Kutipan ini hanya mengingatkan bahwa ketika sesuatu dalam hidup kita retak atau hancur, sering kali justru di situlah muncul kesempatan untuk melihat diri dengan lebih jujur dan lebih lengkap.
Dalam kondisi “utuh”, kita biasanya hanya melihat satu sisi diri—sisi yang ingin kita tunjukkan.
Namun ketika hidup pecah: gagal, kecewa, terluka, dikhianati, atau kehilangan arah serpihan-serpihan pengalaman itu memantulkan banyak wajah kita :
wajah rapuh kita, wajah kuat kita, wajah yang sedang bangkit, dan wajah yang selama ini kita sembunyikan. Sebenarnya Kepecahan itu membuka ruang untuk lebih mengenal siapa diri kita. Kadang, yang tampak dari serpihan itu justru bagian diri yang paling penting untuk tumbuh. Karena tidak selalu hal yang pecah berarti akhir. Sering kali, itu adalah awal dari pengenalan diri yang lebih utuh.
