Lelaku Marang Gusti

Nasehat-Nasehat Penuh Hikmah dari Kyai Muhammad Joyo Kongidun Ploso Klaten Kediri

Ada saat dalam hidup ketika manusia berhenti dari segala riuhnya, bukan karena dunia telah selesai, tetapi karena hatinya lelah memikul sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pahami. Di situlah sunyi mulai berbicara. Sunyi yang tidak hanya mengosongkan telinga, tetapi menelanjangi jiwa—memperlihatkan betapa rapuhnya “aku” yang selama ini diagungkan.

Pitutur kanggo wong kang lelaku marang ma’rifatullah, sebagaimana disampaikan oleh Kyai Muhammad Joyo Kongidun Ploso Klaten Kediri—seorang Mursyidul Kamil Mukammil Thariqah Syatthariyah dari jalur Kyai Ageng Muhammad Besari Tegalsari Ponorogo—bukan sekadar rangkaian kata, melainkan peta sunyi bagi jiwa yang ingin pulang kepada Gusti.

Dalam kesunyian seperti itulah, nasihat para ahli hati terasa seperti cahaya yang tidak menyilaukan, namun perlahan menembus relung terdalam. Di antara suara-suara itu, pitutur dari Kyai Muhammad Joyo Kongidun hadir dengan kelembutan yang dalam, seperti tangan yang tidak memaksa, tetapi menggandeng pelan seorang hamba yang tersesat dalam dirinya sendiri.

Beliau tidak berbicara dengan retorika tinggi, tetapi setiap kalimatnya seperti cermin—memantulkan keadaan hati kita yang sebenarnya. “Resikana atimu luwih dhisik, awit ati kang reged ora bakal bisa nampa cahyaning Pangeran.” Bersihkanlah hatimu terlebih dahulu, karena hati yang kotor tidak akan mampu menerima cahaya Tuhan.

Kalimat itu terdengar sederhana, namun jika direnungkan dalam keheningan, ia seperti pisau yang mengiris pelan kesadaran kita. Betapa selama ini kita sibuk memperbaiki dunia luar, tetapi lupa bahwa sumber segala gelap justru bersarang di dalam dada. Allah telah mengingatkan: “Yawma la yanfa’u malun wa la banun illa man atallaha bi qalbin salim”—pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali mereka yang datang dengan hati yang bersih.

Namun membersihkan hati bukan perkara mudah. Ia bukan sekedar meninggalkan dosa lahir, tetapi juga menghadapi bayang-bayang tersembunyi: riya’ yang halus, ujub yang tak terasa, hasad yang diam-diam tumbuh dalam diam. Dan sering kali, yang paling sulit ditinggalkan bukan dosa besar, tetapi rasa ingin dipandang baik oleh manusia.

Dalam perjalanan itu, Kyai Muhammad Joyo Kongidun mengingatkan dengan penuh kebijaksanaan: “Aja ngoyak rasa lan kahanan kang aneh-aneh. Sing penting kuwat ing istiqamah, sanadyan cilik nanging ajeg.” Jangan mengejar rasa dan keadaan yang aneh-aneh. Yang penting adalah istiqamah, walau kecil namun terus menerus.

Di sinilah banyak orang tergelincir. Mereka ingin merasakan “sesuatu”—ingin menangis dalam dzikir, ingin mengalami getaran ruhani, ingin merasa dekat dengan Tuhan dalam sensasi yang luar biasa. Padahal, jalan ini bukan tentang rasa, tetapi tentang setia. Rasulullah ﷺ bersabda: “Ahabbul a’mali ilallahi adwamuha wa in qalla”—amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus meskipun sedikit.

Istiqamah adalah bukti cinta yang sunyi. Ia tidak riuh, tidak dramatis, tetapi justru di situlah kemurniannya. Karena ia dilakukan bukan untuk dirasakan, tetapi untuk dipersembahkan.

Lalu nasihat itu menjadi semakin dalam, semakin mengguncang, ketika beliau berkata: “Sing kudu sirna iku dudu awakmu, nanging rasa ‘aku’-mu. Yen isih ana rumangsa luwih, durung tekan dalane.” Yang harus hilang itu bukan dirimu, tetapi rasa “aku”-mu.

Betapa kalimat ini seperti menggugurkan seluruh bangunan kesombongan yang kita pelihara selama ini. Kita mungkin merasa telah beribadah, merasa telah dekat, merasa lebih baik dari orang lain—namun justru perasaan itu menjadi hijab paling tebal antara kita dan Allah.

Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu pernah mengingatkan: “Halaka fiya ithnani: muhibbun ghalin wa mubghidhun qalin”—celaka dua golongan terhadapku: yang berlebihan dalam mencinta dan yang berlebihan dalam membenci. Sebuah peringatan agar manusia tidak melampaui batas, termasuk dalam memandang dirinya sendiri.

Selama “aku” masih berdiri tegak, maka cahaya tidak akan sepenuhnya masuk. Karena cahaya Ilahi hanya menetap di hati yang hancur, yang tidak lagi merasa memiliki apa-apa.

Perjalanan ini tidak bisa ditempuh sendirian. Ada saat di mana seseorang merasa cukup dengan ilmunya, merasa mampu berjalan tanpa bimbingan. Namun di situlah jebakan paling halus bekerja. Karena ego bisa menyamar menjadi petunjuk, dan hawa nafsu bisa tampil seolah-olah cahaya.

Kyai Muhammad Joyo Kongidun menasihati: “Goleka kanca lan guru kang bisa nuntun atimu eling marang Gusti, aja mlaku dhewe tanpa tuntunan.” Carilah sahabat dan guru yang mampu menuntun hatimu mengingat Allah, jangan berjalan sendiri tanpa bimbingan.

Imam Al-Ghazali pernah merasakan kegelisahan yang begitu dalam hingga ia meninggalkan kemegahan ilmunya demi mencari kejujuran hati. Ia menyadari bahwa ilmu tanpa bimbingan ruhani hanya akan melahirkan kesombongan yang lebih halus.

Dan ketika hati mulai dilatih, dzikir menjadi jalan yang menghidupkan. Namun dzikir yang dimaksud bukan sekadar suara di bibir. “Dzikir iku dudu mung ing ilat, nanging kudu tumetes tekan ati, nganti dadi napas ing uripmu.”

Allah berfirman: “Ala bidzikrillahi tathma’innul qulub”—ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Ketika dzikir telah menjadi napas, ia tidak lagi membutuhkan suara. Ia hidup dalam diam, dalam detak, dalam setiap hela nafas yang tak terlihat.

Namun jalan ini panjang. Tidak semua orang kuat bertahan ketika ujian datang tanpa jeda. Ada masa di mana doa terasa kosong, ibadah terasa hambar, dan Allah seakan jauh. Padahal justru di situlah cinta sedang diuji.

Dengan penuh kelembutan, beliau mengingatkan: “Aja kesusu kepengin tekan pungkasan. Lelaku iki dawa lan kebak ujian, sing sabar bakal dituntun alon-alon.” Jangan tergesa ingin sampai. Perjalanan ini panjang dan penuh ujian. Yang sabar akan dituntun perlahan. Allah berfirman: “Innallaha ma’ash-shabirin”—sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Bersama, bukan berarti tanpa luka, tetapi ditemani dalam setiap luka.

Dan pada akhirnya, seorang hamba akan sampai pada satu titik yang paling sunyi: pasrah. “Pasrah lan ridha iku kunci. Kabeh sing kok alami iku bagean saka piwulangipun Gusti.” Pasrah dan ridha adalah kunci. Semua yang engkau alami adalah bagian dari pelajaran Tuhan. Di titik ini, manusia berhenti menuntut. Ia tidak lagi bertanya “mengapa”, tetapi mulai memahami bahwa setiap peristiwa adalah bahasa cinta yang sering kali tidak ia mengerti.

Namun semua itu akan runtuh jika adab ditinggalkan. “Adab iku luwih dhuwur tinimbang ilmu. Yen adabmu rusak, dalanmu bakal ketutup.” Adab lebih tinggi daripada ilmu. Imam Malik pernah berkata: “Pelajarilah adab sebelum ilmu.” Karena ilmu tanpa adab hanya akan menjauhkan, bukan mendekatkan.

Dan akhirnya, seluruh perjalanan ini ditutup dengan satu kesadaran yang paling menggetarkan, sebagaimana diungkapkan oleh Kyai Muhammad Joyo Kongidun dengan kalimat yang begitu sederhana namun menghunjam: “Sejatine, lelaku iki dudu nambah apa-apa, nanging ngilangke kabeh sing nutupi Gusti ing njero atimu.”

Perjalanan ini bukan tentang menjadi lebih, tetapi tentang mengurangi. Mengurangi ego, mengurangi keterikatan, mengurangi segala sesuatu yang menutupi cahaya Allah dalam diri. Hingga suatu saat, dalam sunyi yang paling dalam, seorang hamba menyadari bahwa yang selama ini ia cari ternyata tidak pernah pergi. Bahwa Allah tidak pernah jauh—hanya hatinya yang terlalu penuh oleh dirinya sendiri.

Dan ketika “aku” itu runtuh, ketika air mata jatuh tanpa alasan yang bisa dijelaskan, ketika dada terasa sesak oleh rindu yang tak bernama—mungkin di situlah awal dari pertemuan yang sesungguhnya. Sebuah pertemuan yang tidak terdengar, tidak terlihat, tetapi dirasakan oleh hati yang telah lama belajar kehilangan dirinya.