Tasawuf Mistis

Pemikiran Tasawuf Hazrat Inayat Khan 

Antara tasawuf dan mistisisme memiliki kesamaan fundamen, karena antara keduanyasama-sama berupaya menyingkap rahasia misteri alam esoteris (metafisis) yang non empirik dan merasakannya sebagai suatu pengalaman dan perjalanan yang menarik.

Tasawuf yang berdimensi mistis akan mengantarkan manusia pada nilai -nilai primordial yang universal dan fundamen bagi seluruh manusia. Relasi antara tasawuf dan mistisisme dalam pemikiran Hazrat inayat Khan tertuang dalam sepuluh kesatuan universal sebagai prinsip tasawuf yang diyakininya, yaitu : Satu Tuhan, meski dalam berbagai nama. Satu Guru Sejati mesti hadir dalam berbagai sosok Kesatuan kitab suci(manuskrip alam), Kesatuan agama (jalan kebenaran), Kesatuan persaudaraan manusia, Kesatuan prinsip moral (cinta), Kesatuan dalam obyek pujian (keindahan), Kesatuan kebenaran sejati (pengetahuan yang esensial tentang diri), Satu jalan kemanusiaan (pelenyapan ego palsu menuju ego yang sejati).

Prinsip dasar sufisme yang diutarakan oleh Hazrat Inayat Khan, secara garis besar menggambarkan kepada kita akan kesatuan wilayah esoteris sekalipun berangkat dari keragaman eksoteris. Inayat Khan adalah seorang penganjur tasawuf mistis, tasawuf universal yang didasari oleh nilai-nilai perenial yang terkandung dalam semua agama. Dengan konsep-konsep Tasawufnya Hazrat Inayat Khan ingin menjadikan tasawuf sebagai media yang mengantarkan kita pada kearifan sejati tanpa mesti terjebak pada sekat-sekat agama, sekte, keyakinan, pemahaman, maupun rasial. 

Karena sesungguhnya secara prinsipil kita adalah satu dan bergerak menuju tujuan yang satu. Hanya cara kita mengekspresikannya saja dalam ranah eksoteris yang berbeda-beda.


Tasawuf Medsos

Tasawuf dari medsos -  Jalan Cahaya atau Tipu Daya Ego?

“Banyak yang menangis karena tasawuf di medsos...tapi sedikit yang benar-benar berubah". "Kalau hatimu pernah tersentuh, jangan lewatkan. Dengarkan sampai akhir... lalu jujurlah pada dirimu". 

Belajar Tasawuf dari media sosial tidak salah. Yang berbahaya adalah saat ego merasa sudah sampai. Tasawuf bukan tentang paham, tapi tentang hilangnya rasa diri. Kalau setelah menonton kau merasa lebih tinggi, itu bukan cahaya-itu jebakan halus.

Murid : Guru... izinkan aku bertanya dengan jujur. Di zaman ini, banyak orang belajar Tasawuf dari media sosial. Video singkat, potongan hikmah, kutipan para sufi. Apakah itu salah, Guru? Apakah aku sedang tersesat tanpa sadar?

Guru : Anakku... yang salah bukan medianya. Yang berbahaya adalah perasaan sudah sampai hanya karena menonton jalan.

Murid : Tapi Guru... kata-kata itu indah. Hatiku bergetar. Air mataku jatuh. Aku merasa dekat dengan Tuhan ketika mendengarnya.

Guru : Tentu saja. Api kecil pun bisa menghangatkan tangan. Namun apakah api kecil cukup untuk memasak perjalanan hidupmu?

Murid : Jadi rasa haru itu... belum hakikat?

Guru : Rasa haru adalah pintu, bukan rumah. Tasawuf bukan tentang menangis di depan layar, tetapi tentang siapa yang kau bawa ketika layar dimatikan.

Murid : Lalu mengapa banyak orang merasa tercerahkan hanya dari medsos?

Guru : Karena ego pandai menyamar sebagai Cahaya. Ia berbisik, "Aku sudah mengerti". Padahal yang mengerti baru akal, sementara hati belum disentuh disiplin.

Murid : Apakah para Sufi dulu tidak berbagi hikmah?

Guru : Mereka berbagi, tetapi setelah muridnya DIBERSIHKAN. Kata-kata Sufi  tanpa “adab” ibarat pedang di tangan anak kecil, indah berkilau, tapi melukai diri sendiri.

Murid : Jadi medsos itu haram bagi penempuh jalan?

Guru : Tidak. Medsos adalah cermin. Ia memantulkan siapa dirimu sebenarnya. Jika setelah menonton kau makin rendah hati, makin takut pada riya, makin rajin menyapu hatimu itu tanda kau mengambil manfaat. Namun jika setelah menonton kau sibuk berdebat, merasa lebih paham dari orang lain, merasa "lebih sadar".  Ketahuilah, yang tumbuh bukan ruh, tapi kesombongan halus.

Murid : Aku mulai mengerti...jadi apa posisi medsos dalam tasawuf, Guru?

Guru : la seperti azan dari kejauhan. la mengingatkan waktu shalat, tapi tidak menggantikan shalat itu sendiri. Tasawuf hakikatnya adalah: lapar yang ditahan, marah yang diredam, pujian yang ditolak, dan dosa yang diakui diam-diam.

Murid : Lalu bagaimana aku seharusnya bersikap?

Guru : Dengarkan hikmah di medsos seperti kau mencium aroma roti, Aroma itu membuatmu lapar tapi makanlah di dapur amal. Jangan bangga dengan apa yang kau tonton. Banggalah jika egomu berkurang, jika hatimu makin sepi dari ingin dipuji.

Murid : Guru... aku takut salah jalan.

Guru : Takut itu rahmat. Yang celaka adalah yang merasa aman. Ingat baik-baik, anakku Tasawuf tidak diukur dari berapa banyak yang kau simpan di kepala, tetapi berapa banyak yang gugur dari kesombonganmu. Media sosial boleh kau dengar, boleh kau jadikan isyarat, tetapi jalan ini hanya terbuka bagi mereka yang mau dilukai oleh kejujuran pada diri sendiri.

Murid : Aku paham sekarang, Guru. Medsos hanyalah tanda di pinggir jalan.

Guru : Ya,,,.Dan yang berjalan tetap kakimu, yang letih tetap nafsumu, yang sampai—jika Allah menghendaki, hanyalah Hati yang telah hancur dan diserahkannya kembali kepada-Nya.





Tasawuf

Reptil purba, yang keluar dari air ke daratan yang hangat, harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Untuk membantu mereka, Tuhan menempatkan kelenjar pineal di tengkorak mereka, di tempat yang paling terlindungi , yang mengontrol suhu tubuh dan memiliki fungsi-fungsi lain. Organ ini disebut "mata ketiga."

Orang Yunani tampaknya memiliki pengetahuan tentangnya; Cyclops adalah bentuk Yaksha yang lebih maju. Entitas jenis ini tidak berevolusi di bidang fisik; reptil raksasa telah lama menghilang di bumi, tampaknya jauh sebelum munculnya manusia, tetapi secara psikis evolusi mereka tidak berhenti. Mengapa?

Jika dilihat dari sudut pandang hewan, ketika burung-burung muncul dengan darah hangat, mata yang tajam, sayap dan kaki sehingga mereka dapat terbang dengan cepat, mereka tidak membutuhkan kelenjar pineal untuk mengatur suhu tubuh mereka, mereka dapat bolak-balik mencari iklim yang tepat. Dengan cara ini mereka mampu memanfaatkan arus magnetik sepenuhnya, yang tidak dapat dimanfaatkan oleh reptil. Bukankah ini kondisi yang lebih tinggi, yang memungkinkan ekspresi diri yang lebih besar?

Ketika kekuatan psikis dibangkitkan di pleksus surya atau di daerah perut dan panggul, energi ditarik dari kepala dan jantung, dan ketika kehidupan ditarik ke bawah, ia tidak dapat naik. Bahkan para ilmuwan saat ini sedang mempelajari kelenjar interstisial dan meskipun mereka belum sepenuhnya mengenali fungsi-fungsi yang lebih tinggi, kita dapat melihat bahwa di sana energi materi dijiwai secara spiritual; ketika tidak hilang, ia disublimasikan dan naik ke kelenjar di kepala. Ini melengkapi evolusi psikis yang lebih tinggi, bukan sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi bagian dari perkembangan spiritual secara umum.

Pada saat yang sama, kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa semua kelenjar bergantung pada nutrisi yang mereka terima dari darah. Semakin murni jantung, semakin banyak energi kehidupan yang terkumpul, semakin tinggi fungsinya, dan semakin besar perkembangannya. Jadi, apakah seseorang menjadi pribadi yang berwibawa dengan kehangatan karakter yang berasal, katakanlah, dari kelenjar pineal, atau apakah kemampuan kreatifnya cenderung ke arah artistik dan indah, atau apakah kecerdasannya menggunakan pemikiran secara praktis atau teoritis, semua kekuatan ini, yang terkait dengan pusat-pusat di kepala, memperoleh kekuatan hidupnya dari jantung.

Kekuatan psikis dapat ditingkatkan secara signifikan melalui pengulangan frasa-frasa suci dan terlebih lagi melalui pelafalan mantra. Metode-metode ini digunakan dalam berbagai bentuk oleh berbagai aliran mistik. Di Gereja Katolik, misa memiliki nilai yang mudah diremehkan. Beberapa sekte Buddha mengulang formula suci berkali-kali; yang lain melafalkan seluruh sutra dan salah satu metode ini dapat bermanfaat. Azan atau seruan salat Islam, serta doa utama, Fateha, sangat berharga, dan orang Yahudi selalu menganggap Shema mereka memiliki kekuatan tertinggi. Kaum Zoroaster kuno menganggap setiap bentuk pengulangan kata-kata penting, dan Mantra Yoga masih memiliki pengikutnya tidak hanya di India tetapi juga dalam berbagai bentuk di kalangan umat Buddha dan Sufi.

Dari semua metode, para Sufi, yang mungkin memiliki bentuk pelatihan paling beragam dan paling toleran serta inklusif, telah menemukan praktik Zikir mereka sebagai yang paling berharga untuk merangsang pelatihan psikis tertinggi. Zikir menggabungkan nyanyian dengan pengulangan frasa yang sangat sakral. Terlepas dari pentingnya secara teoritis, hasilnya hampir tidak dapat dilebih-lebihkan. Jika seseorang benar-benar menyelidiki kehidupan orang-orang yang telah melakukan Zikir di berbagai aliran Sufisme, ia dapat dengan cepat melihat manfaat yang sangat besar bagi kaum muda dan tua yang bernyanyi, menari, dan melantunkan doa bersama atau sendirian. Mereka, di antara semua bangsa di dunia, melampaui kedangkalan bumi ini, dan mukjizat telah menjadi hal yang biasa di antara mereka.

Kemampuan melihat masa depan (clairvoyance) dan mendengar suara dari alam lain (clairaudience) bukanlah hal yang secara khusus dicari oleh seorang penyembah. Jika kemampuan itu datang, lebih baik jika datang pada tingkatan yang lebih tinggi. Seorang pengembara di jalan spiritual tidak berusaha untuk menolaknya, sama seperti ia tidak berusaha untuk menyambutnya. Ketika kemampuan itu datang secara alami, kemampuan itu dapat dikendalikan dan disesuaikan dengan situasi apa pun dalam kehidupan.

Cara terbaik untuk memahami kitab suci dan ajaran Para Suci yang telah muncul dari waktu ke waktu untuk membimbing dan membantu umat manusia, adalah dengan mengembangkan sisi intuitif kehidupan dan membangkitkan pemahaman batin. Selain itu, bukankah merupakan berkah bahwa ajaran Kitab Suci tidak diungkapkan di hadapan orang yang tidak layak? Dengan kondisi umat manusia saat ini, bukankah banyak yang tergoda untuk tidak meningkatkan pengabdian atau pemahaman, tetapi untuk berusaha mengembangkan kekuatan ajaib dan aneh; bukan untuk belajar lebih mencintai orang lain, tetapi untuk dapat menghasilkan fenomena yang akan memikat orang lain untuk menjadi pengikutnya, atau untuk mendapatkan kekaguman dari orang yang bodoh. Sesungguhnya, bahkan dalam ketidaktahuan pun terdapat kebijaksanaan!

Metode pengembangan kekuatan psikis tertinggi disajikan oleh Nabi Muhammad Saw dalam Surah XXIV, “Cahaya,” yang telah disebutkan sebelumnya. Dalam ayat 35 dikatakan: “Allah membimbing siapa yang Dia kehendaki kepada Cahaya-Nya, dan Allah memberikan perumpamaan kepada manusia, karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ayat selanjutnya dari Surat ini berbunyi: “Di dalam bait-bait yang telah Allah izinkan untuk dibangun, agar nama-nama-Nya diingat di dalamnya, manusia memuji-Nya pagi dan sore.” Ini adalah bagian yang sangat penting. Pada saat diturunkan, hanya ada satu masjid di dunia. Bait suci yang dimaksud sama dengan bait suci yang dimaksud Nabi Isa, yaitu tubuh yang hidup.

Tubuhlah yang merupakan bait Allah dan hatilah yang merupakan tempat suci Allah Yang Maha Tinggi, tempat nama Allah diingat dan tempat manusia dapat memuji-Nya pagi dan sore.

Tasawuf adalah Cinta


Bagian yang sangat mendasar dari tasawuf adalah Cinta. Mereka menganggapnya lebih tinggi dari apapun di dunia, bahkan agama.

Anda dapat mempelajari Tuhan melalui segala sesuatu dan setiap orang di alam semesta, karena Tuhan tidak terkurung di masjid, kuil, sinagoga, atau gereja. Namun jika Anda masih perlu mengetahui di mana sebenarnya tempat tinggal-Nya, hanya ada satu tempat untuk mencarinya, di hati seorang kekasih sejati.

Sufi sejati adalah seorang yang bahkan ketika ia dituduh secara tidak adil, diserang dan dikutuk dari semua sisi, ia dengan sabar bertahan, tidak mengucapkan sepatah kata pun yang buruk tentang para pengkritiknya. 

Seorang Sufi tidak pernah menyalahkan orang lain. Bagaimana bisa ada lawan atau saingan atau bahkan “orang lain” jika tidak ada “diri”? Bagaimana bisa ada orang yang patut disalahkan padahal hanya ada Satu? Guru Sufi Bawa Muhaiyaddeen mengatakan: “Hanya Allah yang dapat menyembah Allah”.



Dalil dan Tasawuf



Agama Jadi Dangkal, Karena Ulah Tokoh-tokoh agama yang Ber-Tuhankan Pada Dalil harfiah Saja. Menganggap Ilmu Tasawuf dan Spiritual itu sesat tidak punya dalil hukum. (itu pengalaman saya kalau berhadapan dengan mereka)

Ulama pewaris nabi, itu memang benar, tapi pewaris sejati meneladani juga perjalanan Nabi secara bathiniah, bukan sekadar mengutip dalil tanpa Tahu kedalamannya dan tragisnya diakhir zaman ini jumlah mereka semakin banyak dengan aliran masing-masing.

Zaman sekarang ini bukan kekurangan dalil, tapi kekurangan kejernihan hati

Ilmu, pemahaman, dan penyampaian manusia selalu terbatas karena keterbatasan akal. Maka percaya mentah-mentah pada satu suara, satu kajian saja kadang bisa menyeret pada kesesatan apalagi diucapkan pemuka agama provokatif.

Banyak yang tampak alim di luar, tapi batinnya belum tentu hidup,.tak sedikit yang sibuk mengaku : paling paham, paling benar, seolah-olah pemegang kuncinya surga dan hanya kelompoknya saja yang paling benar.

Agama tidak lahir dari Fasih nya berdalil atau pengakuan saja. Tapi secara hakekat harus hadir dari hati yang jujur, eling, dan waspada.dan mampu membawa umatnya mengenal Tuhan yang disembahNya

Peta itu dalil. Tujuan itu Makrifat. Yang tenggelam bukan karena tak punya peta, tapi karena orang tahu dalil tapi tak pernah berani meninggalkan pelabuhan dan berdebat terus tentang Tuhan di dermaga.


Jalan Sufi Dan Kebenaran Tanpa Bentuk


Jalan Sufi bukanlah terjebak dalam keyakinan bahwa satu agama atau filsafat adalah kebenaran (ini hanyalah 'pengkondisian'), tetapi mengembangkan keterbukaan yang membebaskan Anda untuk dapat mendamaikan pihak dan gagasan yang berlawanan. 

Namun, kebanyakan orang merasa nyaman di dalam 'agama' karena agama mengurung mereka di dalam dinding pemikiran dan kebiasaan mereka sendiri, tidak pernah merasakan kebebasan yang ada di baliknya

Tulisan-tulisan sufi yang berasal dari abad ke-12 dan ke-13 berbicara tentang keadaan dan prosedur psikologis tertentu yang hanya 'ditemukan' di abad ke-20 oleh orang-orang seperti Freud dan Jung

Shah mencatat bahwa 'delapan ratus tahun sebelum Pavlov', Imam Ghazali menyoroti pertanyaan pengkondisian atau indoktrinasi, yang merupakan musuh spiritualitas sejati. Kebanyakan orang tidak mandiri karena mereka menerima kepercayaan yang diberikan kepada mereka tanpa banyak pertanyaan; dalam agama mereka tidak mencari pencerahan sejati, tetapi keamanan

Tingkat mengetahui

Penulis membahas studi tasawuf sebagai gerakan 'budaya' atau 'religius', namun berpendapat bahwa mungkin untuk terlibat dalam penelitian akademis dan tetap tidak menghasilkan apa-apa yang berarti dari upaya tersebut. Dia mengutip guru Sufi Saadi dari Shiraz: "Orang terpelajar yang hanya berbicara tidak akan pernah selalu melalui cerita, legenda, teka-teki dan lelucon yg bertujuan untuk mengejutkan pikiran menjadi realisasi kebijaksanaan yang tiba-tiba.

Mistikus besar dan penyair Rumi mengatakan bahwa puisi-puisinya begitu banyak sampah dibandingkan dengan pengembangan diri individu yang sebenarnya. Apresiasi akademik seni, sastra dan agama semua sangat baik, tapi ini hanya bisa menjadi bantuan untuk tugas yang lebih besar mencapai kesufian. 

Ibnu Arabi memberi tahu para pengikutnya bahwa ada tiga bentuk pengetahuan : 

1. Intelektual/kumpulan fakta, 

2. Pengetahuan tentang keadaan/memiliki perasaan spiritual, 

3. Pengetahuan tentang Realitas sejati yang mendasari segala sesuatu. 

Ketiga ini Ibnu Arabi menulis:

“Tentang ini tidak ada bukti akademis di dunia; karena itu tersembunyi,tersembunyi dan tersembunyi." 

Shah menyertakan kutipan pendek dan sederhana dari seorang Ibnu El-Jalali yang meringkas sifat di luar agama, di luar akademik dari kebijaksanaan ini : "Sufisme adalah kebenaran tanpa bentuk."

Jalan tasawuf

Saat ini ada banyak organisasi sufi yang ada di dalam Islam, tetapi ajaran Sufi selalu meremehkan pentingnya struktur formal, termasuk agama yang terorganisir, alih-alih menempatkan perkembangan individu di atas segalanya. Penekanan pada kebenaran sebelum bentuk, pada pribadi di atas kelembagaan, yang telah memungkinkan ide-ide sufi berulang kali muncul sepanjang sejarah.

Sufisme mengakui bahwa orang memiliki kapasitas berbeda untuk memahami pembelajaran esoterik dan mistik, dan tulisan-tulisannya biasanya memiliki beberapa lapisan sehingga pembaca yang berbeda akan belajar pada tingkat yang sesuai dengan mereka.

Banyak kisah sufi mencoba menunjukkan bahwa satu-satunya kekayaan sejati yang dimiliki seseorang adalah pengetahuan dan kebijaksanaannya; yang lainnya fana. 

Murid Sufi tidak ingin terikat dengan dogma, tetapi berusaha membuka mata mereka terhadap kebenaran dalam bentuk apa pun yang muncul.

Tasawuf mencoba menunjukkan kepada kita bahwa apa yang kita anggap penting mungkin hanya depannya saja, yang dilihat dari tingkat pemikiran lain, dasar-dasar kehidupan Anda dapat dengan mudah tersapu. Bagi sebagian orang, hal ini membuat gagasan Sufi berbahaya dan tidak ortodoks. 

Namun cita-cita Sufi adalah 'Insan Kamil' orang yang 'sempurna' yang telah melihat inti kebenaran, dan dari sudut pandang ini mampu melihat kesia-siaan dan visi mayoritas yang membutakan.

Bahkan orang yang mencoba-coba tulisan sufi, meskipun kelihatannya tidak jelas dan sulit dipahami, akan menemukan perbendaharaan kebijaksanaan manusia yang kembali ke kabut waktu. Paling tidak, mengikuti jalan Sufi mengurangi kemungkinan kita berjalan sambil tidur dalam hidup.

“ Jauh di dalam laut adalah kekayaan yang tak tertandingi. Tetapi jika Anda mencari keselamatan, itu ada di pantai


Dan Maafkan......

“Jangan simpan dendam dalam hati yang ingin ditempati Allah.”

Dalam ajaran Tasawuf, hati dianggap sebagai wadah suci tempat Allah 'bersemayam' secara spiritual. Maka, hati yang dipenuhi kemarahan, dendam, atau kebencian tidak layak dijadikan tempat hadirnya cahaya Ilahi.

Maaf bukan berarti membenarkan perlakuan buruk orang lain, tapi sebagai jalan untuk melepaskan beban bathin yang memberatkan jiwa sendiri. Sufi paham bahwa ketika kita menyimpan dendam, kita sejatinya sedang menyiksa diri sendiri. Ibnu Athaillah al-Sakandari menulis dalam al-Hikam : "Tidak akan masuk cahaya ke dalam hati yang dipenuhi oleh hal-hal selain Allah." Dendam adalah salah satu hal selain Allah itu : Ia memenuhi ruang hati dengan gelapnya emosi negatif.

Mengapa Memaafkan Memberikan Ketenangan?

1. Menghapus Energi Negatif dalam Batin.

Dendam menciptakan kegelisahan berulang. Memaafkan memutus lingkaran itu.

2. Menghindari Kezaliman Batin. 

Dalam Islam, bahkan mendoakan keburukan orang yang menyakiti kita bisa jadi dzalim jika sudah berlebihan. Sufi menghindarinya dengan memilih diam atau mendoakan kebaikan.

3. Memaafkan adalah Bentuk Kepercayaan kepada Keadilan Ilahi "Saya maafkan karena saya tahu Allah Maha Adil. Biarlah Dia yang mengatur balasannya." Inilah bentuk Tawakal batiniah.

Praktik Maaf Ala Sufi, tutup hari dengan introspeksi dan berdoa :

“Ya Allah, aku lepaskan semua sakit hati ini karena Engkau lebih tahu dari apa yang aku rasa. Gantikan dengan lapang dada dan rahmat dari-Mu.” Jangan bahas ulang kesalahan orang, kecuali untuk mengambil pelajaran. 

Berlatih mendoakan orang yang menyakiti, bukan karena mereka layak, tapi karena kita ingin damai.