Rahasia Huruf Alif


Ilmu Gematria 

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Saudaraku yang senantiasa dirahmati Allah Swt dan selalu dirindukan oleh Rasulullah saw, kali ini izinkan saya untuk berbagi tulisan bertajuk “Setetes Rahasia Huruf Alif dalam Sudut Pandang Ilmu Gematria”.

Untuk itu, sebelum kita melanjutkan kajian kita, maka saya akan terlebih dulu memberikan beberapa catatan kecil sebelum kita memulai kajian ini...

1. Tulisan ini sangatlah panjang, maka bacalah dengan perlahan dan jika perlu  disave terlebih dulu dan dibaca kemudian ketika sudah memiliki waktu luang.

2. Silahkan untuk percaya ataupun tidak percaya dengan isi tulisan ini, karena posisi saya hanyalah sebatas menyampaikan kajian. 

3. Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber baik sumber referensi ilmiah ataupun sumber referensi spiritual seperti diskusi lahiriah dan diskusi batiniah.

4. Beberapa dari isi tulisan ini mungkin masih mengandung kesalahan dan kekeliruan sehingga masih perlu diperbaiki.

Jika Anda setuju dengan beberapa catatan kecil di atas mari kita lanjutkan, dan jika Anda tidak setuju maka disarankan untuk berhenti sampai disini...

Bismillah...

Mari kita mulai,

ALIF berasal dari huruf ALEP yg merupakan huruf pertama dari alfabet Proto-Kanaan, yang kemudian diturunkan ke dalam alfabet Semitik menjadi alfabet Fenisia “ALEPH”, alfabet Suryani “ALAPH”, alfabet Ibrani “ALEF”, alfabet Arab “ALIF” dan alfabet Yunani “ALPHA”.

Dalam bentuk “Aksara Tulis”, maka huruf ALIF ditulis “ا” dalam alfabet Arab dan ditulis “א“ dalam alfabet Ibrani, dan memiliki nilai gematria “1”.

Sedangkan dalam bentuk “Aksara Eja” maka huruf ALIF akan dieja sebagai “A-LA-FA” yg memiliki nilai gematria “111”.

A —> Alif = 1.

LA —> Lam = 30.

FA —> Fa = 80.

A-LA-FA = 1+30+80 = 111.

Inilah alasannya mengapa huruf ALIF selain merupakan simbol “TUNGGAL” sekaligus merupakan simbol “MANUNGGAL” atau simbol “kesatuan” yang disebut dalam kearifan lokal Nusantara sebagai “TRI TUNGGAL” yakni “Tiga yang Manunggal menjadi Satu”.

Karena sebagai aksara Tulis, ALIF memiliki nilai gematria “1” sedangkan sebagai aksara Eja, ALIF memiliki nilai gematria “111”.

1 —> 111 ( ALIF —> A-LA-FA ).

Dari “satu” menjadi “tiga”.

Dari “satu” Aksara Tulis “ALIF” kemudian diucapkan menjadi “tiga” Aksara Eja: ALIF Fathah - ALIF Kasrah - ALIF Dhamah dan dibaca “A - I - U” yg dimaknai sbb:

- Dari mengenal vokal “A”, kemudian mengenal vokal “I”, dan akhirnya mengenal vokal “U”.

- Dari “larah” kemudian menjadi “lirih” dan akhirnya menjadi “luruh”.

- Dari “asah” kemudian menjadi “asih” dan akhirnya menjadi “asuh”.

- Dari “mananggal” kemudian menjadi “maninggal” dan akhirnya menjadi “manunggal”.

- Dari “menanggalkan” kemudian menjadi “meninggalkan” dan akhirnya menjadi “menunggalkan”.

- Dari “penanggalan” (angka - kalender) kemudian menjadi “peninggalan” (tulisan - prasasti) dan akhirnya menjadi “penunggalan” (relief - candi).

Dan secara fonetik alfabet Arab:

- A = Alif.

- I = Ya.

- U = Waw.

A - I - U = Alif-Ya-Waw (dibaca: “AYWA”).

Dan “AYWA” dalam khazanah Bahasa Nusantara yg telah hilang dan punah, artinya adalah “KEINDAHAN”. 

Dan kata “AYWA” ini kemudian dijadikan sebagai salam keseharian sebagai “RAH-AYWA” yg kemudian mengalami transliterasi menjadi “RAH-AYU” (dibaca: RAHAYU).

- RAH = GERAK.

- AYWA = KEINDAHAN.

Salam RAH-AYWA -> Salam RAH-AYU -> Salam RAHAYU -> Salam GERAK KEINDAHAN. 

Dan “RAH-AYWA” yang bermakna “GERAK KEINDAHAN” ini merupakan gambaran tiga jenis gerakan ibadahnya para malaikat di langit. 

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir bahwa Dzulqarnain bertanya kepada sahabatnya dari golongan malaikat yang selalu mendatanginya yg bernama Rafael.

Dzulqarnain bertanya, “Tolong ceritakan kepadaku bagaimana Anda beribadah di langit”. Sang Malaikat yg bernama Rafael menangis dan berkata, “Apa Anda ingin membandingkan ibadah Anda dengan ibadah kami di langit? Aku beritahu sesungguhnya di langit ada malaikat yang hanya BERDIRI saja tidak pernah duduk, dan ada malaikat yang hanya SUJUD saja tidak pernah bangun dari sujudnya, dan ada pula malaikat yang hanya RUKUK saja tidak pernah bangun dari rukuknya sambil berkata “Tuhan kami, kami tidak pernah beribadah kepadamu dengan sebenar-benarnya ibadah”.

Jadi “RAH-AYWA” yang bermakna “GERAK KEINDAHAN” sejatinya menggambarkan tiga jenis gerakan ibadahnya para malaikat di langit yakni gerakan: BERDIRI - RUKUK - SUJUD. 

- BERDIRI adalah perlambang gerak TEGAK yang mencirikan sifat KERAS yg kemudian menjadi simbol gerak dari huruf ALIF.

- SUJUD adalah perlambang gerak LENTUR yang mencirikan sifat LUNAK yg kemudian menjadi simbol gerak dari huruf WAW. 

- Sedangkan RUKUK adalah perlambang gerak SETENGAH TEGAK dan SETENGAH LENTUR yang mencirikan sifat KERAS sekaligus LUNAK yg kemudian menjadi simbol gerak dari huruf YA. 

Nah harmoni dari ketiga GERAKAN ibadah para malaikat inilah (BERDIRI - RUKUK - SUJUD) yg kemudian disebut sebagai GERAK “ALIF-YA-WAW” yang diakronim menjadi GERAK “AYWA” yg bermakna “GERAK KEINDAHAN” dimana kata “AYWA” sendiri yg merupakan akronim dari “ALIF-YA-WAW” memiliki nilai gematria “17”. 

- ALIF = 1.

- YA = 10.

- WAW = 6.

ALIF-YA-WAW (dibaca: “AYWA”) = 1+10+6 = 17.

Dan nilai gematria “17” dari kata “AYWA” yg bermakna “GERAK KEINDAHAN” yg menggambarkan tiga gerakan ibadah para malaikat di langit yakni “BERDIRI-RUKUK-SUJUD” kemudian disempurnakan Allah Swt menjadi perintah “17 RAKAAT SHALAT 5 WAKTU” yg diturunkan kepada Rasulullah saw dan umatnya. Dan jika kita menghitung dengan teliti jumlah gerakan yg dilakukan dalam SHALAT 5 WAKTU yg totalnya berjumlah 17 Rakaat adalah sbb :

Jumlah Gerakan Rakaat Shalat tanpa Tasyahud Awal/Tasyahud Akhir: 

(1) berdiri -> (2) rukuk -> (3) berdiri i’tidak -> (4) sujud -> (5) duduk antara dua sujud -> (6) sujud. (Total : 6 Gerakan). Dan Jumlah Gerakan Rakaat Shalat dengan Tasyahud Awal/Tasyahud Akhir: (1) berdiri -> (2) rukuk -> (3) berdiri i’tidak -> (4) sujud -> (5) duduk antara dua sujud -> (6) sujud -> (7) duduk tasyahud. (Total : 7 Gerakan).

Maka dengan demikian:

- Shalat SHUBUH (Rakaat 1: 6 gerakan, Rakaat 2: 7 gerakan, Total: 13 gerakan).

- Shalat DZUHUR (Rakaat 1: 6 gerakan, Rakaat 2: 7 gerakan, Rakaat 3: 6 gerakan, Rakaat 4: 7 gerakan. Total: 26 gerakan).

- Shalat ASHAR (Rakaat 1: 6 gerakan, Rakaat 2: 7 gerakan, Rakaat 3: 6 gerakan, Rakaat 4: 7 gerakan. Total: 26 gerakan).

- Shalat MAGHRIB (Rakaat 1: 6 gerakan, Rakaat 2: 7 gerakan, Rakaat 3: 7 gerakan, Total: 20 gerakan).

- Shalat ISYA (Rakaat 1: 6 gerakan, Rakaat 2: 7 gerakan, Rakaat 3: 6 gerakan, Rakaat 4: 7 gerakan. Total: 26 gerakan).

Sehingga :

- SHUBUH = 13 gerakan.

- DZUHUR = 26 gerakan.

- ASHAR = 26 gerakan.

- MAGHRIB = 20 gerakan.

- ISYA = 26 gerakan.

SHALAT 5 WAKTU = 13+26+26+20+26 = 111 Gerakan.

Atau dengan kata lain:

17 Rakaat = 111 Gerakan.

Dari sini kita mendapatkan sebuah kode bilangan :

“17 —> 111”.

Dan kode bilangan ini ternyata terekam dalam Al-Quran sebagai Surat AL-ISRA yakni Surat ke-17 yg memiliki jumlah ayat 111 ayat.

17 (nomor surat) —> 111 (jumlah ayat).

17 —> nilai gematria dari kata “AYWA” sebagai perlambang “TIGA GERAK” Ibadah Para Malaikat yakni “BERDIRI-RUKUK-SUJUD” yg kemudian menjadi perlambang dari “TIGA GERAK KEINDAHAN” yakni “Tegak, Lentur dan Tegak sekaligus Lentur”.

111 —> nilai gematria dari kata “A-LA-FA” yg merupakan Aksara Eja dari huruf ALIF. 

Sehingga kode bilangan “17 -> 111” atau “111 -> 17” adalah siloka dari “Tiga Gerakan yang Manunggal menjadi Satu” yg kemudian disiloka menjadi “TRI TUNGGAL” yakni “Tiga yang Manunggal menjadi Satu” yg dalam kearifan lokal Sunda disebut sebagai “TRI TANGTU”. 

“TRI TUNGGAL”  —> Tiga Gerakan “AYWA” (ALIF-YA-WAW).

- ALIF : perlambang dari Gerakan Vertikal (Gerak Berdiri) sebagai siloka Hubungan antara Manusia dan Tuhannya, yg dalam Ajaran Islam disebut sebagai “Hablum minallah” dan dalam kearifan lokal Nusantara disebut sebagai “Hamemayu Hayuning Diri”.  

- YA : perlambang dari Gerakan Horizontal (Gerak Rukuk) sebagai siloka Hubungan antara Manusia dan Sesama Manusia, yg dalam Ajaran Islam disebut sebagai “Hablum minannaas” dan dalam kearifan lokal Nusantara disebut sebagai “Hamemayu Hayuning Sasama”.  

- WAW : perlambang dari Gerakan Diagonal (Gerak Sujud) sebagai siloka Hubungan antara Manusia dan Seluruh Makhluk di Alam Semesta, yg dalam Ajaran Islam disebut sebagai “Hablum minal makhluqi fil ‘aalamiin” dan dalam kearifan lokal Nusantara disebut sebagai “Hamemayu Hayuning Bhawana”.  

Dari “satu” menjadi “tiga”.

Dari “1” menjadi “111”.

Dari “tunggal” menjadi “manunggal”.

Dari “AHAD” menjadi “WAAHID”.

Dari asal yang “satu” kemudian “manunggal” di dalam seluruh makhluk ciptaan.

Sebagaimana disebutkan dalam Shuhuf Nabi Ibrahim as Sepher Yetzirah 2.5 tentang huruf ALEF / ALEPH,

“Tuhan Yahweh menunjukkan cara kombinasi huruf, masing-masing dengan masing-masing, ALEF (ALEPH) dengan semua, dan semua bersama ALEF (ALEPH).”

Shuhuf Nabi Ibrahim as (Sepher Yetzirah) menyebutkan bahwa Huruf ALEF / ALEPH / ALIF manunggal dalam semua huruf atau dengan kata lain semua huruf tercipta dari Huruf ALEF / ALEPH / ALIF. 

Sementara dalam konteks penciptaan makjluk, terciptanya semua huruf berasal dari Huruf ALEF / ALEPH / ALIF ini sama halnya dengan terciptanya semua makhluk berasal dari unsur AIR sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran.

“... dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari AIR.” (QS. Al-Anbiya 21 : 30)

Dan dalam sudut pandang gematria, baik huruf ALEF / ALEPH / ALIF ataupun unsur AIR keduanya sama-sama memiliki nilai gematria “111”.

- ALIF = A-LA-FA = Alif-Lam-Fa = 1+30+80 = 111.

- AIR = MAA’I = Mim-Alif-Ain = 40+70+1 = 111.

Huruf ALIF, selain berperan sebagai “Aksara Tulis” yg memiliki nilai gematria “1” dan  “Aksara Eja” yg memiliki nilai gematria “111”, ternyata juga berperan sebagai “Aksara Suara” yg ketika huruf “ALIF” disuarakan maka ia akan terdengar sebagai “ALIIF” yg jika ditransformasi ke dalam “Aksara Tulis” maka ia akan menjadi "اليف" yg terbentuk dari huruf “alif-lam-ya-fa” yg memiliki nilai gematria “121”.

Dan 121 adalah kuadrat dari bilangan “11” atau “11 x 11”.

Dan bilangan “11” adalah nilai gematria dari kata “AHABA” (Alef-Chet-Beth) yg dalam Bahasa Ibrani bermakna “CINTA” yg kemudian dalam Bahasa Arab menjadi kata dasar dari kata “MAHABBAH”.

Dalam hadits disebutkan, “Allah mencintai yang GANJIL”. (HR. Bukhari No. 6410, Muslim No. 2677) Dan jika kita menjumlahkan kuadrat dari masing-masing bilangan ganjil dari bilangan 1 sampai bilangan 11 maka akan didapat :

(1x1) + (3x3) + (5x5) + (7x7) + (9x9) + (11x11) = 1+9+25+49+81+121 = 286.

Dan bilangan “286” merupakan jumlah ayat dari Surat ke-2 dalam Al-Quran yakni Surat AL-BAQARAH yg bermakna “SAPI BETINA” atau “LEMBU BETINA” atau “BANTENG BETINA”.

Dan dalam buku “Sejarah Kawitane Wong Jawa Lan Wong Kanung” yg oleh Prof. Slamet Mulyana disebut “Buku Kanung” disebutkan bahwa nama Pulau Jawa berasal dari kata “JAWI” yg berarti “SAPI BETINA” atau “BANTENG BETINA” yg kemudian dikenal sebagai “LEMBU NANDI” atau “LEMBU ANDINI”.

Dan dalam Bahasa Semit, kata ALEF (dalam Bahasa Arab disebut “ALIF”) artinya adalah “SAPI” atau “LEMBU” dan bentuk piktograf huruf ALEF dalam Bahasa Ibrani diturunkan dari piktograf Proto Sinaitik berdasarkan huruf hieroglif Mesir yg berbentuk “KEPALA SAPI”.

Dan kata “JAWI” yg berarti “SAPI BETINA” atau “BANTENG BETINA” dalam kaidah original gematria memiliki nilai gematria:

- JA = Jim = 3.

- WI = Waw = 6.

JAWI = Jim-Waw = 3-6 (dibaca “36”).

Ada apa dengan bilangan “36”?

Ternyata bilangan “36” adalah jumlah bilangan ganjil dari 1 sampai dengan bilangan 11 berturut-turut yakni:

1+3+5+7+9+11 =36.

Dan bilangan “36” adalah nilai original gematria dari kata “JIWA” dan juga merupakan nilai ordinal gematria dari kata “LAVA” (Lamed-Vav) dalam Bahasa Ibrani yg kemudian mengalami transliterasi ke dalam Bahasa Inggris sebagai “LOVE” yg bermakna “CINTA” dan ke dalam Bahasa Arab sebagai “LUBB” yg bermakna “rasa rindu yg paling terdalam yg berasal dari Hati (Qalbu)” dan ke dalam Bahasa Nusantara menjadi “LAWU” atau “LUWU” yg maknanya seluruhnya berkaitan erat dengan Hati (Qalbu). 

Dan ini pula sebabnya mengapa dalam Hadits Rasulullah saw, Surat Yasin yakni surat ke-36 dalam Al-Quran disebut sebagai “Qalbu Qur’an” atau “Jantungnya Quran”. 

“Sesungguhnya segala sesuatu memiliki QALBU, dan QALBU QUR’AN adalah YASIN”. (HR. At-Tirmidzi No. 2812)

Lalu ada apa dengan JAWI, JIWA, LAVA, LOVE, LUBB, LAWU, LUWU dan QALBU (Jantung) ...?

Jawabnya ternyata ada dalam Shuhuf Nabi Ibrahim (Sepher Yetzirah).

Dalam Sepher Yetzirah 3.5 disebutkan,

“Tuhan Yahweh menyebabkan huruf ALEF (ALEPH) menjadi Raja atas NAFAS, yakni UDARA yg dibentuk di alam semesta, dan kemudian menyegelnya di dalam DADA”.

Jadi Shuhuf Nabi Ibrahim as menegaskan bahwa Huruf ALEF / ALEPH / ALIF disegel Allah Swt di dalam DADA sebagai NAFAS.

Pertanyaannya:

“Ada apa dengan DADA?”

Ternyata jawabnya ada dalam hadits qudsi berikut ini,

“Aku jadikan pada tubuh anak Adam itu QASHRUN (istana), di situ ada SHADRUN (DADA), di dalam dada itu ada QALBU (JANTUNG), di dalamnya ada FU’AD, di dalamnya ada SYAGHAF (kerinduan), didalamnya ada LUBB (kerinduan yg mendalam), dan di dalamnya ada SIRR (rahasia), sedangkan di dalam sirr ada ANA (Tuhan)”

Ternyata menurut hadits qudsi ditegaskan bahwa di dalam SHADR (DADA) ternyata ada QALBU (JANTUNG) dan di dalam QALBU (JANTUNG) yg paling terdalam ternyata ada ALLAH. 

Dan hal ini sesuai dengan apa yg disampaikan Allah Swt kepada Nabi Daud as:

"Wahai Daud! Kosongkan untuk-Ku sebuah rumah, agar Aku bisa tinggal di dalamnya!"

Mendengar perintah tersebut Nabi Daud as tidak mengerti dan lantas bertanya,

"Bagaimana caranya wahai Tuhanku?"

Lantas Allah berfirman,

"Kosongkan QALBUMU hanya untuk-Ku!"

Ketika saya memberikan Private Class Training Pengenalan Jati Diri, ada seorang peserta yg bertanya kepada saya,

“Lalu secara anatomi tubuh manusia, kira-kira apa yang dimaksud sebagai QALBU? Hati (Lever) ataukah Jantung (Kardia)?”

Dan saya (Yeddi) menjawab,

Secara lughawiyah, QALBU memiliki arti asli yaitu JANTUNG. Arabic Wikipedia  mendefinisikan QALBU sebagai organ JANTUNG:

"QALBU adalah organ tubuh yang banyak mengandung otot dan berongga yang mendorong darah di dalam sistem sirkulasi dengan cara seperti pompa."

Dan ini sejalan dengan Hadits yg menyebutkan bahwa ketika JANTUNG kita sehat, maka seluruh tubuh kita pun akan sehat dan bebas dari berbagai penyakit. Namun sebaliknya, jika JANTUNG kita biarkan kotor, maka darah yg mengalir ke seluruh tubuh pun akan menjadi darah yang kotor dan menjadi biang penyakit.

"Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah QALBU“. (HR. Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599)

Memang kebanyakan orang Indonesia mengartikan QALBU sebagai HATI, dan itu keliru karena HATI dalam bahasa arabnya adalah KIBDUN atau KIBDAH atau KABID. Kalau JANTUNG letaknya di tengah dada sebelah kiri, sedangkan HATI letaknya di dada kanan sebelah bawah. Oleh sebab itu mulai sekarang jangan lagi mengartikan QALBU sebagai HATI, karena QALBU adalah JANTUNG.

Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah,

“Mengapa Shuhuf Nabi Ibrahim as menyebutkan bahwa Huruf ALEF / ALEPH / ALIF disegel di DADA?” Nah izinkan saya menjawabnya dengan kaidah Ilmu Gematria.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, yaitu 100 kurang 1. Siapa yg menghafalnya akan masuk syurga.” (Sahih Bukhari) Dan dalam Private Class Training Pengenalan Jati Diri, saya menyampaikan bahwa dalam sudut pandang Ilmu Gematria maka penjabaran hadits di atas adalah sebagai berikut,

“100 kurang 1”

👉 100 = nilai gematria dari huruf “QAF”.

👉 1 = nilai gematria dari huruf “ALIF”. 

Dan dalam kaidah Gematria, maka kalimat “100 kurang 1” dimaknai sbb:

100 = Qaf.

1 = Alif.

100 - 1 = Alif + Qaf (dibaca: “AQU” —> transliterasi menjadi “AKU”).

100 + 1 = Qaf + Alif (dibaca: “QAA” —> transliterasi menjadi “KO”).

Seorang peserta private class training yg dalam dua kali pertemuan training duduk di bagian paling belakang dengan penuh adab bertanya kepada saya,

“Maaf beribu maaf yg bodoh ini izin untuk bertanya. Kita tahu bahwa 99 nama Allah seluruhnya berbahasa Arab, lantas mengapa yg 1 nama khusus yg Allah rahasiakan itu justru berbahasa Indonesia? Karena yg saya dapat dan saya pahami sampai saat ini bahwa Bahasa Arab dari kata “AQU” (dibaca “AKU”) adalah  “ANA” ( انا ).”

Dan dalam kaidah gematria, kata “ANA” ( انا ) memiliki nilai gematria sbb,

- Alif = 1.

- Nun = 50.

- Alif = 1.

 “ANA” ( انا )

= 1 +50+1 = 52.

Dan jauh berbeda dengan kata “AQU” (dibaca: “AKU”) yg memiliki nilai gematria sbb,

- Alif = 1.

- Qaf = 100.

“Sehingga jika kita pakai kaidah gematria maka akan didapat angka 100-1 hasilnya adalah “99”. Jauh berbeda nilai gematrianya dengan kata  “ANA” ( انا ) yg memiliki nilai gematria “52”. Mohon pencerahan agar saya yg bodoh ini gak tersesat. Mohon maaf kalau pola berpikir saya salah.”

Dan Saya menjawab pertanyaan sbb,

Dalam sebuah riwayat hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw pernah berkata, “Ana AHMAD bila MIM”. Dan Rasulullah saw juga pernah berkata, “Ana ‘ARABI bila AIN”.

Nah dalam kaidah Ilmu Gematria maka kedua perkataan Rasulullah saw di atas akan dapat dijabarkan sbb:

👉 Kata “AHMAD” ( احمد ) adalah kata yg terbentuk dari rangkaian huruf “Alif-Ha-Mim-Dal” yg memiliki nilai gematria sbb:

- Alif = 1.

- Ha = 8.

- Mim = 40.

- Dal = 4.

“AHMAD” ( احمد )

= 1+8+40+4 = 53.

Dan ketika Rasulullah saw mengatakan,“Ana AHMAD bila MIM”  Maka kata “AHMAD” ( احمد ) yg terbentuk dari rangkaian huruf “Alif-Ha-Mim-Dal” akan menjadi rangkaian huruf “Alif-Ha-Dal” yg akan dibaca sebagai “AHAD” yg memiliki nilai gematria “13”.

👉 Jadi yg dimaksud dengan kalimat “AHMAD bila MIM” maknanya merujuk kepada kata “AHAD” yg dalam QS. Al-Ikhlas ayat 1 disebutkan “Qul Huwa Allahu AHAD” yg berarti “Katakaanlah bahwa Allah itu AHAD”. 

👉 Dan demikian pula halnya dengan Kata “‘ARAB” ( عرب ) adalah kata yg terbentuk dari rangkaian huruf “Ain-Ra-Ba” yg memiliki nilai gematria sbb:

- Ain = 70.

- Ra = 200.

- Ba = 2.

“‘ARAB” ( عرب ) 

= 70+200+2 = 272.

Dan ketika Rasulullah saw mengatakan,“Ana ‘ARAB bila AIN” Maka kata “‘ARAB” ( عرب ) yg terbentuk dari rangkaian huruf “Ain-Ra-Ba” akan menjadi rangkaian huruf “Ra-Ba” yg akan dibaca sebagai “RABB”.

👉 Jadi yg dimaksud dengan kalimat “ARAB bila AIN” maknanya merujuk kepada kata “RABB” yg bermakna “Tuhan”. Maka demikian pula halnya dengan kalimat “100 kurang 1” yg berasal dari redaksi hadits “Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, yaitu 100 kurang 1.”

100 = Qaf.

1 = Alif.

100-1 = “QAF bila ALIF”.

Lalu apa yg dimaksud dengan kalimat  “QAF bila ALIF” ...? Sang Guru menjelaskan bahwa,

👉 QAF maknanya merujuk kepada “QALBU” yg berarti “JANTUNG”.

👉 Sedangkan ALIF disini maknanya merujuk kepada “ANA” yg merujuk kepada “Sang AKU” yg berada dalam entitas jiwa manusia yg dalam Bahasa Sunda disebut “AING” dan dalam Bahasa Yunani disebut “EGO” dan dalam Bahasa Sansekerta disebut “AHAMKARA”.

Tolong Bedakan dengan kata “ANA” ( أَنَا ) yg dalam Al-Quran merujuk kepada Allah Swt.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا  ( QS. Thaha 20 : 14 )

( إِنَّنِي ) Sesungguhnya Aku ANA ( أَنَا )

Allah ( اللَّهُ ) Tidak ada Tuhan ( لَا إِلَٰهَ )

Kecuali ANA ( إِلَّا أَنَا ).

Lalu bedanya “ANA” yg merujuk kepada manusia dan “ANA” yg merujuk kepada Allah swt itu dimana?

Jawab:

“ANA” yg merujuk kepada manusia ditulis “ انا “ (alif-nun-alif), memiliki nilai gematria “52” dan dalam Bahasa Sunda dikenal sebagai “AING” dan dalam Bahasa Yunani dikenal sebagai “EGO” dan dalam Bahasa Sansekerta dikenal sebagai “AHAMKARA”. 

Sedangkan “ANA” yg merujuk kepada Allah swt ditulis “ أَنَا “ (hamzah-alif-nun-alif), memiliki nilai gematria 53 dan maknanya merujuk kepada أَنَا اللَّهُ. Jadi yg dimaksud dengan kalimat  “100 kurang 1” atau dalam bahasa gematria adalah “QAF bila ALIF” maknanya adalah “QALBU tanpa ANA” yakni “JANTUNG yg di dalamnya tidak terdapat ANA milik manusia yg disebut sbg AING atau EGO atau AHAMKARA”.

Dan ketika kembali kepada pertanyaan “Lalu apa itu Nama Tuhan yg ke-100?” Jawabnya adalah “ANA” yg ditulis “ أَنَا “ (hamzah-alif-nun-alif) yg memiliki nilai gematria 53, yg harus diikat kuat di dalam QALBU kita sebanyak 9 kali lewat Tasyahud Awal dan Tasyahud Akhir dalam shalat 5 waktu sehari semalam yg berjumlah 17 Rakaat. 

Dalam hadits disebutkan, Dari Ibn Umar ra, beliau berkata, “Bahwa apabila Rasulullah saw duduk tasyahud, beliau meletakkan tangan kirinya diatas lutut kirinya dan meletakkan tangan kanannya diatas lutut kanannya, dan beliau LINGKARKAN jarinya sehingga membentuk angka LIMA PULUH TIGA, lalu beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk.” (HR. Muslim No. 912)

Dalam riwayat yg lain disebutkan dengan redaksi kalimat “Mengikat LIMA PULUH TIGA” yg bermakna “Mengikat ANA “ أَنَا “ (hamzah-alif-nun-alif) yang merujuk kepada أَنَا اللَّهُ di dalam QALBU (JANTUNG) kita”. Dan Allah swt berfirman dalam hadits qudsi “Arasy-Ku dan Kursi-Ku dan Langit-Langit-Ku tidak ada yang mampu memuat ANA ( أَنَا ). Hanya QALBU (JANTUNG) hamba-Ku yang mampu memuat ANA ( أَنَا )”. Jadi yang dimaksud oleh Shuhuf Nabi Ibrahim as (Sepher Yetzirah) dengan kalimat “Tuhan Yahweh menyegel Huruf ALEF / ALEPH / ALIF di dalam DADA” maknanya sama dengan apa yang disebutkan dalam Hadits Rasulullah saw sebagai “Mengikat LIMA PULUH TIGA”.

👉 Mengikat 53 = Mengikat ANA ( أَنَا ) di dalam QALBU (JANTUNG).

👉 Menyegel ALEF / ALEPH / ALIF di dalam DADA = Menyegel ANA ( أَنَا ) di dalam QALBU (JANTUNG).

Pertanyaan berikutnya, “Mengikat atau Menyegelnya dengan apa?”

Jawab:

Menyegelnya dengan kalimat TAUHID yakni LAA ILAAHA ILALLAH yg memiliki nilai gematria “165” sehingga : 165 - 53 = 112. Dan bilangan “112” adalah kode nomor surat ke-112 dalam Al-Quran yakni Surat AL-IKHLAS.

Jadi jawabnya adalah,

“Mengikat ANA ( أَنَا ) yg dalam QS. Thaha 20:14 ditegaskan dengan kalimat “أَنَا اللَّهُ”  dengan cara “IKHLAS” yg bermakna “MENGOSONGKAN” atau “SUWUNG”.  Pahami makna “IKHLAS” dari Surat AL-IKHLAS itu sendiri. Surat ini dinamai dengan Surat AL-IKHLAS namun kita tidak akan pernah menemukan satu pun kata “IKHLAS” di dalam surat tersebut. Sehingga pelajaran yg diperoleh adalah bahwa yg dimaksud “IKHLAS” adalah “MENGOSONGKAN”.

Jadi, jika kita ingin mengikat atau menyegel 

ANA ( أَنَا ) di dalam QALBU (JANTUNG) kita maka caranya adalah sebagaimana disampaikan Allah Swt kepada Nabi Daud as sbb, “Wahai Daud! Kosongkan untuk-Ku sebuah rumah, agar Aku bisa tinggal di dalamnya! Dan Kosongkan QALBUMU hanya untuk-Ku!" Ibrahim Haqqi menambahkan, "QALBU adalah Rumah Allah, maka bersihkanlah atau kosongkanlah QALBU dari selain Allah agar Sang ANA ( أَنَا ) bisa bersemayam di Bait-Nya yang ada di dalam QALBU.” Dan Rasulullah saw juga bersabda, "QALBU (JANTUNG) itu lebih utama daripada KA’BAH dan JANNAH (SURGA).” Mengapa Rasulullah saw mengatakan bahwa BAITULLAH di dalam QALBU lebih utama daripada KA’BAH dan JANNAH (SURGA)?

Jawabnya Karena KA’BAH dibangun karena tujuannya adalah sebagai BAITUL HARAM (Rumah Suci) yang dithawafi oleh banyak orang, sedangkan QALBU adalah dibangun dengan cara mengosongkannya dari selain Allah tujuannya adalah sebagai BAITULLAH (Rumah Allah) yang dithawafi oleh diri kita sendiri. 

Di KA’BAH terdapat HAJAR ASWADH dalam Bahasa Arab atau HAGAR ASVAD dalam bahasa ibrani yg berarti “BATU HITAM” sedangkan pada QALBU (JANTUNG) terdapat HAJAR ABYADH dalam Bahasa Arab atau HAGAR ABYAD dalam Bahasa Ibrani yg berarti “BATU PUTIH” dengan SIRR sebagai pusat keinginannya. Dan kata “ABYAD” dalam Bahasa Ibrani memiliki nilai gematria sbb:

ABYAD = Aleph-Beth-Yod-Dalet.

Aleph = 1.

Berh = 2.

Yod = 10.

Dalet = 4.

ABYAD = Aleph-Beth-Yod-Dalet = 1+2+10+4 = 17.

Dan kata “ABYAD” diartikan sebagai “PUTIH” dalam Bahasa Indonesia yg jika ditulis dalam Aksara Arab Jawi adalah “فوطايه” yg dibaca “PUTIH” dan memiliki nilai gematria sbb:

PUTIH = Fa-Waw-Tha-Alif-Ya-Ha’

Fa = 80.

Waw = 6.

Tha = 9.

Alif = 1.

Ya = 10.

Ha’ = 5.

PUTIH = Fa-Waw-Tha-Alif-Ya-Ha’ = 80+6+9+1+10+5 = 111.

Lagi-lagi kita dipertemukan dengan kode bilangan “17 —> 111”.

17: A - I - U (Aywa) -> 111: A-La-Fa (Alif).

17: Jumlah Rakaat -> 111: Jumlah Gerakan Shalatnya.

17: Nomor Surat -> 111: Jumlah Ayatnya.

17: Abyad -> 111: Artinya (yaitu “PUTIH”).

Jadi nilai gematria “17” ini sama dengan nilai gematria dari kata “AYWA” yg berkaitan dengan “Tiga Gerak Keindahan” dari gerak ibadah para malaikat di langit yakni “Berdiri-Rukuk-Sujud” yg kemudian disempurnakan dan diabadikan menjadi Perintah “Shalat 5 Waktu 17 Rakaat”.

Jadi Ternyata Ibadah “Shalat 5 Waktu 17 Rakaat” itu justru akan membuat QALBU (JANTUNG) kita senantiasa tetap ABYAD (PUTIH).   

Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudry ra dari Rasulullah SAW, bahwa beliau saw bersabda : "QALBU (JANTUNG) itu ada empat. QALBU PUTIH SUSU (ABYAD) yang didalamnya ada PELITA yang memancarkan Cahaya, itulah Qalbu orang beriman. Dan QALBU hitam terbalik, itulah Qalbu orang kafir. Dan QALBU yang tertutup yang terikat pada tutupnya, itulah Qalbu orang munafiq. Dan QALBU yang bermuka dua, di dalamnya ada Iman dan kemunafikan." Jadi kata Rasulullah saw bahwa QALBU yang ABYAD (QALBU yang PUTIH SUSU) adalah QALBU yang di dalamnya ada PELITA yang memancarkan CAHAYA. Dan PELITA dalam khazanah kearifan lokal Nusantara disebut sebagai “DIAN”, yang dalam Bahasa Arab disebut sebagai “DIIN” (Dal-Ya-Nun) dan dalam Bahasa Sansekerta disebut sebagai “DAYANA” yg berarti “MEDITASI” atau “DZIKIR”. Jadi cara untuk membuat DIAN (PELITA) di dalam QALBU itu menyala dan memancarkan cahaya maka caranya adalag dengan melaksanakan “Shalat 5 Waktu 17 Rakaat” sebagai TIANG DIIN dan “Meditasi” (“Dzikir”) sebagai TIANG DAYANA. 

Dan Imam Ali bin Abi Thalib ra berkata, “Tidurnya QALBU adalah akibat kelalaiannya dari DZIKIR kepada Allah dan bangunnya QALBU berasal dari DZIKIR yang dilakukan”. Dan Mengapa Rasulullah saw mengatakan bahwa BAITULLAH di dalam QALBU lebih utama daripada KA’BAH di MEKAH dan JANNAH (SURGA)? Karena KA’BAH di MEKAH sejatinya hanyalah sebuah bangunan segi empat berbentuk KUBUS yang memiliki dimensi volume 11 x 11 x 11 satuan yakni sebesar 1.331 satuan yang jika dibaca dengan kaidah hukum sasandi ilmu gematria maka akan menjadi:

1331 = 13-31.

13 —> adalah nilai gematria dari kata “AHAD” yg bermakna “TUHAN itu SATU” dan berkaitan erat dengan TAUHID.

31 —> adalah nilai gematria dari huruf “LAM ALIF” yg dibaca sebagai “LAA” yg bermakna “PENIADAAN” atau “PENGOSONGAN”. Dan makna dari pembacaan hukum sasandi bilangan “13-31” sebagai hasil dari volume tiga dimensi KA’BAH 11x11x11 sejatinya adalah perlambang dari “QALBU yang ABYAD (PUTIH SUSU, nilai gematria 111)” yakni QALBU yang selalu bersih dengan TAUHID (AHAD, nilai gematria 13) dan QALBU yang selalu bersih dengan LAM ALIF (dibaca “LAA”, nilai gematria 31) yakni KOSONG dari segala hal selain Allah, KOSNG dari segala bentuk keraguan, kebimbangan dan taqlid).

Dan bilangan “1331” merupakan penjumlahan deret kuadrat dari masing-masing bilangan ganjil dari 1 sampai dengan 19.

1 = AHAD = nilai gematria “13”.

19 = WAAHID = nilai gematria “19”.

Jadi deret bilangan ganjil dari 1 sampai 19 merupakan perlambang transformasi dari AHAD menuju WAAHID atau dari TUNGGAL menuju MANUNGGAL.

Sehingga:

(1x1) + (3x3) + (5x5) + (7x7) + (9x9) + (11x11) + (13x13) + (15x15) + (17x17) + (19x19) = 1+9+25+49+81+121+169+225+289+361

= 1331.

Jika transformasi geometri dari deret bilangan di atas adalah bentuk “PIRAMIDA BERUNDAK SEPULUH” yang jika PIRAMIDA tersebut dipotong dua maka akan terbentuk dua buah PIRAMIDA BERUNDAK sbb:

Piramida berundak yg pertama: 

(1x1) + (3x3) + (5x5) + (7x7) + (9x9) + (11x11) = 286.

Dan piramida berundak yg kedua:

(13x13) + (15x15) + (17x17) + (19x19) = 1.045.

Jika bentuk geometri piramida “286” adalah bangunan PIRAMIDA BERUNDAK di PULAU JAWA. Maka bentuk geometri piramida “1045” dengan ukuran panjang 11, lebar 11 dan tinggi 11 tanpa atap yang di dalamnya hanyalah berupa ruang kosong adalah bangunan KA’BAH di MEKAH.

Jika bilangan “286” dimaknai sebagai Surat AL-BAQARAH yg memiliki total jumlah ayat 286 ayat dan AL-BAQARAH bermakna “SAPI BETINA” atau “LEMBU BETINA” yang dalam khazanah kearifan lokal Nusantara merupakan arti dari asal mula nama Pulau JAWA yakni “JAWI” yg bermakna “SAPI BETINA” atau “LEMBU BETINA”.

Dan “JAWI” atau “JAWA” merujuk kepada “JIWA” sebagai pemaknaan bilangan “286” yg merupakan “BAITULLAH” di dalam QALBU sebagai PUSAT THAWAF dalam konteks MIKROKOSMOS. 

Maka bilangan “1045” merujuk kepada besar sudut yg dibentuk oleh molekul AIR yakni H2O sebesar 104,5 derajat yg merujuk kepada “KA’BAH” yg berada di PUSAT AIR (Mata Air ZAMZAM) yg merupakan “BAITUL HARAM” di Alam Semesta (disebut “Hudallinnaas” dalam QS. Ali Imran 3 : 96) sebagai PUSAT THAWAF dalam konteks MAKROKOSMOS.

Dan bilangan “286” merupakan komplemen dari bilangan “1045” karena:

286 + 1.045 = 1.331.

Dan 1.331 = 11x11x11 (bentuk geometri dari KA’BAH).

Jika 286 = JAWI / JAWA (JIWA).

Maka 1.045 = MEKAH (AIR ZAMZAM).

Sehingga:

Pasangan “286 - 1045” adalah pasangan “JAWA - MEKAH yg disiloka sebagai “Kawruh JAWA MEKAH” dalam Jangka Prabu Jayabaya.

Jika 286 = JAWI / GOWI / GU / GAIA (TANAH).

Maka 1.045 = AIR. 

Sehingga:

Pasangan “286 - 1045” adalah pasangan “TANAH - AIR” yg disiloka menjadi “TANAH AIR”.

Demikianlah kajian singkat saya tentang sedikit rahasia HURUF ALIF dalam sudut pandang ilmu gematria.

Wallahu ‘alam Bish Shawab.

Mohon maaf atas kesalahan karena Kesalahan semata-mata datangnya hanya dari diri saya pribadi dan Kebenaran datangnya semata-mata hanya dari Allah Swt Yang Maha Benar dan memiliki kebenaran yang tunggal dan bersifat mutlak. 

Salam RAH-AYWA,

Jaya Jayanti Nusantaraku


NB:

Saya izinkan untuk membagikan tulisan ini dengan tetap menyebutkan sumber aslinya agar semakin banyak orang yang dapat mengambil manfaat dari tulisan ini dan menjadi amal jariyah ilmu yang pahalanya tdak ada habis-habisnya.

Tingkatan Wali Menurut Kitab Salaf

 

فَائِدَةٌ فِى تَعْرِيْفِ اْلقُطْبِ
أَخْبَرَ الشَّيْخُ الصَّالِحُ اْلوَرَعُ الزَّاهِدُ الْمُحَقِّقُ الْمُدَقِّقُ شَمْسُ الدِّيْنِ بْنُ كَتِيْلَةُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَنَفَعَ بِهِ آمِيْنَ قَالَ : كُنْتُ يَوْمًا جَالِسًا بَيْنَ يَدِي سَيِّدِي فَخَطَرَ بَبًّالِيْ أَنْ أَسْأَلَهُ عَنِ اْلقُطْبِ فَقُلْتُ لَهُ : يَاسَيِّدِي مَا مَعْنَى اْلقُطْبُ ؟ 

Faedah ~ mengenai definisi Wali Qutub telah memberitahukan seorang guru yang sholih, wara`, Zuhud, seorang penyelidik, seorang yang teliti yakni Syekh Syamsuddin bin Katilah Rahimahullaahu Ta’ala menceritakan : “ suatu hari Saya sedang duduk di hadapan guruku, lalu terlintas untuk menanyakan tentang Wali Quthub. “Apa makna Quthub itu wahai tuanku?”

فَقَالَ لِيْ : اْلأَقْطَابُ كَثِيْرَةٌ ، فَإِنَّ كُلَّ مُقَدَّمِ قَوْمٍ هُوَ قُطْبُهُمْ وَأَمَّا قُطْبُ اْلغَوْثِ اْلفَرْدِ الْجَامِعِ فَهُوَ وَاحِدٌ
Lalu beliau menjawab kepadaku, “Quthub itu banyak. Setiap muqaddam atau pemuka sufi bisa disebut sebagai Quthub-nya. Sedangkan al-Quthubul Ghauts al-Fard al-Jami’ itu hanya satu.      ( dinuqil dari mafahirul a`liyyah )
فالقطب عارف بهم جميعا ومشرف عليهم ولم يعرفه أحد ولايتشرف عليه وهو إمام الأولياء
Wali Quthub yang A`rif ( yang mengenal Allah Swt. ) berkumpul bersama mereka dan yang mengawasi mereka dan tidak mengetahuinya seorangpun juga , dan tidak mendapat kemuliaan atasnya, ia ( wali Quthub ) adalah imam para wali. ( dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )
وثمّة رجل واحد هو القطب والغوث الذى يُغيث كلّ العالم .
Dan ada 1 orang ia adalah Wali Quthub dan Wali Gauts yang menolong di seluruh dunia.
ومتى انتقل القطب إلى الآخرة حل مكانه آخر من المرتبة التى قبله بالتسلسل إلى أن يحل رجل من الصلحاء والأولياء محل أحد الأربعة .
Dan ketika Wali Quthub pindah ke akhirat keadaan tempatnya digantikan oleh peringkat lain yang sebelumnya dengan berurutan untuk menempati kedudukan orang dari para Sholaha dan Auliya yang bertempat di salah satu dari yang empat .( dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )
Para Quthub senantiasa bicara dengan Akal Akbar ( akal yang agung ), dengan Cahaya-cahaya Ruh (Ruhul Anwar), dengan Pena yang luhur (Al-Qalamul A’la), dengan Kesucian yang sangat indah (Al-Qudsul Al-Abha), dengan Asma yang Agung (Ismul A’dzam), dengan Kibritul Ahmar (ibarat Berlian Merah), dengan Yaqut yang mememancarkan cahaya ruhani, dengan Asma’-asma, huruf-huruf dan lingkaran-lingkaran Asma huruf. Dia ( Para Quthub )bicara dengan cahaya matahati di atas rahasia terdalam di lubuk rahasianya. Ia seorang yang alim dengan pengetahuan lahiriah dan batiniyah dengan kedalaman makna yang dahsyat, baik dalam tafsir, hadits, fiqih, ushul, bahasa, hikmah dan etika. Sebuah ilustrasi yang digambarkan pada Sulthanul Auliya Syeikhul Quthub Abul Hasan Asy-Syadzily – semoga Allah senantiasa meridhoi .
والغوث عبارة عن رجل عظيم وسيد كريم تحتاج إليه الناس عند الاضطرار فى تبيين ماخفى من العلوم المهمة والأسرار ، ويطلب منه الدعاء لأنه مستجاب الدعاء لو أقسم على الله لأبرقسمه مثل أويس القرنى فى زمن رسول الله صلعم ، ولايكون القطب قطبا حتى تجتمع فيه هذه الصفات التى اجتمعت فى هؤلاء الجماعة الذين تقدم ذكرهم انتهى من مناقب سيدي شمس الدين الحنفى
Wali Ghauts, yaitu seorang tokoh besar ( agung ) dan tuan mulia, di mana seluruh ummat manusia sangat membutuhkan pertolongannya, terutama untuk menjelaskan rahasia hakikat-hakikat Ilahiyah. Mereka juga memohon doa kepada al-Ghauts, sebab al-Ghauts sangat diijabahi doanya. Jika ia bersumpah langsung terjadi sumpahnya, seperti Uwais al-Qarni di zaman Rasul SAW. Dan seorang Qutub tidak bisa disebut Quthub manakala tidak memiliki sifat dan predikat integral dari para Wali. Demikian pendapat dari kitab manaqib Sayyidi Syamsuddin Al-Hanafi…    (dinuqil dari mafahirul a`liyyah)
والواحد هو الغوث واسمه عبدالله وإذ مات الغوث حلّ محله أحد العمدة الأربعة ثمّ يحل محل العمدة واحد من الأخيار ، وهكذا يحل واحد من النجباء محل واحد من الأخيار ويحل محل أحد النقباء الذى يحل محله واحد من الناس
Dan berjumlah 1 orang yaitu Wali Gauts, namanya adalah Abdullah, dan jika Wali Gauts wafat maka kedudukannya digantikan oleh 1 orang dari Wali U`mdah yang berjumlah 4 orang kemudian kedudukan Wali U`mdah digantikan oleh 1 orang dari Wali Akhyar demikian pula kedudukan 1 orang dari Wali Nujaba menggantikan 1 orang dari Wali Akhyar dan kedudukan Wali Nuqoba digantikan oleh 1 orang dari manusia. (dinuqil dari safinatul Qodiriyyah)
قُطْبُ اْلغَوْثِ اْلفَرْدِ الْجَامِعِ
1. Qutubul Ghautsil Fardil Jaami`i (1 abad 1 Orang)
Wali yang paripurna. Bertugas memimpin para wali diseluruh alam. Jumlahnya tiap masa hanya 1 orang, bila ia wafat, ia akan digantikan oleh wali Imaamaan / Aimmah.
ويقول فى مرآة الأسرار : إنّ طبقات الصّوفيّة سبعة الطالبون والمريدون والسالكون والسّائرون والطائرون والواصلون وسابعهم القطب الذى قلبه على قلب سيّدنا محمّد صلعم وهو وارث العلم اللّدني من النبي صلعم بين الناس وهو صاحب لطيفة الحقّ الصحيحة ما عداالنبى الأمّى
Dia ( Syaikh Abdul Qodir Jailani ra. ) mengatakan dalam kitab Miratil Asror : Sesungguhnya tingkatan-tingkatan kewalian itu ada 7 tingkat diantaranya :
Thoolibun
Muriidun
Saalikun
Saairun
Thooirun
Waashilun
Dan ke 7 dari mereka yaitu Wali Qutub yang hatinya menempati Hati Nabi Muhammad saw. Dan ia ( wali Quthub ) merupakan pewaris ilmu laduni dari Nabi Saw. diantara manusia, dan ia ( wali Quthub ) yang memiliki lathifah ilahiyyah yang benar yang telah berlari kepada Hati Nabi yang Ummi Saw.
والطالب هو صاحب قوىّ مزكيّة للطيفته الخفية الجسميّة

والمريد هو صاحب قوىّ للطيفته النفسيّة

والسالك هو من يكون صاحب قوىّ مزكيّة للطيفة القلبيّة

والسائر هو الذى يكون صاحب قوىّ مزكيّة للطيفة السّرّيّة

والطائر هو الذى وصل إلى للطيفة الروحيّة

والواصل هو الشحص الذى اصبحت قواه اللطيفة مزكّاّة على لطيفة الحقّ
Thoolib adalah yang memiliki kekuasaan menyucikan bagi lathifah Jasad yang tersembunyi
Muriid adalah yang memiliki kekuasaan lathifah Nafsu
Saalik adalah orang yang memiliki kekuasaan menyucikan bagi lathifah Hati
Saair adalah orang memiliki kekuasaan menyucikan bagi lathifah Rasa
Thooir adalah orang yang sampai kepada lathifah Ruh
Wasil adalah orang yang menjadi kan kekuatan lathifahnya menyucikan terhadap lathifah ilahiyyah.
ويقولون : إنّ رجال الله هم الأقطاب والغوث والإمامان اللذان هما وزيرا القطب والأوتاد والأبدل والأخيار والأبرر والنقباء والنجباء والعمدة والمكتومون والأفراد أي المحبوبون
Mereka ( Para Hukama ) mengatakan: Sesungguhnya Para Wali Allah yaitu Wali Qutub, Wali Gauts, Wali Dua Imam, yang keduanya Wali Imamaim merupakan pelayan Wali Qutub, Wali Autad, Wali Abdal, Wali Akhyar, Wali Abrar, Wali Nuqoba, Wali Nujaba, Wali U`mdah, Wali Maktumun, dan Wali Afrad ia disebut pula Wali Mahbubun. (dinuqil dari safinatul Qodiriyyah)
الإِمَامَانِ
2. Imaamani / Imaamain / Aimmah ( 1 Abad 2 orang )
Wali yang menjadi dua imam
وأما الإمامان فهما شخصان أحدهما عن يمين القطب والآخر عن شماله فالذي عن يمينه ينظر فى الملكوت وهو أعلى من صاحبه ، والذى عن شماله ينظر فى الملك ، وصاحب اليمين هو الذي يخلف القطب ، ولهما أربعة أعمال باطنة وأربعة ظاهرة :
Adapun Wali Dua Imam (Imamani), yaitu dua pribadi ( 2 orang ) , salah satu ada di sisi kanan Quthub dan sisi lain ada di sisi kirinya. Yang ada di sisi kanan senantiasa memandang alam Malakut (alam batin) — dan derajatnya lebih luhur ketimbang kawannya yang di sisi kiri –, sedangkan yang di sisi kiri senantiasa memandang ke alam jagad semesta (malak). Sosok di kanan Quthub adalah Badal dari Quthub. Namun masing-masing memiliki empat amaliyah Batin, dan empat amaliyah Lahir.
فأما الظاهرة ، فالزهد والورع والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر
Yang bersifat Lahiriyah adalah: Zuhud, Wara’, Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar.
وأما الباطنة فالصدق والإخلاص والحياء والمراقبة
Sedangkan yang bersifat Batiniyah: Sidiq ( Kejujuran hati) , Ikhlas, Mememlihara Malu dan Muraqabah.
وقال القاشاني فى اصطلاحات الصوفية :
Syaikh Al-Qosyani dalam istilah kitab kewaliannya Berkata :
الإمامان هما الشخصان اللذان أحدهما عن يمين القطب ونظره فى الملكوت
Wali Imam adalah dua orang, satu di sebelah kanan Qutub dan dan senantiasa memandang alam malakut (alam malaikat)
والآخر عن يساره ونظره فى الملك،
dan yang lainnya ( satu lagi ) di sisi kiri ( wali Qutub ) –, sedangkan yang di sisi kiri senantiasa memandang ke alam jagad semesta (malak).
وهو أعلى من صاحبه وهو الذى يخلف القطب ،
dan derajatnya lebih luhur ketimbang kawannya yang di sisi kanan, Sosok di kiri Quthub adalah Badal dari Quthub
قلت وبينه وبين ما قبله مغايرة فليتأمل
Syaikh Al-Qosyani berkata, diantara dirinya ( yang sebelah kiri ) dan antara sesuatu yang sebelumnya ( sebelah kanan ) memiliki perbedaan dalam perenungan. (dinuqil dari mafahirul a`liyyah)
Al Imamani bentuk isim tasniyyah (bentuk ganda) berasal dari kata tunggal Al- imam yang mempunyai arti pemimpin begitu juga Al Aimmah berasal dari kata tunggal imam yang mempunyai arti pemimpin.
Wali Imaaman merupakan Pembantu Wali Qutubul Ghautsil Fardil Jaami`i. Jumlahnya ada 2 orang. Bila Wali Qutubul Ghautsil Fardil Jaami`i wafat, maka salah 1 seorang wali Aimmah akan menggantikan posisinya.
Gelar Wali Aimmah :
1) Abdul Rabbi عَبْدُ الرَّبِّ bertugas menyaksikan alam ghaib
2) Abdul Malik عَبْدُ الْمَالِكِ bertugas menyaksikan alam malaikat
الأَوْتَادُ
3. Autad (1 Abad 4 Orang di 4 penjuru Mata Angin) Wali paku jagat
ثمّ الأوتاد وهم عبارة عن أربعة رجال منازلهم منازل الأربعة أركان من العالم شرقا وغربا وجنوبا وشمالا ومقام كل واحد منهم تلك ولهم ثمانية أعمال أربعة ظاهرة وأربعة باطنة ،
Kemudian Wali Autad mereka berjumlah 4 orang tempat mereka mempunyai 4 penjuru tiang -tiang, mulai dari penjuru alam timur, barat, selatan dan utara dan maqom setiap satu dari mereka itu, Mereka memiliki 8 amaliyah: 4 lagi bersifat lahiriyah, dan 4 bersifat batiniyah
فالظاهرة :كثرة الصيام ، وقيال الليل والناس نيام ، وكثرة الإيثار ، والإستغفار بالأسحار
Maka yang bersifat lahiriyah: 1) Banyak Puasa, 2) Banyak Shalat Malam, 3) Banyak Pengutamaan ( lebih mengutamakan yang wajib kemudian yang sunnah ) dan 4) memohon ampun sebelum fajar.
وأما الباطنة : فالتوكل والتفويض والثقة والتسليم ولهم واحد منهم هو قطبهم
Adapun yang bersifat Bathiniyah :
1) Tawakkal, 2) Tafwidh , 3) Dapat dipercaya ( amanah) dan 4) taslim.dan kepercayaan, pengiriman, dan dari mereka ada salah satu imam ( pemukanya), dan ia disebut sebagai Quthub-nya. ( dinuqil dari mafahirul a`liyyah )
وثمّة أربعون آخرون هم الأوتاد الذين مدار استحكام العالم بهم . كما الطناب بالوتد . وثلاثة آخرون يقال لهم النقباء أي نقباء هذه الأمّة.
Dan ada 40 orang lainnya mereka adalah Wali Autad yang gigih mereka diatas dunia. Sebagai tali pasak. Dan tiga orang lainnya disebut bagi mereka adalah Wali Nuqoba artinya panglima umat ini. ( dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )
Al Autad berasal dari kata tunggal Al Watad yang mempunyai arti pasak/ tiang. Yang memperoleh pangkat Al Autad hanya ada empat orang saja setiap masanya. Mereka tinggal di utara, di timur, di barat dan di selatan bumi, mereka bagaikan penjaga di setiap pelusuk bumi.
Jumlahnya selalu 4 ( empat ) setiap masa. Masing – masing menguasai 4 mata angin yg berpusat di Ka’bah Mekkah.
dalam maqam Autad kadang terdapat wali wanita.
gelar autad :
1. Abdul Hayyi عَبْدُ الْحَيِّ
2. Abdul Alim عَبْدُ الْعَالِيْمِ
3.Abdul Qadir عَبْدُ الْقَادِرِ
4. Abdul Murid عَبْدُ الْمُرِيْدِ
الأَبْدَالُ
4. Abdal ( 1 Abad 7 Orang tidak akan bertambah & berkurang Apabila ada wali Abdal yg Wafat Alloh menggantikannya dengan mengangkat Wali abdal Yg Lain ( Abdal=Pengganti ) Wali Abdal juga ada yang Waliyahnya ( Wanita ).
وأما الأبدال فهم سبعة رجال ، أهل كمال واستقامة واعتدال ، قد تخلصوا من الوهم والخيال ولهم أربعة أعمال باطنة وأربعة ظاهرة ،
Adapun Wali Abdal berjumlah 7 orang. Mereka disebut sebagai kalangan paripurna, istiqamah dan memelihara keseimbangan kehambaan. Mereka telah lepas dari imajinasi dan khayalan, dan Mereka memiliki 8 amaliyah: 4 bersifat batiniyah, dan 4 lagi bersifat lahiriyah
فأما الظاهرة فالصمت والسهر والجوع والعزلة
Adapun yang bersifat lahiriyah: 1) Diam, 2) Terjaga dari tidur, 3) Lapar dan 4) ‘Uzlah.
ولكل من هذه الأربعة ظاهر وباطن
Dari masing-masing empat amaliyah lahiriyah ini juga terbagi menjadi empat pula:
Lahiriyah dan sekaligus Batiniyah:
أما الصمت فظاهره ترك الكلام بغير ذكر الله تعالى
Pertama, diam, secara lahiriyah diam dari bicara, kecuali hanya berdzikir kepada Allah Ta’ala.
وأما باطنه فصمت الضمير عن جميع التفاصيل والأخبار
Sedangkan Batinnya, adalah diam batinnya dari seluruh rincian keragaman dan berita-berita batin.
وأما السهر فظاهره عدم النوم وباطنه عدم الغفلة
Kedua, terjaga dari tidur secara lahiriyah, batinnya terjaga dari kealpaan dari dzikrullah.
وأما الجوع فعلى قسمين : جوع الأبرار لكمال السلوك وجوع المقربين لموائد الأنس
Ketiga, lapar, terbagi dua. Laparnya kalangan Abrar, karena kesempurnaan penempuhan menuju Allah, dan laparnya kalangan Muqarrabun karena penuh dengan hidangan anugerah sukacita Ilahiyah (uns).
وأما العزلة فظارها ترك المخالطة بالناس وباطنها ترك الأنس بهم :
Keempat, ‘uzlah, secara lahiriyah tidak berada di tengah keramaian, secara batiniyah meninggalkan rasa suka cita bersama banyak orang, karena suka cita hanya bersama Allah.
وللأبدال أربعة أعمال باطنة وهي التجريد والتفريد والجمع والتوحيد
Amaliyah Batiniyah kalangan Abdal, juga ada empat prinsipal: 1) Tajrid (hanya semata bersama Allah), 2) Tafrid (yang ada hanya Allah), 3) Al-Jam’u (berada dalam Kesatuan Allah, 3) Tauhid.
ومن خواص الأبدال من سافر من القوم من موضعه وترك جسدا على صورته فذاك هو البدل لاغير، والبدل على قلب إبراهيم عليه السلام ،
Salah satu keistimewaan-keistimewaan wali abdal dalam perjalanan qoum dari tempatnya dan meninggalkan jasad dalam bentuk-Nya maka dari itu ia sebagai abdal tanpa kecuali
وهؤلاء الأبدال لهم إمام مقدم عليهم يأخذون عنه ويقتدون به ، وهو قطبهم لأنه مقدمهم ،
Wali abdal ini ada imam dan pemukanya, dan ia disebut sebagai Quthub-nya.
karena sesungguhnya ia sebagai muqoddam abdal-Nya.
وقيل الأبدال أربعون وسبعة هم الأخيار وكل منهم لهم إمام منهم هو قطبهم ،
Dikatakan bahwa wali abdal itu jumlahnya 47 orang mereka disebut juga wali akhyar dan setiap dari mereka ada imam dan pemukanya, dan ia disebut sebagai Quthub-nya. ( dinuqil dari mafahirul a`liyyah )
وأورد فى مجمع السلوك : أنّ الأولياء أربعون رجلا هم الأبدال وأربعون هم النقباء وأربعون هم النجباء وأربعون هم الأوتاد وسبعة هم الأمناء وثلاثة هم الخلفاء
Dikutip di dalam kitab Majmu`us Suluk : bahwa para wali berjumlah 40 orang mereka disebut Wali Abdaal , dan 40 orang disebut wali Nuqoba, 40 orang disebut wali Nujaba, 40 orang disebut wali Autad, 7 orang disebut wali Umana dan 3 orang disebut wali Khulafa. ( dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )
Al Abdal berasal dari kata Badal yang mempunyai arti menggantikan. Yang memperoleh pangkat Al Abdal itu hanya ada tujuh orang dalam setiap masanya. Setiap wali Abdal ditugaskan oleh Allah swt untuk menjaga suatu wilayah di bumi ini. Dikatakan di bumi ini mempunyai tujuh daerah. Setiap daerah dijaga oleh seorang wali Abdal. Jika wali Abdal itu meninggalkan tempatnya, maka ia akan digantikan oleh yang lain.
Ada seorang yang bernama Abdul Majid Bin Salamah pernah bertanya pada seorang wali Abdal yang bernama Muaz Bin Asyrash, amalan apa yang dikerjakannya sampai ia menjadi wali Abdal? Jawab Muaz Bin Asyrash: “Para wali Abdal mendapatkan derajat tersebut dengan empat kebiasaan, yaitu sering lapar, gemar beribadah di malam hari, suka diam dan mengasingkan diri”.
Wali Abdal ( Pengganti) ini apabila salah satu anggotanya ada yang wafat, maka para wali / al Ghauts akan menunjuk penggantinya.
Jumlahnya selalu 7 orang setiap masa dan mereka menguasai 7 iklim.
النُّجَبَاءُ
5. Nujaba’ ( 1 Abad 8 Orang ) Wali yang dermawan
ثُمَّ النُّجَبَاءُ أَرْبَعُوْنَ وَقِيْلَ سَبْعُوْنَ وَهُمْ مَشْغُوْلُوْنَ بِحَمْلِ أَثْقَلِ الْخَلْقِ فَلَا يَنْظُرُوْنَ إِلَّا فِى حَقِّ اْلغَيْرِ ، وَلَهُمْ ثَمَانِيَةُ أَعْمَالٍ. أَرْبَعَةٌ بَاطِنَةٌ ،وَ أَرْبَعَةٌ ظَاهِرَةٌ ،
Sedangkan Wali Nujaba’ jumlahnya 40 Wali. Ada yang mengatakan 70 Wali. Tugas mereka adalah memikul beban-beban kesulitan manusia. Karena itu yang diperjuangkan adalah hak orang lain (bukan dirinya sendiri). Mereka memiliki 8 amaliyah: 4 bersifat batiniyah, dan 4 lagi bersifat lahiriyah:
فالظاهرة : الفتوة والتواضع والأدب وكثرة العبادة ،
Yang bersifat lahiriyah adalah 1) Futuwwah (peduli sepenuhnya pada hak orang lain), 2) Tawadlu’, 3) Menjaga Adab (dengan Allah dan sesama) dan 4) Ibadah secara maksimal.
وأما الباطنة فالصبر والرضا والشكر والحياء وهم أهل مكارم الأخلاق
Sedangkan secara Batiniyah, 1) Sabar, 2) Ridla, 3) Syukur), 4) Malu. Dan meraka di sebut juga wali yang mulia akhlaqnya.
والنجباء : هم المشغولون بحبل أثقال الخلق وهم أربعون اهـ
Dan Nujaba mereka disibukan dengan tali beban-beban makhluk jumlah Wali Nujaba 40 orang ( dinuqil dari mafahirul a`liyyah )
ويقول أيضا فى كشف اللغات : النجباء أربعون رجلا من رجال الغيب القائمون بإصلاح أعمال الناس . ويتحملون مشاكل الناس ويتصرفون فى أعمالهم ويقول فى شرح الفصوص : النجباء سبعة رجال يقال لهم رجال الغيب والنقباء ثلاثمائة ويقال لهم الأبرار وأقل مراتب الأولياء هي مرتبة النقباء
Dia ( Syaikh Abdul Qodir Jailani ra. ) juga mengatakan dalam Kitab kasyful Lughoh : bahwa Wali Nujaba berjumlah 40 orang dari golongan Wali Rijalil Ghoib yang menyelenggarakan dengan amal-amal manusia dan menanggung masalah manusia serta mereka bertindak dalam amal-amal mereka , dan ia ( Syaikh Abdul Qodir Jailani ra. ) mengatakan di dalam kitab syarohul Fushush : bahwa Wali Nujaba berjumlah 7 orang dan disebut juga mereka Wali Rijalul Ghoib , Wali Nuqoba berjumlah 300 orang disebut juga mereka Wali Abrar dan peringkat yang lebih rendah dari para wali adalah pangkat wali Nuqoba.( dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )
وثمّة سبعون آخرون يقال لهم النجباء ، وهؤلاء فى المغرب وأربعون آخرون هم الأبدال ومقرّهم فى الشام ،
Dan ada 70 orang yang lain disebut bagi mereka Wali Nujaba, dan orang-orang ini tinggal di Maroko dan 40 orang lainnya adalah Wali Abdal yang berpusat di Suriah, ( dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )
Wali ini hanya bisa dikenali oleh wali yg tingkatannya lebih tinggi.
jumlahnya selalu 8 orang dan du`a mereka sangat mustajab An Nujaba’ berasal dari kata tunggal Najib yang mempunyai arti bangsa yang mulia. Wali Nujaba’ pada umumnya selalu disukai orang. Dimana saja mereka mendapatkan sambutan orang ramai. Kebanyakan para wali tingkatan ini tidak merasakan diri mereka adalah para wali Allah. Yang dapat mengetahui bahwa mereka adalah wali Allah hanyalah seorang wali yang lebih tinggi derajatnya. Setiap zaman jumlah mereka hanya tidak lebih dari 8 orang.
النُّقَبَاءُ
6. Nuqoba’ ( Naqib ) ( 1 Abad 12 orang Di Wakilkan Alloh Masing2 pada tiap-tiap Bulan). Wali yang mengetahui batinnya manusia
وَتَفْسِيْرُ ذَلِكَ أَنَّ النُّقَبَاءَ هُمُ ثَلَثُمِائَةٌ وَهُمُ الَّذِيْنَ اِسْتَخْرَجُوْا خَبَايًّا النُّفُوْس وَلَهُمُ عَشْرَةُ أَعْمَالٍ : أَرْبَعَةٌ ظَاهِرَةٌ وَسِتَّةٌ بَاطِنَةٌ
Dan penjelasan tersebut : sesungguhnya bahwa Wali Nuqaba’ itu jumlahnya 300. Mereka itu yang menggali rahasia jiwa dalam arti mereka itu telah lepas dari reka daya nafsu, dan mereka memiliki 10 amaliyah: 4 amaliyah bersifat lahiriyah, dan 6 amaliyah bersifat bathiniyah.
فَاْلأَرْبَعَةُ الظَّاهِرَةُ : كَثْرَةُ اْلعِبَادَةِ وَالتَّحْقِقُ بِالزُّهَّادَةَ وَالتَّجْرِدُ عَنِ اْلإِرَادَةَ وَقُوَّةُ الْمُجَاهَدَةَ
Maka 4 `amaliyah lahiriyah itu antara lain: 1) Ibadah yang banyak, 2) Melakukan zuhud hakiki, 3) Menekan hasrat diri, 4) Mujahadah dengan maksimal.
وَأَمَّا ْالبَاطِنَةُ فَهِيَ التَّوْبَةُ وَاْلإِنَابَةُ وَالْمُحَاسَبَةُ وَالتَّفَكُّرُ وَاْلإِعْتِصَامُ وَالرِّيَاضَةُ فَهَذِهِ الثَّلَثُمِائَةٌ لَهُمْ إِمَامٌ مِنْهُمْ يَأْخُذُوْنَ عَنْهُ وَيَقْتَدُوْنَ بِهِ فَهُوَ قُبْطُهُمْ
Sedangkan `amaliyah batinnya: 1) Taubat, 2) Inabah, 3) Muhasabah, 4) Tafakkur, 5) Merakit dalam Allah, 6) Riyadlah. Di antara 300 Wali ini ada imam dan pemukanya, dan ia disebut sebagai Quthub-nya.
وفى اصطلاحات شيخ الإسلام زكريا الأنصاري : النقباء هم الذين استخرجوا خبايا النفوس وهم ثلثمائة
Dalam istilah Syaikh al-Islam Zakaria Al-Anshar Ra : Wali Nuqoba adalah orang-orang yang telah menemukan rahasia jiwa, dan mereka ( wali Nuqoba ) berjumlah 300 orang. (dinuqil dari mafahirul a`liyyah)
والنقباء ثلاثمائة شخص واسم كلّ منهم علىوالنجباء سبعون واسم كلّ واحد منهم حسنوالأخيار سبعة واسم كل منهم حسينوالعمدة أربعة واسم كلّ منهم محمّد

Dan Wali Nuqoba berjumlah 300 orang dan nama masing-masing dari mereka yaitu A`li

Dan Wali Nujaba berjumlah 70 orang dan nama salah satu dari mereka yaitu Hasan
Dan Wali Akhyar berjumlah 7 orang dan nama masing-masing dari mereka yaitu Husain
Dan Wali U`mdah berjumlah 4 orang dan nama masing-masing dari mereka yaitu Muhammad ( dnuqil dari safinatul Qodiriyyah )
وأما مكان إقامة النقباء فى أرض المغرب أي السويداء واليوم هناك من الصبح إلى الضحى وبقية اليوم ليل أما صلاتهم فحين يصل الوقت فإنهم يرون الشمس بعد طيّ الأرض لهم فيؤدّون الصلاة لوقتها
Adapun tempat kediaman Wali Nuqoba di tanah Magrib yakni Khurasan , pada hari ini dari mulai Shubuh sampai Dhuha dan pada sisa malam hari itu mereka shalat ketika waktu tiba, mereka melihat matahari sesudah bumi melipat ,mereka melakukan Shalat pada waktunya. ( dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )
Jumlahnya selalu 12. mereka sangat menguasai hukum syariat.
Jika wali Nuqaba’ melihat jejak kaki seseorang, maka ia akan dapat mengetahui apakah jejeak tsb milik orang baik, jahat, pandai atau bodoh.
An Nuqaba’ berasal dari kata tunggal Naqib yang mempunyai arti ketua suatu kaum. Jumlah wali Nuqaba’ dalam setiap masanya hanya ada dua belas orang. Wali Nuqaba’ itu diberi karamah mengerti sedalam-dalamnya tentang hukum-hukum syariat. Dan mereka juga diberi pengetahuan tentang rahasia yang tersembunyi di hati seseorang. Selanjutnya mereka pun mampu untuk meramal tentang watak dan nasib seorang melalui bekas jejak kaki seseorang yang ada di tanah. Sebenarnya hal ini tidaklah aneh. Kalau ahli jejak dari Mesir mampu mengungkap rahasia seorang setelah melihat bekas jejaknya. Apakah Allah tidak mampu membuka rahsia seseorang kepada seorang waliNya?
الرُّقَبَاءُ
7. Ruqooba ( 1 Abad 4 Orang)
Wali yang waspada akan firman-firman Allah
الْخَتْمُ الزَّمَانِ
8. Khotmz Zamaan ( penutup Wali Akhir zaman )( 1 Alam dunia hanya 1 orang ) Yaitu Nabi Isa A S ketika diturunkan kembali ke dunia, Alloh Angkat menjadi Wali Khotmz Zamaan.
Al Khatamiyun berasal dari kata Khatam yang mempunyai arti penutup atau penghabisan. Maksudnya pangkat AlKhatamiyun adalah sebagai penutup para wali. Jumlah mereka hanya seorang. Tidak ada pangkat kewalian umat Muhammad yang lebih tinggi dari tingkatan ini. Jenis wali ini hanya akan ada di akhir masa,yaitu ketika Nabi Isa as.datang kembali.
الرِّجَالُ الْمَاءِ
9. Rizalul Ma’ ( 1 Abad 124 Orang )Wali yang beribadah didalam air dan berjalan di atas air
Wali dengan Pangkat Ini beribadahnya di dalam Air di riwayatkan oleh Syeikh Abi Su’ud Ibni Syabil ” Pada suatu ketika aku berada di pinggir sungai tikrit di Bagdad dan aku termenung dan terbersit dalam hatiku “Apakah ada hamba2 Alloh yang beribadah di sungai2 atau di Lautan” Belum sampai perkataan hatiku tiba2 dari dalam sungai muncullah seseorang yang berkata “akulah salah satu hamba Alloh yang di tugaskan untuk beribadah di dalam Air”, Maka akupun mengucapkan salam padanya lalu Dia pun membalas salam aku tiba2 orang tersebut hilang dari pandanganku.
الرِّجَالُ الْغَيْبِ
10. Rizalul Ghoib ( 1 Abad 10 orang tidak bertambah dan berkurang )Wali yang dapat melihat rahasia alam ghaib dengan mata hatinya tiap2 Wali Rizalul Ghoib ada yg Wafat seketika juga Alloh mengangkat Wali Rizalul Ghoib Yg lain, Wali Rizalul Ghoib merupakan Wali yang di sembunyikan oleh Alloh dari penglihatannya Makhluq2 Bumi dan Langit tiap2 wali Rizalul Ghoib tidak dapat mengetahui Wali Rizalul Ghoib yang lainnya, Dan ada juga Wali dengan pangkat Rijalul Ghoib dari golongan Jin Mu’min, Semua Wali Rizalul Ghoib tidak mengambil sesuatupun dari Rizqi Alam nyata ini tetapi mereka mengambil atau menggunakan Rizqi dari Alam Ghaib.
الرِّجَالُ الشَّهَادَةِ
11. Rizalul Syahaadah /Adz-Dzohirun ( 1 Abad 18 orang ) Wali yang ahli dalam ibadah zhohir
الرِّجَالُ اْلإِمْدَادِ
12. Rizalul Imdad ( 1 Abad 3 Orang ) Wali penolong
Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Imdadil Ilahi Wal Kauni, yaitu mereka yang selalu mendapat kurniaan Ilahi. Jumlah mereka tidak lebih dari tiga orang di setiap abad. Mereka selalu mendapat pertolongan Allah untuk menolong manusia sesamanya. Sikap mereka dikenal lemah lembut dan berhati penyayang. Mereka senantiasa menyalurkan anugerah-anugerah Allah kepada manusia. Adanya mereka menunjukkan berpanjangannya kasih sayang Allah kepada makhlukNya.
الرِّجَالُ الْهَيْبَةِ وَالْجَلَالِ
13. Rizalul Haybati Wal Jalal ( 1 Abad 4 Orang ) Wali yang berwibawa dan memiliki keagungan
الرِّجَالُ الْفَتْحِ
14. Rizalul Fath ( 1 Abad 24 Orang )
Wali yang terbuka mata hatinya
Allah mewakilkannya di tiap Sa’ah ( Jam ) Wali Rizalul Fath tersebar di seluruh Dunia 2 Orang di Yaman, 6 orang di Negara Barat, 4 orang di negara timur, dan sisanya di semua Jihat ( Arah Mata Angin )
ويقول فى توضيح المذاهب :
Dia ( Syaikh Abdul Qodir Jailani ra. ) berkata dalam kitab Taudhil Madzahib:
اْلمَكْتُوْمُوْنَ
15. Wali Maktum ( para wali yang tersembunyi ) berjumlah 4.000 orang
ويقول فى توضيح المذاهب :
Dia ( Syaikh Abdul Qodir Jailani ra. ) berkata dalam kitab Taudhil Madzahib:
المكتومون أربعة آلاف رجل ويبقون مستورين وليسوا من أهل التصرف.
Wali Maktum berjumlah 4.000 orang dan tetap Masturin ( yakni tetap menjadi para wali yang tidak dikenal oleh orang-orang ) dan mereka bukan dari Ahlut Tashrif.
أما الذين هم من أهل الحل والعقد والتصرّف وتصدر عنهم الأمور وهم كقرّبون من الله فهم ثلاثمائة .
Adapun Ahlu Tashrif mereka itu dari Ahlul Hal yakni orang yang berpengaruh dan bertindak dengan mereka yakni Wali Kaqorrobun dari Allah Swt dan mereka berjumlah 300 orang. ( dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )
قُطْبُ الْخَتْمِ الْمَكْتُوْمِ
16. Quthbul khotmil maktum(1 Abad 1 Orang) Wali paripurna yang disembunyikan
كَقَرَّبُوْنَ
17. Wali Kaqorrobun berjumlah 300 orang.
الْخُلَفَاءُ
18. Wali Khulafa ( wali para pengganti )
berjumlah 3 orang
والثلاثة الذين هم الخلفاء من الأئمة يعرفون السبعة ويعرفون الأربعين وهم البدلاء والأربعون يعرفون سائر الأولياء من الأئمة ولا يعرفهم من الأولياء أحد فإذا نقص واحد من الأربعين أبدل مكانه من الأولياء وكذا فى السبع والثلاث والواحد إلا أن يأتي بقيام الساعة انتهى
Dan berjumlah 3 orang yang merupakan Wali Khulafa dari 7 Wali Aimah yang A`rif, dan 40 yang A`rif mereka adalah Wali Budalaa dan 40 golongan para wali yang A`rif dari Wali Aimah dan tidak ada yang mengetahui mereka dari para wali seorang pun Jika salah satu dari 40 kurang maka ia menggantikan tempatnya dari para wali demikian juga yang berjumlah tujuh dan tiga dan satu orang kecuali jika datang kiamat. ( dituqil dari safinatul Qodiriyyah )
البُدَلَاءُ
19. Budala’ (1 Abad 12 orang) Wali yang menjadi penggantinya ulama
Budala’ Jama’ nya ( Jama’ Sigoh Muntahal Jumu’) dari Abdal tapi bukan Pangkat Wali Abdal
وقال أبو عثمان المغربي : البدلاء أربعون والأمناء سبعة والخلفاء من الأئمة ثلاثة والواحد هو القطب :
Said Abu U`tsman Al Maghriby berkata : bahwa Wali Budala`a berjumlah 40 orang, Wali Umana berjumlah 7 orang, Wali Khulafa dari Wali Aimah berjumlah 7 orang dan 1 orang adalah Wali Qutub . ( dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )
اْلأَخْيَارُ
20. Wali Akhyar (para wali pilihan) berjumlah 7 orang
وفى كشف اللغات يقول : الأولياء عدة أقسام : ثلاثمائة منهم يقال لهم أخيار وأبرار وأربعون يقال لهم الأبدل وأربعة يسمّون بالأوتاد وثلاثة يسمّون النقباء وواحد هو المسمّى بالقطب انتهى
dalam Kitab kasyful Lughoh ( Syaikh Abdul Qodir Jailani ra. ) mengatakan: bahwa para wali ada beberapa tingkatan : 300 orang dari mereka disebut Wali Akhyar dan Wali Abrar dan 40 orang disebut dengan Wali Abdal dan 4 orang disebut dengan Wali Autad dan 3 orang disebut dengan Wali Nuqoba dan 1 orang disebut dengan Wali Quthub……….. berakhir.( dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )
وفى رواية خلاصة المناقب سبعة . ويقال لهم أيضا أخيار وسيّاح ومقامهم فى مصر.
Di dalam kitab Riwayat ringkasan Manaqib yang ke-7. Dikatakan bahwa Wali Akhyar juga melakukan perjalanan di muka bumi, dan tetap tinggal di Mesir.
وقد أمرهم الحقّ سبحانه بالسياحة لإرشاد الطالبين والعابدين .
Sungguh telah memerintahkan mereka kepada Allah yang Maha Haq lagi yang maha suci dengan perjalanan petunjuk untuk memandu pemohon ( Tholibun ) dan A`bidun. ( dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )
اْلعُمْدَةُ
21. Wali Umdah ( para wali pembaiat )
berjumlah 4 orang
وثمّة خمسة رجال يقال لهم العمدة لأنهم كالأعمدة للبناء والعالم يقوم عليهم كما يقوم المنزل على الأعمدة . وهؤلاء فى أطراف العالم .
Dan ada 5 orang disebut bagi mereka Wali U`mdah, karena sesungguhnya mereka seperti tiang bagi gedung dan dunia yang berdiri bagi mereka, sebagai mana berdirinya rumah diatas tiang. Dan orang-orang ini tinggal di belahan dunia. ( dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )
وأما العمدة الأربعة ففى زوايا الأرض وأمّاالغوث فمسكنه مكّة وأمّا الأخيار فهم سيّاحون دائما وأمّا النجباء فمسكنه مصر ولايقرّون فى مكان وهذا غير صحيح
ذلك لأنّ حضرة السيد عبد القادر الجلاني رحمه الله وكان غوثا إنّما أقام فى بغداد .
Adapun ( tempat kediaman ) wali U`mdah di empat penjuru bumi, dan Wali Gauts tempat kediamannya di Makkah, Wali Akhyar melakukan perjalan (sayyâhûn) di muka bumi) selamanya, Wali Nujaba di Mesir dan mereka tidak menetap di satu tempat maka hal ini tidak benar, karena sesungguhnya Hadroh Sayyid Abdul Qodir Jailani menjadi Wali Gauts dan pastinya tempat kediaman Wali Gauts di Baghdad.
هذا وتفصيل أحوال الباقى فسيأتي فى مواضعه
Ini perincian kondisi sisanya yang akan datang pada tempatnya. ( dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )
اْلأَبْرَارُ
22. Wali Abrar ( para wali yang berbakti )
berjumlah 7 orang
وثمّة سبعة هم الأبراروهم فى الحجاز .
Dan Ada 7 orang mereka adalah Wali Abrar dan mereka tinggal di Hijaz. ( dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )
اْلمَحْبُوْبُوْنَ
23. Wali Mahbubun ( para wali yang saling mencintai ) berjumlah 7 orang
الرِّجَالُ الْمَعَارِجِ اْلعُلَى
24. Rizalul Ma’arijil ‘Ula ( 1 Abad 7 Orang )
Wali yang terus naik derajat luhurnya
الرِّجَالُ الْعَيْنِ التَّحْكِيْمِ وَالزَّوَائِدِ
25. Rizalun Ainit Tahkimi waz Zawaid ( 1 Abad 10 Orang )
Wali yang kuat keyakinannya dengan ilmu hikmah ( ilmu para hukama/para wali ) dan ma`rifatnya
الرِّجَالُ الْغِنَى بِاللهِ
26. Rizalul Ghina ( 1 Abad 2 Orang )
Wali yang merasa cukup
sesuai Nama Maqomnya (Pangkatnya) Rizalul Ghina ” Wali ini Sangat kaya baik kaya Ilmu Agama, Kaya Ma’rifatnya kepada Alloh maupun Kaya Harta yg di jalankan di jalan Allah, Pangkat Wali ini juga ada Waliahnya ( Wanita ).
الرِّجَالُ اْلإِسْتِيَاقِ
27. Rizalul Istiyaq ( 1 Abad 5 Orang )
الرِّجَالُ الْجَنَانِ وَالْعَطْفِ
28. Rizalul Janaani wal A`thfi ( 1 Abad 15 Orang ) Wali yang ahli menjaga jiwanya dan pengasih
Ada jenis wali yang dikenal dengan nama Rijalul Hanani Wal Athfil Illahi artinya mereka yang diberi rasa kasih sayang Allah. Jumlah mereka hanya ada lima belas orang di setiap zamannya. Mereka selalu bersikap kasih sayang terhadap manusia baik terhadap yang kafir maupun yang mukmin. Mereka melihat manusia dengan pandangan kasih sayang, kerana hati mereka dipenuhi rasa insaniyah yang penuh rahmat.
الرِّجَالُ تَحْتِ اْلأَسْفَلِ
29. Rizalut Tahtil Asfal ( 1 Abad 21 orang )
الرِّجَالُ اْلقُوَّاةِ اْلإِلَهِيَّةِ
30. Rizalul Quwwatul Ilahiyyah (1 Abad 8 Orang )
Di antaranya pula ada wali yang dikenal dengan nama Rijalul Quwwatul Ilahiyah artinya orang-orang yang diberi kekuatan oleh Tuhan. Jumlah mereka hanya delapan orang saja di setiap zaman. Wali jenis ini mempunyai keistimewaan, yaitu sangat tegas terhadap orang-orang kafir dan terhadap orang-orang yang suka mengecilkan agama. Sedikit pun mereka tidak takut oleh kritikan orang. Di kota Fez ada seorang yang bernama Abu Abdullah Ad Daqqaq. Beliau dikenal sebagai seorang wali dari jenis Rijalul Quwwatul Ilahiyah. Di antaranya pula ada jenis wali yang sifatnya keras dan tegas. Jumlah mereka hanya ada 5 orang disetiap zaman. Meskipun watak mereka tegas, tetapi sikap mereka lemah lembut terhadap orang-orang yang suka berbuat kebajikan.
خَمْسَةُ الرِّجَالِ
31. Khomsatur Rizal ( 1 Abad 5 orang )
رَجُلٌ وَاحِدٌ
32. Rozulun Wahidun ( 1 Abad 1 Orang )
رَجُلٌ وَاحِدٌ مَرْكَبٌ مُمْتَزٌّ
33. Rozulun Wahidun Markabun Mumtaz ( 1 Abad 1 Orang )
Wali dengan Maqom Rozulun Wahidun Markab ini di lahirkan antara Manusia dan Golongan Ruhanny( Bukan Murni Manusia ), Beliau tidak mengetahui Siapa Ayahnya dari golongan Manusia , Wali dengan Pangkat ini Tubuhnya terdiri dari 2 jenis yg berbeda, Pangkat Wali ini ada juga yang menyebut ” Rozulun Barzakh ” Ibunya Dari Wali Pangkat ini dari Golongan Ruhanny Air INNALLOHA ‘ALA KULLI SAY IN QODIRUN ” Sesungguhnya Allah S.W.T atas segala sesuatu Kuasa.
الشَّمْسُ الشُّمُوْسِ
34. Syamsis Syumus ( 1 abad 1 orang )
Wali yang bercahaya bagaikan matahari
القُطْبَانِيَّةُ الْعُظْمَى / قُطْبُ اْلأَعْظَمُ
35. Quthbaniyatul Uzhma ( 1 abad 1 orang ) Penghulu wali yang agung
الشَّخْصُ الْغَرِيْبِ
36. Syakhshul Ghorib ( di dunia hanya ada 1 orang )
الشَّخْصُ الْوَاحِدِ
37. Syakhshul Wahid ( 1 Abad 1 Orang )
قُطْبُ السَّقِيْطِ الرَّفْرَفِ ابْنِ سَاقِطِ الْعَرْشِ
38. Saqit Arofrof Ibni Saqitil ‘Arsy ( 1 Abad 1 Orang )
Wali yang menerima firman dari rof-rof putra wali yang menerima firman dari arasy
قُطْبُ السَّاقِطِ الْعَرْشِ
39. Saqitil ‘Arsy ( 1 Abad 1 Orang )
Wali yang menerima firman dari arasy
الْأَنْفَاسِ
40. Sittata Anfas ( 1 Abad 6 Orang )
Wali yang ahli menjaga nafasnya dengan dzikir
salah satu wali dari pangkat ini adalah Putranya Raja Harun Ar-Royid yaitu Syeikh Al-’Alim Al-’Allamah Ahmad As-Sibty
الرِّجَالُ الْعَالَمِ الْأَنْفَاسِ
41. Rizalul ‘Alamul Anfas ( 1 Abad 313 Orang )
حَوَارِىٌّ
42. Hawariyyun (1 Abad 1 Orang) Wali Pembela. Jumlahnya 1 orang.
Tugasnya membela agama Allah baik dengan argumen maupun dengan senjata. Wali Hawariyyun di beri kelebihan Oleh Alloh dalam hal keberanian, Pedang ( Zihad) di dalam menegakkan Agama Islam Di muka bumi. Al Hawariyun berasal dari kata tunggal Hawariy yang mempunyai arti penolong. Jumlah wali Hawariy ini hanya ada satu orang sahaja di setiap zamannya. Jika seorang wali Hawariy meninggal, maka kedudukannya akan diganti orang lain. Di zaman Nabi hanya sahabat Zubair Bin Awwam saja yang mendapatkan darjat wali Hawariy seperti yang dikatakan oleh Rasululloh: “Setiap Nabi mempunyai Hawariy. Hawariyku adalah Zubair ibnul Awwam”. Walaupun pada waktu itu Nabi mempunyai cukup banyak sahabat yang setia dan selalu berjuang di sisi beliau. Karena beliau tahu hanya Zubair saja yang meraih pangkat wali Hawariy. Kelebihan seorang wali Hawariy biasanya seorang yang berani dan pandai berhujjah.
رَجَبِىٌّ
43. . Rojabiyyun ( 1 Abad 40 Orang Yg tidak akan bertambah & Berkurang Apabila ada salah satu Wali Rojabiyyun yg meninggal Alloh kembali mengangkat Wali rojabiyyun yg lainnya, Dan Allah mengangkatnya menjadi wali Khusus di bulan Rajab dari Awal bulan sampai Akhir Bulan oleh karena itu Namanya Rojabiyyun.
Jumlahnya selalu 40 orang. tersebar diberbagai negara dan mereka saling mengenal satu sama lain.
Karomah mereka muncul setiap bulan RAJAB.
Konon tiap memasuki bulan rajab, badan kaum Rajabiyyun terasa berat bagai terhimpit langit.
mereka hanya berbaring diranjang tak bergerak & kedua mata mereka tak berkedip hingga sore hari.
Keesokan harinya hal tsb mulai berkurang. Pada hari ketiga, mereka masih berbaring tapi sudah bisa berbicara & menyaksikan tersingkapnya rahasia Illahi. Ar Rajbiyun berasal dari kata tunggal Rajab. Wali Rajbiyun itu adanya hanya pada bulan Rajab saja. Mulai awal Rajab hingga akhir bulan mereka itu ada. Selanjutnya keadaan mereka kembali biasa seperti semula. Setiap masa, jumlah mereka hanya ada empat puluh orang sahaja. Para wali Rajbiyun ini terbagi di berbagai wilayah. Di antara mereka ada yang saling mengenal dan ada yang tidak saling mengenal.
Pada umumnya, di bulan Rajab, sejak awal harinya, para wali Rajbiyun menderita sakit, sehingga mereka tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Selama bulan Rajab, mereka senantiasa mendapat berbagai pengetahuan secara kasyaf, kemudian mereka memberitahukannya kepada orang lain. Anehnya penderitaan mereka hanya berlangsung di bulan Rajab. Setelah bulan Rajab berakhir, maka kesehatan mereka kembali seperti semula.
قَلْبُ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامِ
44. Qolbu Adam A.S ( 1 Abad 300 orang )
قَلْبُ نُوْحٍ عَلَيْهِ السَّلَامِ
45. Qolbu Nuh A.S ( 1 Abad 40 Orang )
قَلْبُ إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلَامِ
46. Qolbu Ibrohim A.S ( 1 Abad 40 Orang )
قَلْبُ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامِ
47. Qolbu Musa A.S ( 1 Abad 7 Orang )
قَلْبُ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامِ
48. Qolbu Isa A.S ( 1 Abad 3 Orang )
قَلْبُ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
49. Qolbu Muhammad Saw. ( 1 Abad 1 Orang )
وعن النبي صلعم أنّه قال : فى هذه الأمّة أربعون على خلق إبرهيم وسبعة على خلق موسى وثلاثة على خلق عيسى وواحد على خلق محمّد عليهم السلام والصلاة فهم على مراتبهم سادات الخلق
Sebagaimana Nabi Saw. Bersabda : ” Pada Ummat ini ada 40 orang pada hati Nabi Ibrahim as, 7 orang pada hati Nabi Musa as, 3 orang pada hati Nabi Isa as , dan 1 orang pada hati Nabi Muhammad Saw. atas mereka tingkatan-tingkatan hati yang mulia. (dinuqil dari safinatul Qodiriyyah)
قَلْبُ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلَامِ
50. Qolbu Jibril A.S ( 1 Abad 5 Orang )
قَلْبُ مِيْكَائِيْلَ عَلَيْهِ السَّلَامِ
51. Qolbu Mikail A.S (1 Abad 3 Orang tidak kurang dan tidak lebih) Allah selalu mengangkat wali lainnya Apabila ada salah satu Dari Wali qolbu Mikail Yg Wafat )
قَلْبُ إِسْرَافِيْلَ عَلَيْهِ السَّلَامِ
52. Qolbu Isrofil A.S ( 1 Abad 1 Orang )
إِِلَهِىٌ رُحَمَانِيٌّ
53. Ilahiyyun Ruhamaniyyun ( 1 Abad 3 Orang )
Pangkat ini menyerupai Pangkatnya Wali Abdal
Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Ilahiyun Rahmaniyyun, yaitu manusia-manusia yang diberi rasa kasih sayang yang luar biasa. Jumlah mereka ini hanya tiga orang di setiap masa. Sifat mereka seperti wali-wali Abdal, meskipun mereka tidak termasuk didalamnya. Kegemaran mereka suka mengkaji firman-firman Allah.
الرِّجَالُ اْلغَيْرَةِ
54. Rizalul Ghoiroh ( 1 Abad 5 Orang )
Wali pembela agama Allah
الرِّجَالُ الْأَخْلَاقِ
55. Rizalul Akhlaq ( 1 Abad 3 Orang )
Wali yang mempunyai budi pekerti yang luhur
الرِّجَالُ السَّلَامَةِ
56. Rizalul Salamah( 1 Abad 7 Orang )
Wali penyelamat
الرِّجَالُ الْعِلْمِ
57. Rizalul Ilmi ( 1 Abad 11 Orang )
Wali yang berilmu
الرِّجَالُ الْبَسْطِ
58. Rizalul basthi ( 1 Abad 9 Orang )
Wali yang lapang dada
الرِّجَالُ الْضِّيْفَانِ
59. Rizalul dhiifaan( 1 Abad 3 Orang )
Wali yang ahli menghormati tamu
الشَّخْصُ الْجَامِعِ
60. Syakhshul Jaami`i ( 1 Abad 5 Orang )
Wali yang ahli mengumpulkan ilmu syari`ah, thoriqoh, haqoiqoh dan ma`rifat
قُطْبُ الْعِرْفَانِ
61. Quthbul Irfan( 1 Abad 1 Orang )
Wali yang tinggi ma`rifatnya
الرِّجَالُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
62. Rijalul Ghoibi wasy syahadah ( 1 Abad 28 Orang ) Wali yang tidak kelihatan dan kelihatan
الرِّجَالُ الْقُوَّةِ وَالْعَزْمِ
63. Rijalul Quwwati wal `Azmi ( 1 Abad 17 Orang ) Wali yang ahli meningkatkan ketaatannya kepada Allah
الرِّجَالُ النَّفْسِ
64. Rijalun Nafsi ( 1 Abad 3 Orang )
Wali yang ahli memerangi nafsunya
الصَّلْصَلَةِ الْجَرَسِ
65. Sholsholatil Jaros ( 1 Abad 17 Orang )
Wali yang ahli menerima ilham yang suaranya bagaikan bel
قُطْبُ الْقَاهِرِ
66. Quthbul Qoohir ( 1 Abad 1 Orang )
Wali yang menjadi paku jagat yang mengalahkan
قُطْبُ الرَّقَائِقِ
67. Quthbur Roqooiq ( 1 Abad 1 Orang )
Wali yang hatinya lunak
قُطْبُ الْخَشْيَةِ
68. Quthbul Khosyyah ( 1 Abad 1 Orang )
Wali yang penakut kepada Allah
قُطْبُ الْجِهَاتِ السِّتِّ
69. Quthbul Jihatis sitti ( 1 Abad 1 Orang )
Wali yang menetap pada enam arah
الْمُلَامَتِيَّةُ
70. Mulamatiyyah ( 1 Abad 300 Orang )
Wali yang tidak menampakkan kebaikannya dan tidak memendam kejahatannya
الرِّجَالُ الْفُقَرَاءِ
71. Rizalul Fuqoro ( 1 Abad 4 Orang )
Wali yang mengharafkan rahmat Allah
الرِّجَالُ الصُّوْفِيَّةِ
72. Rizalush Shufiyah( 1 Abad 3 Orang )
Wali yang bersih jiwanya
الرِّجَالُ الْعُبَّادِ
73. Rizalul ibbad( 1 Abad 7 Orang )
Wali yang ahli ibadah
الرِّجَالُ الزُّهَادِ
74. Rizaluz Zuhad( 1 Abad 17 Orang )
Wali yang menjauhi dunia
الْأَفْرَادِ
75. Afrod( 1 Abad 7 Orang )
Wali yang menyendiri
قال : الأفراد هم الرجال الخارجون عن نظر القطب
Berkata Syekh Syamsuddin bin Katilah Rahimahullaahu Ta’ala : Wali Afrod adalah Orang-orang yang keluar dari penglihatan wali qutub artinya Wali yang sangat spesial, di luar pandangan dunia Quthub. ( dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )
الْأُمَنَاءِ
76. Uman (1 Abad 13 Orang) Wali kepercayaan Allah
الأمناء : وهم الملامتية ، وهم الذين لم يظهر مما فى بواطنهم أثر علي ظواهرهم وتلامذتهم فى مقامات أهل الفتوة
Wali Umana Mereka adalah kalangan Malamatiyah, yaitu orang-orang yang tidak menunjukkan dunia batinnya ( mereka yang menyembunyikan dunia batinnya ) dan tidak tampak sama sekali di dunia lahiriyahnya. Biasanya kaum Umana’ memiliki pengikut Ahlul Futuwwah, yaitu mereka yang sangat peduli pada kemanusiaan. ( dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )
الرِّجَالُ اْلقُرَّاءِ
77. Rizalul Qurro ( 1 Abad 7 Orang )
Wali yang selalu membaca Al-Qur`an
الرِّجَالُ الْأَحْبَابِ
78. Rizalul Ahbab ( 1 Abad 3 Orang )
Wali yang menjadi kekasih Allah
الرِّجَالُ اْلأَجِلَّاءِ
79. Rizalul Ajilla (1 Abad 3 Orang)
Wali yang tinggi pangkatnya
الرِّجَالُ الْمُحَدِثِيْنَ
80. Rizalul Muhaditsin( 1 Abad 5 Orang )
Wali yang ahli hadits
السُّمَرَاءِ
81. Sumaro( 1 Abad 17 Orang )
Wali yang ahli bangun malam bermunajat kepada Allah
الرِّجَالُ اْلوَرَثَةَ الظَّالِمِ لِنَفْسِهِ مِنْكُمْ وَالْمَقْتَصِدِ وَالسَّابِقِ بِالْخَيْرَاتِ
82. Rizalul warotsatazh Zholimi Linnafsih( 1 Abad 4 Orang )
Wali yang mewarisi para wali yang selalu zholim kepada dirinya serta menuju dan berlomba kepada kebaikan
اْلأَبْطَالُ
83. Abthol (1 Abad 27 Orang) Wali pahlawan
الْأَطْفَالُ
84. Athfal (1 Abad 4 Orang) Wali yang bertingkah seperti anak kecil
الدَّاخِلُ الْحِجَابِ
85. Dakhilul Hizab ( 1 Abad 4 Orang )
Wali yang berada dalam hijab Allah
Wali dengan Pangkat Dakhilul Hizab sesuai nama Pangkatnya , Wali ini tidak dapat di ketahui Kewaliannya oleh para wali yg lain sekalipun sekelas Qutbil Aqtob Seperti Syeikh Abdul Qodir Jailani, Karena Wali ini ada di dalam Hizab nya Alloh, Namanya tidak tertera di Lauhil Mahfudz sebagai barisan para Aulia, Namun Nur Ilahiyyahnya dapat terlihat oleh para Aulia Seperti di riwayatkan dalam kitab Nitajul Arwah bahwa suatu ketika Syeikh Abdul Qodir Jailani Melaksanakan Towaf di Baitulloh Mekkah Mukarromah tiba2 Syeikh melihat seorang wanita dengan Nur Ilahiyyahnya yang begitu terang benderang sehingga Syeikh Abdul qodir Al-Jailani Mukasyafah ke Lauhil Mahfudz dilihat di lauhil mahfudz nama Wanita ini tidak ada di barisan para Wali2 Allah, Lalu Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani bermunajat kepada Alloh untuk mengetahui siapa Wanita ini dan apa yang menjadi Amalnya sehingga Nur Ilahiyyahnya terpancar begitu dahsyat , Kemudian Alloh memerintahkan Malaikat Jibril A.S untuk memberitahukan kepada Syeikh bahwa wanita tersebut adalah seorang Waliyyah dengan Maqom/ Pangkat Dakhilul Hizab ” Berada di Dalam Hizabnya Alloh “, Kisah ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa Ber Husnudzon ( Berbaik Sangka ) kepada semua Makhluq nya Alloh, Sebetulnya Masih ada lagi Maqom2 Para Aulia yang tidak diketahui oleh kita, Karena Allah S.W.T menurunkan para Aulia di bumi ini dalam 1 Abad 124000 Orang, yang mempunyai tugasnya Masing2 sesuai Pangkatnya atau Maqomnya.

Wallahu A`lam

Sumber : http://sufi1.wordpress

Nama Malaikat Dalam Berbagai Agama

 

“Malaikat-malaikat yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi  orang-orang yang beriman ( seraya mengucapkan ), “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala.”

( QS. Al-Mu’min 40 :7 ) 

Malaikat merupakan salah-satu makhluk ciptaan  Allah swt. yang diciptakan dari cahaya/nur.  Dalam kisah para nabi dan rasul kita bisa menemukan malaikat-malaikat yang membawa perintah dari Tuhan atau peringatan kepada para utusan Tuhan tersebut. Para malaikat biasanya menampakkan wujud di hadapan para nabi dan rasul dalam sesosok laki-laki muda. Namun,  didalam hadist disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw. mampu melihat wujud malaikat Jibril yang sebenarnya sebanyak dua kali.

 Lalu, seperti apakah wujud malaikat itu sesungguhnya ?

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, 

masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat,

Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
( QS. Faathir 35 : 1 )

Wujud para malaikat telah dijabarkan didalam Al Qur’an, ada yang memiliki sayap sebanyak 2, 3 dan 4. Kemudian dalam beberapa hadits dikatakan bahwa Malaikat Jibril memiliki 600 sayap, dan Malaikat Israfil memiliki 1200 sayap, dimana satu sayapnya menyamai 600 sayap Jibril. kemudian yang terakhir dikatakan bahwa Hamalat al-‘Arsy / Malaikat penopang Arsy memiliki 2400 sayap dimana satu sayapnya menyamai 1200 sayap Israfil.

Mereka tidak bertambah tua ataupun bertambah muda, keadaan mereka sekarang sama persis ketika mereka diciptakan. Dalam ajaran Islam, ibadah manusia dan jin lebih disukai oleh Allah swt. dibandingkan ibadah para malaikat, karena manusia dan jin bisa menentukan pilihannya sendiri. Berbeda dengan malaikat yang tidak memiliki pilihan lain. Malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Mereka tidak berjenis lelaki atau perempuan dan tidak berkeluarga.

Berbeda dengan ajaran Islam, ajaran Kristen dan Yahudi mengenal istilah “Malaikat Yang Terjatuh” (Fallen Angel) atau para malaikat yang telah diusir / dibuang dari surga karena pengingkaran dan pemberontakan mereka terhadap Tuhan. Dalam Islam, mereka disebut jin karena, berbeda dengan malaikat yang terbuat dari cahaya, mereka diciptakan dari api. Meski begitu, ketiga agama monoteis ini sama-sama meyakini keberadaan malaikat sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan perannya dalam menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul. Dalam  ajaran pagan, terdapat malaikat perdamaian yang disimbolkan dengan burung merpati.

Berikut ini nama-nama malaikat dalam berbagai ajaran beserta tugasnya :

ISLAM
Malaikat Jibril, bertugas mengemukakan wahyu pada beberapa nabi serta rasul. 
Malaikat Mikail, bertugas membagikan rezeki pada semua mahluk hidup.
Malaikat Izrail, bertugas mencabut nyawa semua mahluk hidup 
Malaikat Israfil, bertugas meniup sangkakala pada hari kiamat kelak.
Malaikat Munkar, bertugas menanyai serta menghukum orang yang telah wafat di alam barzah. 
Malaikat Nakir, bertugas menanyai serta menghukum orang yang telah wafat di alam barzah. 
Malaikat Rakib, bertugas untuk mencatat amal perbuatan baik manusia. 
Malaikat Atid, bertugas mencatat amal perbuatan buruk manusia. 
Malaikat Malik,  malaikat ini bertugas melindungi pintu neraka. 
Malaikat Ridwan, bertugas melindungi pintu syurga. 
Malaikat Zabaniah, 19 malaikat penyiksa dalam neraka yang begitu bengis serta kasar. Pemukanya adalah Malik. Diantaranya: Hutriel, Lahatiel, Makatiel, Puriel (Pusiel), Rogziel dan Shoftiel.
Malaikat Hamalat Al’ Arsy, 4 malaikat pembawa Arsy Allah swt. sekarang ini serta pada hari kiamat akan ditambah jumlahnya menjadi 8 dengan bergabungnya Rafael, Mikail, Jibril, dan Azrael setelah tugas mereka berakhir.
Malaikat Harut & Marut, kedua malaikat yang dijadikan manusia serta diuji oleh Allah swt.
Malaikat Dar’dail, yang bertugas mencari manusia yang berdoa, bertaubat serta yang pada bulan Ramadhan. 
Malaikat Kiraman Katibin, yang bertugas sebagai pencatat amal baik pada jin serta manusia.
Malaikat Mu’aqqibat, yang bertugas memelihara manusia dari kematian hingga saat yang sudah diputuskan yang datang silih berganti. Dalam tradisi Yudeo-Kristen disebut juga Malaikat Pelindung.
Malaikat Arham, bertugas untuk mengambil keputusan rezeki, ajal, keberuntungan pada 4 bulan masa kehamilan. 
Malaikat Jundallah, yang bertugas sebagai malaikat perang yang menolong nabi dalam peperangan. 
Malaikat Ad-Dam’u, malaikat yang senantiasa menangis bila melihat kekeliruan manusia. 
Malaikat An-Nuqmah, malaikat yang senantiasa mempunyai urusan dengan unsur api serta duduk di singgasana berbentuk nyala api. memiliki wajah berwarna  kuning seperti tembaga. 
Malaikat Ahlul Adli, malaikat yang mempunyai ukuran besar melebihi ukuran bumi beserta isinya, dan memiliki 70 ribu kepala. 
Malaikat Berbadan Api Serta Salju, malaikat yang mempunyai ukuran besar dengan badan 1/2 api serta 1/2 salju dan dikelilingi oleh pasukan malaikat yg tidak pernah berhenti berdzikir. 
Malaikat Pengurus Hujan, bertugas mengurusi hujan menurut kehendak Allah swt. 
Malaikat Penjaga Matahari, 9 malaikat yang bertugas menghujani matahari dengan salju. 
Malaikat Rahmat, bertugas sebagai penyebar keberkahan, rahmat, permintaan ampun serta pembawa roh beberapa orang saleh, ia datang bersama-sama malaikat maut serta malaikat azab.
Malaikat Azab, bertugas sebagai pembawa roh beberapa orang kafir, zalim, munafik. Ia datang bersama-sama malaikat rahmat serta malaikat maut. 
Malaikat Pembeda Haq dan Batil, yang bertugas membedakan pada tindakan yang benar serta salah pada manusia. 
Malaikat Penentram Hati, bertugas meneguhkan pendirian seseorang mukmin. 
Malaikat Penjaga 7 Pintu Langit, bertugas melindungi 7 pintu langit. Mereka diciptakan oleh Allah swt. sebelum langit serta bumi ada. 
Malaikat Pemberi Salam Ahli Surga, bertugas sebagai pemberi salam pada beberapa ahli surga. 
Malaikat Pemohon Ampun Untuk Orang Beriman, beberapa malaikat yang ada di sekitar Arsy yang memohonkan ampunan untuk golongan yang beriman. 
Malaikat Pemohon Ampun Untuk Manusia di bumi, beberapa malaikat yang bertasbih memberikan pujian pada Allah swt. serta memohonkan ampun untuk manusia-manusia di bumi. 
Malaikat Pendamping Malaikat Maut, malaikat ini berjumlah 70.000 malaikat, mereka datang mengikuti serta turut mendoakan jika Malaikat Maut akan mencabut nyawa beberapa orang mukmin.

KRISTEN & YAHUDI
Berikut dibawah ini adalah nama-nama Archangel / pemimpin malaikat atau disebut juga dengan malaikat agung, dan tidak termasuk kedalam Fallen Angel :
Malaikat Ariel
Nama Ariel berarti “ Singa/  singa betina Tuhan“ dan malaikat ini dihubungkan dengan singa dan hewan-hewan liar. Ariel terlibat dengan penyembuhan dan melindungi alam, termasuk hewan, ikan dan burung, terutama hewan-hewan yang liar. Ariel adalah Malaikat Pelindung Hewan-Hewan Liar.
Malaikat Azrael / Malaikat Izrail
Nama Azrael berarti “ Ia yang membantu Tuhan “. Peran Azrael terutama untuk menyeberang orang ke surga pada saat tubuh fisik mereka telah mati. Azrael menghibur orang sebelum kematian fisik mereka, memastikan mereka tidak menderita selama kematian, dan membantu mereka untuk berasimilasi di sisi lain.. Azrael dipanggil untuk memberikan dukungan dan kenyamanan, penghibur dari duka cita, membantu jiwa, kasih sayang, kedamaian, transisi dan kenyamanan. Malaikat Pelindung kependetaan.
Malaikat Chamuel
Nama Chamuel berarti "Dia yang melihat Tuhan" atau "Dia yang mencari Tuhan." Chamuel adalah malaikat  penyembuh yang benar-benar kuat dalam hirarki malaikat yang dikenal sebagai “Powers” yang melindungi dunia dari rasa takut dan energi yang kurang baik. Chamuel dipanggil untuk kenyamanan, perlindungan, dan intervensi dalam kejadian-kejadian di dunia, cinta, toleransi, rasa terima kasih. Chamuel adalah malaikat yang dibutuhkan orang-orang untuk menemukan sesuatu seperti belahan jiwa,dan sebagainya, cinta tak bersyarat dan memperkuat hubungan. Chamuel adalah Malaikat Pelindung dari semua orang yang mencintai Tuhan.
Malaikat Gabriel / Malaikat Jibril
Nama Gabriel berarti “Tuhan adalah kekuatanku.” Gabriel adalah Malaikat dari konsepsi anak atau proses mengadopsi seorang anak. Archangel ini juga membantu siapa saja yang tujuan hidupnya melibatkan seni atau komunikasi, pembela elemen air dan arah barat. Malaikat kebangkitan, pembawa karunia, kedamaian dan penyantun "pembawa pesan", Kemurnian, kelahiran kembali, kreativitas, nubuat, memurnikan pikiran, tubuh, dan emosi, komunikasi & seni. Malaikat Pelindung semua orang yang bekerja di bidang komunikasi.
Malaikat Haniel
Nama Haniel berarti “ Kemuliaan Tuhan “, Haniel membantu kita untuk memulihkan rahasia-rahasia yang hilang dari penyembuhan alami. Haniel juga membantu manusia menikmati lebih banyak anugerah dalam kehidupan kita. Haniel dipanggil untuk menambahkan keindahan, harmoni, dan teman-teman yang luar biasa dalam hidup manusia. Malaikat pembawa energi bulan, karunia dan nubuat.
Malaikat Jeremiel
Nama Jeremiel berarti “ Karunia Tuhan, “ selain menjadi malaikat dari visi kenabianJeremiel membantu orang-orang yang baru menyeberang untuk meninjau kehidupan mereka. Ia membantu mereka yang masih hidup untuk menginventarisasi kehidupan mereka, untuk dapat membuat penyesuaian positif. Malaikat pelindung visi, tinjauan kehidupan, dan impian manusia. Malaikat yang membantu siapa saja yang tujuan hidupnya melibatkan visi dan tinjauan kehidupan manusia.
Malaikat Jophiel
Nama Jophiel berarti “Keindahan Tuhan”. Jophiel membantu manusia untuk memikirkan pikiran-pikiran yang indah dan untuk menciptakan, memanifestasikan, dan menarik lebih banyak keindahan kedalam hidup manusia, penerangan, kebijaksanaan, dan persepsi. Pemikiran tentang kecantikan dan cinta. Malaikat pelindung dari para seniman.
Malaikat Metatron
Metatron adalah malaikat yang berapi-api dan energik yang memiliki tempat khusus didalam hatinya untuk anak-anak, terutama mereka yang dikaruniai talenta spritual. Setelah Eksodus, Metatron memimpin anak-anak Israel melalui padang gurun dan menuju tempat aman. Dia terus memimpin anak-anak pada hari ini, baik di bumi maupun di surga. Menyatukan, mendidik, dan pembawa kebenaran. Malaikat Pelindung Anak Kecil.
Malaikat Sandalphon
Nama Sandalphon berarti “saudara” dalam bahasa Yunani, sebuah referensi untuk saudara kembarnya, malaikat Metatron.  Satu-satunya malaikat kembar  di surga yang semulanya ia adalah  manusia fana. Peran utama Sandalphon adalah untuk membawa doa manusia kepada Tuhan, sehingga doa-doa mereka dapat dijawab. Malaikat Pelindung  dari musik.
Malaikat Michael / Malaikat Mikail
Nama Michael berarti “Dia yang seperti Tuhan” atau “Dia yang tampak seperti Tuhan”. Fungsi utamanya adalah untuk membersihkan bumi dan penghuninya dari racun yang terkait dengan rasa takut. Michael memberikan bimbingan dan arahan bagi orang-orang yang membutuhkan bantuan / dalam tujuan hidup / jalur karier mereka untuk mengklarifikasi atau melakukan perubahan. Pembela Elemen Api dan arah selatan. Pemimpin dari para malaikat.
Michael adalah Malaikat perlindungan, keadilan & kekuatan. Malaikat Michael memberikan orang-orang rasa perlindungan, dan mendorong seseorang untuk membuat perubahan-perubahan kehidupan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan rohani. Malaikat Penegak Hukum.
Malaikat Raguel
Nama Raguel berarti “Teman Tuhan”, peran utamanya di surga adalah untuk mengawasi semua pemimpin malaikat dan malaikat lainnya, untuk memastikan bahwa mereka semua bekerja bersama dengan cara yang harmonis dan teratur, sesuai dengan perintah dan kehendak Ilahi. Jika seseorang membutuhkan bantuan dalam menciptakan harmoni dan menyelesaikan konflik, serahkan kepada Raguel.
Malaikat Raphael / Malaikat Israfil
Nama Raphael berarti 'Tuhan menyembuhkan” atau “Tuhan telah menyembuhkan” berdasarkan kata Ibrani, “Rapha” berarti dokter atau penyembuh. Raphael adalah malaikat penyembuh tubuh fisik yang kuat, bagi manusia dan para binatang. Pembela Elemen Udara dan Timur. Dia adalah Malaikat Cinta, Sukacita dan Tawa, penjaga Pohon Kehidupan dan Kekuatan Penyembuhan. Dia membantu orang-orang menyembuhkan pikiran, pikiran, tubuh, dan jiwa mereka. Pelindung Malaikat dari semua orang di bidang penyembuhan.
Malaikat Raziel
Nama Raziel berarti “rahasia Tuhan” karena dia bekerja sangat dekat dengan Tuhan sehingga dia tahu semua rahasia alam semesta, dan bagaimana alam semesta bekerja. Raziel dapat membantu manusia memahami materi esoterik dan meningkatkan kemampuan orang-orang untuk melihat, mendengar, mengetahui, dan merasakan bimbingan Ilahi. Malaikat pelindung orang-orang pembuat hukum dan orang-orang yang bertugas menjalankannya.
Malaikat Uriel
Nama Uriel berarti “Tuhan adalah cahaya”, “cahaya Tuhan” atau “api Tuhan” karena ia menerangi situasi dan memberi informasi dan peringatan nubuat. Mungkin karena hubungannya dengan nabi Nuh, dan penguasa dari elemen cuaca, guntur dan kilat, Uriel dianggap sebagai malaikat yang membantu kita ketika bencana alam. Uriel dipanggil untuk mencegah peristiwa semacam itu, atau untuk menyembuhkan dan memulihkan setelahnya. Pembela unsur bumi dan arah utara. Malaikat alam, visi dan instruksi dan penjaga nubuat, perdamaian & pelayanan, pemahaman spiritual, para pelajar, serta pemecahan masalah mereka. Seorang malaikat pelindung sastra dan musik.
Malaikat Zadkiel
Nama Zadkiel berarti “kebenaran Tuhan” Zadkiel dapat membantu siapa saja yang memberi  karunia dan belas kasihan terhadap diri sendiri dan orang lain, dan melepaskan penilaian dan tidak memaafkan. Untuk memaafkan diri sendiri atau orang lain, mintalah bantuan Zadkiel. Dia adalah pemimpin malaikat dari doa, transformasi. Malaikat kebebasan, kebajikan, belas kasihan, dan Malaikat Pelindung dari semua yang memaafkan.

“And the angel answered him,
“I am Gabriel. I stand in the presence of  God, and i was sent to speak to you and
to bring you this good news.”
( Luke 1:19 )


Sigil Delapan Malaikat

 

Inilah Sigil untuk menyalakan semua tubuh energi Anda secara bersamaan. 

Ini telah dibebankan dengan 8 Malaikat Mahakuasa pertama. Ini adalah

Ebuhuel untuk kesehatan dan pertumbuhan di alam.

Atuesuel untuk kedamaian dan ketenangan.

Labusi untuk kekayaan, kemakmuran, dan kelimpahan.

Bualu untuk kemauan dan mendorong keinginan Anda ke dunia.

Tulatu untuk cinta dan masalah hati.

Tabatlu untuk kegembiraan dan keindahan.

Ublisi untuk penglihatan di luar penglihatan.

Elubatel untuk kebijaksanaan.

Petunjuk penggunaan harus milik Anda sendiri. Jadilah kreatif dalam bagaimana menurut Anda ini harus digunakan. Namun jika Anda masih ragu, berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda ikuti yaitu 

(1) Cetak sigil dan jiplak dengan pena atau pensil, Anda bahkan dapat menggunakan jari Anda. Atau Anda dapat menggunakannya apa adanya di layar perangkat Anda.

(2) Tataplah dan rasakan hubungannya dengan sigil.

(3) Sigil ini sudah diisi, tetapi Anda dapat memberinya dorongan energi pribadi Anda untuk memperkuat ikatan Anda dengannya. Bayangkan saja energi Anda mengalir dari chakra melalui tangan ke sigil. Jika Anda memiliki inisiasi dari Beleth (seperti saya), Anda dapat menyalurkan energi ini dan membiarkannya memenuhi sigil.

(4) Sekarang fokus pada apa yang Anda inginkan, lihat itu terjadi. Rasakan emosi yang akan Anda rasakan seolah-olah itu sudah terjadi.

(5) Tutup dan bakar sigil atau Anda dapat menyimpannya untuk digunakan di lain hari.

(6) Makan sesuatu dan lupakan apa yang baru saja Anda lakukan.

Sigil Malaikat

 

Simbol Malaikat Kuno

Banyak dari simbol dan kunci tersembunyi ini ditemukan dalam skrip dan dokumen kuno seperti di Kabbalah *, serta dalam bentuk yang lebih baru dan diadaptasi serta dikerjakan ulang menjadi sigil dan ritual yang lebih bisa diterapkan sejak tahun 1880-an. Sigil dan kunci ini didasarkan pada pengetahuan, penelitian, dan pengalaman magickal selama berabad-abad, dan bergerak melampaui batas teori dan tradisi. Dan mereka pasti membuka pintu malaikat yang kuat.

*Kabbalah adalah bentuk pengetahuan esoteris yang memungkinkan Anda berinteraksi dengan kekuatan malaikat. Kabbalah muncul dari mistisisme Yahudi tetapi sekarang dipraktikkan oleh orang-orang dari banyak agama. Ini bahkan berguna bagi orang yang tidak percaya pada agama apa pun.

Mereka membutuhkan kunci pintu ini. Ketika kami benar-benar membutuhkan bantuan dari para malaikat – alih-alih memerintahkan mereka untuk melakukan apa yang Anda inginkan – para malaikat terpaksa memperhatikan Anda dan merespons. 

Jika Anda bekerja dengan tulus dengan sigil dan kunci ini – dengan keyakinan dan kepercayaan yang nyata, mereka akan bekerja secara instan apakah Anda merasakannya atau tidak.

Bekerja dengan Malaikat Agung

Saat Anda bekerja dengan Archangels, sangat membantu untuk mengetahui bahwa kebanyakan dari mereka memiliki area khusus yang mereka "spesialisasikan".

Apakah Anda memutuskan untuk menggunakan metode doa, magick sigil dan kunci, atau meditasi – ingatlah bahwa ini hanyalah contoh jadi jelajahi dan lihat sendiri apa yang terasa benar dan cocok untuk Anda.

Beberapa malaikat mungkin "muncul" kepada Anda melalui perasaan, suara, aroma tertentu, atau kilasan cahaya yang berkedip-kedip. Tetapi ingatlah bahwa malaikat itu hadir apakah Anda merasakan sesuatu atau tidak.

Berikut adalah daftar beberapa Malaikat Agung yang lebih terkenal dan bagaimana mereka dapat membantu kebutuhan khusus Anda. Ingatlah bahwa saya hanya menyentuh permukaan di sini, dan masih banyak lagi area yang dapat Anda temukan sendiri juga, begitu Anda mulai mengerjakannya.

Malaikat Tertinggi Michael – Memberi Anda keberanian dan kekuatan spiritual, perlindungan; membantu Anda dengan tugas-tugas sulit; membantu Anda menemukan arah baru dalam hidup Anda.

Archangel Metatron – Membantu mereka yang berjuang untuk pertumbuhan pribadi, memungkinkan Anda untuk berpikir secara mendalam tentang hal-hal penting dan membuat pilihan yang tepat.

Malaikat Agung Raziel – Bekerja dengan tenung dan manifestasi; membantu Anda mengembangkan ide dan membentuk jawaban saat Anda mandek

Malaikat Tertinggi Zadkiel – Membantu membebaskan Anda dari penindasan; memberi Anda kekuatan untuk memanfaatkan pengetahuan dan ingatan jiwa Anda sendiri

Malaikat Tertinggi Raphael – Membawa kesembuhan atau kelegaan dari penderitaan untuk diri sendiri atau orang lain yang Anda minta.

Malaikat Tertinggi Gabriel – Membantu Anda dalam penemuan diri Anda sendiri; membantu Anda di saat krisis

Archangel Sandalphon – Membawa kejelasan; menawarkan perlindungan dari kekuatan jahat, baik manusia maupun supranatural.

Malaikat Tertinggi Jophiel – Menginspirasi dan membangkitkan kreativitas dalam bentuk apa pun; membawa lebih banyak keindahan ke dalam hidup Anda

Malaikat Tertinggi Tzaphqiel – Membantu dalam komunikasi yang jelas, baik dalam kata-kata lisan maupun tertulis.

Archangel Uriel – Membantu Anda memecahkan masalah atau dilema, dan menemukan jawaban yang tepat.

Archangel Haniel – Mendorong perasaan cinta; memulihkan hubungan; dan membawa perubahan positif.