Kita sering tanpa sadar membangun hidup di atas penilaian manusia. Sibuk menyesuaikan diri, menekan keinginan, dan mengejar pengakuan, seolah nilai diri kita ditentukan oleh seberapa terkesan orang lain pada kita.
Padahal, kalau Anda paham seberapa cepat manusia lupa saat Anda tiada, Anda akan berhenti menggantungkan harga diri pada tepuk tangan. Anda akan mulai menata ulang tujuan hidup, belajar bertumbuh bukan demi terlihat berhasil, tapi demi menjadi pribadi yang lebih jujur dan utuh.
Dalam Islam, Niat adalah dasar. Dari sanalah arah hidup ditentukan. Saat niat diluruskan, kita tak mudah terombang-ambing oleh pujian, dan tak runtuh oleh penilaian. Kita tetap belajar, tetap bertumbuh, tetap memperbaiki diri atau intropeksi meski tak selalu disaksikan manusia.
Dan mungkin di situlah kemerdekaan seorang hamba bermula. Saat hidup tak lagi dijalani untuk dikenang, melainkan untuk diridhai (mendapatkan ridho Allah SWT).
Saat kita berhenti sibuk membuktikan diri, karena kita tahu, yang paling memahami nilai usaha kita bukan dunia, melainkan Allah Yang Maha Mengetahui.
