Syaikh Asnawi Caringin Banten

Ulama Besar Banten - Mursyid Tarekat Qodariyah wa Naqsyabandiyyah - Pejuang Islam dan Kemanusiaan

Di sebuah desa bernama Caringin, Labuan, Banten, lahirlah seorang ulama yang tak sekedar berdakwah, tetapi menjadi penopang harapan umat dalam badai penjajahan. Lahir 09 November 1850 di Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, Indonesia. Nama Syaikh Asnawi bin Syaikh Abdurrahman Caringin Al Bantani juga dikenal sebagai mama Tubagus Muhammad Asnawi

Pendidikan Ilmu & Tasawuf

Sejak usia 9 tahun, ia telah dikirim ayahnya menuntut ilmu ke Mekkah, beliau menimba Ilmu agama dan ilmu Tarekat Qodariyah wa Naqsyabandiyyah dari para ulama besar terutama Syaikh Abdul Karim Tanara Banten yang juga dari Indonesia.

Setelah mumpuni beliau pulang ke Indonesia membimbing ulama-ulama Nusantara seperti Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan Kyai Cholil Bangkalan

Dalam Visi Dakwah & Peran Masyarakat

Setelah pulang ke tanah air, Syaikh Asnawi menyadari bahwa yang paling dibutuhkan umat bukan sekadar pengajian, tetapi Pembentukan akidah yang teguh,  kehidupan spiritual yang kuat melalui Dzikir dan Tasawuf, Kesadaran moral yang kokoh menghadapi penjajahan. Kemudian beliau mendirikan Madrasah Masyarikul Anwar Caringin pada 12 Mei 1930, sebagai pusat pendidikan Islam yang memberi kekuatan moral dan spiritual bagi umat. Dan merehabilitasi Masjid Agung Banten yang rusak, menggerakkan masyarakat untuk bergotong royong, dan memperbaikinya dengan kayu dari berbagai daerah, simbol kerukunan dan keterlibatan umat.

Perlawanan & Perjuangan

Dikala negeri dicengkeram penjajahan Belanda, Syaikh Asnawi tidak tinggal diam. Beliau membentuk laskar pejuang Banten, melakukan perlawanan tak bersenjata dalam bentuk strategis — termasuk memutus sistem komunikasi kolonial demi kesejahteraan umat. Akibatnya, beliau pernah ditangkap, dipenjara di Tanah Abang (sekarang dijadikan nama jalan), dan diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat. Namun pengaruhnya tak pernah padam karena rakyat bahkan jamaah besar beliau terus mendukung dan menemani perjuangan tersebut. 

Akhir Hayat & Warisan

Syaikh Asnawi Wafat tanggal 15 Rabi’ul Awwal 1356 H/1937 M. Makam Syaikh Asnawi berada di tepi pantai Caringin, Desa Caringin, Labuan, Pandeglang, Banten — hingga kini ramai diziarahi dari berbagai wilayah Indonesia. Syaikh Asnawi Caringin bukan sekedar ulama, Ia adalah Mursyid yang membimbing jiwa, pendidik yang menyejukkan akal, membangun kesadaran dan pejuang yang menentang  ketidakadilan dengan iman dan dzikir. Karena ulama sejati tak pernah hilang bersama waktu, ajaran mereka tetap hidup dalam amalan, sanad, dan hati umatnya. Amalan yang di pakai kalangan Ulama dan Kyai Banten yang terkenal adalah "Shalallahu alla Muhammad" (harus ada Ijazah).