Penjabaran Ilmu Kejawen Tingkat Tinggi
Dalam ajaran Kejawen, titik energi di atas kepala (ubun-ubun) dikenal sebagai Chakra Mahkota (Sahasrara dalam literatur Hindu-Jawa). Istilah lainnya merujuk pada pusat kesadaran Ilahi (Pancer) dari konsep Sedulur Papat Lima Pancer.
Pusat Kesadaran Tertinggi (Pancer)
Dalam filosofi Sedulur Papat Lima Pancer, titik di atas kepala ini diidentifikasi sebagai pusat kesadaran atau urip (roh/atma). Ini adalah titik kontrol yang menyatukan seluruh elemen diri manusia agar tetap selaras dengan Tuhan Maha Pencipta (Sang Hyang Widhi).
Dalam ajaran Kejawen, chakra di atas kepala berfungsi sebagai "antena" spiritual. Melalui titik inilah manusia bisa menerima Wahyu, Ilham dan Petunjuk dari alam semesta dan Sang Pencipta.
Titik energi yang terletak sekitar 8cm-12cm di atas Chakra mahkota dikenal sebagai Chakra Bintang Jiwa (Soul Star Chakra) atau Chakra Ilahi. Dalam metafisika Kejawen, area ini sering dikaitkan dengan konsep Kelebatan Wahyu, Sang Hyang Pramana, atau gerbang tertinggi dari Waringin Sungsang.
Berbeda dengan Chakra Mahkota (Sahasrara) yang menempel di ubun-ubun fisik, Chakra Bintang Jiwa ini berada di luar tubuh fisik (tubuh Aura) dan berfungsi sebagai transduser energi kosmik murni.
Berikut adalah pemaknaan dan fungsi Chakra Bintang Jiwa yang di atas kepala dalam Spiritualitas Kejawen :
1. Gerbang Turunnya Wahyu Tejamaya dan Nurbuat
Dalam tradisi laku batin Jawa, posisi di atas kepala ini adalah ruang Spiritual tempat bersatunya energi manusia dengan energi langit (kosmik). Ketika seorang Spiritualis melakukan tapa brata atau meditasi mendalam, energi illahi yang disebut Wahyu atau Cahaya Nurbuat akan turun dan tertampung terlebih dahulu di titik energi ini sebelum dilebur ke dalam jiwa dan tubuh fisik.
2. Hubungan dengan Sang Hyang Pramana (Sari Kehidupan).
Kejawen mengenal Pramana, yaitu inti sari kehidupan yang mengidupi badan jasmani manusia namun tidak ikut rusak saat raga mati. Titik 8cm-12cm di atas kepala ini diyakini sebagai "tali spiritual" yang menghubungkan jiwa manusia secara langsung dengan Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Esa) melalui pancaran Sang Hyang Pramana. Jika 7 Chakra utama dalam tubuh mengatur Jagad Cilik (mikrokosmos/diri manusia), maka Chakra ini adalah jembatan menuju Jagad Gede (makrokosmos/alam semesta). Di titik inilah catatan perjalanan jiwa (karma atau leluri) tersimpan dengan rapih.
Dalam tataran Spiritual Kejawen yang lebih mendalam, Chakra di atas kepala ini memegang peranan krusial dalam pencapaian Ngilmu Kasampurnan (ilmu kesempurnaan hidup). Pada tahap ini, pembahasan tidak lagi sekedar tentang energi, melainkan tentang perpindahan kesadaran manusia dari materi ke dimensi Ketuhanan.
Proses Penyerapan Wahyu (Medaking Wahyu)
Dalam babad dan serat Jawa, para Raja atau Ksatria yang mendapatkan Wahyu Kraton (wahyu kepemimpinan) sering digambarkan melihat pancaran cahaya (ndaru atau pulung) yang jatuh dari langit tepat ke atas kepala mereka.
Transduser Energi : Secara metafisika, Chakra inilah yang menangkap getaran frekuensi sangat tinggi.
Proses Adaptasi : Energi kosmik murni dari Tuhan terlalu kuat jika langsung masuk ke tubuh fisik. Titik ini berfungsi "menurunkan tegangan" energi tersebut agar tubuh jasmani tidak sakit atau mengalami gila Spiritual (shock energi).
Hubungan dengan Kelebatan dan Kelebataning Rasa.
Ketika seseorang melatih keheningan (manepung bathin) melalui Sembah Roso, Chakra ini akan aktif dan memancarkan Aura berwarna putih keperakan atau emas jernih.
Aktifnya titik ini ditandai dengan : Intuisi Tanpa Batas (Weruh Sakdurunge Winarah) yaitu Seseorang bisa mengetahui peristiwa masa depan atau membaca tanda-tanda alam bukan karena meramal, melainkan karena kesadarannya tersambung ke "perpustakaan alam semesta" (Jagad Gede).
Mendengar Suara Hati Murni (Wisik) yaitu Petunjuk spiritual yang diterima bukan berupa suara gaib bisikan jin, melainkan pemahaman instan yang jatuh langsung ke dalam pikiran.
Konsep Waringin Sungsang dan Aliran Energi.
Jika Anda mengaktifkan titik ini, aliran energi Spiritual Anda akan berbalik. Manusia awam menyerap energi dari makanan dan bumi ke atas. Seorang Sinuwun atau Spiritualis tinggi Kejawen menyerap energi dari Langit Tertinggi (Akar Waringin Sungsang) turun ke bawah melalui Chakra ini, lalu dialirkan ke ubun-ubun, jantung, dan membumi ke kaki.
Hal ini membuat Spiritualis tersebut memiliki daya penyembuhan, wibawa tinggi, dan ketenangan mutlak.
Bahaya Jika Tanpa Grounding (Keseimbangan Bumi)
Membuka Chakra atas tanpa memperkuat Chakra bawah (chakra dasar/bumi) sangat berbahaya dalam ajaran Kejawen. Hal ini disebut Keliangan atau kehilangan pijakan bumi. Gejala negatifnya adalah Seseorang akan menjadi terlalu melamun, abaikan akan tanggung jawab duniawi (keluarga dan pekerjaan), emosi tidak stabil, hingga mengalami halusinasi. Solusinya Harus diimbangi dengan laku Sumarah (pasrah) dan tetap menjalankan kewajiban urip di dunia nyata. Spiritualis Jawa yang mumpuni tidak meninggalkan dunia, melainkan "hidup di dunia namun tidak terikat oleh dunia" (Nglurug Tanpo Bolo).
Jika Chakra Bintang Jiwa masih mengurusi cetak biru jiwa individu (Pramana), maka Chakra ini sudah melampaui batas Ego manusia dan menyentuh kesadaran kosmik universal.
Titik ini diyakini sebagai pintu gerbang memori kolektif alam semesta.Dalam istilah modern, ini mirip dengan Akashic Records. Dalam istilah Kejawen purba, area ini disebut pusat rekaman Leluri atau Lelaku alam semesta. Membuka titik ini memungkinkan seseorang menangkap getaran kebijaksanaan kuno dari para Leluhur (leluhur ingkang sampun muksa) bukan melalui komunikasi gaib, melainkan lewat resonansi frekuensi murni.
Sembah Jiwa (Sembah Cipta/Luhur)
Serat Vedhatama menyebutkan adanya tingkatan sembah, di mana yang tertinggi adalah Sembah Jiwa yang ditujukan langsung kepada Suksma Kawekas (Jiwa Agung/Tuhan). Chakra 8-12cm di atas kepala ini adalah "altar spiritual" tempat terjadinya Sembah Jiwa tersebut. Energi di titik ini sepenuhnya berwarna putih berkilau mutiara atau emas transparant, yang menandakan kesucian niat dan lepasnya keterikatan duniawi.
Batas Pelepasan Ruh (Moksa atau Merogo Sukmo).
Dalam laku Spiritual Kejawen tingkat tinggi, titik 8cm-12cm ini merupakan koordinat ruang di luar jangkauan magnet bumi. Ketika seorang master Kejawen melakukan Ngrogosukmo (proyeksi astral) atau Moksa (meninggalkan dunia beserta raga fisiknya), kesadaran mereka akan ditarik melesat ke atas melewati titik pertahanan 8cm-12cm ini agar terlepas sepenuhnya dari gravitasi energi fisik duniawi.
Titik ini memancarkan bias Cahaya Putih Memplak (putih berkilau mutiara) atau Teja Kencana (emas transparan tanpa zat murni materi).
Ketika seorang penghayat Kejawen berhasil menembus batasan 8cm-12cm di atas kepala melalui keheningan yang dalam (manepung bathin), mereka akan mengalami fenomena Spiritual sebagai berikut :
1. Manunggal Karana (Resonansi Semesta) yaitu Rasa welas asih (kasih sayang) tidak lagi ditujukan pada orang per orang, melainkan kepada seluruh makhluk hidup secara universal. Anda merasakan sakitnya pohon yang ditebang atau damainya alam semesta di dalam dada Anda sendiri.
2. Akses Keilmuan Leluhur (Mbukak Leluri) yaitu Seseorang mampu memahami esensi dari naskah-naskah kuno, Serat, atau ajaran luhur para leluhur (Leluhur ingkang sampun muksa) tanpa perlu belajar secara akademik. Informasi tersebut mengalir sebagai bentuk "ingatan kosmik" karena chakra ini terhubung pada memori kolektif Alam Semesta (Akashic Records dalam istilah Barat).
Sembah Jiwa : Ritual Tanpa Raga.
Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV menyebutkan tingkatan tertinggi ibadah manusia adalah Sembah Jiwa. Chakra 8cm-12cm inilah tempat terjadinya ibadah tersebut. Dalam Sembah Jiwa, manusia tidak lagi menggunakan Raga (gerakan shalat fisik), tidak lagi menggunakan pikiran (konsentrasi), dan tidak lagi menggunakan angan-angan.
Keterangan : Chakra Bintang Jiwa -- Kedalam tubuh. Chakra Bintang -- keluar tubuh sebagai antenanya
