dan ke mana ia akan kembali….Sangkan paraning dumadi. (Asal dan tujuan kehidupan).
Rahayu.
Semoga kesadaran ini kembali tumbuh di hati anak-anak Nusantara. Bukan untuk membanggakan budaya. Tapi untuk menyadari bahwa kita semua berasal dari yang Satu.
