Alkisah-Tasbih itu Bid'ah?






Ayat-ayat Al Quran dan Hadits Nabi banyak yang memerintahkan kita untuk banyak berdzikir.
Selain itu banyak pula Hadits yang menetapkan jumlah dzikir, diantaranya bacaan tasbih,
tahmid dan takbir yang dibaca setelah sholat, yakni 33 kali. Terdapat pula Hadist yang menjelaskan keutamaan berdzikir dengan jumlah 10 kali atau 100 kali.
Lalu bagaimana cara untuk itu? tentu harus dihitung. Dengan apa menghitungnya?
Mengenai caranya atau alat yang digunakan, tidak ada keterangan yang mewajibkan harus menggunakan cara tertentu. Terserah kepada yang berdzikir. Cara apa saja boleh, asal tidak bertentangan dengan Kitabullah dan Sunah Rasulullah.
Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Al-Hakim meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar yang menyebutkan bahwa Rasulullah menghitung dzikirnya dengan jari-jarinya dan menyarankan para sahabat agar mengikuti cara beliau.
Juga terdapat hadits dari Busrah, seorang wanita dari kaum Muhajirin, yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Hendaklah kalian senantiasa berdzikir, bertahlil, dan bertaqdis (menyebut kesucian Allah). Janganlah sampai kalian lalai, karena nanti bisa melupakan tauhid. Hitunglah dzikir kalian dengan jari-jari, karena kelak jari-jari itu akan ditanya dan diminta berbicara.
Meskipun demikian, perintah untuk menghitung dengan jari tidak berarti melarang orang menghitung dengan yang lain selain jari. At-Tirmidzi, Al-Hakim, dan Ath-Thabarani meriwayatkan hadits dari Shafiyah bahwa pada suatu saat Rasulullah SAW datang kerumahnya. Beliau melihat 4000 butir biji kurma yang biasa digunakan oleh Shafiyah untuk menghitung dzikir.Maka beliau bertanya, "Wahai binti Huyay (panggilan Shafiyah), Apa itu?" Shafiyah menjawab, "Itu alat yang aku pakai menghitung dzikir". Maka beliau bersabda, "Sesungguhnya engkau dapat berdzikir lebih banyak dari itu". Shafiyah berkata," Ya Rasulullah, ajari aku?". Beliau kemudian mengatakan, sebutlah Subhanallah 'adada khalqihi (Subhanallah sejumlah makhuk-Nya).."
Banyak sahabat  Nabi dan as-salafush shahih yang menggunakan biji kurma, batu-batu kerikil, bundelan-bundelan benang dan sebagainya, untuk menghitung dzikir. Ternyata tak ada yang menyalahkan mereka.
Bentuk tasbih (dalam bahasa arabnya subhah) yang kita kenal, baru digunakan orang pada abad kedua hijriyyah. Sejak itulah tasbih mulai banyak digunakan. Sejak abad kelima hijriyyah penggunaan tasbih makin meluas dikalangan muslim.
Sekali lagi, tidak ada berita atau riwayat yang menyebutkan adanya larangan menggunakan tasbih, dan tidak ada yang memandangnya sebagai perbuatan makruh atau tercela.
Berdasarkan riwayat-riwayat, jelaslah bahwa menghitung dzikir dengan selain jari adalah boleh. Lagi pula, apapun benda yang digunakan untuk menghitung dzikir, orang tetap menggunakan jari tangannya pula. Jadi menghitung dzikir dengan tasbih tidak perlu dipersoalkan, apalagi sampai dianggap bid'ah dhalalah (bid'ah yang sesat). Memang kita perlu mengetahui mana yang lebih baik, menghitung dzikir dengan jari atau tasbih.
Menurut Ibnu Umar, menghitung dzikir dengan jari adalah lebih baik, asal jangan salah hitung. Tetapi jika tidak, gunakanlah tasbih adalah lebih baik. Dan sewaktu dzikir memakai tasbih gunakanlah tangan kanan, sebagaimana yang dilakukan ulama salaf.
Yang perlu diketahui dalam berdzikir, yang terpenting adalah kekhusu'an didalam hati. Karena yang Allah pandang adalah hati orang yang berdzikir itu, bukan penampilan dan alat yang digunakan untuk berdzikir.