Sastro Jendra Hayuningrat

Sastro Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

Sastro berarti pengetahuan, ilmu pengetahuan, atau pengajaran;

Jendra adalah tempat yang mulia, adil, atau suci;

Hayuningrat melambangkan keindahan dan kemakmuran dunia;

Diyu berarti proses melepaskan kemarahan atau tekanan batin (diyu = raksasa, simbol kemarahan).

Falsafah Inti :

Sastro Jendra tidak bisa diajarkan secara kasar atau secara teori. Ilmu ini hanya bisa ditemukan melalui jalan spiritual, tirakat, dan penyatuan batin. Sasarannya adalah:

Mencapai Kesejahteraan Dalam : Jika seseorang dapat mengatasi "diyu" dalam tubuh (seperti nafsu, ambisi, keduniawian), maka ia dapat mencapai kebahagiaan abadi, keindahan dunia batin dan batin.

Menyatukan Diri dan Tuhan: Ilmu Sastro Jendra mengarahkan umat manusia untuk bersatu dengan Sumber kehidupan, Tuhan yang Kekal, tidak hanya melalui ibadah fisik tetapi melalui kesadaran yang luas.

Tahapan Kehidupan (Simbolisme dan Praktik Rohani) :

1. Laku Lahir : Maos, tirakat, tapa brata, wulan purnama, laku prihatin.

2. Perilaku batin : Berpikir secara mendalam, meditasi, memproses perasaan, melihat tanda-tanda alam, mengamati tanda-tanda alam.

3. Perasaan : Tinggalkan keegoisan, sisihkan ego, menyatu dalam perasaan, temukan kehidupan yang sesungguhnya.

Simbolisme Sastro Jendra :

Wayang semar : Lambang kebijaksanaan rasa, ingat, dan kerendahan hati.

Pegunungan: Proses kelahiran dan kembali ke asal, dari awal hingga keberadaan.

Cahaya: Simbol pencahayaan, bentuk pengakuan identitas sejati seseorang.

Pengetahuan nenek moyang Tetela Mligi : "Orang yang bersatu dengan Tuhan, tidak perlu persetujuan, karena perasaan itu sudah menceritakan siapa yang benar".

Arti Yang Bisa Dirasakan

Sastro Jendra bukanlah sesuatu yang baru, tetapi ilmu yang perlu di "bangun" dari dalam, bukan hanya dibaca tapi diamalkan. Ini bukan masalah agama, tapi masalah selera. Hal kehidupan dan kehidupan sejati.