Nilai sering disadari setelah Kehilangan -- ketika kesadaran datang terlambat.
Tidak semua penolakan terjadi karena kebencian. Sebagian lahir dari kelalaian. Dari rasa merasa aman, merasa selalu ada waktu, merasa seseorang tak akan pergi kemana-mana. Hingga suatu hari, ketukan itu berhenti.
Rumi mengingatkan kita tentang kebutaan halus manusia : kita sering gagal menghargai kehadiran karena belum merasakan kehilangan. Nilai seseorang tidak selalu tampak saat ia setia mengetuk, melainkan terasa saat keheningan menggantikan suaranya.
Dalam Stoikisme, ini adalah pelajaran tentang kefanaan. Segala sesuatu bersifat sementara. Orang, kesempatan, dan kepercayaan tidak diwajibkan menunggu kesadaran kita. Jika kita lalai, alam akan melanjutkan perjalanannya tanpa permisi.
Filsafat hidup mengajarkan, bahwa pintu yang terlalu lama tertutup akhirnya kehilangan kesempatan terbaiknya. Bukan karena yang mengetuk kurang berharga, melainkan karena kesadaran datang terlambat. Dan penyesalan selalu tiba setelah pilihan berlalu.
Motivasi sejati bukan hanya tentang mengejar yang baru, tetapi menghargai yang sedang hadir. Mendengar sebelum sunyi. Menyambut sebelum pergi. Karena tidak semua ketukan datang dua kali, dan tidak semua yang pergi bersedia kembali. Belajarlah peka. Sebab kehilangan bukan selalu hukuman, kadang ia hanyalah konsekuensi dari kelalaian yang diabaikan.
