Mari Kita jujur pada diri Kita sendiri bahwa kepribadian kita terdiri dari banyak faktor yang berbeda, beberapa diantaranya saling berlawanan. Terkadang kita di suatu waktu begitu penuh kasih dan di lain waktu kita dapat menjadi pendengki. Ada saat kita menjadi sombong dan menolak nasihat orang lain, di lain kesempatan kita menjadi terbuka dan mau belajar.
Kita tidak memiliki kepribadian tetap karena karakteristik kita dapat berubah. Dengan semakin membiasakan diri dengan sikap konstruktif dan mengurangi sikap yang membahayakan, karakter kita dapat berkembang.
KOTORAN BATHIN itu bukanlah bagian INTRINSIK dalam diri kita. kotoran bathin itu bagaikan awan yang menyelimuti dan memburamkan langit yang luas, sehingga mereka dapat berubah dan hilang.
Kekotoran bathin itu sumbernya berasal dari SALAH INTERPRETASI dan PROYEKSI yang tidak tepat, sehingga jika kita menyadari kesalahan ini, kekotoran negatif tersebut dapat diatasi. Saat KEBIJAKSANAAN dan WELAS ASIH meningkat, kotoran batin akan lenyap.
Kotoran Bathin itu tidak akan bisa lenyap dengan hanya dengan mengharapkan atau berdo'a begitu saja. kotoran bathin itu disebabkan oleh Kita telah menciptanya. Saat kita mengurangi kotoran batin dalam keseharian kita secara bertahap, maka PIKIRAN YANG DAMAI akan muncul secara alamiah.
Kita memiliki tanggung jawab dan kendali. Bathin yang jernih selalu ada dalam diri kita, hanya sedang menunggu untuk disingkap melalui lenyapnya awan kotoran batin. Inilah keindahan kita sebagai manusia, inilah potensi kita.
Kekotoran bathin kita sesungguhnya terdiri dari dua faktor utama : Yang pertama adalah ketidaktahuan, dan Yang kedua adalah egoisme.
Ketika Kita tidak memahami dan mengenal JATI DIRI Kita, dan bagaimana fenomena kekotoran bathin itu bisa terjadi pada diri Kita, Inilah yang disebut ketidaktahuan. Akibat ketidaktahuan itu, maka kita kemudian menempatkan penekanan yang tidak proporsional pada saya dan milik saya.
Filosofi batinnya adalah, “Saya adalah orang terpenting. Kebahagiaan saya adalah yang paling pentin dan penderitaan saya harus diakhiri terlebih dahulu.” Hal ini tampak seperti sifat kekanak-kanakan, namun ketika kita memeriksa pikiran kita sendiri, kita akan menemukan banyak perilaku kita yang dimotivasi oleh sikap “kebahagiaan saya.” Ini adalah kebiasaan yang telah kita miliki sejak lahir (bahkan sebelum kita lahir). Walaupun bayi tidak dapat berpikir dalam kata-kata, mereka menangis untuk makan bukan hanya karena perut mereka lapar, namun juga karena pikiran mereka sedang menuntut untuk “KEBAHAGIAAN SAYA SEKARANG”.
Jika Kita menjadi egois, maka tidak mungkin lagi menumbuhkan CINTA dan WELAS ASIH tanpa batas bagi semua makhluk. Banyak orang yang selama berabad-abad telah berhasil mengubah sikap dan benar-benar mengutamakan orang lain dibandingkan dengan diri mereka sendiri. Pada kenyataannya, EGOISME dapat dikurangi dan pada akhirnya dapat dilenyapkan dari arus batin kita. Sadarilah kerugian akibat bersikap egois. Setelah meyakini bahwa egoisme menjadi penyebab semua masalah yang tidak diinginkan, kita pun akan memeriksa cara kerja dan melenyapkannya. Kerugian lain dari pikiran yang egois adalah masalah kita akan tampak lebih besar dibandingkan yang sebenarnya. Kita mengalami kesulitan yang kecil, namun dengan memikirkannya berulang kali,
Masalah itu bertumbuh hingga kita tidak dapat memikirkan hal lain lagi. keterpakuan kita terhadap hal kecil membuat mereka menempati proporsi yang besar dengan konsekuensi yang seakan dapat menggetarkan dunia.
Yakin Semua Makhluk Hidup, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, di setiap ruang dan waktu, di semua tingkatan....senantiasa HIDUP BAHAGIA.....




